Jumat, 23 Juni 2017

Ainul Mardiah, Siapakah Dia?

Ainul Mardhiah adalah seorang bidadari yang paling cantik di surga yang Alloh ciptakan untuk sesiapa yang mati syahid berjuang di jalan Alloh. Secara bahasa Ainul Mardhiah berarti mata yang diridhai. Atau setiap pandangan yang melihatnya pasti akan menemukan keridhaan di hati. Kisah Ainul Mardhiah diceriterakan dalam Hadits Nabi riwayat Tirmidzi yang dalam bahasa saya seperti ini:

Ketika pagi hari di bulan Ramadhan, Nabi sedang memberikan targhib (semangat untuk berjihad) kepada pasukan Islam. Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya orang yang mati syahid karena berjihad di jalan Alloh, maka Alloh akan menganugerahkannya Ainul Mardhiah, bidadari paling cantik di surga”. Salah satu sahabat yang masih muda yang mendengar cerita itu menjadi penasaran. Namun, karena malu kepada Nabi dan sahabat-sahabat lain, sahabat ini tidak jadi mencari tahu lebih dalam mengenai Ainul Mardhiah.

Waktu Zuhur sebentar lagi, sesuai sunah Rasul, para sahabat dipersilakan untuk tidur sejenak sebelum pergi berperang. Bersama kafilah perangnya pun sahabat yang satu ini tidur terlelap dan sampai bermimpi. Di dalam mimpinya dia berada di tempat yang sangat indah yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Dia pun bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Ia pun bertanya kepada wanita tersebut, “Di manakah ini?”. “Inilah surga.”, jawab wanita itu. Kemudian sahabat ini bertanya lagi, “Apakah Anda Ainul Mardhiah?”. “Bukan, saya bukan Ainul Mardhiah. Kalau Anda ingin bertemu dengan Ainul Mardhiah, dia sedang berada di bawah pohon yang rindang itu.”

Didapatinya oleh sahabat itu seorang wanita yang kecantikannya berkali-kali lipat dari wanita pertama yang ia lihat. “Apakah Anda Ainul Mardhiah?” “Bukan saya ini penjaganya. Kalau Anda ingin bertemunya di sanalah singgasananya.”

Lalu sahabat ini pun pergi ke singgasana tersebut dan sampailah ke suatu mahligai. Didapatinya seorang wanita yang kecantikannya berlipat-lipat dari wanita sebelumnya yang sedang mengelap-ngelap perhiasan. Sahabat ini pun memberanikan diri untuk bertanya.

“Apakah Anda Ainul Mardhiah?” “Bukan, saya bukan Ainul Mardhiah. Saya penjaganya di mahligai ini. Jika Anda ingin menemuinya, temuilah ia di mahligai itu.”

Pemuda itu pun beranjak dan sampailah ke mahligai yang ditunjukkan. Didapatinya seorang wanita yang kecantikannya berlipat-lipat dari wanita sebelumnya dan sangat pemalu. Pemuda itu pun bertanya.

“Apakah Anda Ainul Mardhiah?” “Ya, benar saya Ainul Mardhiah,” ujarnya pelan dengan malu-malu. Pemuda itu pun mendekat, tetapi Ainul Mardhiah menghindar dan berkata, “Maaf, Anda bukan seseorang yang mati syahid.”

Seketika itu juga pemuda itu terbangun dari mimpinya. Dia pun menceritakan ceritanya ini kepada seorang sahabat kepercayaannya yang dimohonkan untuk merahasiakannya sampai ia mati syahid. Komando jihad pun menggelora. Sahabat ini pun dengan semangatnya berjihad untuk dapat bertemu dengan Ainul Mardhiah. Ia pun akhirnya menemui syahid.

Di petang hari ketika buka puasa, sahabat kepercayaan ini menceritakan mimpi sahabat yang mati syahid ini kepada Nabi. Nabi pun membenarkan mimpi sahabat muda ini dan Nabi bersabda, “Sekarang ia bahagia bersama Ainul Mardhiah”.

Agungnya Ainul Mardhiah ini pun menginspirasi tim nasyid UNIC untuk menciptakan lagu khusus dengan judul Ainul Mardhiah dengan lirik yang sangat menyentuh berikut ini :


Wallahu ‘Alam
(sumber: eramuslim.com)

Sabtu, 10 Juni 2017

Islam akan kembali asing

Islam lahir di antara dua raksasa kekuatan besar, imperium katolik Romawi dan kerajaan Persia penyembah api. Islam lahir ditengah ritual syirik yang mengakar kuat dikalangan arab quraisy ketika itu, Islam lahir dalam keteraingan tauhid. Dan Raulullah mengabarkan bahwa Islam akan kembali asing sebagaimana pula kelahirannya.

Ketika Rasulullah pertamakali diutus sebagai nabi dan rasul, sungguh seluruh kota Mekah menolaknya. Seruan dakwah yang beliau sampaikan terasa asing bagi kebanyakan penduduk. Seruan untuk kembali kepada Allah serasa aneh karna akan menggeser budaya menyembah kuburan dan berhala patung. Ajakan bertauhid kepada penduduk mekah membuat mereka gusar, karena selain akan menggeser budaya lokal juga akan mematikan mata pencaharian para dukun dan pembuat patung. Tidak jarang Rasulullah dan para sahabat yang masih sedikit kala itu mendapat perlakuan kasar dari mayoritas penduduk, beruntung Rasulullah didampingi oleh Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Ustman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib yang setia mengawal lahirnya Islam sampai akhir.

Islam kemudian berjalan generasi demi generasi, tak luput dari upaya pembelokan keyakian yang dimilikinya, sedikit demi sedikit ajaran Islam kian pudar dikalangan umat manusia. Dari hari ke hari kebanyakan manusia seakan tidak mengerti apa itu Islam, Islam dirasa sadis, Islam dekat dengan teror, Islam anti kebebasan, ujungnya adalah Islamophobia, takut akan Islam. Inilah akhir zaman, dimana firman Allah terbukti dan menghantam logika kita,

“Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar) Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baqarah : 120)

Genggam erat agama ini dengan kuat, Gigit dengan Geraham kita, teguhkan iman dalam hati dengan sebenar-benarnya iman, karna Rasulullah mengabarkan,

“Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah, diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”. (HR. Al-Bukhori)

Islam pada awalnya muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing, maka beruntunglah mereka yang merasa dirinya asing. Inilah sebuah pesan yang pernah disampaikan oleh Rasulullah untuk kita dan umat akhir zaman nanti. Islam pertamakali muncul di tengah-tengah masyarakat arab jahiliyah kerika itu benar-benar dalam keadaan asing. Kebiasaan masyarakat yang menyembah patung, berhala dan kuburan harus dirombak dengan kebiasaan baru, yaitu menyembah Allah Jalla Jalalu. Pertentangan datang dalam beragam bentuk, dari cara hasutan halus hingga kekerasan lemparan batu. Apa saja yang disampaikan Rasulullah mereka menolaknya. Keadaan seperti ini sepertinya tidak berbeda jauh dengan masa kelahiran Islam, setelah empat belas abad Islam lahir, kini Islam sepertinya asing dan berat untuk dijalankan. Apa pasalnya?. Bisa jadi ibadah kidah mengendur dan dikerjakan hanya sebagai syarat pembatal kewajiban, bisa jadi iman kita tak lagi bersangkar di jiwa tapi pemanis status dibibir dan kartu tanda penduduk. Banyak diantara ibadah sunnah dan wajib yang pada saat ini tidak dikerjakan oleh ummat, bisa jadi karna kesibukan dunia. Rapat dikantor yang menyita waktu, terjebak kemacetan dijalan raya, atau memang lupa waktu. Tapi yang bahaya adalah ketika seorang muslim tidak mengerjakan ibadahnya karena takut dibilang alim, padahal ibadah adalah wajib, pengisi dahaga rohani, menjadi jembatan komunikasi antara kita dengan Allah Azza Wajalla.

Gerakan Islamophobia membuat orang menjadi takut melaksanakan ibadah. Tidak sholat karna juragan yang melarang dan masjid yang sangat jauh dari tempat tinggal, tidak puasa dibulan Ramadhan karna semua teman kantor juga tidak berpuasa, tidak mau berzakat karna tidak merasakan manfaat instan. Bila sampai pada posisi seperti ini, menjadi seorang muslim pastilah sangat berat, sebagaimana Rasulullah saw bersabda :

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing), sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang merasa dirinya asing”. (HR. Muslim)

Dalam keterasingan yang sudah disebutkan, Rasulullah memuji orang-orang yang merasa dirinya asing dengan kalimat “ Maka beruntunglah orang-orang yang merasa dirinya asing”. Para ulama menafsirkan kalimat itu ditujukan kepada orang-orang yang senatiasa istiqomah diatas agama Allah Azza Wajalla, memurnikan tauhid serta mengikhlaskan ibadah mereka hanya kepada Allah swt. Merekalah orang-orang yang senantiasa menjaga shalat, membayar zakat, mengerjakan puasa, bepergian haji dan senantiasa mengerjakan amalan lain yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

“Ada sahabat yang bertanya, Wahai Rasulullah, siapakah orang yang asing itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang berbuat baik jika manusia telah rusak.” (HR. Ahmad dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani).

Bahkan Allah Azza Wajalla memberikan tempat khusus bagi kita yang berjalan pada jalan Allah, bagi kita yang merasa asing karna memeluk agama Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah kamu sedih, dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat, didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta.” (QS. Fushilat : 30-31)

Orang yang berpegang teguh dengan agama Islam pasti akan dianggap asing terhadap orang yang benci terhadap Islam. Bahkan banyak yang tadinya teman dan sahabat mendadak ikut mencela dan memusuhinya. Hidup memegang agama tauhid seperti memegang bara api.

