Rabu, 23 Mei 2018

Dialah Pencetus Larangan Masjid Di Swiss, Namun Akirnya Memeluk Islam

Daniel Streich, politikus Swiss, yang tenar karena kampanye menentang pendirian masjid di negaranya, tanpa diduga-duga, memeluk Islam.
Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan ia adalah orang pertama yang meluncurkan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan mempunyai ide untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Ia berasal dari Partai Rakyat Swiss (SVP). Deklarasi konversi Streich ke Islam membuat heboh Swiss.
Streich mempropagandakan anti-gerakan Islam begitu meluas ke seantero negeri. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di Negara itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan kubah masjid.
Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang pemeluk Islam. Tanpa diduganya sama sekali, pemikiran anti-Islam yang akhirnya membawanya begitu dekat dengan agama ini. Streich bahkan sekarang mempunyai keinginan untuk membangun masjid yang paling indah di Eropa di Swiss.
Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahwa pada saat ini ada empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Ia mengakui ingin mencari “pengampunan dosanya” yang telah meracuni Islam. Sekarang adalah fakta bahwa larangan kubah masjid telah memperoleh status hukum.
Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich. Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam.
Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Ia mempunyai posisi penting dan pengaruhnya menentukan kebijakan partai. Selain petisinya tentang kubah masjid itu, ia juga pernah memenangkan militer di Swiss Army karena popularitasnya.
Lahir di sebuah keluarga Kristen, Streich melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya ia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia memeluk Islam. Streich sendiri kemdian disebut oleh SVO sebagai setan.
Dulu, ia mengatakan bahwa ia sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan sering pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Alquran dan melakukan salat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya di partai dan membuat pernyataan publik tentang ia masuk Islam. Streich mengatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya. (sa/iol/Em)

Minggu, 16 Juli 2017

Mencari Pemimpin Ideal

Kedudukan pemimpin dalam suatu masyarakat atau perkumpulan sangat penting, meskipun ia bukanlah segala-galanya.. Sebab sebagaimana diketahui bahwa perjalanan suatu masyarakat atau aktivitas dapat baik bukan semata-mata karena pemimpinnya, tapi tentu saja menyangkut hal-hal lain juga. Kita tidak meragukan kepemimpinan para nabi yang Allah swt. utus kepada Bani Israel. Namun karena dukungan dari ummatnya sangat lemah akhirnya tidak terbentuk rnasyarakat yang ideal. Oleh karena itu, di dalam Islam di samping diperlukan pemimpin yang baik dan berkualitas,juga harus dipersiapkan ummat yang siap mendukung program yang digulirkan oleh pemimpinnya. Yang kesemuanya itu tentu saja diperlukan pemahaman yang searah, yaitu sama-sama menuju kepada keridhaan Allah ‘Azza Jallah. Dalam istilah kajian lslamnya di istilahkan perlunya Qiyadah Mukhlishah (pemimpin yang ikhlash). dan Jundiyah Muthi‘ah (ummat yang taat).
Kemudian yang perlu juga diperhatikan dalam pembinaan generasi yang dipersiapkan untuk tampil di masa mendatang bukan hanva dibekali semangat untuk memimpin, tetapi juga pada saat yang bersamaan harus ditanamkan kesediaan untuk siap dipimpin. Jadi antara Qiyadiyah (semangat dan kesediaan untuk diberi amanah memimpin) dan Jundiyah (kesiapan untuk ditata) tertanam dalam waktu yang bersamaan. Sehingga tidak bersaing dan berebut untuk menjadi pemimpin dan tidak juga terlalu tawadhu’ sehingga sulit untuk diserahi tugas dan amanah. Memang kepemimpinan itu taklif (beban) bukan tasyrif (kemuliaan).

Al-Qur’an dan Kepemimpinan

Dalam istilah ke-Islaman, kepemimpinan disebutkan dengan beberapa istilah atau nama, di antaranya: imamah, ri’ayah, za ‘amah, imarah dan kadang-kadang disebut juga wilayah. Ayat-ayat yang menyebutkan pengertian di atas diantaranya terdapat pada surah: al-Baqarah l2: 124; an-Nisa’/4:59, 83, 139; al-Maidah/5: 51, 52, 57, 58, 80, 81; Hud/l1:17; Yusuf/12:72; Thaha 20:54; al-Anbiya’/21: 73; as-Sajdah/22:24; al-Mukminun/23: 8; al-Furqan/25: 74; al-Qalam/68: 40 dan al-Ma’arij/70: 32. Juga di beberapa tempat dipakai istilah khilafah, seperti terdapat di surah: al-Baqarah/l2: 30; al-An’am/6: 165; al-A’raf/7: 69, 74, 129; Yunus/l0: 14, 73; Hud/1l: 57;
an-Nur/24:55; an-Naml/27: 62; Fathir/35: 39; Shad/38: 26; al-Hadid/57: 7.

Hadits-hadits Tentang Pemimpin
Banyak sekali hadits-hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan pemimpin dan kepemimpinan. Di sini akan disebutkan beberapa saja. Mudah-mudahan dapat dijadikan masukan.

Artinya: Sesungguhnya iman (pemimpin) itu adalah (merupakan) perisai. (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin itu menjadi pelindung bagi orang-orang yang dipimpinnya, rnemperhatikannya dan membela nasibnya. Allah swt. memberikan gambaran kepribadian Nabi saw. yang merupakan pemirnpin teladan itu dalarn firrnan-Nya:

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (‘keimanan dun keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mu‘min. (QS at-Taubah: 128).

Ayat di atas menunjukkan bahwa Nabi saw. sebagai pemimpin ummat berasal dari kalangan orang yang dipimpinnya, yaitu manusia biasa, sehingga di antara beliau dengan ummatnya tidak ada jarak yang rnembuat kesenjangan diantara keduanya. Beliau turut merasakan persoalan ummat, tidak hanya hidup di menara gading. Keselamatan dan kebaikan ummatnya adalah keinginan beliau yang begitu besar. Dan sikap beliau dalam menghadapi ummatnya penuh dengan kasih sayang. Pemimpin yang memperhatikan dan menjadi pelindung bagi ummatnya adalah pemimpin yang akan dieintai pula oleh ummatnya.

Antinya: Apabila ada tiga orang dalam perjalanan, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang menjadi pemimpin. (HR. Abu Dawud,).

Hadits ini menunjukkan adanya keteraturan di dalam masyarakat Islam. Sehingga sebenarnya tidak ada peluang untuk krisis kepemimpinan. Sebab jangankan dalam masyarakat yang mapan dan stabil, di perjalanan sekalipun Islam membimbing ummatnya agar tetap memperhatikan adanya kepemimpinan agar setiap aktivitas terkoordinasi dengan baik. Tentu saja yang diangkat menjadi pemimpin, khususnya di perjalanan adalah orang yang rmemiliki pemahaman yang baik, termasuk tentang liku-liku perjalanan, Dengan demikian kebijakan yang diambil sesuai dengan kebutuhan dan bij aksana.

Artinya: Apabila pemimpinmu adalah orang yang terbaik di antara kalian, dari orang-orang kaya di antara kalian adalah orang-orang yang murah hati, dan urusan kalian (selalu) dimusyawarahkan di antara kalian maka hidup itu lebih baik dari pada mati. Dan apabila pemimpin kalian adalah orang yang jahat, orang kayanya bakhil, dan urusanmu diserahkan kepada wanita, maka mati itu lebih baik daripada hidup. (HR. Tirmidzi).

Pemimpin yang diangkat haruslah orang yang terbaik. Baik dari sisi Akhlaq dan prilaku. Suatu bencana bagi ummat kalau pemirnpin yang diangkat adalah orang-orang yang bermoral bejat. Oleh karena itu perlu mekanisme yang baik untuk menyeleksi para ealon pemimpin, sehingga yang nantinya tampil dan diserahi amanah betul-betul orang yang terbaik, atau paling tidak, baik. DR. Yusuf Qardhawi mengusulkan hal tersebut dalarn bukunya “Aulawiyat Harakah Islamiyah Fil Marhalatil Qadimah” (Prioritas Gerakan Islam) dan sub pembahasan “I’dad Al-Qiyadat Lil Mustaqbal” (Mempersiapkan Pemimpin Masa Depan). Dan kepemimpinan ummat secara umum tidak boleh diserahkan kepada wanita. Nabi saw. bersabda:

Artinya: Suaiu kaum yang menyerahkan urusannya kepada wanita tidak akan bahagia. (HR. Bukhari).

