Rabu, 23 Mei 2018

Dialah Pencetus Larangan Masjid Di Swiss, Namun Akirnya Memeluk Islam

Daniel Streich, politikus Swiss, yang tenar karena kampanye menentang pendirian masjid di negaranya, tanpa diduga-duga, memeluk Islam.
Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan ia adalah orang pertama yang meluncurkan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan mempunyai ide untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Ia berasal dari Partai Rakyat Swiss (SVP). Deklarasi konversi Streich ke Islam membuat heboh Swiss.
Streich mempropagandakan anti-gerakan Islam begitu meluas ke seantero negeri. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di Negara itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan kubah masjid.
Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang pemeluk Islam. Tanpa diduganya sama sekali, pemikiran anti-Islam yang akhirnya membawanya begitu dekat dengan agama ini. Streich bahkan sekarang mempunyai keinginan untuk membangun masjid yang paling indah di Eropa di Swiss.
Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahwa pada saat ini ada empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Ia mengakui ingin mencari “pengampunan dosanya” yang telah meracuni Islam. Sekarang adalah fakta bahwa larangan kubah masjid telah memperoleh status hukum.
Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich. Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam.
Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Ia mempunyai posisi penting dan pengaruhnya menentukan kebijakan partai. Selain petisinya tentang kubah masjid itu, ia juga pernah memenangkan militer di Swiss Army karena popularitasnya.
Lahir di sebuah keluarga Kristen, Streich melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya ia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia memeluk Islam. Streich sendiri kemdian disebut oleh SVO sebagai setan.
Dulu, ia mengatakan bahwa ia sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan sering pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Alquran dan melakukan salat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya di partai dan membuat pernyataan publik tentang ia masuk Islam. Streich mengatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya. (sa/iol/Em)

Minggu, 16 Juli 2017

Mencari Pemimpin Ideal

Kedudukan pemimpin dalam suatu masyarakat atau perkumpulan sangat penting, meskipun ia bukanlah segala-galanya.. Sebab sebagaimana diketahui bahwa perjalanan suatu masyarakat atau aktivitas dapat baik bukan semata-mata karena pemimpinnya, tapi tentu saja menyangkut hal-hal lain juga. Kita tidak meragukan kepemimpinan para nabi yang Allah swt. utus kepada Bani Israel. Namun karena dukungan dari ummatnya sangat lemah akhirnya tidak terbentuk rnasyarakat yang ideal. Oleh karena itu, di dalam Islam di samping diperlukan pemimpin yang baik dan berkualitas,juga harus dipersiapkan ummat yang siap mendukung program yang digulirkan oleh pemimpinnya. Yang kesemuanya itu tentu saja diperlukan pemahaman yang searah, yaitu sama-sama menuju kepada keridhaan Allah ‘Azza Jallah. Dalam istilah kajian lslamnya di istilahkan perlunya Qiyadah Mukhlishah (pemimpin yang ikhlash). dan Jundiyah Muthi‘ah (ummat yang taat).
Kemudian yang perlu juga diperhatikan dalam pembinaan generasi yang dipersiapkan untuk tampil di masa mendatang bukan hanva dibekali semangat untuk memimpin, tetapi juga pada saat yang bersamaan harus ditanamkan kesediaan untuk siap dipimpin. Jadi antara Qiyadiyah (semangat dan kesediaan untuk diberi amanah memimpin) dan Jundiyah (kesiapan untuk ditata) tertanam dalam waktu yang bersamaan. Sehingga tidak bersaing dan berebut untuk menjadi pemimpin dan tidak juga terlalu tawadhu’ sehingga sulit untuk diserahi tugas dan amanah. Memang kepemimpinan itu taklif (beban) bukan tasyrif (kemuliaan).

Al-Qur’an dan Kepemimpinan

Dalam istilah ke-Islaman, kepemimpinan disebutkan dengan beberapa istilah atau nama, di antaranya: imamah, ri’ayah, za ‘amah, imarah dan kadang-kadang disebut juga wilayah. Ayat-ayat yang menyebutkan pengertian di atas diantaranya terdapat pada surah: al-Baqarah l2: 124; an-Nisa’/4:59, 83, 139; al-Maidah/5: 51, 52, 57, 58, 80, 81; Hud/l1:17; Yusuf/12:72; Thaha 20:54; al-Anbiya’/21: 73; as-Sajdah/22:24; al-Mukminun/23: 8; al-Furqan/25: 74; al-Qalam/68: 40 dan al-Ma’arij/70: 32. Juga di beberapa tempat dipakai istilah khilafah, seperti terdapat di surah: al-Baqarah/l2: 30; al-An’am/6: 165; al-A’raf/7: 69, 74, 129; Yunus/l0: 14, 73; Hud/1l: 57;
an-Nur/24:55; an-Naml/27: 62; Fathir/35: 39; Shad/38: 26; al-Hadid/57: 7.

Hadits-hadits Tentang Pemimpin
Banyak sekali hadits-hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan pemimpin dan kepemimpinan. Di sini akan disebutkan beberapa saja. Mudah-mudahan dapat dijadikan masukan.

Artinya: Sesungguhnya iman (pemimpin) itu adalah (merupakan) perisai. (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin itu menjadi pelindung bagi orang-orang yang dipimpinnya, rnemperhatikannya dan membela nasibnya. Allah swt. memberikan gambaran kepribadian Nabi saw. yang merupakan pemirnpin teladan itu dalarn firrnan-Nya:

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (‘keimanan dun keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mu‘min. (QS at-Taubah: 128).

Ayat di atas menunjukkan bahwa Nabi saw. sebagai pemimpin ummat berasal dari kalangan orang yang dipimpinnya, yaitu manusia biasa, sehingga di antara beliau dengan ummatnya tidak ada jarak yang rnembuat kesenjangan diantara keduanya. Beliau turut merasakan persoalan ummat, tidak hanya hidup di menara gading. Keselamatan dan kebaikan ummatnya adalah keinginan beliau yang begitu besar. Dan sikap beliau dalam menghadapi ummatnya penuh dengan kasih sayang. Pemimpin yang memperhatikan dan menjadi pelindung bagi ummatnya adalah pemimpin yang akan dieintai pula oleh ummatnya.

Antinya: Apabila ada tiga orang dalam perjalanan, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang menjadi pemimpin. (HR. Abu Dawud,).

Hadits ini menunjukkan adanya keteraturan di dalam masyarakat Islam. Sehingga sebenarnya tidak ada peluang untuk krisis kepemimpinan. Sebab jangankan dalam masyarakat yang mapan dan stabil, di perjalanan sekalipun Islam membimbing ummatnya agar tetap memperhatikan adanya kepemimpinan agar setiap aktivitas terkoordinasi dengan baik. Tentu saja yang diangkat menjadi pemimpin, khususnya di perjalanan adalah orang yang rmemiliki pemahaman yang baik, termasuk tentang liku-liku perjalanan, Dengan demikian kebijakan yang diambil sesuai dengan kebutuhan dan bij aksana.