“Sebab dibelakang kalian ada hari-hari (yang kalian wajib) bersabar. Bersabar pada waktu itu seperti seseorang yang yang memegang bara api, dan orang yang beramal pada saat itu pahalanya sebanding dengan lima puluh kali amalan prang yang beramal seperti amalannya.” Abu Tsa’labah bertanya, “Wahai Rasulullah, seperti pahala lima puluh orang dari mereka?” Beliau menjawab, “(Bahkan) seperti pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Besarnya keutamaan manusia yang terasing ketika mengerjakan ibadah secara baik dan benar ditengah perbuatan hedoni semua orang. Mendatangi masjid untuk halat berjamaah ketika semua orang memilih berteduh di mall megah, atau ramai berkumpul di food card mencari makanan baru. Walaupun mereka berada dalam keterasingan, sejatinya merekalah orang-orang yang dijaga oleh Allah Azza Wajalla. Keterasingan sama sekali tidak membuatnya risih, justru keterasingan memacu semangatnya menjauhi jalan yang sesat.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. al-An’am : 116)

Diantara tanda-tanda akhir zaman, zaman sebelum datangnya hari kiamat, akan ada hari-hari yang didalamnya tersebar kejahilan yang disebabkan oleh malasnya manusia. Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya didepan hari kiamat, ada hari-hari yang kejahilan diturunkan didalamnya, dan ilmu diangkat.” (HR. Al-Bukhori)

Ditengah kabut kejahilan yang menyelimuti manusia, tersebarlah berbagai macam maksiat berupa pembunuhan, pencurian, perzinahan, ketamakan terhadap harta dan kemaksiatan-kemaksiatan yang lainnya. Ini semua di akibatkan oleh hilangnya ilmu agama yang bermanfaat ditengah manusia. Rasulullah saw bersabda dalam hadist yang lain :

“Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah (masalah), diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”. (HR. Al-Bukhori)

Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabut dari manusia, akan tetapi Allah matikan para ulama, sehingga manusia bisa mengangkat pemimpin-pemimpin jahil diantara mereka, maka lihatlah apakah sudah berlaku pada zaman ini?

Ketika janji kampanye akan mensejahtrakan rakyat, tapi semua kebutuhan vital justru dibuat mahal. BBM naik berkali lipat atas nama pasar bebas, Listrik ikut naik atas nama pemerataan, gas untuk memasak didapur juga naik berkali-kali entah atas nama apa. Mengaku peduli pada rakyat tapi hampir saja memberikan fasilitas mobil mewah untuk sesama pejabat. Mengaku independen dan tidak mudah diatur, tapi memberikan jabatan strategis karna pesanan pemilik partai. Mengaku demokratis dan dekat dengan Islam, tapi membredel belasan media Islam di negeri ini tanpa klarifikasi atas tuduhan radikalisme, Astagfirullahal Adzim……!

Realita umat yang ada sekarang ini menggambarkan kepada kita bahwa apa yang disampaikan Rasulullah saw benar-benar terjadi. Ulama seakan tak berdaya dan tak didengar lagi nasehatnya, ironisnya malah justru dikriminalisasi dengan berbagai tuduhan yang tak jelas dan terkesan dibuat-buat. Dalam hal ini wajar saja jika masyarakat mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil. “Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah, diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”. Wallahu A’lam

Sejarah membuktikan bahwa hingga saat ini Islam mempunyai banyak sekali golongan, terutama zaman khalifah sayyidina Ali bin Abu Thalib, mulai muncul gerakan dan golongan yang mempunyai perbedaan dalam masalah akidah. Ini adalah fakta yang tidak dapat kita tolak, karna Rasulullah pernah menyatakan bahwa nanti umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan masuk surga. Mereka itu adalah al-Jama’ah.

“Dari Auf bin Malik ia berkata, Rasulullah saw bersabda : “Yahudi terpecah menjadi 71 (Tujuh Puluh Satu) golongan, satu (golongan) masuk surga dan yang 70 (tujuh puluh) di neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di neraka dan yang satu di surga. Dan demi yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di neraka.” Ditanyakan kepada Beliau, siapakah mereka (satu golongan yang masuk surga itu) wahai Rasulullah?, Beliau menjawab, ‘Al-Jamaah’. (HR. Ibnu Majah)

Berdasarkan hadist ini, ada sebuah kesimpulan hukum, bahwa semua golongan yang ada akan masuk neraka, kecuali satu golongan yaitu Al-Jama’ah. Jumhur ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan Al-Jama’ah adalah orang-orang yang senantiasa berkumpul dengan para ulama dalam mengamalkan syariat Islam. Ummat yang tidak keluar dari koridor Al-Qur’an dan As-sunnah yang shahih, serta apa saja yang dianggap baik dan dilakukan oleh para sahabat Rasulullah tanpa terkecuali.

Makna ini sesuai dengan sabda Rasulullah tentang Al-Jama’ah. Beliau mengatakan, siapa saja yang berpegang kepadaku, sunnahku dan para sahabatku, apa saja yang dianggap baik dan dilakukan oleh para sahabatku, hendaknya setiap muslim bersatu dan berkumpul dalam petunjuk para ulama yang berpegang dengan Al-Qur’an dan As-sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat Rasulullah, tanpa dibatasi oleh sikap fanatisme golongan, tidak terbatas oleh keanggotaan ormas, partai atau organisasi apapun. Sebagaimana Firman Allah Azza Wajalla:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah atas nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran : 103)

Khazanah Islam

Rabu, 07 Juni 2017

Meraih Sukses Ramadhan
Rupanya Allah sengaja memiih redaksi tentang perintah berpuasa dengan kalimat pasif. Bukan dengan kalimat aktif, bukan pula dengan penegasan bahwa perintah berpuasa itu semata-mata datang dari Allah. Pemilihan redaksi tersebut ternyata mengisyaratkan bahwa peeintah “berpuasa” itu tidak harus merupakan kewajiban yang dibebankan oleh Allah swt. Akan tetapi lebih mengarah bahwa manusia sendirilah yang harus mewajibkan dirinya untuk berpuasa karena menyadari arti pentingnya serta hikmah di balik perintah itu.

Hikmah serta manfaat berpuasa memang luar biasa. Karena itulah jauh-jauh hari sebelum ummat Islam dipenintah berpuasa, Allah telah mewajibkan pula berpuasa kepada ummat-ummat sebelumnya, al-Baqarah 183 juga seperti dalam sabda Rasul:

Artinya: Berpuasa bulan Ramadhán telah diwajibkan oleh Allah kepada ummat-ummat sebelummu.
Puasa dapat membuat orang lebih dekat kepada Rabbnya. Karena ketika seseorang berpuasa berarti dia dalam ketaatan,, dia tengah mengendalikan nafsunya, membersihkan jiwanya serta membersihkan dirinya dari dosa. Dengan demikian berpuasa juga bcrarti usaha “mengendalikan dirinya”. Ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya, mampu memanagemen diri berarti dia telah merdeka dari belenggu suatu “kebiasaan” yang kadang menjadi pcnghalang kemajuannya. Padahal manusia pada umumnya mempunyai potensi untuk cepat terpengaruh pada lingkungannya, cenderung terpola oleh kondisi lingkungnanya. Di sinilah arti pentingnya usaha menanamkan pengendalian diri pada diei seseorang. Puasa dimaksudkan sebagai sarana latihan pengendalian diri penggemblengan diri menuju peningatan kualitas hidup. 

Hikmah lain dari puasa, ternyata puasa mengajarkan manusia agar mampu rnelihat kehidupan ini jauh ke depan. Menahan nafsunya, menahan kesenangan sesaat. Belajar keras untuk mengesampingkan kesenangan yang sesaat guna meraih kesuksesan di hari esok. Bulan Ramadhan yang sengaja dipiih Allah untuk melakukan ibadah puasa selama satu bulan, sebagai upaya untuk mengasah. serta mengasuh jiwa manusia, membersihkan dosanya serta menguatkan imannya. Dan training Allah ini, diharapkan sasana Ramadhan akan tetap mernbekas, memberi warna bagi kehidupan seorang Muslim pada bulan-bulan berikutnya. Pasca Ramadhan benar-benar akan membuat manusia yang mempunyai jiwa-jiwa yang muttaqien. Manusia-manusia yang mau bangkit memenuhi panggilan tugas, yang patuh serta taat pada Rabbnya. Manusia-manusia yang mampu bersikap dan bersifat seperti sifat-sifat Rabbnya, pengasih, penyayang, pemaaf dan yang lainnya dalam segala aktivitasnya. Bukankah manusia adalah mandataris Allah di bumi? sebagai wakil Allah di alam ini? Sebagaimana firrnan Allah:

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaiman diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa". (QS. al-Baqarah:165).

Untuk bisa meraih hikmah serta manfaat dari puasa Ramadhan, tentunya banyak hal yang harus dipersiapkan dan dipenuhi. Tidak hanya sekedar memenuhi syarat sahnya puasa, tidak makan. tidak minum serta tidak bercampur (bersetubuh) pada siang harinya. Sebagaimana penjelasan Rasul:

Artinya. Bukanlah puaca itu (sekedar menahan) makan serta minum, saja, tapi sesungguhnya puasa itu adalah menahan diri dari hal yang sia-sia (tak bermanfaat menurut ketentuan agama) dan caci maki (HR. Thabrani dan Abu Ubaidah).