Artinya: Barangsiapa yang mengangkat seseorang dari satu golongan, sedang di antara mereka ada orang lain yang lebih berhak (lebih mampu dan ikhlash karena Allah), maka orang tersebut benar-benar telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslimin semuanya. (HR. Hakim).

Mengangkat pemimpin untuk ummat Islam hanya dengan pertimbangan golongan atau kelompok, padahal ada orang yang lebih laik, hanya karena bukan dari golongannya, adalah perbuatan yang terlarang dalam Islam. Dan hal itu menunjukkan masih adanya sisa-sisa pemikiran jahiliyah padanya. Di antara dampak negatif adanya kelompok-kelompok di kalangan kaum Musliniin adalah sikap seperti diatas. Ashabiyah tersebut menghilangkan profesionalisme. Apalagi kadang-kadang terjadi kalau ternyata dari golongannya tidak diangkat, terjadilah pemogokan atau penggernbosan.
Lain halnya kalau dalam forum yang bersifat umum. Di sana ada Muslim dan non-Muslim. Maka seorang Muslim wajib mendahulukan orang Muslim untuk duduk di kursi kepemimpinan, meskipun mungkin ada orang non-Muslim yang punya’kemampuan lebih baik. Sebab haram bagi seorang Muslim menyerahkan wala’ (termasuk kesediaan dipimpin) kepada orang-orang kafir.

Artinya: Tidaklah seorang pemimpinpun yang mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian tidak bersunguth-sungguh, dan tidak ,memberi nasihat kepada mereka,, ,melainkan dia kelak tidak masuk surga bersama-sama mereka. (HR. Muslim}.

pemimpin yang telah menerima amanah kepemimpinan harus secara bersungguh- sungguh melaksanakan tugasnya dan mnemberikan nasehat kepada ummatnya. Karena memang di antara kewajiban para pemimpin adalah menasihati ummat dan menerima nasehat dari ummat.

Artinva: ‘Tidak seorang hamba pun yang Allah angkat menjadi pemimpin suatu rakyat, yang dia mati pada saatnya tiba sedang dia tidak bersifat terbuka kepada rakyatnya emlainkan Allah haramkan baginya surga (HR. Bukhari dan Muslim)

Keterbukaan dalam mengelola amanah ummat sangat diperlukan. Sebab kontrol dan ummat dapat menjaga kelurusan perjalanan kepemimpinannya. contoh yang cemerlang terjadi pada saat kekhilafahan Umar bin Khathab. Pada saat beliau akan menyampaikan Sesuatu, salah seorang warga menginterupsi bahwa Ia tidak akan mernatuhi perintahnya sebelum dijelaskan darimana bahan pakaian yang Ia pakai. Sebab jatah pakaian yang dibagikan tidak mungkin cukup untuk Umar yang berbadan besar. Umarpun memanggil anaknva, Abdullah bin Umar untuk menerangkan bahwa bagian dia (Abdullah) diserahkan kepada ayahnya agar cukup untuk pakaiannya. Setetah itu barulah sang rakyat menyatakan kesiapannya untuk patuh. Tidak sebaliknya, kalau ada dari kalangan rakyat yang mengusik proyeknya atau usaha sanak famili sang penguasa, maka dengan berbagai dalih orang tersebut dijerat hukum; dan jabatannya, kalau ada, mulai dipreteli satu persatu. Itu jelas model kepemimpinan yang zhalim.

Sifat Pemimpin Ideal

Berbicara masalah pemimpin ideal, tentu saja perhatian kita terarah kepada sosok pemimpin teladan, yaitu Rasulullah saw. Sebab kepemimpinan beliau bukan saja diakui oleh kaum Muslimin, tetapi tidak sedikit dari kalangan non-Muslim yang juga mengakui kehebatannya.
Mahmud Syeit Khaththab dalamn bukunya “Ar-Rasul Al-Qaid” menyebutkan beberapa sifat kepemimpinan Nabi saw. yang mendukung keberhasilannya. Meskipun analisis penulis banyak dilihat dari sisi militer, sesuai dengan profesi beliau, namun tampaknya cukup relevan untuk kepemimpinan secara murni.
Jendral Mahrnud Syeit Khaththab menyebutkan sifat-sifat pemimpin itu di antaranya:

1. Dapat memberikan keputusan yang benar dengan cepat
Seorang pemimpin harus mampu mengarnbil keputusan yang benar dengan cepat di saat tertentu. Sebagaimana Nabi saw. dapat dengan cepat memutuskan agar basis kaum Muslimin ketika menghadapi kuffar Quraisy di Badar, dibangun di dekat sumber air. Sebab air merupakan kebutuhan fital, apalagi dalam peperangan. Sehingga dengan demikian musuh tidak mendapatkan air dan tentu saja tidak akan dapat bertahan lama.

2. Memilih kepribadian yang berani
Pemimpin yang pengecut tentu saja akan menyulitkan ummatnya. Sebagai pemimpin teladan Nabi saw. memiliki keberanian yang sangat baik. Suatu ketika di saat perang, Nabi saw. meminta beberapa shahabat untuk bersama beliau. Di malam hari ada suara hingar bingar. Para shahabat yang bersama beliau terbangun dan cepat-cepat menuju ke arah suara. Tetapi ternyata Nabi saw. sudah kembali dari sana dan mengatakan: “Kembalilah, itu hanya suara angin gurun”.

3. Berkemauan kuat dan tetap
Upaya orang-orang kafir untuk menggoyah da’wah Islamiyah yang dilakukan oleh .nabi saw. tidak henti-hetinva. bujukan, rayuan, ancaman dan bahkan teror mental dan fisik silih berganti. Namun dengan idzin Allah beliau tetap tegar dan berkemauan kuat untuk terus memperjuangkan kalimah Allah yang mulia itu.

4. Mengemban tanggungjawab tanpa ragu-ragu
Ketegaran dalam menjalankan tugas da’wah yang dilakukan oleh Nabi saw. menunjukkan rasa tanggung jawabnya yang demikian tingginya. Kesemuanya itu dilakukan dengan penuh keyakinan dan terjauh dari segala bentuk keraguan. Maka seorang pemimpin haruslah dapat membangun rasa tanggung jawab di atas dasar keyakinan yang kokoh. Dan keyakinan yang kokoh itu baru dapat terwujud manakala merujuk kepada rujukan yang kokoh pula, yaitu manhaj Rabbani, kitabullah dan sunnah Rasul-Nya saw.

5. Kejiwaan yang stabil baik dalam keadaan menang maupun dalam keadaan kalah
Di saat berjuang dengan berbagai intimidasi, Nabi saw. tabah dan sabar. Dan ketika kemenangan sudah di tangan, musuh sudah bagaikan tikus dihadapan kucing, Nabi saw. tidak lantas sombong dan zhalim semaunya. Beliau justru memberikan kemaafan kepada orang-orang yang dulunya memusuhi beliau pada saat Fathu Makkah.

6. Berpandangan ke depan
Ketika sebagian butir-butir perjanjian hudaibiyah menggelisahkan beberapa shahabat, Nabi saw. tetap tenang. Sebab meskipun secara lahiriyah point-point tersebut merugikan, tetapi jangka panjangnya sangat menguntungkan. dan hal tersebut terbukti dua tahun kemudian dengan terjadinya penaklukkan kota Makkah (Fathu Makkah).

7. Memahami kondisi kejiwaan bawahannya
Shafwan bin Umayyah adalah orang yang membenci Nabi saw. Lalu pada Perang Hunain Nabi saw. memberikan kepadanya bagian ghanimah. Akhirnya ia berkata:
"Nabi saw. biasa memberiku bagian ghanimah (Hunain), padahal sebelumnya Ia orang yang paling Saya benci, sampai Allah swt. tidak menjadikan Seseorang yang paling kucintai selain beliau".

8. Saling percaya
Pada perang Badar, meski hanya 300 shahabat harus menghadapi 1.000 pasukan kafir, tetapi Nabi saw. tidak meragukan kualitas dan komitmen para shahabatnya. Tentu saja demikian pula keyakinan para shahabat terhadap Nabi saw. Sehingga perjuangan dapat berjalan dengan baik.

9. Kecintaan secara timbal balik
Pada perang Uhud, bukan hanya para shahabat lelaki yang berjuang mati-matian, para shahabiyah (shahabat wanita) juga tidak mau tertinggal pada front tersebut. Salah seorang dari mereka adalah Nusaibah. Ia terluka parah ketika itu hingga pingsan. Namun begitu siuman yang ia tanyakan bukan keadaan anak atau suaminya, tetapi bagaimana keadaan Nabi saw. Begitu besar kecintaannya kepada Nabi saw. yang tentu saja hal tersebut terjadi karena Nabi saw. juga sangat mencintai umatnya.