Artinya: Apabila pemimpinmu adalah orang yang terbaik di antara kalian, dari orang-orang kaya di antara kalian adalah orang-orang yang murah hati, dan urusan kalian (selalu) dimusyawarahkan di antara kalian maka hidup itu lebih baik dari pada mati. Dan apabila pemimpin kalian adalah orang yang jahat, orang kayanya bakhil, dan urusanmu diserahkan kepada wanita, maka mati itu lebih baik daripada hidup. (HR. Tirmidzi).

Pemimpin yang diangkat haruslah orang yang terbaik. Baik dari sisi Akhlaq dan prilaku. Suatu bencana bagi ummat kalau pemirnpin yang diangkat adalah orang-orang yang bermoral bejat. Oleh karena itu perlu mekanisme yang baik untuk menyeleksi para ealon pemimpin, sehingga yang nantinya tampil dan diserahi amanah betul-betul orang yang terbaik, atau paling tidak, baik. DR. Yusuf Qardhawi mengusulkan hal tersebut dalarn bukunya “Aulawiyat Harakah Islamiyah Fil Marhalatil Qadimah” (Prioritas Gerakan Islam) dan sub pembahasan “I’dad Al-Qiyadat Lil Mustaqbal” (Mempersiapkan Pemimpin Masa Depan). Dan kepemimpinan ummat secara umum tidak boleh diserahkan kepada wanita. Nabi saw. bersabda:

Artinya: Suaiu kaum yang menyerahkan urusannya kepada wanita tidak akan bahagia. (HR. Bukhari).

Artinya: Barangsiapa yang mengangkat seseorang dari satu golongan, sedang di antara mereka ada orang lain yang lebih berhak (lebih mampu dan ikhlash karena Allah), maka orang tersebut benar-benar telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslimin semuanya. (HR. Hakim).

Mengangkat pemimpin untuk ummat Islam hanya dengan pertimbangan golongan atau kelompok, padahal ada orang yang lebih laik, hanya karena bukan dari golongannya, adalah perbuatan yang terlarang dalam Islam. Dan hal itu menunjukkan masih adanya sisa-sisa pemikiran jahiliyah padanya. Di antara dampak negatif adanya kelompok-kelompok di kalangan kaum Musliniin adalah sikap seperti diatas. Ashabiyah tersebut menghilangkan profesionalisme. Apalagi kadang-kadang terjadi kalau ternyata dari golongannya tidak diangkat, terjadilah pemogokan atau penggernbosan.
Lain halnya kalau dalam forum yang bersifat umum. Di sana ada Muslim dan non-Muslim. Maka seorang Muslim wajib mendahulukan orang Muslim untuk duduk di kursi kepemimpinan, meskipun mungkin ada orang non-Muslim yang punya’kemampuan lebih baik. Sebab haram bagi seorang Muslim menyerahkan wala’ (termasuk kesediaan dipimpin) kepada orang-orang kafir.

Artinya: Tidaklah seorang pemimpinpun yang mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian tidak bersunguth-sungguh, dan tidak ,memberi nasihat kepada mereka,, ,melainkan dia kelak tidak masuk surga bersama-sama mereka. (HR. Muslim}.

pemimpin yang telah menerima amanah kepemimpinan harus secara bersungguh- sungguh melaksanakan tugasnya dan mnemberikan nasehat kepada ummatnya. Karena memang di antara kewajiban para pemimpin adalah menasihati ummat dan menerima nasehat dari ummat.

Artinva: ‘Tidak seorang hamba pun yang Allah angkat menjadi pemimpin suatu rakyat, yang dia mati pada saatnya tiba sedang dia tidak bersifat terbuka kepada rakyatnya emlainkan Allah haramkan baginya surga (HR. Bukhari dan Muslim)

Keterbukaan dalam mengelola amanah ummat sangat diperlukan. Sebab kontrol dan ummat dapat menjaga kelurusan perjalanan kepemimpinannya. contoh yang cemerlang terjadi pada saat kekhilafahan Umar bin Khathab. Pada saat beliau akan menyampaikan Sesuatu, salah seorang warga menginterupsi bahwa Ia tidak akan mernatuhi perintahnya sebelum dijelaskan darimana bahan pakaian yang Ia pakai. Sebab jatah pakaian yang dibagikan tidak mungkin cukup untuk Umar yang berbadan besar. Umarpun memanggil anaknva, Abdullah bin Umar untuk menerangkan bahwa bagian dia (Abdullah) diserahkan kepada ayahnya agar cukup untuk pakaiannya. Setetah itu barulah sang rakyat menyatakan kesiapannya untuk patuh. Tidak sebaliknya, kalau ada dari kalangan rakyat yang mengusik proyeknya atau usaha sanak famili sang penguasa, maka dengan berbagai dalih orang tersebut dijerat hukum; dan jabatannya, kalau ada, mulai dipreteli satu persatu. Itu jelas model kepemimpinan yang zhalim.

Sifat Pemimpin Ideal

Berbicara masalah pemimpin ideal, tentu saja perhatian kita terarah kepada sosok pemimpin teladan, yaitu Rasulullah saw. Sebab kepemimpinan beliau bukan saja diakui oleh kaum Muslimin, tetapi tidak sedikit dari kalangan non-Muslim yang juga mengakui kehebatannya.
Mahmud Syeit Khaththab dalamn bukunya “Ar-Rasul Al-Qaid” menyebutkan beberapa sifat kepemimpinan Nabi saw. yang mendukung keberhasilannya. Meskipun analisis penulis banyak dilihat dari sisi militer, sesuai dengan profesi beliau, namun tampaknya cukup relevan untuk kepemimpinan secara murni.
Jendral Mahrnud Syeit Khaththab menyebutkan sifat-sifat pemimpin itu di antaranya:

1. Dapat memberikan keputusan yang benar dengan cepat
Seorang pemimpin harus mampu mengarnbil keputusan yang benar dengan cepat di saat tertentu. Sebagaimana Nabi saw. dapat dengan cepat memutuskan agar basis kaum Muslimin ketika menghadapi kuffar Quraisy di Badar, dibangun di dekat sumber air. Sebab air merupakan kebutuhan fital, apalagi dalam peperangan. Sehingga dengan demikian musuh tidak mendapatkan air dan tentu saja tidak akan dapat bertahan lama.