Beberapa hal yang dilarang karena bisa merusak nilai puasa:

1. Berkata dan berbuat keji,

Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa tidak meninggaikan perkataan serta perbuatan keji maka tidak ada hajat bagi Allah dalam Ia meninggalkan makan serta minumnya”. (HR. Bukhari, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Termasuk dalam perkataan keji adalah ghibah, fitnah, dusta, mencaci maki,, bertengkar, dan ucapan-ucapan semisal itu ataupun juga omongan-omongan yang tidak bermanfaat. Adapun yang termasuk perbuatan keji di antaranya adalah mencuri, menganggu orang dengan sengaja, dan peb uatan lain yang dilarang Allah.

2. Melakukan perbuatan yang sia-sia

Rasulullah bersabda:

“Bukanlah puasa itu sekedar menahan makan dan minum, tetapi menahan diri dari segala hal yang sia-sia dan caci maki”. (HR. Thabrani).

Dalam hadits lain Rasulullahjuga bersabda:

Artinya: Puasa itu perisai, maka apabila salah seorang dari kamu sedang berpuasa janganlah berkata kotor, dan berbuat pandir (tolol), dan apabila ada seseorang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar maka hendaklah ia berkata “sesungguhnya aku sedang berpuasa’. (HR Bukhari dan Muslim).

Demikianlah makna puasa yang sebenarnya. Puasa tidakhanya secara zhahir saja, namun yang harus kita perhatikan juga adalah puasa secara bathin, maknawinya juga puasa. Dan ini, yang kadang kita lengah. Kita kurang memperhatikan puasa yang bersifat maknawi. Bagaimana kita tidak marah, tidak dusta, tidak mencaci maki, tidak bicara yang sia-sia atau bahkan juga tidak berlebih-lebihan dalam makan dan minum ketika waktu berbuka itu tiba di tengah-tengah kita.

Sering terjadi di antara kita mengumpulkan banyak makanan di siang hari untuk berbuka pada malam hari. Nah, bagaimana kita bisa menahan ini semua. Seseorang hanya bisa dikatakan berhasil dalam puasanya ketika dia bisa menahan semua yang membatalkan puasa dan menahan seluruh hal yang dapat merusak makna puasanya. Dan mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang yang jauh-jauh hari sudah diingatkan oleh Rasulullah tentang orang-orang yang sia-sia puasanya, orang-orang yang puasanya tidak membekas kecuali hanya merasakan lapar dan dahaga. Sebagaimana hadits Rasul:

Artinya: "Banyak orang yang berpuasa tidak mendapat bagian (pahala) kecuali lapar belaka.. dan banyak pula orang yang berjaga malam (untuk shalat dan dzikir) yang tidak mendapat pahala dari berjaganya itu kecuali hanyalah kelelahan dari berjaga-jaga saja". (HR. Ibnu Majah dan Abu Hurairah).

Untuk menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang akan membuat hilangnya nilai puasa, salah satu jalannya adalah dengan membangun kesadaran penuh. Menghadirkan adanya keagungan Allah, sadar kalau dirinya Sedang berpuasa. Yakin adanya perjumpaan dengan Allah serta yakin kalau Allah tidak menyia-nyiakan apa yang dilakukannya. Suasana hati yang seperti ini perlu dilatih terus menerus. Melatih dan membiasakan diri untuk mengatur emosi, dan memanagemen diri serta hati. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga-motivasi niat. Niat yang lurus hanya untuk meraih ridha Allah akan menimbulkan ketenangan dan ketentraman diri. Dan ini yang akan membuat puasa itu terasa ringan, karena niat adalah ruhnya suatu aktivitas. Niat yang ikhlash juga akan menghindarkair diri dari kecemasan dan kegelisahan. Dan orang-orang yang seperti inilah yang nantinya akan berhasil puasanya. Puasanya akan benar-benar membawa hikmah. Dan puasa yang seperti inilah yang nantinya akan mencetak manusia-manusia yang bermutu dan berkualitas sebagaimaa tujuan puasa itu sendiri.

Selasa, 30 Mei 2017

Solomon

"Dalam diri manusia di daerah yang paling dalam, ada tempat yang tidak tersentuh oleh kepalsuan. Daerah suci yang sepertinya dipagari dan dilindungi oleh Tuhan dari kekuatan setan”.  
 
Di Damaskus tahun 1804 masehi tejadi peristiwa mengerikan yang mungkin tak semua orang dapat mempercayainya. Adalah Padre Tomaso da Calangiano, seorang pendeta yang berasal dari Italy dan menetap lama di Damaskus, hilang secara misterius. Pendeta yang tekenal ramah dan sopan itu menghilang sebelum menyentuh makan malam yang telah dihidangkan. Semua orang merasa kehilangan. termasuk David Harary, seorang saudagar besar Yahudi separuh baya yang juga terkenal amat ramah kepada siapapun juga, termasuk kepada sang pendeta yang kerap menjadi teman diskusi masalah-masalah keagamaan.

Namun, misteri akan hilangnya sang paderi tak berlangsung lama. Solomon sang tukang cukur Yahudi membuka misteri itu. Misteri suatu peristiwa paling bodoh yang pernah dilakukan atas nama agama. Padre Tomaso telah menjadi bangkai. Mayatnya dikubur di halaman dalam rumah besar sang konglomerat yang sekaligus teman dekat pendeta: David Harary. Bahkan Davidlah yang memimpin upacara pembunuhan terhadap sang paderi. Upacara? Ya, upacara untuk mengambil darah orang masehi guna dicampur dalam adonan roti Canai yang nantinya dimakan dalam upacara istimewa. Salah satu khasiatnya adalah untuk mengembalikan keperjakaan David yang selalu lumpuh di hadapan Camelia, isterinya yang masih mudah dan cantik. Upacara dalam keagamaan Yahudi yang digelar tidak setiap tahun ini memang memuakkan. Mengorbankan nyawa seseorang. mengambil darahnya dan memakannya dalam roti hanya karena ia meyakini suatu keyakinan yang berlainan.

Peristiwa nyata. tragis dan memuakkan itu telah dikemas kembali dalam bentuk novel dengan bagus oleh Najib Kaelani dalam: Haaratul Yahud (Kampung Yahudi). Novel yang tidak terlalu tebal yang dilengkapi dengan referensi dan manuskrip interogasi kepolisian itu memang menggambarkan miniatur kehidupan manusia yang lengkap. Di sana ada keserakahan, obsesi, kemunafikan, hati nurani dan juga keyakinan salah yang banyak dianut oleh orang ramai.

Najib Kaelani, seorang sastrawan yang dipinggirkan karena keaktifannya di gerakan Islam, mengemas kisah ini dengan begitu apik hingga tak terkesan menjemukan atau tampil sekedar sebagai poster kampanye anti Yahudi. Yahudi yang menjadi terdakwa dalam kisah ini tidak melulu digambarkan sebagai garong dengan berwajah bengis atau penipu berakal bulus. Toh di akhir cerita, hati nurani Yahudi juga yang berbicara kebenaran. Hati nurani yang tidak mampu disentuh oleh setan manapun akhirnya berbicara lewat mulut sang barber Yahudi yang selalu dihantui oleh rasa bersalah.

Dengan lutut bergetar Ia paparkan semua kisah itu secara detail, dari mulai awal penculiknn sampai penguburan dan penyimpanan darah sang paderi dalam botol yang kemudian diserahkan kepada kerabian Yahudi. Salah seorang prajurit polisi jatuh pingsan, seorang perwira penyidik muntah-muntah dan terduduk lemas. Peristiwa itu memang mengerikan dan membuat bulu kuduk berdiri. Sang barber terus berkicau hingga habis gumpalan yang selama ini menyesakkan dadanya.

Mengkhianati hati nurani ternyata tak mudah. Walaupun untuk suatu kredo dan keyakinan. Kepuasan yang dibisikkan oleh setan ketika menyayat leher sang paderi ternyata tak cukup kuat untuk melawan hati nurani, yang menurut Najib Kaelani tak tersentuh oleh setan itu. Hal yang sama .sebenarnya juga terjadi pada ribuan tentara Israel yang menembak anak-anak intifadhah dengan peluruh karet atau peluru timah runcing. Mereka pembunuh biadab. Namun hati nurani atau fitrah kemanusiaan mereka berontak dan melawan kebiadaban mereka. Akhirnya rasa bersalah yang tumbuh di hati nurani itu pula yang menjadikan mereka manusia dengan jiwa yang kurang normal dan harus tinggal di perawatan kesehatan jiwa. Hal itu juga terjadi pada pasukan Merah Rusia, tentara SS Nazi, gerombolan Khmer Merah dan juga pada diri kita sendiri.

Namun seringkali hati nurani kalah bertarung melawan segala macam kebiadaban dan kebejatan. Ketika hati nurani bertekuk lutut di hadapan segala kebejatan, ketika itulah manusia tidak mempunyai keseimbangan dalam hidupnya. Ia mampu menjadi makhluk terbengis sekalipun. Seperti ketika pasukan Israel menembaki anak-anak Palestina yang innocent, atau Pasukan SS Nazi yang membunuh orang yang tidak berkulit putih bersih. Tapi mereka merana dalam kebengisan. Hati nurani terlalu kuat untuk dilawan, terlalu dalam akarnya untuk dicabut. Setiap usaha untuk mencabutnya dan menggantikannya dengan kebejatan akan berakhir pada kesengsaraan.

“Jangan sekali-kali mengkhianati hati nurani, hio!” teriakan Sawung Jabo dalam Hio-nya ini mungkin tidak dapat dilaksanakan oleh siapa pun juga kecuali oleh orang-orang yang memang benar-benar mengerti hati nurani dan fitrah kemanusiaan yang dikaruniakan oleh Allah kepada hamba-Nya.