Khatimah

Mencari calon pemimpin yang ideal dari segala sisinya tentulah sangat sulit. Kalau terlalu kaku dalam memilih bisa-bisa tidak ada yang laik untuk diangkat menjadi pemimpin. Padahal adanya pemimpin sangatlah penting, yang menurut para ularna’, sebagai ri’ayatuddin (menjaga agama) dan siyasatud dunia (mengatur permasalahan duniawi). Oleh karena itu Syaikhul Islam lbnu Taimiyah dalam bukunya “Siyasah Syar’iyah” menyebutkan perlunya proporsionalisme dalam memilih pemimpin, yaitu sesuai dengan bidang yang diperlukan. Umpamanya dibutuhkan seorang yang ahli rnengelola proyek ekonomi, tentu saja dicari yang memang punya potensi dan kemampuan dibidang tersebut, meskipun kadang-kadang tidak terlalu sering puasa Senin-Kamis.
Mudah-mudahan dengan upaya bersama mengkaji, memahami dan berlatih menerapkan nilai-nilai Islam dalam masalah kepemimpinan kelak akan lahir pemimpin yang dapat membawa ummat Islam kepada kejayaannya yang kita harapkan. Amien ya Rabbal ‘alamin.

Jumat, 23 Juni 2017

Idul Fithri Pertama Rasulullah saw

Terbenamnya sang mentari di ufuk barat pada akhir Ramadhan disambut dengan kumandangan kalimah takbir, tahlil dan tahmid oleh kaum Muslimin di seantero jagad. Kalimat-kalimat mulia itu sahut menyahut sampai mengantarkan kaum Muslimin ke tempat-tempat shalat’Id di hari yang mulia.

Kalimah takbir, tahlil dan tahmid yang diungkap dari sanubari yang terdalam sebagai manivestasi kesyukuran kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas rahmat dan karunia-Nya yang demikian banyaknya. Syukur atas bimbingan dan hidayah-Nya sehingga kita dapat menyelesaikan tugas suci berpuasa sebulan Ramadhan.

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (al-Baqarah:185).

Kalimah takbir yang diucapkan merupakan cerminan keyakinan bahwa hanya Allah swt. sajalah yang Maha Besar, Sedang selain Allah kecil. Kecil kekuatannya. kecil kehebatannya. kecil pegetahuannya, kecil kekayaannya dan kecil segalanya. Meskipun mereka berkuasa. raja diraja,, polisi dunia, tapi kesemuanya itu tiada artinya bila dibandingkan dengan kemaha hebatan Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga seorang Muslim yang mengucapkan takbir dengan penghayatan yang mendalam akan menjadikan dirinya memiliki kepribadian yang besar, semangat yang besar dan cita-cita yang besar. Ia terjauh dari kekerdilan pribadi dan pesimisme. Sebab pemahamannya terhadap kalimah takbir, Allahu Akbar, mengantarkannya pada kedudukan yang mulia, mulia di sisi Allah swt. walaupun mungkin Sementara orang menghinakannya.

Kalimah tahlil, lailaha Illallah, diucapkan sebagai pernyataan bahwa hanya Allah swt. sajalah yang di abdi, hanya Allah sajalah sebagai sesembahan, hanya Allah sajalah yang dipatuhi dan ditunduki secara mutlak. Kalimah mulia ini menjadikan orang yang menyatakannya dengan penghayatan terbebas dari segala bentuk perbudakan, perbudakan apa saja dan perbudakan oleh dan untuk siapa saja. Dirinya hanya memperbudakkan kemanusiaannya kepada Allah semata. Sedang kalimah tahmid yang disampaikan dengan penuh penghayatan menunjukkan bahwa pujian hanyalah hak Allah. selain Allah tidak berhak untuk menuntut pujian dan sanjungan. Sebab pujian dan sanjungan itu merupakan pakaian kebesaran Allah swt. Berbahagialah mereka yang tidak mencari-cari pujian.

Di hari yang berbahagia, di Idul fithri yang mulia ini, ada baiknya kita mengenang peristiwa yang sama, di hari yang sama, yaitu ‘Idul Fithni 1416 tahun yang lalu, di mana Nabi saw. dan para shahabatnya merayakan hari yang mulia ini pertama kali di tahun kedua Hijriyah. Pada tahun tersebut ada beberapa peristiwa besar yang menambah terasanya keagungan ‘Id yang mulia ini. Pada pentengahan bulan Rajab tahun kedua Hijriyah, turun firman Allah di surah al-Baqarah ayat 144 yang artinya:

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bah wa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhan mereka, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (al-Baqarah:144).

Ayat tersebut menetapkan perpindahan kiblat kaum Muslimin yang sejak Isra’ dan Mi’raj menghadap ke arah Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis Palestina menjadi ke arah Ka’bah di Masjidil Haram Makkah. Perubahan tersebut memang sangat diharapkan oleh Nabi saw. dikarenakan orang-orang Yahudi sering mengejek kaum Muslimin, yang menurut mereka maunya mempunyai ajaran sendiri, tetapi kiblatnya di kala shalat mengikuti kiblat mereka. Memang sudah menjadi karakter ummat Yahudi yang terkutuk itu selalu mencari-cari jalan untuk mengejek dan mencela kalangan selain mereka, terutama kaum Muslimin.

Berpindahnya kiblat bukan berarti kaumMuslimin tidak memuliakan Masjidil Aqsha, tidak, sama sekali tidak demikian. Masjidil Aqsha tetap menjadi kota suci bagi kaum Muslimin. Sebab Ia merupakan bumi para nabi dan kiblat pertama kaum Muslimin. Sehingga sampai hari ini dan insya’Allah akan terus sampai kapan saja, kaum Muslimin akan terus berusaha memerdekakan bumi Palestina yang di sana ada Masjidil Aqsha dari cengkcraman Yahudi Zionis yang terkutuk itu.

Kemudian pada tanggal 10 Sya’ban tahun kedua Hijriyah, turunlah syari’at berpuasa di bulan Ramadhan. Shiyam adalah suatu aktivitas pengendalian diri yang luar biasa, dan pada saat yang bersamaan, pelakunya juga turur merasakan bagaimana orang-orang miskin dan faqir selalu merasakan lapar dan dahaga. Sehingga dengan berpuasa seseorang dapat membersihkan jiwanya dari berbagai kotoran,. ditingkatkan kondisi ruhaninya dan dibiasakan untuk shabar dan terlatih mengemban beban dan tugas. Sungguh ibadah puasa mengandung nilai tarbawi (pendidikan) yang sangat tinggi Sehingga wajarlah kalau yang ditargetkan pada ibadah ini akan terlahirlah pribadi-pribadi yang muttaqi, pribadi yang benar-benar bertaqwa, pribadi-pribadi yang syakirin, yang senantiasa bersyukur, dan pribadi-pribadi yang rasyidin, yang mengikuti bimbingan Allah swt. Sungguh ibadah yang mulia ini sebagai sarana munuju kepribadian Muslim yang utuh.


Ketika kaum Muslimin berpuasa pertama kali ini, masih di pekan pertama, Rasulullah saw. mengajak para shahabat untuk berpatroli, yang kemudian terjadilah perang yang sangat terkenal itu, perang Badar. Kita dapat membayangkan betapa hebatnya tempaan yang dialami oleh generasi awal, para shahabat di bawah bimbingan Nabi saw. Mereka berpuasa pertama kali, lalu pada saat itu juga mereka terjun yang pertama kali ke gelanggang pertempuran yang sangat dahsyat. Betapa tidak, 300-an kaum Muslimin dengan persenjataan dan sarana yang sangat terbatas harus berhadapan dengan 1000 pasukan Quraisy yang terlatih dan sarana yang lengkap.

Ibadah puasa adalah syari’at Allah swt. Demikian pula perang yang juga syari’at Allah. Sedang kaum Muslimin ketika itu menjalankan kedua syari’at Allah tersebut. Maka sangatlah wajar kalau mereka yang demikian terikatnya pada syari’ah tersebut mendapat perhatian dan bantuan dari pemilik syari’ah, yaitu Allah swt. Sehingga dengan idzin dan pertolongan Allah swt. peperangan tersebut dapat dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan cemerlang.