2. Memilih kepribadian yang berani
Pemimpin yang pengecut tentu saja akan menyulitkan ummatnya. Sebagai pemimpin teladan Nabi saw. memiliki keberanian yang sangat baik. Suatu ketika di saat perang, Nabi saw. meminta beberapa shahabat untuk bersama beliau. Di malam hari ada suara hingar bingar. Para shahabat yang bersama beliau terbangun dan cepat-cepat menuju ke arah suara. Tetapi ternyata Nabi saw. sudah kembali dari sana dan mengatakan: “Kembalilah, itu hanya suara angin gurun”.

3. Berkemauan kuat dan tetap
Upaya orang-orang kafir untuk menggoyah da’wah Islamiyah yang dilakukan oleh .nabi saw. tidak henti-hetinva. bujukan, rayuan, ancaman dan bahkan teror mental dan fisik silih berganti. Namun dengan idzin Allah beliau tetap tegar dan berkemauan kuat untuk terus memperjuangkan kalimah Allah yang mulia itu.

4. Mengemban tanggungjawab tanpa ragu-ragu
Ketegaran dalam menjalankan tugas da’wah yang dilakukan oleh Nabi saw. menunjukkan rasa tanggung jawabnya yang demikian tingginya. Kesemuanya itu dilakukan dengan penuh keyakinan dan terjauh dari segala bentuk keraguan. Maka seorang pemimpin haruslah dapat membangun rasa tanggung jawab di atas dasar keyakinan yang kokoh. Dan keyakinan yang kokoh itu baru dapat terwujud manakala merujuk kepada rujukan yang kokoh pula, yaitu manhaj Rabbani, kitabullah dan sunnah Rasul-Nya saw.

5. Kejiwaan yang stabil baik dalam keadaan menang maupun dalam keadaan kalah
Di saat berjuang dengan berbagai intimidasi, Nabi saw. tabah dan sabar. Dan ketika kemenangan sudah di tangan, musuh sudah bagaikan tikus dihadapan kucing, Nabi saw. tidak lantas sombong dan zhalim semaunya. Beliau justru memberikan kemaafan kepada orang-orang yang dulunya memusuhi beliau pada saat Fathu Makkah.

6. Berpandangan ke depan
Ketika sebagian butir-butir perjanjian hudaibiyah menggelisahkan beberapa shahabat, Nabi saw. tetap tenang. Sebab meskipun secara lahiriyah point-point tersebut merugikan, tetapi jangka panjangnya sangat menguntungkan. dan hal tersebut terbukti dua tahun kemudian dengan terjadinya penaklukkan kota Makkah (Fathu Makkah).

7. Memahami kondisi kejiwaan bawahannya
Shafwan bin Umayyah adalah orang yang membenci Nabi saw. Lalu pada Perang Hunain Nabi saw. memberikan kepadanya bagian ghanimah. Akhirnya ia berkata:
"Nabi saw. biasa memberiku bagian ghanimah (Hunain), padahal sebelumnya Ia orang yang paling Saya benci, sampai Allah swt. tidak menjadikan Seseorang yang paling kucintai selain beliau".

8. Saling percaya
Pada perang Badar, meski hanya 300 shahabat harus menghadapi 1.000 pasukan kafir, tetapi Nabi saw. tidak meragukan kualitas dan komitmen para shahabatnya. Tentu saja demikian pula keyakinan para shahabat terhadap Nabi saw. Sehingga perjuangan dapat berjalan dengan baik.

9. Kecintaan secara timbal balik
Pada perang Uhud, bukan hanya para shahabat lelaki yang berjuang mati-matian, para shahabiyah (shahabat wanita) juga tidak mau tertinggal pada front tersebut. Salah seorang dari mereka adalah Nusaibah. Ia terluka parah ketika itu hingga pingsan. Namun begitu siuman yang ia tanyakan bukan keadaan anak atau suaminya, tetapi bagaimana keadaan Nabi saw. Begitu besar kecintaannya kepada Nabi saw. yang tentu saja hal tersebut terjadi karena Nabi saw. juga sangat mencintai umatnya.

Khatimah

Mencari calon pemimpin yang ideal dari segala sisinya tentulah sangat sulit. Kalau terlalu kaku dalam memilih bisa-bisa tidak ada yang laik untuk diangkat menjadi pemimpin. Padahal adanya pemimpin sangatlah penting, yang menurut para ularna’, sebagai ri’ayatuddin (menjaga agama) dan siyasatud dunia (mengatur permasalahan duniawi). Oleh karena itu Syaikhul Islam lbnu Taimiyah dalam bukunya “Siyasah Syar’iyah” menyebutkan perlunya proporsionalisme dalam memilih pemimpin, yaitu sesuai dengan bidang yang diperlukan. Umpamanya dibutuhkan seorang yang ahli rnengelola proyek ekonomi, tentu saja dicari yang memang punya potensi dan kemampuan dibidang tersebut, meskipun kadang-kadang tidak terlalu sering puasa Senin-Kamis.
Mudah-mudahan dengan upaya bersama mengkaji, memahami dan berlatih menerapkan nilai-nilai Islam dalam masalah kepemimpinan kelak akan lahir pemimpin yang dapat membawa ummat Islam kepada kejayaannya yang kita harapkan. Amien ya Rabbal ‘alamin.

Jumat, 23 Juni 2017

Idul Fithri Pertama Rasulullah saw

Terbenamnya sang mentari di ufuk barat pada akhir Ramadhan disambut dengan kumandangan kalimah takbir, tahlil dan tahmid oleh kaum Muslimin di seantero jagad. Kalimat-kalimat mulia itu sahut menyahut sampai mengantarkan kaum Muslimin ke tempat-tempat shalat’Id di hari yang mulia.

Kalimah takbir, tahlil dan tahmid yang diungkap dari sanubari yang terdalam sebagai manivestasi kesyukuran kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas rahmat dan karunia-Nya yang demikian banyaknya. Syukur atas bimbingan dan hidayah-Nya sehingga kita dapat menyelesaikan tugas suci berpuasa sebulan Ramadhan.

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (al-Baqarah:185).

Kalimah takbir yang diucapkan merupakan cerminan keyakinan bahwa hanya Allah swt. sajalah yang Maha Besar, Sedang selain Allah kecil. Kecil kekuatannya. kecil kehebatannya. kecil pegetahuannya, kecil kekayaannya dan kecil segalanya. Meskipun mereka berkuasa. raja diraja,, polisi dunia, tapi kesemuanya itu tiada artinya bila dibandingkan dengan kemaha hebatan Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga seorang Muslim yang mengucapkan takbir dengan penghayatan yang mendalam akan menjadikan dirinya memiliki kepribadian yang besar, semangat yang besar dan cita-cita yang besar. Ia terjauh dari kekerdilan pribadi dan pesimisme. Sebab pemahamannya terhadap kalimah takbir, Allahu Akbar, mengantarkannya pada kedudukan yang mulia, mulia di sisi Allah swt. walaupun mungkin Sementara orang menghinakannya.