Minggu, 14 Mei 2017

Menangkal Islamophobia

Semua pembicaraan dan pembahasan tentang Islam dan kaum Muslimin di Amerika atau di negara-negara Barat Lainnya cenderung melecehkan dan disalah fahami, inilah yang menjadi pemicu kenapa Islam selalu dianggap beringas dan bengis dalam mengantisipasi berbagai event politik baik dalam skala regional maupun internasional. Dalam berbagai kesempatan, Islam selalu difahami seperti itu, di Layar televisi. berita-berita di koran. acara-acara akademis bahkan di Kongres Amerika sekalipun.

Dr. Gariq Nucs, seorang wartawan Muslim Amerika yang sehari-harinya bekerja pada sebuah Majalah Amerika terkemuka. yakni “Washington Report”. ketika menulis untuk Majalah al-Mujtama’ Kuwait edisi 1415 di dalam menanggapi masalah ini. rupanya lebih bersikap instropertif dan lebih melihat kondisi internal kaum Muslimin sendiri. Dià mengatakan:
“Saya üdak akan mengemukakan contoh-contoh untuk menlelashan bagaimana Barat berpersepsi tentang Islam. Namun sebagai gantinya wajib bagi kita kaum Muslimin untuk sebisanya melakukan counter issu untuk meluruskan permasalahan dengan cara melakukan pressing lewat sikap dan moralitas dalam rangka menunjukkan dan menjelaskan wajah kita yang sebenarnya”.
Lebih lanjut Dr. Gariq Nucs mengatakan bahwa setidaknya ada lima sudut pandang yang mesti harus difahami kaum Muslimin Barat untuk selanjutnya difahamkan kepada mereka yang selama ini salah dalam memahami Islam. kaum Muslimin dan gerakan-gerakan Islam yang ada sekarang ini harus dilihat dari kelima sudut pandang ini agar tidak terjadi miss understanding terhadap Islam, kalau memang Barat menginginkan obyektifitas. Kelima sudut pandang atau kelima frame cara melihat Islam itu adalah:

1. Frame Sejarah

Yang pertama, kita harus melihat Islam dari tinjauan historis. Sebagian besar orang Amerika berpendapat bahwa Islam muncul ke permukaan pada tahun 1979 yang ditandai oleh runtuhnya Syah Iran Reza Pahlevi dan keberhasilan Revolusi Iran. Dan banyak orang Barat yang tahu Islam sejak empat tahun terakhir, bukan empat belas abad sebagaimana yang harus difahamni. Padahal mau tidak mau. dalam tinjauan historis Islam harus diakui sebagai salah satu peradaban internasional terbesar yang telah menguasai pentas politik dan kekuatan ekonomi selama berabad-abad. Islam juga mampu melahirkan ribuan ulama dan cendekiawan dalam berbagai disiplin ilmu dan peradaban.

lnilah yang telah berhasil diselewengkan Barat dalam percaturan politik, sosial dan budaya. hingga melahirkan image bahwa Islam adalah tatanan ideologi terbelakang karena dianggap baru lahir kemarin sore. Hal ini sama saja dengan kita mengatakan bahwa sejarah Inggris baru dimulai sejak PM Margaret Teacher atau sejarah Rusia baru dimulai sejak Mekhail Ghurbachov. Sungguh dengan dalih apapun statemen ini tidak bisa diterima. Namun sayang mereka berhasil mengungkapkan statemen semacam ini untuk Islam.

2. Frame Pemikiran

Cara melihat Islam dengan frame ini juga harus kita lakukan. Karena sebagian besar perdebatan tentang Islam dan al-Fikrul Islamy akhir-akhir ini ternyata hanya berkisar tentang sisi politik saja. Saya tidak ingin mengatakan bahwa Islam itu tidak menyentuh aspek politik. tapi orang-orang Barat menganggap bahwa politik adalah satu-satunya aspek dalam memandang Islam. Padahal kalau sedikit jeli akan dijumpai warisan fikr islami yang kaya dalam berbagai bidang. mulai dan tikrah tentang dien. filsafat. ekonomi. ilmu bahasa. sejarah. geografi dan ilmu-ilmu eksakta. Bahkan ada yang lebih sulit dari itu semua. namun mampu diwariskan oleh fikr Islami yakni ilmu perundang-undangan dan fiqh. Ketika para pakar hendak melakukan prediksi keilmuan yang menyangkut antisipasi masa depan dalam penelitian tertentu. tidak bisa tidak mereka akan merujuk kepada bibliografi Islam. Namun demikian jarang bahkan hampir tidak pernah kita jumpai dalam penelitian-penelitian yang mengungkap masalah itu. Tidak pernah kita jumpai adanya rujukan kepada para pemikir Islam masa lalu yang telah berhasil mengukir namanya dalam dunia pemikiran, semisal Imam Syafi’i. Imam Ghazali. Ibnu Khaldun. Ibnu Rusyd dan tokoh-tokoh lainnya. Nah adakah tatanan ideologi yang sekaya dan sebanyak Islam dalam mewariskan sistem-sistem kehidupan? Mestinya Barat yang katanya jago obyektifitas harus sedikit obyektif dalam memandang keutuhan Islam. tidak Seperti yang sekarang tejadi.

3. Frame Budaya

Frame ini penting untuk kita ketahui dalam rangka membedakan manakah yang dari Islam dan manakah yang merupakan budaya dan tradisi setempat. Ini penting supaya jangan sampai tradisi setempat dijadikan standart dalam melihat Islam. Memang benar bahwa Islam adalah Ummah Waahidah (ummat yang satu), namun di sisi lain kita juga harus mengakui adanya berbagai perbedaan. baik budaya. Bahasa, suku atau status sosial yang terdapat dalam ummah waahidah tersebut, salah satu contoh yang saat ini menjadi problem yang cukup serius di Barat (baca: Prancis), yakni masalah Hijab. Perbedaan pendapat tentang hijab juga terjadi di Dunia Islam. sebagaimana pula perbedaan tentang model hijab itu sendiri. Di Iran bernama Syaadur, di Pakistan namnya Niqab. di Afghanistan namnya Burqu’ dan lain-lain. Implikasinya adalah munculnya perdebatan tentang posisi wanita dalam Islam. karena perbedaan posisi di tempat-tempat tertentu akibat kekurang fahaman mereka terhadap Islam.

Kalau barat mengungkap persepsi Islam tentang wanita dengan berdasar tradisi seperti ini tentu tidak Islami dan cenderung memusuhi Islam. karena tidak merujuk kepada sumber aslinya yaitu Qur’an dan Sunnah. Persepsi itu hanya berdasar kepada tradisi dan budaya yang telah mengakar. dan bukan kepada ta’aliim Islamiyah. Seandainya kita tidak memahami frame Budaya tentu kita tidak akan tahu mana Islam dan mana tradisi.

4. Frame Politik

Kita butuh untuk memahami frame politik kontemporer yang menjadi titik tolak kaum Muslimin. khususnya gerakan Islam. Seluruh aktifitas Harakah Islamiyah yang ada sekarang ini harus difahami dengan untuh dan menyeluruh. mulai dari latar belakang kemunculannya. sistem pergerakannya sampai kejelian dalam melihat aktifitas yang sebenarnya dilakukan dan terjadi dipermukaan. Apa yang pernah dilakukan oleh ikhwanul Muslimin di Mesir misalnya itu harus difahami secara proporsional. Itu bisa dilakukan manakala difahami pula kondisi sebenarnya dari pemerintah Mesir dalam berbagai bidang seperti dalam masalah perkembangan ekonomi. politik luar negeri alih demokrasi dan aktifitas-aktifitas sosial lainnya. Juga Front Penyelamat Islam al-Jazair (FIZ), kemunculannya tidak bisa dipisahkan dari kegoncangan politik dan ekonomi di Al-Jazair akibat tiga puluh tahun dipimpm partai tunggal. Demikian pula halnya kondisi tidak menentu dari para aktifis harakah di Barat karena tekanan politik di sana, tentu tidak logis kalau tidak melihat bagaimana sebenarnya perlakuan pemerintah terhadap mereka.

Sungguh sangat disesalkan ungkapan yang pernah dikatakan oleh Martin Cromer dalam sebuah seminar di Universitas Georgetown Washington USA, di mana dalam seminar itu dia mempresentasikan makalahnya berjudul “Para pencetus perdamaian melawan aktifis Gerakan Islam”. Judul ini seolah mengisyaratkan bahwa gerakan Islam anti perdamaian. Padahal kalau dilacak bukankah perdamaian-perdamaian yang terjadi sekarang ini hanya sepihak dan menguntungkan non Muslim? Itu di satu sisi. sementara itu di sisi lain mengapa tidak pernah diungkap kelompok-kelompok ekstremis Yahudi yang anti damai dan secepatnya ingin menghancurkan Islam demi tegaknya Zionisme Internasional? Sebut saja misalnya lobby likud, kelompok Maulidaat dan Kakh serta Kahana Hai. Bahkan seorang “pendeta” Yahudi terbesar Sholomon Ghurin yang telah meninggal dengan tegas tidak hanya sekedar menolak damai. namun bahkan menginstruksikan kepada tentara Israel untuk secepatnya merampas tepi Barat tanpa mengindahkan usulan damai sedikitpun.

Kalau dicermati. makalah yang disampaikan Dr. Cromer berarti bahwa dalam pentas politik dunia saat ini khususnya di Timur Tengah ada dua kekuatan yang saling berseteru yakni. para pencetus perdamaian melawan para aktifis gerakan Islam (Islamiyyun). Begitulah dengan mudahnya dia menempelkan atribut kebringasan dan anti damai kepada Islamiyyun.