Baru saja kaum Muslimin pulang dari perang Badar yang puncaknya pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah tersebut,. di pekan ketiganya Allah swt. menurunkan syani’at-Nya yang berikutnya, yaitu disyari’atkannya zakat fithrah yang kemudian disusul dengan syari’at zakat secara umum.

Artinya: Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim meriwayatkan dari hadits Qais bin Sa’ad bin Ubadah ra. berkata: Rasuluilah saw. menyuruh kami untuk berzakat fithrah sebelum turun ketentuan zakat (secara umum). kemudian turun kewajiban zakat (secara umum itu). al-Hafizh Ibnu Hajar berkata. Isnadnya Shahih.

Zakat, infaq dan shadaqah merupakan ibadah yang dapat memperbaiki suasana sosial dan memperkecil kesenjangan antara kaum kaya dan faqir miskin. Kita ketahui bahwa belakangan ini banyak peristiwa kerusuhan dan pengrusakan yang menimbulkan banyak kerugian. kerugian fisik dan kerugian moral. Para pengamat mengatakan bahwa di antara sekian penyebab terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut adalah kesenjangan sosial. Yang sudah kaya terus menambah deretan kekayaannya dengan membuka berbagai usaha, apakah pabrik, perkebunan, peternakan atau apa saja. Di setiap wilayah mereka punya lahan. Mereka terus menumpuk harta sampai tujuh keturunan yang kadang-kadang tidak jarang menyelewengkan kedudukan, kalau mereka berkedudukan, atau berkolusi dan manipulasi, kalau yang pertama sulit dilakukan. Sementara di pihak lain kaum miskin semakin tertekan. Rumah-rumah tidak sedikit yang digusur dengan ganti rugi yang betul-betul merugikan. Suasana seperti ini sangat berpotensi untuk timbulnya gejolak sosial, lebih-lebih bila ada kelompok ketiga yang berkepentingan.

Kita menyadari bahwa realitas kehidupan ini menunjukkan adanya perbedaan nasib. Dan Islam mengakui itu. Ada yang miskin dan ada pula yang kaya. Tetapi Islam membimbing kita agar bersikap secara proporsional, tepat dan benar. Orang yang dengan idzin Allah bernasib kaya harus tnenyadari kewajibannya mengeluarkan sebagian hartanya yang sebenarnya memang sudah menjadi hak orang lain. jadi kalau ada seseoang yang memberikan sebagian hartanya, jangan dianggap bahwa dirinya sudah berjasa pada orang yang ia beri. lalu orang yang diberi itu dikendalikan semaunya. Bukan begitu Seharusnya. Mereka seharusnya mengeluarkan hartanya Itu karena memang bukan lagi menjadi haknya, itu hak orang lain.

Demikian pula mereka yang kebctulan bernasib miskin. jangan lalu mereka iri dan dengki terhadap orang kaya. Hal ini akan mengakibatkan benturan antar kelas, yang jelas tidak Islami. Di satu sisi ada borjuis yang sombong dan angkuh sementara di pihak lain ada proletar yang bersikap dengan penuh kebencian pada lawannya. Orang miskin tidak perlu dendam, tidak perlu iri dan juga tidak perlu menghinakan diri menjadi pengemis. Islam membimbing kita agar punya rasa ‘iffah dan muru’ah, rasa harga diri. Lebih baik membawa kapak dan tali ke hutan mencari kayu bakar untuk dijual dan menghidupi keluarga daripada mengemis dan menghinakan diri, demikian Nabi saw. memerintahkan kita. Begitu pentingnya kedudukan zakat dalam masyarakat Muslim. Sehingga pantaslah kalau khalifah Abu Bakar Shiddiq ra membuat kebijakan yang sangat tegas dan jelas terhadap mereka yang menolak membayar zakat.

Artinya : Demi Allah. pasti saya akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat. Karena zakat itu hak harta. Demi Allah, seandainya mereka tidak membayar (walau hanya) anak kambing atau unta yang biasa mereka tunaikan pada Nabi saw. pasti saya akan memerangi mereka disebabkan tidak membayarnya (sekarang). Umar berkata Demi Allah, hal itu tidak lain kecuali saya lihat Allah telah membukakan dada Abu Bakar untuk berperang, saya tahu bahwa ia benar.  
 
Dalam suasana perjalanan perjuangañ seperti itulah Nabi saw. dan para shahabat pertama kali beridul fithri. Diawali dengan perubahan kiblat yang selama ini dilecehkan oleh orang-orang Yahudi, menjadi berkiblat ke arah yang diridhai oleh kaum Muslimm dan tentu saja diridhai pula oleh Allah swt. Kalau dulu perubahan kiblat di kala shalat, kini kita melihat kiblat kehidupan yang perlu dibenahi. Gelombang materialisme dan aliran-aliran pemikiran yang laisa minal Islam, bukan dan ajaran Islam masih tampak mewarnai pola pikir dan pola kerja kaum Muslimin. Karena itu perlu perbaikan dan pembenaran kiblat kehidupan sehingga betul-betul diridhai oleh Allah swt. Dan diridhai pula oleh mereka yang mempunyai komitmen pada Islam. Kemudian Nabi saw. dan para shahabat berpuasa.. mengendalikan diri dari dominasi syahwat baik syahwat perut. makan dan minum. maüpun syahwat seks, yaitu bercampur suami istri di siang hari.

Kini kita lihat sebagian dari bangsa kita yang mayoritas Muslim ini sudah kurang memiliki daya kontrol yang baik, meskipun mungkin saja mereka turut berpuasa di bulan Ramadhan,, sebab mereka secara lahiriyah Muslim. Tetapi dalam kesehariannya mereka tidak perduli halal dan haram. baik halal dzati (bendanya), maupun halal kasbi (hasil usahanya). Sehingga korupsi dan manipulasi masih demikian membudayanya di tengah-tengah masyarakat kita yang mayoritas Muslim ini. Kita berada pada peringkat atas di dunia ini. Tapi sayang prestasi korupsi dan kolusi yang sangat memalukan.

Demikian pula syahwat seks sangat tidak menggembirakan. Perzinaan bukan lagi hal yang tabu. Bahkan pemerkosaan dan pelecehan seksual dengan segala ragam dan bentuknya sudah menjadi hiasan harian di media kita. Sehingga negeri yang menyimpan kaum Muslimin terbanyak di dunia ini, ternyata mempunyai piaraan orang-orang berpenyakit AIDS dan calonnya yang tidak sedikit. Sungguh suasana yang memalukan dan memprihatinkan. Mudah-mudahan puasa di tahun ini dapat menekan sedikit demi sedikit kemaksiatan dan kedurhakaan yang semestinya tidak perlu ditoleransi lagi. dulu. sungguh sangat jauh dari pemikiran kita. Kita sudah terlalu tenggelam pada kehidupan dunia yang menyilaukan ini. Padahal jihad adalah puncak dari ajaran islam. Demikian pula mobilsasi dana ummat masih jauh dari yang semestinya Hampir 200 juta kaum Muslimin di negeri ini, tetapi berapa banyak proyek Da’wah dan amal Islami yang turut goyah karena goyahnya ekonomi negara-negara Timur Tengah yang selama ini banyak membantu da’wah di negeri ini, yang tentu saja penghancuran pos-pos dana itu memang sangat diinginkan oleh musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kaum Muslimin.

Kalau dulu, di tahun ke dua Hijriyah, dalam beberapa bulan saja secara berturut-turut turun syariah perubahan kiblat, puasa, jihad di Badar, zakat Fithrah dan zakat secara umum, dan kemudian kaum Muslimin bersama-sama bertakbir sebagai pernyataan kemenangan dan kesyukuran yang mendalam. Maka bagaimana dengan takbir kita di hari ini? Apakah takbir kemenangan dan kesyukuran? Sungguh kita harus terus berusaha memperbaiki keadaan yang ada ini. Kalau di tahun kedua hijriyah seperti itu tempaan terhadap generasi awal yang kemudian baru di tahun kedelapan hijriyah kemenangan nyata berupa penaklukan kota Makkah, dari 20 sampai 30 tahun kemudian kaum Muslimin mampu menggoyang imperium Romawi dan Persia sebagai dua super power ketika itu. Maka berapa waktu lagikah kita dapat tegak dengan penuh harga diri di dunia yang seperti ini.