Kalimah tahlil, lailaha Illallah, diucapkan sebagai pernyataan bahwa hanya Allah swt. sajalah yang di abdi, hanya Allah sajalah sebagai sesembahan, hanya Allah sajalah yang dipatuhi dan ditunduki secara mutlak. Kalimah mulia ini menjadikan orang yang menyatakannya dengan penghayatan terbebas dari segala bentuk perbudakan, perbudakan apa saja dan perbudakan oleh dan untuk siapa saja. Dirinya hanya memperbudakkan kemanusiaannya kepada Allah semata. Sedang kalimah tahmid yang disampaikan dengan penuh penghayatan menunjukkan bahwa pujian hanyalah hak Allah. selain Allah tidak berhak untuk menuntut pujian dan sanjungan. Sebab pujian dan sanjungan itu merupakan pakaian kebesaran Allah swt. Berbahagialah mereka yang tidak mencari-cari pujian.

Di hari yang berbahagia, di Idul fithri yang mulia ini, ada baiknya kita mengenang peristiwa yang sama, di hari yang sama, yaitu ‘Idul Fithni 1416 tahun yang lalu, di mana Nabi saw. dan para shahabatnya merayakan hari yang mulia ini pertama kali di tahun kedua Hijriyah. Pada tahun tersebut ada beberapa peristiwa besar yang menambah terasanya keagungan ‘Id yang mulia ini. Pada pentengahan bulan Rajab tahun kedua Hijriyah, turun firman Allah di surah al-Baqarah ayat 144 yang artinya:

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bah wa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhan mereka, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (al-Baqarah:144).

Ayat tersebut menetapkan perpindahan kiblat kaum Muslimin yang sejak Isra’ dan Mi’raj menghadap ke arah Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis Palestina menjadi ke arah Ka’bah di Masjidil Haram Makkah. Perubahan tersebut memang sangat diharapkan oleh Nabi saw. dikarenakan orang-orang Yahudi sering mengejek kaum Muslimin, yang menurut mereka maunya mempunyai ajaran sendiri, tetapi kiblatnya di kala shalat mengikuti kiblat mereka. Memang sudah menjadi karakter ummat Yahudi yang terkutuk itu selalu mencari-cari jalan untuk mengejek dan mencela kalangan selain mereka, terutama kaum Muslimin.

Berpindahnya kiblat bukan berarti kaumMuslimin tidak memuliakan Masjidil Aqsha, tidak, sama sekali tidak demikian. Masjidil Aqsha tetap menjadi kota suci bagi kaum Muslimin. Sebab Ia merupakan bumi para nabi dan kiblat pertama kaum Muslimin. Sehingga sampai hari ini dan insya’Allah akan terus sampai kapan saja, kaum Muslimin akan terus berusaha memerdekakan bumi Palestina yang di sana ada Masjidil Aqsha dari cengkcraman Yahudi Zionis yang terkutuk itu.

Kemudian pada tanggal 10 Sya’ban tahun kedua Hijriyah, turunlah syari’at berpuasa di bulan Ramadhan. Shiyam adalah suatu aktivitas pengendalian diri yang luar biasa, dan pada saat yang bersamaan, pelakunya juga turur merasakan bagaimana orang-orang miskin dan faqir selalu merasakan lapar dan dahaga. Sehingga dengan berpuasa seseorang dapat membersihkan jiwanya dari berbagai kotoran,. ditingkatkan kondisi ruhaninya dan dibiasakan untuk shabar dan terlatih mengemban beban dan tugas. Sungguh ibadah puasa mengandung nilai tarbawi (pendidikan) yang sangat tinggi Sehingga wajarlah kalau yang ditargetkan pada ibadah ini akan terlahirlah pribadi-pribadi yang muttaqi, pribadi yang benar-benar bertaqwa, pribadi-pribadi yang syakirin, yang senantiasa bersyukur, dan pribadi-pribadi yang rasyidin, yang mengikuti bimbingan Allah swt. Sungguh ibadah yang mulia ini sebagai sarana munuju kepribadian Muslim yang utuh.


Ketika kaum Muslimin berpuasa pertama kali ini, masih di pekan pertama, Rasulullah saw. mengajak para shahabat untuk berpatroli, yang kemudian terjadilah perang yang sangat terkenal itu, perang Badar. Kita dapat membayangkan betapa hebatnya tempaan yang dialami oleh generasi awal, para shahabat di bawah bimbingan Nabi saw. Mereka berpuasa pertama kali, lalu pada saat itu juga mereka terjun yang pertama kali ke gelanggang pertempuran yang sangat dahsyat. Betapa tidak, 300-an kaum Muslimin dengan persenjataan dan sarana yang sangat terbatas harus berhadapan dengan 1000 pasukan Quraisy yang terlatih dan sarana yang lengkap.

Ibadah puasa adalah syari’at Allah swt. Demikian pula perang yang juga syari’at Allah. Sedang kaum Muslimin ketika itu menjalankan kedua syari’at Allah tersebut. Maka sangatlah wajar kalau mereka yang demikian terikatnya pada syari’ah tersebut mendapat perhatian dan bantuan dari pemilik syari’ah, yaitu Allah swt. Sehingga dengan idzin dan pertolongan Allah swt. peperangan tersebut dapat dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan cemerlang.

Baru saja kaum Muslimin pulang dari perang Badar yang puncaknya pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah tersebut,. di pekan ketiganya Allah swt. menurunkan syani’at-Nya yang berikutnya, yaitu disyari’atkannya zakat fithrah yang kemudian disusul dengan syari’at zakat secara umum.

Artinya: Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim meriwayatkan dari hadits Qais bin Sa’ad bin Ubadah ra. berkata: Rasuluilah saw. menyuruh kami untuk berzakat fithrah sebelum turun ketentuan zakat (secara umum). kemudian turun kewajiban zakat (secara umum itu). al-Hafizh Ibnu Hajar berkata. Isnadnya Shahih.

Zakat, infaq dan shadaqah merupakan ibadah yang dapat memperbaiki suasana sosial dan memperkecil kesenjangan antara kaum kaya dan faqir miskin. Kita ketahui bahwa belakangan ini banyak peristiwa kerusuhan dan pengrusakan yang menimbulkan banyak kerugian. kerugian fisik dan kerugian moral. Para pengamat mengatakan bahwa di antara sekian penyebab terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut adalah kesenjangan sosial. Yang sudah kaya terus menambah deretan kekayaannya dengan membuka berbagai usaha, apakah pabrik, perkebunan, peternakan atau apa saja. Di setiap wilayah mereka punya lahan. Mereka terus menumpuk harta sampai tujuh keturunan yang kadang-kadang tidak jarang menyelewengkan kedudukan, kalau mereka berkedudukan, atau berkolusi dan manipulasi, kalau yang pertama sulit dilakukan. Sementara di pihak lain kaum miskin semakin tertekan. Rumah-rumah tidak sedikit yang digusur dengan ganti rugi yang betul-betul merugikan. Suasana seperti ini sangat berpotensi untuk timbulnya gejolak sosial, lebih-lebih bila ada kelompok ketiga yang berkepentingan.