5. Frame Agama

Frame ini mungkin aksiomatik sifatnya. namun sayang masih banyak orang barat yang tidak mengetahuinya. Banyak orang Amerika yang tidak tahu bahwa Islam adalah agama tauhid yang mengikuti millah Nabi Ibrahim AS. Mereka tidak tahu bahwa Allah yang disembah dalam Islam juga tuhan yang disembah dalam agama Yahudi dan Nashrani hanya saja di dalam kedua agama ini Allah telah diselewengkan posisinya. Begitu juga para Nabi yang tertera dalam Injil dan Taurat. juga tertera dalam al-Kariem.

Nah bagaimana mungkin mereka akan memperbincangkan Islam dengan bahasan ilmiyah kalau mereka bodoh tentang ta’alim Islamiyah dan posisi Islam dari segi religius? Islam adalah agama (dien) namun tidak sebagaimana dien yang difahami oleh Barat. Hubungan manusia dengan Allah swt dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya adalah merupakan Inti Islam. Jadi ketika saya beriman dengan aqidah Islamiyah dan mendeklarasikan diri sebagai Muslim. maka saya tidak melakukan itu karena adanya desakan politis, atau karena keyakinan saya bahwa orang-orang akan membantu saya dalam pemilikan senjata. Bukan pula karena saya menginginkan pakaian dan rumah yang mewah. Itu semua saya lakukan karena ada suatu kekuatan Yang Maha Besar yang telah merasuk dalam lubuk sanubari saya untuk bergerak melaksanakan al-Islam.

Kalau ini tidak difahami secara sempurna. mustahil akan bisa dicari titik temu. Yang akan terjadi adalah kesalahan demi kesalahan. penyimpangan demi penyimpangan dan penyelewengan demi penyelewengan. Oleh karena itu diakhir tulisannya, Dr. Gariq Nucs menghimbau kepada Barat agar kaum Muslimin sendiri yang memperkenalkan siapa jati diri mereka dan bukan diperkenalkan oleh Barat dengan segala tendensi yang ada di balik itu. Dia mengatakan: “Kaum Muslimin harus diberi kesempatan untuk berbicara dan memperkenalkan siapa dirinya dan saham yang telah dihasilkannya. Martin Cromer (sang Penubus Yahudi) mungkin memahami Gerakan Islam dan jalannya perjanjian damai yang saat ini terjadi. Juga Bernard Lewis sudah barang tentu sangat memahami sejarah Kekhalifahan Turki Utsmani (Dinasti Ottoman). Begitu pula Steven Emerson seorang wartawan kenamaan, tentu telah menjalin hubungan yang erat dengan dinas intelejen Israel lebih daripada apa yang saya lakukan. Namun saya tidak ingin salah satu di antara mereka bercerita kepada saya atau kepada ikhwan- ikhwan saya tentang sesuatu yang saya yakini sebagai seorang Muslim. karena itu bukan hak mereka” .

(Rofi Munawwar)
Kesabaran Bekal Muharrik Da’wah

Kesabaran adalah sesuatu yang sangat berat. oleh sebab itu bagi seorang muharrik harus berlatih diri dengan sebaik-baiknya agar nantinya mampu menahan berbagai kesulitan yang dihadapinya dalam aktivitas da’wah. Sehingga Allah swt. memberi nilai tersendiri kepada mereka sebagaimana firman-Nya: 

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
 
Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. az Zumar :10).

Dan dalam ayat yang lain: 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
 
Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar". (QS. Al Baqarah :155).

A. Sabar Mendatangkan Kejayaan  
 
Ketahuilah wahai saudara-saudaraku bahwà Allah subhanahu wata’ala telah berfirman di dalam kitabnya yang menceritakan tentang keadaan Bani Israil yang artinya:

Dan kami wariskan kepada kaum yang ditindas itu, negeri-negeri di bagian timur bumi dan baratnya, yang telah kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabb-mu yang baik (sebagai janji) untuk bani Israel disebabkan kesabaran mereka. Dan kami hancurkan apa yang teiah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang mereka dirikan (QS. 7:137).

Itulah janji Allah swt. kepada bani Israel untuk memberikan kekuasaan kepada mereka, kekuasaan itu diberikan Allah swt. disebabkan karena kesabaran mereka. Huruf “Ba” di sini sebagagai Ba’ sababiyah yang berarti dengan kesabaran rnereka (Bani Israil), maka Allah swt. memberikan kekiasaan kepada mereka di atas bumi, dan mewariskannya kepada mereka negeri yang telah diberkahi-Nya yaitu Negeri Palestina. Setelah mereka memasuki negeri tersebut sepeninggal, Nabi Musa as. maka rnereka memasukinya bersama nabi Dawud as. dan memasukinya bersama Nabi Sulaiman as. Mereka memerintah Palestina dengan dasar tauhid. Yakni dengan kalimat La Ilaha Illallah.

Dengan kalimat ini, maka Bani Israil berhak mewarisi negeri Mesir, dan Fir‘aun pantas ditenggelamkan karena menindas dan melalimi Ahlut tauhid. Mereka ahlut tauhid berhak mewarisi negeri Mesir sepeninggal Fir’aun setelah sebelumnya mereka ditindas dan dijadikan warga kelas bawah seperti budak belian. Konon ada cerita apabila orang Qibti (penduduk asli Mesir) hendak membawa barang bawaan, maka mereka memilih salah seorang dari Bani Israil untuk mengangkatnya dan memikulnya. bukannya mencari keledai atau kuda. Beberapa masa kemudian Allah mengubah keadaan mereka disebabkan karena kesadaran mereka.

B. Dua Macam Kesabaran

Allah swt. telah berfirman di didalam kitabnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
 
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan hendaknya senantiasa bersabar dan berribath-lah dan bertaqwalah kepada Allah semoga kamu sekalian memperoleh kemenangan". (QS. Ali Imran : 200).

Di dalam ayat tersebut di atas Allah swt. telah mengikat keberuntungan seseorang dengan 3 faktor:

1. Kesabaran
2. Ribath
3. Taqwa

Allah swt. sendiri telah mengulang kata sabar yang berarti sangatlah penting kesabaran itu. Oleh sebab itu Dr. Abdullah Azzam menerangkan kesabaran dalam dua keadaan yaitu sabar terhadap sesuatu yang disukai oleh hati dan sabar terhadap sesuatu yang tidak disukai oleh hati. 

1. Sabar terhadap sesuatu yang disukai oleh hati  
 
Sesuatu yang disukai oleh hati misalnya kesehatan, harta, kekayaan, kelapangan, kekuatan. Anak, istri dll.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya sabar terhadap sesuatu yang disukai oleh hati adalah lebih berat daripada sabar terhadap sesuatu yang tidak disukai oleh hati (dibenci, sehingga Abdurrahman bin ‘Auf pernah menyatakan: “kami mampu bersabar tatkala diuji dengan kesempitan/kesusahan. Namun kami tidak mampu bersabar tatkala diuji dengan kelapangan/kesenangan”.

Allah swt. menggambarkan dalam salah satu ayatnya: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
 
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh buat kalian, maka berhati-hatilah kalian dari mereka". (QS. Ath Taghabun : 14).

Dalam salah satu hadis dinyatakan dari Attirnidzi dari Ibnu Abbas ra dia berkata: “Ada beberapa laki-laki dari penduduk Makkah yang telah masuk Islam. Lalu mereka bermaksud mendatangi Nabi: saw di Madinah. tapi Istri-istri dan anak-anak mereka rnenolak untuk ditinggalkan. ‘Tatkala pada suatu ketika mereka mendatangi Rasulullah saw. dan mereka melihat bahwa pengikut Rasulullah saw. telah sama faqih terhadap dien. maka mereka menyesal dan bermaksud menghukumnya anak-anak dan istri-istri rnereka. Di dalam ayat yang lain Allah berfirman: 

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
 
Artinya: “Dan ketathuilah bahwa sesungguhnya harta-harta kamu dan anak-anak kamu dapat menjadikan fitnah dan bahwa sesungguhnya Allah memiliki pahala yang besar. (QS. Al Anfal : 28).

Fitnah berarti ujian untuk membuktikan apakah seorang hamba bersyukur dan mempergunakan nikmat itu untuk kebaikan ataukah ingkar dan menggunakannya untuk rnaksiat kepada Allah swt.

Ketahuilah wahai saudaraku banyak terjadi keretakan hubungan dikarenakan anak dan banyak juga terjadi keretakan hubungan persaudaraan Muslim karena harta dan banyak lagi yang lainnya itu semua disebabkan oleh kecenderungan nafsu terhadap yang diinginkan oleh hati. Untuk itulah wahai saudaraku Muslim hendaklah anda sabar dengan cara tidak terlalu cenderung dengan Sesuatu yang diinginkan oleh hati tersebut.

2. Sabar terhadap sesuatu yang tidak disukai (dibenci) oleh hati  
 
Sabar terhadap sesuatu yang dibenci oleh hati ada 3 macam:

a. Sabar tethadap perintah dan larangan Allah swt. Sabar terhadap penntah Allah swt. dengan cara:
 
1. Sebelum memulainya yakni dengan niatan yang seikhlas-ikhlasnya.
2. Selama mengerjakannya yakni dengan mernenuhi syarat dan rukunnya serta banyak berdzikr serta khusyu’ tatkala mengerjakannya.
3. Setelah selesai mengerjakannya :

· Tidak merusak pahalanya (menyebut-nyebut pemberian dan rnenyakiti yang diberi). Sebagaimana firman Allah surat al-Baqarah 264.
· Tidak Ujub (bangga dengan dirinya sendiri)
· Tidak menampakkan ibadah kepada orang lain

b. Sabar tethadap musibah yang menimpa.