Memang masalah kapan kemenangan itu datang, bukan urusan kita. Hanya yang dituntut dan kita adalah berusaha dan berbuat. Berusaha dan berbuat sebagaimana Rasulullah saw. dan para shahabathya berbuat. Ya, dunia masih terhampar di depan kita, langkah masih dapat diayunkan. Marilah kita melangkah, marilah kita bcrbuat. Allah pasti tidak akan membiarkan kita, sebagaimana Allah tidak membiarkan kaum Muslimin di medan Badar. Pada saatnya juga insya’ Allah takbir yang kita kumandangkan sebagaimana takbir yang dikumandangkan oleh Rasulullah saw. dan para shahabatnya di ‘Idul Fithri. 1 Syawal tahun kedua hijriyah. Takbir kemenangan, kemenangan karena telah memiliki kiblat shalat dan kiblat kehidupan yang berbeda dengan kiblat umumnya manusia, takbir kemenangan karena berhasil mengendalikan syahwat perut dan syahwat seks, takbir karena berhasil menjadikan musuh bertekuk lutut, dan takbir kemenangan karena dapat menyebarkan pemerataan sosial. Semoga takbir kita di hari yang mulia ini sebagai takbir yang menempati anak-anak tangga menuju puncak takbir kemenangan yang hakiki. Amin Ya Rabbal ‘alamin. Akhirnya, marilah kita berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla, semoga Allah yang Maha Agung mengampuni dosa-dosa kita, baik dosa yang sifatnya Individual maupun kolektif, dosa yang kecil maupun dosa-dosa besar. Dan semoga Allah senantiasa membimbing kita pada jalan-Nya yang lurus, jalan yang dilalui oleh para anbiya’, mursalin, syuhada’ dan shalihin. Amiin

Selasa, 30 Mei 2017

Solomon

"Dalam diri manusia di daerah yang paling dalam, ada tempat yang tidak tersentuh oleh kepalsuan. Daerah suci yang sepertinya dipagari dan dilindungi oleh Tuhan dari kekuatan setan”.  
 
Di Damaskus tahun 1804 masehi tejadi peristiwa mengerikan yang mungkin tak semua orang dapat mempercayainya. Adalah Padre Tomaso da Calangiano, seorang pendeta yang berasal dari Italy dan menetap lama di Damaskus, hilang secara misterius. Pendeta yang tekenal ramah dan sopan itu menghilang sebelum menyentuh makan malam yang telah dihidangkan. Semua orang merasa kehilangan. termasuk David Harary, seorang saudagar besar Yahudi separuh baya yang juga terkenal amat ramah kepada siapapun juga, termasuk kepada sang pendeta yang kerap menjadi teman diskusi masalah-masalah keagamaan.

Namun, misteri akan hilangnya sang paderi tak berlangsung lama. Solomon sang tukang cukur Yahudi membuka misteri itu. Misteri suatu peristiwa paling bodoh yang pernah dilakukan atas nama agama. Padre Tomaso telah menjadi bangkai. Mayatnya dikubur di halaman dalam rumah besar sang konglomerat yang sekaligus teman dekat pendeta: David Harary. Bahkan Davidlah yang memimpin upacara pembunuhan terhadap sang paderi. Upacara? Ya, upacara untuk mengambil darah orang masehi guna dicampur dalam adonan roti Canai yang nantinya dimakan dalam upacara istimewa. Salah satu khasiatnya adalah untuk mengembalikan keperjakaan David yang selalu lumpuh di hadapan Camelia, isterinya yang masih mudah dan cantik. Upacara dalam keagamaan Yahudi yang digelar tidak setiap tahun ini memang memuakkan. Mengorbankan nyawa seseorang. mengambil darahnya dan memakannya dalam roti hanya karena ia meyakini suatu keyakinan yang berlainan.

Peristiwa nyata. tragis dan memuakkan itu telah dikemas kembali dalam bentuk novel dengan bagus oleh Najib Kaelani dalam: Haaratul Yahud (Kampung Yahudi). Novel yang tidak terlalu tebal yang dilengkapi dengan referensi dan manuskrip interogasi kepolisian itu memang menggambarkan miniatur kehidupan manusia yang lengkap. Di sana ada keserakahan, obsesi, kemunafikan, hati nurani dan juga keyakinan salah yang banyak dianut oleh orang ramai.

Najib Kaelani, seorang sastrawan yang dipinggirkan karena keaktifannya di gerakan Islam, mengemas kisah ini dengan begitu apik hingga tak terkesan menjemukan atau tampil sekedar sebagai poster kampanye anti Yahudi. Yahudi yang menjadi terdakwa dalam kisah ini tidak melulu digambarkan sebagai garong dengan berwajah bengis atau penipu berakal bulus. Toh di akhir cerita, hati nurani Yahudi juga yang berbicara kebenaran. Hati nurani yang tidak mampu disentuh oleh setan manapun akhirnya berbicara lewat mulut sang barber Yahudi yang selalu dihantui oleh rasa bersalah.

Dengan lutut bergetar Ia paparkan semua kisah itu secara detail, dari mulai awal penculiknn sampai penguburan dan penyimpanan darah sang paderi dalam botol yang kemudian diserahkan kepada kerabian Yahudi. Salah seorang prajurit polisi jatuh pingsan, seorang perwira penyidik muntah-muntah dan terduduk lemas. Peristiwa itu memang mengerikan dan membuat bulu kuduk berdiri. Sang barber terus berkicau hingga habis gumpalan yang selama ini menyesakkan dadanya.

Mengkhianati hati nurani ternyata tak mudah. Walaupun untuk suatu kredo dan keyakinan. Kepuasan yang dibisikkan oleh setan ketika menyayat leher sang paderi ternyata tak cukup kuat untuk melawan hati nurani, yang menurut Najib Kaelani tak tersentuh oleh setan itu. Hal yang sama .sebenarnya juga terjadi pada ribuan tentara Israel yang menembak anak-anak intifadhah dengan peluruh karet atau peluru timah runcing. Mereka pembunuh biadab. Namun hati nurani atau fitrah kemanusiaan mereka berontak dan melawan kebiadaban mereka. Akhirnya rasa bersalah yang tumbuh di hati nurani itu pula yang menjadikan mereka manusia dengan jiwa yang kurang normal dan harus tinggal di perawatan kesehatan jiwa. Hal itu juga terjadi pada pasukan Merah Rusia, tentara SS Nazi, gerombolan Khmer Merah dan juga pada diri kita sendiri.

Namun seringkali hati nurani kalah bertarung melawan segala macam kebiadaban dan kebejatan. Ketika hati nurani bertekuk lutut di hadapan segala kebejatan, ketika itulah manusia tidak mempunyai keseimbangan dalam hidupnya. Ia mampu menjadi makhluk terbengis sekalipun. Seperti ketika pasukan Israel menembaki anak-anak Palestina yang innocent, atau Pasukan SS Nazi yang membunuh orang yang tidak berkulit putih bersih. Tapi mereka merana dalam kebengisan. Hati nurani terlalu kuat untuk dilawan, terlalu dalam akarnya untuk dicabut. Setiap usaha untuk mencabutnya dan menggantikannya dengan kebejatan akan berakhir pada kesengsaraan.

“Jangan sekali-kali mengkhianati hati nurani, hio!” teriakan Sawung Jabo dalam Hio-nya ini mungkin tidak dapat dilaksanakan oleh siapa pun juga kecuali oleh orang-orang yang memang benar-benar mengerti hati nurani dan fitrah kemanusiaan yang dikaruniakan oleh Allah kepada hamba-Nya.

Senin, 08 Mei 2017

Pesona Dan Kekuatan Ayat-Ayat Al-Qur’an
 
Sebagaimana diketahui bahwa al-Qur’an adalah Wahyu Ilahi dan Kitab Suci terakhir yang diturunk an Allah kepadaNabi Muhammad saw. untuk jadi petunjuk dan pedoman hidup ummat manusia sepanjang abad. Ia adalah Kitab yang mencakup luas bagi segala bidang kehidupan nianusia, baik ibadah maupun muamalah. Dan selain berisi tuntunan dalam bidang akidah, syariah dan akhlak, juga al-Qur’an berisikan khasiat-khasiat untuk kesehatan mental spritual ataupun untuk syifa’ bagi kesembuhan fisik jasmaniah yang terganggu kesehatannya.
Pernah terjadi di zaman Rasulullah ada scorang kepala suku yang dipatuk ular, kemudian ada orang melaporkannya kepada shahabat Rasulullah saw. yang kebetulan sedang lewat di kampung itu. Tiba-tiba tampil salah seorang d antara rombongan itu datang menjenguk dan dia segera memantrakannya dengan membaca surat al-Fatihah, dan alhamdulillah kepala kampung itu sembuh dengan segera. Kisah ini diriwayatkan oleh al Bukhari dan shahabat Rasulullah,Abi Sa’id al-Khudni. Dan banyak kisah lain yang menjelaskan beberapa ayat al-Qur’an yang dapat dimanfaaikan untuk kesembuhan fsik jamaniah seseorang.