Kita menyadari bahwa realitas kehidupan ini menunjukkan adanya perbedaan nasib. Dan Islam mengakui itu. Ada yang miskin dan ada pula yang kaya. Tetapi Islam membimbing kita agar bersikap secara proporsional, tepat dan benar. Orang yang dengan idzin Allah bernasib kaya harus tnenyadari kewajibannya mengeluarkan sebagian hartanya yang sebenarnya memang sudah menjadi hak orang lain. jadi kalau ada seseoang yang memberikan sebagian hartanya, jangan dianggap bahwa dirinya sudah berjasa pada orang yang ia beri. lalu orang yang diberi itu dikendalikan semaunya. Bukan begitu Seharusnya. Mereka seharusnya mengeluarkan hartanya Itu karena memang bukan lagi menjadi haknya, itu hak orang lain.

Demikian pula mereka yang kebctulan bernasib miskin. jangan lalu mereka iri dan dengki terhadap orang kaya. Hal ini akan mengakibatkan benturan antar kelas, yang jelas tidak Islami. Di satu sisi ada borjuis yang sombong dan angkuh sementara di pihak lain ada proletar yang bersikap dengan penuh kebencian pada lawannya. Orang miskin tidak perlu dendam, tidak perlu iri dan juga tidak perlu menghinakan diri menjadi pengemis. Islam membimbing kita agar punya rasa ‘iffah dan muru’ah, rasa harga diri. Lebih baik membawa kapak dan tali ke hutan mencari kayu bakar untuk dijual dan menghidupi keluarga daripada mengemis dan menghinakan diri, demikian Nabi saw. memerintahkan kita. Begitu pentingnya kedudukan zakat dalam masyarakat Muslim. Sehingga pantaslah kalau khalifah Abu Bakar Shiddiq ra membuat kebijakan yang sangat tegas dan jelas terhadap mereka yang menolak membayar zakat.

Artinya : Demi Allah. pasti saya akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat. Karena zakat itu hak harta. Demi Allah, seandainya mereka tidak membayar (walau hanya) anak kambing atau unta yang biasa mereka tunaikan pada Nabi saw. pasti saya akan memerangi mereka disebabkan tidak membayarnya (sekarang). Umar berkata Demi Allah, hal itu tidak lain kecuali saya lihat Allah telah membukakan dada Abu Bakar untuk berperang, saya tahu bahwa ia benar.  
 
Dalam suasana perjalanan perjuangañ seperti itulah Nabi saw. dan para shahabat pertama kali beridul fithri. Diawali dengan perubahan kiblat yang selama ini dilecehkan oleh orang-orang Yahudi, menjadi berkiblat ke arah yang diridhai oleh kaum Muslimm dan tentu saja diridhai pula oleh Allah swt. Kalau dulu perubahan kiblat di kala shalat, kini kita melihat kiblat kehidupan yang perlu dibenahi. Gelombang materialisme dan aliran-aliran pemikiran yang laisa minal Islam, bukan dan ajaran Islam masih tampak mewarnai pola pikir dan pola kerja kaum Muslimin. Karena itu perlu perbaikan dan pembenaran kiblat kehidupan sehingga betul-betul diridhai oleh Allah swt. Dan diridhai pula oleh mereka yang mempunyai komitmen pada Islam. Kemudian Nabi saw. dan para shahabat berpuasa.. mengendalikan diri dari dominasi syahwat baik syahwat perut. makan dan minum. maüpun syahwat seks, yaitu bercampur suami istri di siang hari.

Kini kita lihat sebagian dari bangsa kita yang mayoritas Muslim ini sudah kurang memiliki daya kontrol yang baik, meskipun mungkin saja mereka turut berpuasa di bulan Ramadhan,, sebab mereka secara lahiriyah Muslim. Tetapi dalam kesehariannya mereka tidak perduli halal dan haram. baik halal dzati (bendanya), maupun halal kasbi (hasil usahanya). Sehingga korupsi dan manipulasi masih demikian membudayanya di tengah-tengah masyarakat kita yang mayoritas Muslim ini. Kita berada pada peringkat atas di dunia ini. Tapi sayang prestasi korupsi dan kolusi yang sangat memalukan.

Demikian pula syahwat seks sangat tidak menggembirakan. Perzinaan bukan lagi hal yang tabu. Bahkan pemerkosaan dan pelecehan seksual dengan segala ragam dan bentuknya sudah menjadi hiasan harian di media kita. Sehingga negeri yang menyimpan kaum Muslimin terbanyak di dunia ini, ternyata mempunyai piaraan orang-orang berpenyakit AIDS dan calonnya yang tidak sedikit. Sungguh suasana yang memalukan dan memprihatinkan. Mudah-mudahan puasa di tahun ini dapat menekan sedikit demi sedikit kemaksiatan dan kedurhakaan yang semestinya tidak perlu ditoleransi lagi. dulu. sungguh sangat jauh dari pemikiran kita. Kita sudah terlalu tenggelam pada kehidupan dunia yang menyilaukan ini. Padahal jihad adalah puncak dari ajaran islam. Demikian pula mobilsasi dana ummat masih jauh dari yang semestinya Hampir 200 juta kaum Muslimin di negeri ini, tetapi berapa banyak proyek Da’wah dan amal Islami yang turut goyah karena goyahnya ekonomi negara-negara Timur Tengah yang selama ini banyak membantu da’wah di negeri ini, yang tentu saja penghancuran pos-pos dana itu memang sangat diinginkan oleh musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kaum Muslimin.

Kalau dulu, di tahun ke dua Hijriyah, dalam beberapa bulan saja secara berturut-turut turun syariah perubahan kiblat, puasa, jihad di Badar, zakat Fithrah dan zakat secara umum, dan kemudian kaum Muslimin bersama-sama bertakbir sebagai pernyataan kemenangan dan kesyukuran yang mendalam. Maka bagaimana dengan takbir kita di hari ini? Apakah takbir kemenangan dan kesyukuran? Sungguh kita harus terus berusaha memperbaiki keadaan yang ada ini. Kalau di tahun kedua hijriyah seperti itu tempaan terhadap generasi awal yang kemudian baru di tahun kedelapan hijriyah kemenangan nyata berupa penaklukan kota Makkah, dari 20 sampai 30 tahun kemudian kaum Muslimin mampu menggoyang imperium Romawi dan Persia sebagai dua super power ketika itu. Maka berapa waktu lagikah kita dapat tegak dengan penuh harga diri di dunia yang seperti ini.