Kesabaran terhadap musibah ini ada tiga tingkatan:

· Menangis, mengeluh kepada manusia ini dilakukan oleh orang-orang yang masih jahil
· Menahan hati dari rasa tidak puas terhadap taqdir Allah swt.
· Ridha terhadap musibah yang menimpanya.

c. Sabar terhadap sesuatu yang menjadi pilihan kita pada mulanya yang pada akhirnya menjadi paksaan atas diri kita.

Deinikianlah sebagian isi buku yang telah menerangkan persoalan sabar yang telah dikupas panjang lebar oleh Ustadz Dr. Abdullah Azzam yang insya Allah dapat digunakan sebagai panduan bagi segenap muharrik da’wah untuk merenungi kesabaran kita baik yang sedang dijalani ataupun di masa yang akan datang. semoga selalu berada dalam kesabaran Amien. Wallahu A’lam bishshawab

(Agus Nasrullah)

Sabtu, 13 Mei 2017

Prinsip-Prinsip Dalam Memahami Hadist

Sesuai dengan disiplin keilmuannya. masing-masing ahli mengedepankan rumusan definisi yang berbeda-beda tentang pengertian hadits nabi Hal ini nampaknya dilatari oleh perbedaan sudut pandang mereka dalam melihat jati diri Muhammad; ulama ushul, misalnya, lebih memandang Nabi Muhammad sebagai musyarri (penetap hukum), karenanya mereka memberikan batasan hadits nabi sebagai apa yang berasal dari Nabi Muhammad, khususnya yang menyangkut masalah hukum, tidak termasuk bidang aqidah. Sementara itu, ulama muhadistsin lebih memandang profil Muhammad sebagai uswah hasanah, pemimpin paripurna yang harus diteladani ummat dalam seluruh aspek kehidupannya. Itulah Sebabnya, muhaditsin mendefinisikan hadits sebagai segala yang berasal dari Muhammad, baik sebelum bi’tsah (sebelum diangkat menjadi rasul) maupun sesudahnya.

Meskipun berbeda dalam perumusan definisi, tetapi mereka telah sepakat atas kedudukan hadits sebagai sumber kedua ajaran Islam, setelah al-Qur’an. Tentang pemosisian hadits sebagai sumber kedua ajaran Islam setelah al-Qur’an ini, minimal ada tiga alasan mendasar yang melatarbelakanginya, yaitu: Pertama, al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir karenanya Ia bersifat qath’ial-wurud (diterima secara meyakinkan), sedangkan hadits hanya diriwayatkan secara ahad karenanya bersifat Zhann al-wurud, kecuali hadits mutawatir yang Secare kuantitas jumlahnya sangat terbatas sekali. Kedua, fungsi utama hadits adalah Sebagai bayan atau penjelas al-Qur’an. Dan Ketiga, adanya penegasan dan dalil naqli, baik berupa al-Qur’an maupun hadits. Yang berupa al-Qur’an, antara lain. ditegaskan dalam surat an-Nisa’ ayat 59. Adapun yang berupa hadits adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang memuat dialog Nabi dengan Mu’adz bin Jabal ketika diangkat menjadi gubernur Yaman.

Bertolak dari kedudukannya (baca: hadits) sebagai sumber kedua ajaran Islam, maka upaya pemahaman secara benar terhadapnya merupakan suatu kebutuhan yang bersifat mutlak bagi setiap Muslim. Sebab, ketepatan pemahaman terhadapnya menjadi prasyarat atas ketepatan pemahaman dari pengamalan ajaran Islam. Sebaliknya, kekeliruan dalam memahami hadits akan berimplikasi pada kekeliruan dan dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Adapun untuk dapat memahami hadits secara benar, maka perlu diperhatikan prinsip-prinsip berikut:

1. Memahami hadits berdasarkan petunjuk al-Qur’an.

Seperti telah dijelaskan di atas bahwa fungsi utama hadits adalah sebagai bayan atau penjelas al-Qur’an. A1-Qur’an merupakan ruh dan fondasi bangunan Islam, yang keberadaannya sebagian besar masih bersifat mujmal (global), sedangkan hadits memberikan rincian lebih lanjut terhad ap ke-mujmal-an al-Qur’an itu, baik dalam dataran teoritis maupun praktis. Pada dataran teoritis hadits memberikan rincian pemahaman terhadap globalitas al-Qur’an. Sedangkan pada dataran praktis, hadits menjelaskan operasionalisasi petunjuk al-Qur’an kedalam kehidupan nyata. Jadi, hadits memiliki nilai transformatif dan aplikatif.

Logika pemikiran yang lurus menegaskan bahwa penjelas itu tidak boleh bertentangan dengan yang dijelaskannya. Implikasinya, karena hadits merupakan penjelas al.Qur’an, maka hadits yang sudah terbukti kesahihannya mesti sejalan dengan al-Qur’an. Dengan kata lain, hadits yang sah tidak akan kontradiksi dengan al-Qur’an. Jika ada Sementara pihak yang menduga adanya kontradiksi antara hadits dengan al-Qur’an, maka mesti ada beberapa kemungkinan yang mesti dapat dijelaskan terhadap kasus ini, di antaranya adalah Pertama, hadits yang kontradiksi dengan Qur’an itu tidak sahih Kedua, kekeliruan dalam memahami hadits dan atau juga al-Qur’an; Ketiga, kontradiksi antara keduanya hanya bersifat nisbi, bukan hakiki. Dengan demilkian sebagaimana disimpulkan Dr. Yusuf Qardhawi bahwa hadits itu harus dipahami berdasarkan petunjuk al-qur’an. Karena hadits yang kontradiksi dengan al-Qur’an itu mesti tidak sahih, maka hadits yang demikian ini harus ditolak. Hadits al-Gharaniq hadits bikinan kaum zindiq yang di dalamnya memuat suatu pujian pada berhala, dan juga menjelaskan bahwa bintang-bintang itu benar-benar dapat memberikan syafaat di hari kiamat,, misalnya merupakan salah satu hadits yang harus ditolak karena kandungannya bertentangan dengan prinsip umum ajaran Islam dan khususnya QS. an-Najm ayat 19-23, yang pada prinsipnya mengecam keras adanya tuhan-tuhan palsu selain Allah.

2. Memahami hadits dengan pendekatan tematik.

Sebagai bayan al-Qur’an, hadits tidak pernah menjelaskan satu topik kajian melalui satu hadits saja, melainkan oleh beberapa buah hadits. Dengan kata lain, suatu topik kajian tertentu tidak pernah diuraikan secara tuntas oleh satu hadits saja, melainkan mesti dilengkapi dan disempurnakan oleh beberapa hadits lainnya. Implikasinya, ketuntasan pemahaman itu baru akan dicapai jika didasarkan pada semua hadits yang memuat tema bahasan yang sama. Pengambilan makna lahiriyah suatu hadits tanpa mengkontekstualisasikan dengan hadits-hadits lain yang semakna akan berimplikasi pada pemahaman yang bersifat parsial, dan yang demikian ini kata Dr. Yusuf Qardhawi merupakan kesalahan fatal dalam pemahaman hadits.

Misi utama pendekatan tematik ini adalah untuk menemukan konsep utuh pandangan Islam terhadap suatu persoalan tertentu dan sekaligus sebagai solusi terhadapnya. Karena itu, agar misi ini tercapai, maka diperlukan adanya langkah-langkah kerja sebagai berikut: Pertama, menetapkan tema kajian. Memang, pendekatan tematik dapat menampung semua persoalan, tetapi agar kajiannya tak bersifat teoritisan sich, maka masalah-masalah aktual yang langsung berkaitan dan dirasakan masyarakat harus diprioritaskan. Terlebih lagi yang paling mendesak untuk segera dicarikan alternatif pemecahannya. Kedua, menghimpun hadits-hadits yang memiliki relevansi dan kaitan dengan tema kajian. Prihal penghimpunan ini, kata muhaditsin, tidak selalu semua hadits yang berkaitan dengan tema kajian harus dihimpun. Boleh saja, kata mereka, hadits-hadits yang diduga kuat telah terwakili oleh hadits lain tidak diangkat atau dihimpun. Ketiga. mengangkat kembali tema di atas dan mendialogkannya dengan hadits-hadits yang telah dihimpun dalam langkah kedua di atas. Dan sinilah akan ditemukan pandangan utuh Islam atas tema kajian yang diangkat di atas.

3. Memahami hadits berdasarkan latar belakang, kondisi serta tujuannya.

Jika al-Qur’an memiliki ashabun nuzul, maka sebagian besar hadits Nabi memiliki asbabul wurud. Dengan kata lain, hadits-hadits itu biasanya muncul karena dilatari oleh kondisi dan situasi, persolan dan tujuan tertentu. Itulali sebabnya, kata Dr Yusuf Qardhawi, sebagian besar hadits bersifat kontemporer, detail dan berkaitan dengan tempat. Oleh karena itu, untuk dapat memahami hadits mutlak diperlukan pengetahuan tentang latar belakang, kondisi serta tujuan kemunculannya. Pemahaman mendalam tentang ketiga hal itu akan sangat membantu terhadap upaya pencapaian pemahaman hadits secara benar dan lurus.