Tetapi yang terbanyak ayat al-Qur’an dapat menyembuhkan mental yang kurang sehat atau mengembalikan orang ke jalan yang benar dan tidak jarang orang non Islam berubah dan bergoncang imannya sehingga dia tobat kembali kepada jalan yang benar dan diridhai Allah. Di samping itu banyak yang terharu dan tersentuh jiwanya ketika mendengar orang membaca al-Qur’an sehingga air matanya berlinang dan bercucuran.

Rasulullah saw. sendiri pernah meminta shahabatnya yang bcrnama Abdullah bin Mas’ud supaya membaca al-Qur’an di hadapan beliau. Sebagaimana diketahui, Ibnu Mas’ud adalah shahabat Nabi yang terkenal dengan qiraatnya yang bagus dan lagu serta suaranya amat merdu.
Ibnu Mas’ud meanbaca beberapa ayat dan surat an-Nisa’. Tetapi setelah sampai kepada ayat 41, maka Rasulullah meminta Ibnu Mas’ud supaya berhenti, karena air matanya telah bercucuran karena terharu. Surah an-Nisa’ ayat 41 berbunyi:

“Betapakah dahsyatnya keadaan dikala itu (hari akhirat), bila Kami (Allah) menghatarkan seorang saksi bagi setiap ummat, dan engkau (Muhammad) kami hadirkan juga sebagai saksi bagi mereka”
Rasulullah saw. tak tahan mendengar ayat itu, bagaimana kalau dia menjadi saksi kelak bagi ummatnya yang bejat moral, bagaimana pula dia dihadirkan sebagai saksi bagi ummatnya yang kafir-durhaka, dan apakah dia tahan melihat ummatnya yang durhaka itu dihalau oleh malaikat ke neraka? Semuanya itu terbayang di pelupuk matanya, dan karena itu beliau pun menangislah. “Cukup, cukup sampai di sini wahai lbnu Mas’ud”, kata Rasulullah kepada shahabatnya yang ahli qiraat lagi bersuara merdu itu. Ya, beliau terharu dan hatinya tersentuh.

Fudhail bin ‘Iyadh, kemudian menjadi Ulama besar, pada mulanya selagi masih muda adalah seorang preman yang tergila-gila kepada seorang perernpuan. Pada suatu malam ia mendatangi rumah kekasihnya itu untuk diculiknya. Tetapi setelah dia melompat pagar rumah sang gadis, tiba-tiba dia melihat sang gadis sedang membaca al-Qur’an, mengumandangkan ayat al-Qur’an, surat al-Hadid ayat 16 yang artinya berbunyi:

Apakah belum tiba waktunya bagi orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan mengingat kebenaran apa yang diturunkan-Nya (al-Qur‘an), dan janganlah mereka seperti ahli Kitab sebelum mereka, telah lama mereka berpisah dari ajaran Nabinya sehingga hati mereka menjadi kasar (tidak tembus cahaya kebenaran), dan kebanyakan mereka menjadi orang fasik

Setelah mendengar ayat ini didengungkan dan dikumandangkan olrh sang gadis dengan suara yang merdu, maka Fudhail mundur dan mengurungkan niat jahatnya. Dan semalaman dia merenungkan peringatan Allah itu bagi hamba-Nya yang beriman, Jiwanya berbisik ; kapan lagi Anda akan insaf, dan bertobatlah segera sebelum ajal datang menjemput,. ya sebelum terlambat, Wahai Fudhail. Demikianlah kemudian, dia bertobat dan berusaha membina dirinya menjadi seorang Muslim sejati, dan berkat tekun belajar, dia kemudian menjadi Ulama besar yang cukup terkenal, Kata-katanya banyak dikutip oleh para pengarang.

Lain lagi dengan kisah Utbah al-Ghulam, seorang penjahat besar di negeri Basrah. Pada suatu hari dia mendengar pengajian di sebuah Masjid Basrah. Waktu itu yang memberi ceramah agama adalah Ulama besar Basrah yang amat terkenal, Syekh Hasan al-Bashry. Syekh Hasan kebetulan sedang menguraikan Surat al-Hadid ayat 16 tersebut dengan sejelas-jelasnya, dan kemudian menyuruh hadirin terutama bagi orang-orang yang berdosa segera tobat. Menjawab pertanyaan seorang hadirin, apakah dosanya bisa diampuni Allah bila dia bertobat, maka Syeikh Hasan al-Bashry menjawab: "Walaupun dosa Anda sebesar dosanya Utbah al-Ghulam, Insya’ Allah dosa Anda akan diampuni bila Anda berlobat dengan sungguh-sungguh".

Tiba-tiba terdengar orang meraung dan kemudian dia jatuh pingsan dalam masjid itu. Dan rupanya yang pingsan itu adaiah Utbah al-Ghulam sendiri, sang penjahat terkenal. Setelah sadar, dia bangkit mendekat sang guru, dan sang guru masih terus menerus menasihatinya dari hati ke hati. Hasan berkata: Bila Anda tahan sentuhan api neraka, maka silakan terus melakukan kejahalan. Tetapi bila tidak tahan, maka segeralah bertobat. Dengan dosa-dosa yang kau lakukan itu berarti engkau telah menghina, membebani jiwamu sendiri, maka lepaskan dirimu dari dosa itu dengan bersungguh-sunggu.

Nasihat sang guru besar, Ulama terkenal itu, sungguh menyentuh hatinya, dan kemudian dia bertobat kepada Allah dengan tobat nashuha. Dan setelah bertobat, dia mengangkat kedua tangannya dan menengadahkan kepalanya sambil berdo’a kepada Allah yang antana lain berbunyi:

Tuhanku, jika Engkau telah menerima tobatku dan mengampuni dosaku, maka berilah aku kehormatan dengan kedalaman pengetahuan tentang agama-Mu dan lekas menghapal apa yang aku baca dan aku dengar, sehingga aku dapat menghapal ilmu dan ayat-ayal al-Qur‘an!,
Berilah aku karunia dengan suara yang lndah dan mempesona Sehingga barangsiapa yang mendengar bacaan qiraatku, hatinya bertambah tersentuh Walaupun sebelumnya dia berhati kasarl Tuhanku. berilah aku kemuliaan dengan rezeki yang halal dan berilah aku rezeki yang datangnya tidak terduga!

Alhamdulillah, do’anya makbul, dan tejadilah keanehan pada dirinya. Ada saja datang rezeki berupa roti yang diantarkan orang ke rumahnya setiap hari, tanpa diketahuinya siapa yang mengantarkannya. Demikian itu berlangsung terus sampai akhir hayatnya. Begitulah Allah mengabulkan do’a hamba-Nya yang benar-benar ikhlas dalam tobatnya.

Kisah masuknya Umar bin Khattab ke dalam Islam adalah kisah yang patut disimak. Sebagaimana di.ketahui, Umar bin Khattab adalah tokoh terkemuka Arab di masa jahiliyah. Mulanya dia sangat menentang ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Tetapi kemudian melalui proses yang unik dia akhirnya menjadi orang terkemuka Islam, bahkan menjadi khalifah kedua sesudah Abu Bakar Siddik.

Syahdan, pada suatu ketika dia dengan pedang terhunus ingin menindak Rasulullah dengan para shahabatnya yang masih sedikit yang sedang dibina Raslullah di rumah Arqam bin Abil Arqarn di dekat shafa. Di tengah jalan dia ditegur seseorang bahwa sebelum menindak orang lain lebih baik dia menyelesaikan urursan keluarganya sendiri terlebih dahulu. Orang itu memberitakan kepada Umar bahwa adik kandungnya sendiri bersama suaminya telah menganut Islam menjadi pengikut Nabi Muhammad. Umar lantas berbelok ke rumah adiknya, Fatimah, dan kebetulan sedang ada di rumah membaca al-Qur’an. Drngan serta merta Umar memperlihatkan kemarahannya dengan memukul langsung adiknya dan iparnya sendiri sehingga babak belur.
Kebetulan di tangan Fatimah ada selembaran kertas Kitab suci al-Qur’an yang baru saja dibacanya.