Memang masalah kapan kemenangan itu datang, bukan urusan kita. Hanya yang dituntut dan kita adalah berusaha dan berbuat. Berusaha dan berbuat sebagaimana Rasulullah saw. dan para shahabathya berbuat. Ya, dunia masih terhampar di depan kita, langkah masih dapat diayunkan. Marilah kita melangkah, marilah kita bcrbuat. Allah pasti tidak akan membiarkan kita, sebagaimana Allah tidak membiarkan kaum Muslimin di medan Badar. Pada saatnya juga insya’ Allah takbir yang kita kumandangkan sebagaimana takbir yang dikumandangkan oleh Rasulullah saw. dan para shahabatnya di ‘Idul Fithri. 1 Syawal tahun kedua hijriyah. Takbir kemenangan, kemenangan karena telah memiliki kiblat shalat dan kiblat kehidupan yang berbeda dengan kiblat umumnya manusia, takbir kemenangan karena berhasil mengendalikan syahwat perut dan syahwat seks, takbir karena berhasil menjadikan musuh bertekuk lutut, dan takbir kemenangan karena dapat menyebarkan pemerataan sosial. Semoga takbir kita di hari yang mulia ini sebagai takbir yang menempati anak-anak tangga menuju puncak takbir kemenangan yang hakiki. Amin Ya Rabbal ‘alamin. Akhirnya, marilah kita berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla, semoga Allah yang Maha Agung mengampuni dosa-dosa kita, baik dosa yang sifatnya Individual maupun kolektif, dosa yang kecil maupun dosa-dosa besar. Dan semoga Allah senantiasa membimbing kita pada jalan-Nya yang lurus, jalan yang dilalui oleh para anbiya’, mursalin, syuhada’ dan shalihin. Amiin

Selasa, 30 Mei 2017

Solomon

"Dalam diri manusia di daerah yang paling dalam, ada tempat yang tidak tersentuh oleh kepalsuan. Daerah suci yang sepertinya dipagari dan dilindungi oleh Tuhan dari kekuatan setan”.  
 
Di Damaskus tahun 1804 masehi tejadi peristiwa mengerikan yang mungkin tak semua orang dapat mempercayainya. Adalah Padre Tomaso da Calangiano, seorang pendeta yang berasal dari Italy dan menetap lama di Damaskus, hilang secara misterius. Pendeta yang tekenal ramah dan sopan itu menghilang sebelum menyentuh makan malam yang telah dihidangkan. Semua orang merasa kehilangan. termasuk David Harary, seorang saudagar besar Yahudi separuh baya yang juga terkenal amat ramah kepada siapapun juga, termasuk kepada sang pendeta yang kerap menjadi teman diskusi masalah-masalah keagamaan.

Namun, misteri akan hilangnya sang paderi tak berlangsung lama. Solomon sang tukang cukur Yahudi membuka misteri itu. Misteri suatu peristiwa paling bodoh yang pernah dilakukan atas nama agama. Padre Tomaso telah menjadi bangkai. Mayatnya dikubur di halaman dalam rumah besar sang konglomerat yang sekaligus teman dekat pendeta: David Harary. Bahkan Davidlah yang memimpin upacara pembunuhan terhadap sang paderi. Upacara? Ya, upacara untuk mengambil darah orang masehi guna dicampur dalam adonan roti Canai yang nantinya dimakan dalam upacara istimewa. Salah satu khasiatnya adalah untuk mengembalikan keperjakaan David yang selalu lumpuh di hadapan Camelia, isterinya yang masih mudah dan cantik. Upacara dalam keagamaan Yahudi yang digelar tidak setiap tahun ini memang memuakkan. Mengorbankan nyawa seseorang. mengambil darahnya dan memakannya dalam roti hanya karena ia meyakini suatu keyakinan yang berlainan.

Peristiwa nyata. tragis dan memuakkan itu telah dikemas kembali dalam bentuk novel dengan bagus oleh Najib Kaelani dalam: Haaratul Yahud (Kampung Yahudi). Novel yang tidak terlalu tebal yang dilengkapi dengan referensi dan manuskrip interogasi kepolisian itu memang menggambarkan miniatur kehidupan manusia yang lengkap. Di sana ada keserakahan, obsesi, kemunafikan, hati nurani dan juga keyakinan salah yang banyak dianut oleh orang ramai.

Najib Kaelani, seorang sastrawan yang dipinggirkan karena keaktifannya di gerakan Islam, mengemas kisah ini dengan begitu apik hingga tak terkesan menjemukan atau tampil sekedar sebagai poster kampanye anti Yahudi. Yahudi yang menjadi terdakwa dalam kisah ini tidak melulu digambarkan sebagai garong dengan berwajah bengis atau penipu berakal bulus. Toh di akhir cerita, hati nurani Yahudi juga yang berbicara kebenaran. Hati nurani yang tidak mampu disentuh oleh setan manapun akhirnya berbicara lewat mulut sang barber Yahudi yang selalu dihantui oleh rasa bersalah.

Dengan lutut bergetar Ia paparkan semua kisah itu secara detail, dari mulai awal penculiknn sampai penguburan dan penyimpanan darah sang paderi dalam botol yang kemudian diserahkan kepada kerabian Yahudi. Salah seorang prajurit polisi jatuh pingsan, seorang perwira penyidik muntah-muntah dan terduduk lemas. Peristiwa itu memang mengerikan dan membuat bulu kuduk berdiri. Sang barber terus berkicau hingga habis gumpalan yang selama ini menyesakkan dadanya.

Mengkhianati hati nurani ternyata tak mudah. Walaupun untuk suatu kredo dan keyakinan. Kepuasan yang dibisikkan oleh setan ketika menyayat leher sang paderi ternyata tak cukup kuat untuk melawan hati nurani, yang menurut Najib Kaelani tak tersentuh oleh setan itu. Hal yang sama .sebenarnya juga terjadi pada ribuan tentara Israel yang menembak anak-anak intifadhah dengan peluruh karet atau peluru timah runcing. Mereka pembunuh biadab. Namun hati nurani atau fitrah kemanusiaan mereka berontak dan melawan kebiadaban mereka. Akhirnya rasa bersalah yang tumbuh di hati nurani itu pula yang menjadikan mereka manusia dengan jiwa yang kurang normal dan harus tinggal di perawatan kesehatan jiwa. Hal itu juga terjadi pada pasukan Merah Rusia, tentara SS Nazi, gerombolan Khmer Merah dan juga pada diri kita sendiri.