4. Membedakan sarana yang berubah-ubah dan tujuan yang bersifat tetap (permanen) dari setiap hadits.

Di samping memiliki unsur tujuan, setiap hadits juga memiliki unsur yang berupa sarana untuk mencapai tujuan itu. Unsur tujuan, yang identik dengan tujuan ajaran Islam yaitu mewujudkan kemaslahatan, bersifat permanen dan tetap. Sedangkan sarana ada kalanya beruhah-ubah sejalan dengan perubahan situasi, kondisi, waktu dan tempat. Karenanya, untuk memperoleh pemahaman yang tepat terhadap hadits, maka kedua unsur tersebut harus dipahami dan ditempatkan pada proporsinya masing-masing. Sebagian besar kekeliruan dalam pemahaman hadits adalah disebabkan oleh pencampur adukan antara unsur tujuan dan sarana ini. Bahkan lebih ironis bagi unsur sarana yang semestinya bersifat temporal ditempatkan sebagai tujuan yang bersifat permanen dan tak berubah.

Sebagai misal dalam hal ini adalah sejumlah hadits nabi tentang cara-cara pengobatan penyakit. Dalam konteks ini. Imam Ahmad dan Nasa’i melalui Anas telah meriwayatkan bahwa metode pengobatan terbaik adalah “berbekam’ dan dengan menggunakan qusthul bahr (sejenis kayu yang dapat dijadikan obat). Sementara itu, Imam Bukhari dengan melalui Ummu Qais meriwayatkan bahwa “kayu cendana” merupakan penawar bagi tujuh macam penyakit. Selanjutnya, Ibnu Majah dan Tirmidzi dengan melalui sanad Ibnu Umar juga meriwayatkan bahwa ‘jintan hitam” mengandung penawar segala penyakit,. selain kematian.

Menurut Dr. Yusuf Qardhawi. berbagai jenis pengobatan yang dijelaskan dalam hadits-hadits di atas hanya sebagai “sarana” yang mungkin akan berubah-ubah seiring dengan perubahan situasi, kondisi, waktu dan tempat, bukan sebagai tujuan atau inti thibbaun nabawi. Sedangkan tujuan atau inti thibbun nabawi dalam hadits-hadits tersebut adalah menjaga kesehatan. kehidupan dan keselamatan tubuh manusia, sebagai realisasi perwujudan kemaslahatan. Karenanya, Ia bersifat permanen untuk segala zaman dan tempat.

5. Membedakan yang gaib dengan yang nyata (dapat ditangkap dengan indra lahir).

Di samping berisi penjelasan yang berkaitan dengan alam lahiriyah (indrawi), hadits juga memuat tema-tema yang berhubungan dengan alam metafisika (gaib). Terhadap hadits-hadits yang memuat penjelasan alam gaib, kata lbnu Taimiyab. rasio (akal) manusia tidak berwenang mentakwilkannya. Karena itu, kewajiban ummat Islam hanyalah menerimanya secara ta’abdudi, “kami beriman dan membenarkan”, tanpa menanyak.an “bagaimana”. Ringkasnya, sikap yang harus dinyatakan semua ummat Islam adalah al-iman wajib wa’al su’al bid’ah (mcmpercayai kebenaran hadits itu merupakan suatu kewajiban, dan menanyakan tentang bagaimana terhadapnya merupakan suatu bid’ah yang dilarang). Hal ini didasarkan pada QS. Ali Imran ayat ke tujuh, yang artinya “kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.
 
Drs. Muniron BM 

Jumat, 12 Mei 2017

Tinjaun Ahlussunah Terhadap Faham Syiah Tentang Al-Qur’an

Sejarah kesyi’ahan memperlihatkan tiga fase perkembangannya fase, pertama ialah fase perumusan fondasi pemikiran. Bahannya dikumpulkan dari sejarah Islam masa Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin serta masa Hasan dan Husein. Fase kedua ialah fase pengujian dan perampungan konsep-konsepnya. Dalil-dalil dan hujjah disusun rapi, diambilkan bahan-bahannya dari sejarah Islam masa imam-imam Ma’shumin hingga Hasan al-Askari (w. 260 H) Fase ketiga ialah fase mendirikan agama Islam Alternatif yang dinamakan Islam Syi’ah. Ini teiadi di Masa Ghiyabah Shughra (sejak menghilangnya Imam Muhammad al-Mahdi al-Muntazhar hingga tamatnya masa wakil-wakil imam Mahdi: Usman bin Said al-Umari, Muhammad bin Usman al-Umari, Husein bin Rah an-Nawbakhti, dan Ali bin Muhammad as-Samuri .... 329 H).

Fondasi pemikiran yang dirumuskan dalam fase pertama berbentuk Mantik Dua Muka yang bertentangan (Manthiq Tanaqud), di mana dipertentangkan ayat-ayat Qur’an satu sama lain, dipertentangkan antara Qur’an dan Hadits/ Sunnah, dan dipertentangkan antara Qur’an dan Hadits dengan praktik sahabat-sahabat. Pengujian dan perampungan konsep-konsep pada fase kedua berbentuk penempatan perbuatan dan perkataan Imam-imam Ma’shumin sebagai sumber ajaran agama setaraf dengan Hadits Nabi.

Berdirinya agama Islam Altematif di masa Ghiyabah Shughra berbentuk Syi’ah lmamiyah Itsna Asyariyah setslah menyatakan batal semua firqah Syi’ah Imamiyah yang ada sebelumnya. Seperti Syi’ah Zaidiyah dan Syi’ah Imamiyah Sab’iyah (Syi’ah 7): Hasyimiyah. Hamuiyah, Manshuriyah. Mughiriyah (timbul di masa al-Baqir); Harbiyah, Khaththabiyah, Ma’mariyah, Bazighiyah, Sa’idiyah, Basyiriyah, Albaiyah, Hisyamiyah, Ruzamiyah, Nu’maniyah, Musailamiyah (timbul pada masa Ja’far Shadiq); Ismailiyah, Waqifiyah, Mufawwidhah, Ghurabiyah, Kamiliyah (timbul di masa Musa al-Kazim); Nushairyah dan lshaqiyah (timbul di masa Hasan al-Askari).

Meski begitu Syi’ah Imamiyah Itsna Asyiryah (Islam Alternatif) ini pun terpaksa harus pecah juga membentuk Syaikhiyah/Ahmadiyah, Rusytiyah/Kasyifah, Babiyah dan Qarriyah. Dan timbul lagi Syi’ah Ja’fariyah yang berbeda dengan Syi’ah Itsna Asyariyah tentang siapa imam ke-12. Kalau Syi’ah ltsna Asyariyah mengatakan Imam terakhir adalah Muhammad al-Mahdi al-Muntazhar, maka Syi’ah Ja’fariyah mengatakan Ja’far bin ar-Ridha sebagai Imam ke 12, dan orang yang bernama Muhammad al-Muntazhar itu tidak pernah dilahirkan karena hasan al-Askari tidak mempunyai keturunan.

Manakala Syi’ah Imamiyah 12 telah mengenyampingkan sekte-sekte lain, di mana sebagiannya dicap ghulat (ekstrem) dan sebagian yang lain ditolak namanya tapi diambil segi-seginya yang berguna, maka pembicaraan tentang al-Qur’an dan Hadits menurut faham Syi’ah berarti menurut faham Syi’ah Imamiyah 12 khususnya, dan juga menurut Syi’ah-syi’ah lain yang sama pandangannya.

Syi’ah Imamiyah 12

Riwayat-riwayat yang sah dipegang menurut versi Sunni maupun Syi’i tidak, satupun menerangkan kalau faham Syi’ah Imamiyah 12 itu sudah ada dan dibenarkan di masa Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Ibnu Khalaf, Sa’ad bin Abdullah al-Asy’ari al-Qummi (w. 301 H), ulama Syi’ah Imamiyah yang tergolong generalis dan dinyatakan sebagai sumber riwayat yang tsiqat oleh para Kibar Ulama Syi’ah, mengatakan:

Kelompok kaum Muslimin yang pertama kali dikenal sebagai Syi’ah Ali ra. di masa Nabi saw. adalah Miqdad ibn Aswad al-Kindi, Salman al-Farisi, Abu Dzar Jundub bin Junadah al-Ghifari, Ammar bin Yasir al-Madzhaji, dkk yang sangat setia dan fanatik kepada Ali ra. Istilah Syi’ah sebagai nama suatu grup dimunculkan oleh mereka di kalangan ummat Nabi Muhammad saw Merekalah yang menganut faham yang mema’shumkan Ali, menyejajarkannya dengan diri Nabi, menémpatkannya Sebagai sumber ajaran agama, dan mengharuskan kepemimpinan ummat Islam selalu dari kalangan anak cucunya dari Fathimah az-Zahra.... Mereka kukuh dengan pendirian itu hingga wafatnya Ali ra. dibunuh oleh Abd. Rahman bin Muljam …. Sebagian sahabat lain memang mengutamakan Ali ra dan yang lain-lain, tapi membolehkan orang lain menjadi Imam jika memenuhi syarat. Kekhalifahan Abu Bakar adalah sah dan baik, karena direstui oleh Ali ra Mereka yang berpandangan begini merupakan cikal bakal Syi’ah al-Batriyah. Kelompok fanatik Ali lainnya ialah al-Jarudiyah yang ekstrem mengafirkan kalangan yang tidak mengultuskan Ali dan mengafirkan semua orang yang tidak membai’at Ali setelah wafat Nabi saw. Dan golongan al-Jarudiyah ini kemudian timbul Zaidiyah dan cabang-cabangnya. Setelah Ali ra wafat kelompok-kelompok yang mengutamakan dan membelanya sebagai pemegang imamah bin-nash pecah menjadi tiga golongan.

Syi ‘ah Saba ‘iyah (pertamakali mendiskreditkan Abu Bakar, Umar dan Utsman, didirikan oleh Abdullah bin Wahab ar-Rasibi al-Hamadani, alias Ibnu Saba’, Abdullah bin Harras, Ibnu Aswad). Mereka menyamakan Ali dengan Yusya’ bin Nun, pemegang wasiatNabi Musa as Dan kelompok ini timbul yang lebih sesat lagi dengan mepertuhankan Ali ra. yaitu: Syi’ah al Harblyah.