Umar membentak adiknya dan meminta supaya lembaran itu diberikan kcpadanya. Tetapi Fatimah menolak dengan alasan: Anda adalah najis yang haram menyentuh lembaran suci ini!. Sebelum mandi dulu, saya tidak membiarkan Kiab Suci ini Anda sentuh, tandas Fatimah. Karena ingin tahunya sangat besar maka Umar mandi dan kemudian lembaran suci itu diberikan adiknya, Fathimah, kepada Umar, Dan setelah membaca beberapa ayat dari Surat Thahaa, maka keyakinannya bergoncang, hidayah ilahi menyusup ke didalam hatinya dan dia ingin mauk Islam seperti adik dan iparnya itu. Dan inuilah arti dari beberapa surat Thahaa yang membuat Umar berbalik kearah kebenaran.

“Kami bukan menurunkan al-Qur‘an kepadamu untuk menyusahkan dirimu, Melainkan menjadi peringatan bagi orang yang takut kepada Tuhannya. Dia turun dari Dzat yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi, Ar-Rahman (Allah) itu bersemayam di atas singgasana arasy. Kepunyaan-Nya segala apa yang ada di tangit, dan apa yang ada dibumi, apa-apa yang ada diantara keduanya dan apa-apa yang ada di bawah petala bumi. Jika engkau keraskan perkataan, Dia mengetahui apa yang dirahasiakan dan apa yang lebih tersembunyi. Allah, tidak ada Tuhan kecuali Dia, Bagi-Nya ada beberapa nama yang indah" (QS. Thahaa : 1-8).

Setelah itu barulah dia pergi dengan pedang terhunusnya ke rumah Arqam mencari Rasulullah. Mulanya orang curiga serta dengan kewaspadaan yang penuh untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Tiba- tiba Umar memeluk Rasulullah dengan sekaligus mengucapkan dua kalimah syahadah sebagai tanda dia memeluk Islam. Semuanya mengucapkan al-Hamdulillah dan bertakbir tanda syukur kepada Allah atas Islamnya Umar.

Demikianlah Umar bin Khattab yang“tersihir” setelah membaca beberapa ayat dari Surat Thahaa. Dan setelah ke Islamannya, beliau sempat membawa kejayaan umat Islam hingga hingga menundukkan dua adidaya kekuasaan yang berkuasa pada waktu itu, (Romawi dan Persia).

Jumat, 05 Mei 2017

Ketika Rasulullah Menangis

Pada zaman kenabiannya, di saat Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”. Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”

Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata: “Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, karena aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah bukan kerana ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”. “Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.

Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!” Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya. “Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w.

Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita.

Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahawa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Maka orang Arab itu pula berkata:

“Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab badwi itu. “Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?” Rasulullah bertanya kepadanya. ‘Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,’ jawab orang itu. ‘Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya!’

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah rnengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di syurga nanti!” Betapa sukanya orang Arab badwi itu, mendengar berita tersebut. Ia lalu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.

(Kisah-Kisah Penuh Hikmah)

Senin, 01 Mei 2017

Husnudzon (Berbaik Sangka) Kepada Allah
 
Kesederhanaan kalimat tak berarti mudah untuk selalu dilaksanakan. Manusia mempunyai sifat mencintai kemudahan namun cenderung mengeluh saat menjumpai sebuah kesulitan. Namun bukankah semua yang terjadi didunia ini atas kehendak Allah swt? Seperti dalam sebuah Firman-Nya: 

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌلِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
 
Artinya: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka-cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al-Hadiid : 22-23.)

Surah diatas menjelaskan bahwa tidak suatu pun kejadian yang menimpa, melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh. Seorang mukmin seharusnya tidak larut dalam kesedihan saat tertimpa musibah, demikian pula sebaliknya, yakni tidak bergembira yang terlalu berlebihan saat mendapatkan kesenangan.

Mengapa Allah melarang untuk bergembira dan sedih secara berlebihan? Pertanyaan inipun dijawab dalam sebuah Firman-Nya : 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
 
Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 216)

Sebenarnya surah diatas menjelaskan kelemahan nalar manusia. Keterbatasan akal dan pikirannya terkadang membuat mereka tak mampu menemukan kebenaran yang hakiki, Sebab secara umum manusia menilai baik dan buruknya sesuatu sebatas panca indranya saja, dan terlupa bahwa Allah itu maha mengetahui. Manusia yang penuh keterbatasan dan kelemahan semestinya selalu berprasangka baik kepada seluruh takdir Allah, sebab berprasangka baik kepada Allah merupakan sebuah sunnah Rasulullah saw, seperti dalam sebuah hadist beliau : 

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
 
Artinya: Janganlah salah seorang kalian meninggal dunia melainkan ia berbaik sangka kepada Allah” (HR. Muslim)

Prasangka baik kepada Allah sejatinya menyempurnakan sebuah rencana ataupun rancangan yang dibuat oleh-Nya. Prasangka baik akan selalu membawa manusia untuk senantiasa bertawakkal kepada Allah dalam segala hal, dan prasangka baik pula yang selalu menghantarkan anugrah kepada seorang hamba.

Seperti dalam sebuah kisah seorang budak yang mendapatkan jatah satu hari libur pada hari jum’at, namun budak tersebut mempergunakan hari libur dari tuannya itu untuk bekerja keras. Hingga pada suatu hari, hasil kerja keras itu membuat dirinya mampu mengumpulkan uang untuk membayar kemerdekaannya sebagai budak.

Ketika Ia hendak membayar kemerdekaan dirinya, tuannya pun berkata “ambil dan terimalah uang itu, gunakan untuk modal kehidupanmu yang baru sebagai orang yang merdeka. Sang budak pun seraya berkata “ aku tidak tahu, apakah kebebasanku ini adalah sebuah anugrah atau musibah, aku hanya berbaik sangka kepada Allah”.

Setelah memulai kehidupan barunya, sang budak menikah dan dikarunia seorang anak lelaki. ketika anak lelakinya beranjak dewasa, si mantan budak berkata pada anaknya : “Wahai anakku, tiada yang lebih mulia dibandingkan syahid dalam membela agama Allah, oleh karenanya, marilah kita mempersiapkan diri untuk berjuang”. Akhirnya bapak dan anak itu membeli seekor kuda perang yang sangat gagah. Sampai-sampai tetangga mereka merasa keheranan, bagaimana mungkin si mantan budak dan anaknya mampu membeli kuda sebaik itu. Si mantan budak pun menjelaskan kepada mereka bahwa kuda yang dibelinya itu adalah hasil dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun.

Para tetangganya pun berkata: “sungguh bodoh tetanggaku ini, uang hasil jerih payah seumur hidup bukannya digunakan untuk modal usaha, malah untuk membeli kuda”. Si mantan budak pun berkata “ aku tidak tahu, apakah kuda ini adalah anugrah atau sebuah musibah, aku hanya berbaik sangka kepada Allah”.

Keesokan harinya kuda milik si mantan budak itupun hilang, tak ada didalam kandangnya. Si mantan budak pun kembali berkata “aku tidak tahu, apakah hilangannya kuda ini adalah sebuah anugrah atau musibah, aku hanya berbaik sangka kepada Allah”.

Setelah mengetahui bahwa kuda miliknya hilang, si mantan budak kembali bekerja keras bersama anaknya untuk kembali menabung, agar kelak bisa membeli kuda lagi. Namun tiga hari setelah kuda itu hilang, kandang milik mereka menjadi gaduh, dan setelah mereka melihatnya, ternyata kuda mereka telah kembali, namun kali ini ada belasan kuda liar yang ikut bersamanya, sehingga jika 3 hari yang lalu mereka kehilangan seekor kuda, kini kuda mereka telah kembali dengan membawa kuda-kuda liar yang menjadi hak milik mereka. Lalu kembali si mantan budak berkata ”aku tidak tahu, apakah kuda-kuda ini anugrah atau musibah, aku hanya berbaik sangka kepada Allah”.