Namun seringkali hati nurani kalah bertarung melawan segala macam kebiadaban dan kebejatan. Ketika hati nurani bertekuk lutut di hadapan segala kebejatan, ketika itulah manusia tidak mempunyai keseimbangan dalam hidupnya. Ia mampu menjadi makhluk terbengis sekalipun. Seperti ketika pasukan Israel menembaki anak-anak Palestina yang innocent, atau Pasukan SS Nazi yang membunuh orang yang tidak berkulit putih bersih. Tapi mereka merana dalam kebengisan. Hati nurani terlalu kuat untuk dilawan, terlalu dalam akarnya untuk dicabut. Setiap usaha untuk mencabutnya dan menggantikannya dengan kebejatan akan berakhir pada kesengsaraan.

“Jangan sekali-kali mengkhianati hati nurani, hio!” teriakan Sawung Jabo dalam Hio-nya ini mungkin tidak dapat dilaksanakan oleh siapa pun juga kecuali oleh orang-orang yang memang benar-benar mengerti hati nurani dan fitrah kemanusiaan yang dikaruniakan oleh Allah kepada hamba-Nya.

Senin, 08 Mei 2017

Pesona Dan Kekuatan Ayat-Ayat Al-Qur’an
 
Sebagaimana diketahui bahwa al-Qur’an adalah Wahyu Ilahi dan Kitab Suci terakhir yang diturunk an Allah kepadaNabi Muhammad saw. untuk jadi petunjuk dan pedoman hidup ummat manusia sepanjang abad. Ia adalah Kitab yang mencakup luas bagi segala bidang kehidupan nianusia, baik ibadah maupun muamalah. Dan selain berisi tuntunan dalam bidang akidah, syariah dan akhlak, juga al-Qur’an berisikan khasiat-khasiat untuk kesehatan mental spritual ataupun untuk syifa’ bagi kesembuhan fisik jasmaniah yang terganggu kesehatannya.
Pernah terjadi di zaman Rasulullah ada scorang kepala suku yang dipatuk ular, kemudian ada orang melaporkannya kepada shahabat Rasulullah saw. yang kebetulan sedang lewat di kampung itu. Tiba-tiba tampil salah seorang d antara rombongan itu datang menjenguk dan dia segera memantrakannya dengan membaca surat al-Fatihah, dan alhamdulillah kepala kampung itu sembuh dengan segera. Kisah ini diriwayatkan oleh al Bukhari dan shahabat Rasulullah,Abi Sa’id al-Khudni. Dan banyak kisah lain yang menjelaskan beberapa ayat al-Qur’an yang dapat dimanfaaikan untuk kesembuhan fsik jamaniah seseorang.

Tetapi yang terbanyak ayat al-Qur’an dapat menyembuhkan mental yang kurang sehat atau mengembalikan orang ke jalan yang benar dan tidak jarang orang non Islam berubah dan bergoncang imannya sehingga dia tobat kembali kepada jalan yang benar dan diridhai Allah. Di samping itu banyak yang terharu dan tersentuh jiwanya ketika mendengar orang membaca al-Qur’an sehingga air matanya berlinang dan bercucuran.

Rasulullah saw. sendiri pernah meminta shahabatnya yang bcrnama Abdullah bin Mas’ud supaya membaca al-Qur’an di hadapan beliau. Sebagaimana diketahui, Ibnu Mas’ud adalah shahabat Nabi yang terkenal dengan qiraatnya yang bagus dan lagu serta suaranya amat merdu.
Ibnu Mas’ud meanbaca beberapa ayat dan surat an-Nisa’. Tetapi setelah sampai kepada ayat 41, maka Rasulullah meminta Ibnu Mas’ud supaya berhenti, karena air matanya telah bercucuran karena terharu. Surah an-Nisa’ ayat 41 berbunyi:

“Betapakah dahsyatnya keadaan dikala itu (hari akhirat), bila Kami (Allah) menghatarkan seorang saksi bagi setiap ummat, dan engkau (Muhammad) kami hadirkan juga sebagai saksi bagi mereka”
Rasulullah saw. tak tahan mendengar ayat itu, bagaimana kalau dia menjadi saksi kelak bagi ummatnya yang bejat moral, bagaimana pula dia dihadirkan sebagai saksi bagi ummatnya yang kafir-durhaka, dan apakah dia tahan melihat ummatnya yang durhaka itu dihalau oleh malaikat ke neraka? Semuanya itu terbayang di pelupuk matanya, dan karena itu beliau pun menangislah. “Cukup, cukup sampai di sini wahai lbnu Mas’ud”, kata Rasulullah kepada shahabatnya yang ahli qiraat lagi bersuara merdu itu. Ya, beliau terharu dan hatinya tersentuh.

Fudhail bin ‘Iyadh, kemudian menjadi Ulama besar, pada mulanya selagi masih muda adalah seorang preman yang tergila-gila kepada seorang perernpuan. Pada suatu malam ia mendatangi rumah kekasihnya itu untuk diculiknya. Tetapi setelah dia melompat pagar rumah sang gadis, tiba-tiba dia melihat sang gadis sedang membaca al-Qur’an, mengumandangkan ayat al-Qur’an, surat al-Hadid ayat 16 yang artinya berbunyi:

Apakah belum tiba waktunya bagi orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan mengingat kebenaran apa yang diturunkan-Nya (al-Qur‘an), dan janganlah mereka seperti ahli Kitab sebelum mereka, telah lama mereka berpisah dari ajaran Nabinya sehingga hati mereka menjadi kasar (tidak tembus cahaya kebenaran), dan kebanyakan mereka menjadi orang fasik

Setelah mendengar ayat ini didengungkan dan dikumandangkan olrh sang gadis dengan suara yang merdu, maka Fudhail mundur dan mengurungkan niat jahatnya. Dan semalaman dia merenungkan peringatan Allah itu bagi hamba-Nya yang beriman, Jiwanya berbisik ; kapan lagi Anda akan insaf, dan bertobatlah segera sebelum ajal datang menjemput,. ya sebelum terlambat, Wahai Fudhail. Demikianlah kemudian, dia bertobat dan berusaha membina dirinya menjadi seorang Muslim sejati, dan berkat tekun belajar, dia kemudian menjadi Ulama besar yang cukup terkenal, Kata-katanya banyak dikutip oleh para pengarang.

Lain lagi dengan kisah Utbah al-Ghulam, seorang penjahat besar di negeri Basrah. Pada suatu hari dia mendengar pengajian di sebuah Masjid Basrah. Waktu itu yang memberi ceramah agama adalah Ulama besar Basrah yang amat terkenal, Syekh Hasan al-Bashry. Syekh Hasan kebetulan sedang menguraikan Surat al-Hadid ayat 16 tersebut dengan sejelas-jelasnya, dan kemudian menyuruh hadirin terutama bagi orang-orang yang berdosa segera tobat. Menjawab pertanyaan seorang hadirin, apakah dosanya bisa diampuni Allah bila dia bertobat, maka Syeikh Hasan al-Bashry menjawab: "Walaupun dosa Anda sebesar dosanya Utbah al-Ghulam, Insya’ Allah dosa Anda akan diampuni bila Anda berlobat dengan sungguh-sungguh".