Golongan kedua ialah kelompok yang menghendaki Muhammad bin Ali ra (Muhammad al-Hanafiyah) menjadi imam pengganti Ali ra. Inilah Syi’ah Kaisaniyah atau Mukhtariyah.

Golongan ketiga ialah yang ingin mengimamkan Hasan bin Ali dan selanjutnya akan mengimamkan Husein bin Ali, terutama jika Hasan menyerah kepada Mu’awiyah. Bila demikian, keimaman Hasan batal dan seterusnya haruslah Husein.

Setelah Hasan al-Askari (Imam ke-11) wafat dalam usia 28 tahun. Pecahlah para pengikut dan pengagumnya menjadi lima belas firqah. Satu firqah hendak mengimamkan Muhammad al-Mahdi, satu firqah hendak mengimamkan Ja’far (saudara kandung Hasan al-Askari). Dari sinilah timbul syi’ah Imamiyah 12 dan Syi’ah Imamiyah 12 Ja’fariyah.

Berdasarkan kitab Sa’ad bin Abdullah al-Asy-’ariy al-Qummy ini teranglah bahwa Syi’ah Imamiyah 12 itu timbul belakangan dan tidak pernah ada dan diketahui di masa Rasulullah saw, dan al-Khulafaa ar-Rasyidin. Ia merupakan kombinasi berbagai faham Syi’ah yang ada sebelumnya. Dengan demikian menjadi suatu kesulitan untuk menelaah faham mereka yang sejati., kecuali dengan merujuk kitab-kitab yang dijadikan pegangan hingga sekarang.

Sekilas Tentang Sejarab Kitab-Kitab Syi’ah

Kitab-kitab tentang Firaq asy-Syi’ah (Firqah-firqah) serta keyakinan dan pendapatnya dikarang sebagian oleh para Mutakallimun Syi’ah, sebagian lagi dikarang oleh para Muhadditsun, dan sebagian lagi dikarang oleh para Muarrikhun. Di antara para pengarang dimaksud ialah:

1. Abu Isa, Muhammad bin Harun al-Warraq (w. 247 H di Baghdad), scorang ulama ilmu kalam Syi’ah Imamiyah, dengan kitabnya berjudul: lkhtilafus Syi’ah Wal Maqaalaat. Keberadaan kitab itu diakui oleh Sayyid al-Murtadha ‘Allamul Huda, al-Mamqani di dalam bukunya Tanqiihul Maqaal, dan oleh an-Najasyi di dalam kitabnya Rijaalun Najasyi. Kitab Ikhtilaafus Syi’ah ini merupakan yang tertua menunut an-Najasyi.

2. Abu Muhammad, al-Hasan bin Musa an-Nawbakhty (w. antara tahun 300-310 H), seorang ulama kalam Syi’ah Imamiyah dalam bukunya Firaqus Syi’ah, dan ar-Raddu Ala Firaqis
Syi’ah ah.

3. Abul Qasim, Nashr bin as-Shabbab al-Balkhi (w. pada separuh pertama abad ke-4 H).Menurut riwayat al-Iyasyi Abul Qasim ini mengarang kitab berjudul Kitabu Firaqis Syi’ah.

4. Abul Muzhaffar, Muhammad bin Ahmad an-Na’iimi (w. 356 H), dari golongan Syi’ah Nawusiyah, dengan kitabnya Firaqus Syi’ah dan al-Ibanah Anilkh-tilaafin Naasi Fil Imamah.

5. Abu Khalaf, Sa’ad bin Abdullah al Asy’ari al-Qummi (w. 301 H), dengan kitabnya berjudul Kitabul Maqaalaati Wal Firaq. Kitab ini dinamakan oleh an Najasyi dengan Firaqus syi’ah, sedangkan oleh at-Thusi dinamakan Maqaalaatul Imamah, dan oleh al-Majlisi dinamai al-Maqaalaatu Wal Firaq Wa Asmaauha Wa Shunufuha.

Dalam bidang hadits, kitab besar yang dikarang pada masa yang sama dengan kitab-kitab di atas ialah Ushulul Kafi oleh Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini (w. 328 H) kitab Man Laa yahdhuruhul Faqiih oleh Ibnu Babweih al-Qummi yang dipanggilkan dengan Syeikh Shaduq (w. 381 H). kitab Tahdzibul Ahkam dan al-Istibshar oleh Muhammad bin Hasan at-Thusi (385-460 H).
Dalam bidang tafsir/ilmu tafsir dapat dicatat antara lain: kitab Tafsir al-Qummi kalangan Ali bin ibrahim al-Qummi, guru al-Kulaini, Tafsir, al Iyaasyi oleh Muhammad bin Mas’ud al Iyaasyi as-Samarqandi, dan lain-lain.

Al-qur’an Menurut Faham Syi’ah
Mantiq Tanaqudh telah dengan baik dipergunakan oleh kaum Syi’ah ketika mereka mempersoalkan al-Qur’an. Kitab-kitab yang dikarang sejak awal hingga datangnya Syeikh Shaduq hampir semua memuat kesimpulan bahwa al-Qur’an mushaf Utsman tidak semua ayat-ayatnya original sebagaimana ketika diwahyukan kepada Nabi saw. Syeikh Shaduq mengajukan bantahan terhadap kesimpulan yang telah merupakan ijma ulama Syi’ah itu guna menetralisasikan pandangan negatif kaum Muslimin terhadap kaum syi’ah. Ini dilakukan setengah abad setelah wafatnya al-Kulaini yang meriwayatkan riwayat tentang kepalsuan beberapa ayat al-Qur’an Al-Murtadha dan Syeikhut Thaifah kemudian hari mengulangi langkah Shaduq itu, sementara kitab-kitab yang dikarang sesudah Shaduq tetap membela keyakinan semula. Kini Rasul Ja’fariyah tampil seperti Shaduq dalam buku kecilnya berjudul: “Ukhzuubatu tahriifil Qur’aani” yang telah diterjemahkan dan dicetak dalam bahasa Indonesia.

Jadi pandangan kaum Syi’ah terhadap al-Qur’an al-Karim ialah antara asli dan palsu. Pengakuan mereka akan keaslian sebagian ayat-ayat al-Qur’an sesungguhnya tidaklah ada artinya manakala pada waktu yang sama mereka menyatakan palsu ayat-ayat selainnya, sebab Qur’an itu satu adanya. Menyatakan palsu sebagian ayat-ayat yang termaktub dalam mushaf lalu menyebutkan bunyi ayat-ayat dimaksud menurut aslinya, kata mereka itu sama artinya dengan menyatakan ada dua macam al-Qur’an bagi kaum

Syi’ah, pertama Qur’an kaum Muslimin yang berisi ayat-ayat palsu dan ayat-ayat asli, kedua Qur’an kaum Syi’ah yang asli semua ayatnya. Ayat-ayat Qur’an mushaf Utsman yang dinyatakan palsu oleh syi’ah itu ialah sebagai berikut:

Dari riwayat-riwayat yang dijadikan dasar oleh ulama-ulama Syi’ah yang menyatakan palsunya 219 ayat tersebut nyatalah bahwa:

1. Kaum Syi’ah menolak bunyi 219 ayat itu sebagaimana termaktub dalam mushaf dan hanya dapat menerimanya jika disesuaikan lebih dahulu dengan bunyi yang mereka riwayatkan dari imam-imam ma’shum. Kedua ratus sembilan belas ayat tersebutlah yang menyebabkan Syi’ah tidak mencantumkan iman kepada al-Qur’an sebagai salah satu rukun iman, sehingga Arkanul Iman mereka menjadi:

a. Tauhid
b.Mubuwwah
c. Imamah
d. Keadilan
e. Ma’ad/Qiyamah

2. Jika benar riwaynt-riwsyat atu bers umber dan Ali ra Muhammad al-Baqir, dan Ja’far ash-Shadiq, berarti nilainya tidak mutawatir atau malah hanya riwayat ahaad belaka.
Artinya Syi’ah menolak kemutawatiran riwayat al-Qur’an hanya riwayat aziz atau masyhur atau ahad. Dengan demikian penerimaan mereka terhadap ayat-ayat selain yang 219 dengan alasan karena bunyinya diriwayatkan secara mutawatir berarti mengubah pengertian istilah mutawatir menjadi: mutawatir bagi kedua belah pihak; mutawatir menurut kaum Muslimin dan mutawatir menurut Syi’ah secara bersamaan.

Bunyi 219 ayat tadi dalam Mushaf Utsman adalak mutawatir menurut Ahlus Sunnah sepanjang masa, tapi tidak mutawatir menurut Syi’ah. Bunyi ayat-ayat itu menurut riwayat Syi’ah adalah mutawatir menurut Syi’ah, tapi tidak mutawatir menurut ahlus Sunnah. Maka Qur’an Mushaf Utsman tetaplah Asli Tapi Palsu menurut Syi’ah.

Jika riwayat-ñwayat dari Ali, al-Baqir dan Ja’far as-Shadiq itu tidak benar, itu berarti para mufassir dan muhaddits Syi’ah sengaja menyatakan keraguannya terhadap kebenaran dan keaslian al-Qur’an dengan menyalahgunakan nama anak cucu Nabi saw. dan mengajak orang lain meragukan al-Qur’an. Jika begitu, berarti Syi’ah adalah senantiasa merupakan gerakan tasykik dan Tadhlil.

Drs. HM. Nabhan Husein.