Tiba-tiba terdengar orang meraung dan kemudian dia jatuh pingsan dalam masjid itu. Dan rupanya yang pingsan itu adaiah Utbah al-Ghulam sendiri, sang penjahat terkenal. Setelah sadar, dia bangkit mendekat sang guru, dan sang guru masih terus menerus menasihatinya dari hati ke hati. Hasan berkata: Bila Anda tahan sentuhan api neraka, maka silakan terus melakukan kejahalan. Tetapi bila tidak tahan, maka segeralah bertobat. Dengan dosa-dosa yang kau lakukan itu berarti engkau telah menghina, membebani jiwamu sendiri, maka lepaskan dirimu dari dosa itu dengan bersungguh-sunggu.

Nasihat sang guru besar, Ulama terkenal itu, sungguh menyentuh hatinya, dan kemudian dia bertobat kepada Allah dengan tobat nashuha. Dan setelah bertobat, dia mengangkat kedua tangannya dan menengadahkan kepalanya sambil berdo’a kepada Allah yang antana lain berbunyi:

Tuhanku, jika Engkau telah menerima tobatku dan mengampuni dosaku, maka berilah aku kehormatan dengan kedalaman pengetahuan tentang agama-Mu dan lekas menghapal apa yang aku baca dan aku dengar, sehingga aku dapat menghapal ilmu dan ayat-ayal al-Qur‘an!,
Berilah aku karunia dengan suara yang lndah dan mempesona Sehingga barangsiapa yang mendengar bacaan qiraatku, hatinya bertambah tersentuh Walaupun sebelumnya dia berhati kasarl Tuhanku. berilah aku kemuliaan dengan rezeki yang halal dan berilah aku rezeki yang datangnya tidak terduga!

Alhamdulillah, do’anya makbul, dan tejadilah keanehan pada dirinya. Ada saja datang rezeki berupa roti yang diantarkan orang ke rumahnya setiap hari, tanpa diketahuinya siapa yang mengantarkannya. Demikian itu berlangsung terus sampai akhir hayatnya. Begitulah Allah mengabulkan do’a hamba-Nya yang benar-benar ikhlas dalam tobatnya.

Kisah masuknya Umar bin Khattab ke dalam Islam adalah kisah yang patut disimak. Sebagaimana di.ketahui, Umar bin Khattab adalah tokoh terkemuka Arab di masa jahiliyah. Mulanya dia sangat menentang ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Tetapi kemudian melalui proses yang unik dia akhirnya menjadi orang terkemuka Islam, bahkan menjadi khalifah kedua sesudah Abu Bakar Siddik.

Syahdan, pada suatu ketika dia dengan pedang terhunus ingin menindak Rasulullah dengan para shahabatnya yang masih sedikit yang sedang dibina Raslullah di rumah Arqam bin Abil Arqarn di dekat shafa. Di tengah jalan dia ditegur seseorang bahwa sebelum menindak orang lain lebih baik dia menyelesaikan urursan keluarganya sendiri terlebih dahulu. Orang itu memberitakan kepada Umar bahwa adik kandungnya sendiri bersama suaminya telah menganut Islam menjadi pengikut Nabi Muhammad. Umar lantas berbelok ke rumah adiknya, Fatimah, dan kebetulan sedang ada di rumah membaca al-Qur’an. Drngan serta merta Umar memperlihatkan kemarahannya dengan memukul langsung adiknya dan iparnya sendiri sehingga babak belur.
Kebetulan di tangan Fatimah ada selembaran kertas Kitab suci al-Qur’an yang baru saja dibacanya.

Umar membentak adiknya dan meminta supaya lembaran itu diberikan kcpadanya. Tetapi Fatimah menolak dengan alasan: Anda adalah najis yang haram menyentuh lembaran suci ini!. Sebelum mandi dulu, saya tidak membiarkan Kiab Suci ini Anda sentuh, tandas Fatimah. Karena ingin tahunya sangat besar maka Umar mandi dan kemudian lembaran suci itu diberikan adiknya, Fathimah, kepada Umar, Dan setelah membaca beberapa ayat dari Surat Thahaa, maka keyakinannya bergoncang, hidayah ilahi menyusup ke didalam hatinya dan dia ingin mauk Islam seperti adik dan iparnya itu. Dan inuilah arti dari beberapa surat Thahaa yang membuat Umar berbalik kearah kebenaran.

“Kami bukan menurunkan al-Qur‘an kepadamu untuk menyusahkan dirimu, Melainkan menjadi peringatan bagi orang yang takut kepada Tuhannya. Dia turun dari Dzat yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi, Ar-Rahman (Allah) itu bersemayam di atas singgasana arasy. Kepunyaan-Nya segala apa yang ada di tangit, dan apa yang ada dibumi, apa-apa yang ada diantara keduanya dan apa-apa yang ada di bawah petala bumi. Jika engkau keraskan perkataan, Dia mengetahui apa yang dirahasiakan dan apa yang lebih tersembunyi. Allah, tidak ada Tuhan kecuali Dia, Bagi-Nya ada beberapa nama yang indah" (QS. Thahaa : 1-8).

Setelah itu barulah dia pergi dengan pedang terhunusnya ke rumah Arqam mencari Rasulullah. Mulanya orang curiga serta dengan kewaspadaan yang penuh untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Tiba- tiba Umar memeluk Rasulullah dengan sekaligus mengucapkan dua kalimah syahadah sebagai tanda dia memeluk Islam. Semuanya mengucapkan al-Hamdulillah dan bertakbir tanda syukur kepada Allah atas Islamnya Umar.

Demikianlah Umar bin Khattab yang“tersihir” setelah membaca beberapa ayat dari Surat Thahaa. Dan setelah ke Islamannya, beliau sempat membawa kejayaan umat Islam hingga hingga menundukkan dua adidaya kekuasaan yang berkuasa pada waktu itu, (Romawi dan Persia).

Jumat, 05 Mei 2017

Ketika Rasulullah Menangis

Pada zaman kenabiannya, di saat Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”. Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”

Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata: “Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, karena aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”. “Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.

Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!” Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya. “Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w.

Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita.

Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Maka orang Arab itu pula berkata:

“Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab badwi itu. “Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?” Rasulullah bertanya kepadanya. ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,’ jawab orang itu. ‘Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya!’

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah rnengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di syurga nanti!” Betapa sukanya orang Arab badwi itu, mendengar berita tersebut. Ia lalu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.

(Kisah-Kisah Penuh Hikmah)