Kisah diatas adalah sebuah contoh sempurna akan arti kerja keras dan bertawakkal atas segala takdir Allah swt. Allah menyempurnakan rancangannya kepada manusia melalui prasangka manusia itu sendiri kepada Allah, sebagaimana yang disinyalir dalam sebuah hadist :

“Aku (akan berbuat) menuruti prasangkaan hamba-Ku kepada-Ku” (HR. Muslim)

Ibnu Usaimin mengatakan bahwa makud dari hadist ini adalah Allah akan berbuat mengikuti prasangkaan para hamba-Nya terhadap diri-Nya. Apabila manusia berprasangka baik, maka Allah akan melakukannya, demikian juga jika manusia berprasangka buruk, maka Allah akan melakukannya pula sesuai dengan prasangka buruk hamba-Nya itu. Seorang mukmin yang berprasangka baik kepada Allah harus meyakini bahwa Allah akan menjawab seruannya, mengabulkan doa-doanya, mengampuni dosa-dosanya dan menunaikan janji-janjinya, serta apa saja yang sesuai dengan keagungan dan kemulian-Nya yang menjadi konsekuensi dari nama-nama-Nya yang indah serta sifat-sifat-Nya yang maha sempurna. Seorang muslim juga harus beruaha meninggakan segala perbuatan maksiat agar Allah swt selalu menunjukkan jalan yang lurus baginya.

Ibrah lain yang tersirat dalam kisah mantan seorang budak adalah teladan dalam membelanjakan harta kekayaan. Orang yang membelanjakan hartanya untuk kebaikan dijelaskan dalam al-Qur’an dengan sebutan Fisabilillah. 

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
 
Artinya: Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah : 195)

Dalam tafsir Al sa’di menjelaskan bahwa hal yang paling agung dan terutama dalam berjihad adalah mengeluarkan harta dijalan Allah swt. Menginfakkan harta dijalan ini merupakan jihad dijalan Allah, dan hukumnya adalah fhardu sebagaimana jihad dengan fisik. Berinfaq harta dijalan Allah seperti menguatkan kaum mukmin dalam mengalahkan kaum musyrikir dan kafir, sehingga dapat menegakkan agama Allah dan memperkokohnya. Berjihad dijalan Allah tidak akan terlaksana kecuali dengan adanya infaq harta, maka infaq harta itu ibarat ruh bagi jihad. Karena itulah dalam berbagai ayat Allah menegaskan tentang perintah jihad, dengan mendahulukan perintah jihad dengan harta.

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan atas orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka, Allah menjanjikan pahala yang baik (surga), dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar” (QS. An-Nisa : 95)

Selasa, 25 April 2017

Nabi Isa Dan Sepotong Roti
 
Suatu hari Nabi isa Alaihisalaam berjalan dengan seorang teman yang baru dikenalnya. Keduanya menelusuri tepi sungai sambil memakan tiga potong roti. Nabi isa As satu potong dan satu potong untuk orang itu, sisa satu potong. Kemudian ketika Nabi isa AS pergi minum ke sungai kemudian kembali, roti yang sepotong itu tidak ada. beliau bertanya kepada sahabatnya. “Siapakah yang telah mengambil sepotong roti?’ Jawab sabahat itu, “Aku tidak tahu.”

Keduanya meneruskan perjalanan. Tiba-tiba melihat rusa dengan kedua anaknya. maka dipanggillah salah satu dan anak rusa itu lalu disembelihnya dan dibakar. Kemudian dimakan berdua. lalu Nabi isa As menyuruh anak rusa yang telah dimakan itu supaya hidup kembali maka hiduplah ia dengan izin Allah. kemudian Nabi isa As bertanya, Demi Allah, yang memperlihatkan kepadamu bukti kekuasaan-Nya ini siapakah yang mengambil sepotong roti itu?” Jawabnya, “Aku tidak tahu.”

Kemudian keduanya meneruskan perjalanan hingga sampai ke tepi sungai. lalu Nabi isa As memegang lengan sahabatnya itu dan mengajaknya berjalan hingga sampai ke seberang. “Demi Allah, yang memperlihatkan kepadamu bukti ini, siapakah yang mengambil sepotong roti itu?”
Jawabannya tetap tidak tahu.

Ketika berada di hutan dan keduanya sedang duduk-duduk, Nabi isa As mengambil tanah dan kerikil, lalu diperintahkan. “Jadilah emas dengan izin Allah.” Tiba-tiba kerikil itu berubah menjadi emas, lalu dibagi menjadi tiga bagian. “Untukku sepertiga. Dan kamu sepertiga, sedang sepertiga ini untuk orang yang mengambil roti.” Serentak sahabat itu menjawab, akulah yang menganibil roti itu” Lantas Nabi Isa As berkata, “Ambillah semua bagian ini untukmu.”

Keduanya pun berpisah. Tak lama kemudian orang itu didatangi dua orang perampok yang akan membunuhnya. Sahahat Isa AS itu menawarkan. “Lebih baik kita bagi tiga saja.” Tiga orang itu setuju. Lalu menyuruh salah seorang pergi ke pasar berbelanja makanan, maka timbul perasaan orang yang berbelanja itu. ‘Untuk apa kita membagi emas itu. lebih baik makanan ini saya isi racun biar keduanya mati, dan emas ini selamat.”

Makanan itu pun dibumbuinya racun. Sementara orang yang tinggal berkata. “Untuk apa kita membagi emas ini, jika Ia datang lebih baik kita bunuh saja, dan emas itu kita bagi dua.” Ketika orang yang berbelanja itu datang. dibunuhlah oleh keduanya. lalu hartanya dibagi menjadi dua, kemudian keduanya makan dari makanan yang telah diberi racun itu, maka matilah keduanya, dan tinggallah harta itu di hutan, sedang mereka mati di sekitar harta itu.

Ketika Nabi isa As berjalan di hutan dan menemukan emas itu. Ia berkata kepada sahahat-sahahatnya. inilah contoh dunia, maka berhati-hatilah kamu kepadanya.” Demikianlah kisah yang dicatat dalam buku 1001 kisah orang-orang teladan yang berhicara tentang ketamakan manusia. Selama yang dituruti itu adalah keinginan hawa nafsunya, seketika itu pula ketamakan tidak mengenal batas akhir. Orang yang lumpuh akan berkata. ‘Alangkah enaknya berjalan.” Orang yang berjalan justru membayangkan kenikmatan orang yang bersepeda, orang yang bersepeda pun masih menganggap lebih baik orang yang naik motor. Yang naik motor pun belum puas sehingga ingin meniru memiliki mobil, begitulah selera dan tabiat nafsu itu terus dahaga.

Maka dari itu sebuah hadits mengingatkan, “Perhatikanlah orang yang lehih rendah kedudukan (sosialinya) darimu. Dan janganlah sekali-kati engkau melihat orang yang lebih tinggi (kaya) darimu. Demikianlah sikap yang layak agar kalian tidak melupakan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” (HR. Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairah Ra.)

lnilah syukur nikmat. Orang yang memiliki mobil akan bersyukur ketika melihat orang lain yang masih naik motor atau sepeda. Orang yang berjalan pun akan merasa cukup dan berterima kasih manakala melihat orang lain justru terkapar di rumah sakit, (demikian seterusnya).
Namun tabiat manusia memang lain, Mereka hanya mau terus-menerus ‘menggugat’ Tuhan terutama ketika ditimpa berbagai kesulitan.’ terlebih merasa iri, hasud. dan dengki manakala melihat kehidupan orang lain yang lebih makmur. Rasanya, ingin sekali jika ‘kesenangan’ dan ‘kebahaginan’ orang lain itu diraihnya dengan berbagai cara sekalipun harus merebutnya secara paksa. lngatlah, bahva sikap hasud itu akan menyia-tiyiakan amal kebaikan. Sabda Nabi Saw : 
 
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ
 
Artinya: “Jauhilah sikap iri dengki kepada orang lain (hasad)! Sesungguhnya iri dengki itu akan memakan amal kebaikan layaknya api melahap kayu bakar,” (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah).

Sebaliknya, ia bersikap kikir dan pelit ketika suatu saat dianugemahi kenikmatan. Pendeknya. ketika sedih, ia merasa orang paling sedih sendiri dan mengharapkan perasaan iba dari orang lain. Sementara ketika senang, Ia merasa bahwa orang lain ini tengah menikmati kesenangan yang sama. Sebagaimana gambaran dalam al-Qur’anul karim : 

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًاإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًاوَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
 
Artinya: “Sesungguhnya manusia itu diciptakan dalam keadaan keluh kesah lagi kikir. Jika dia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan jika mendapat kebaikan ia amal kikir “ (Al-Ma’arij: 19-21)

Tak luput, realita kehidupan pun seringnya dibalik. Yang sekunder menjadi primer, dan keinginan justru lebih didahulukan ketimbang kebutuhan, lebih senang mengkonsumsi daripada memproduksi. Semangat inilah yang mengantarkan jiwa-jiwa konsumtif dan permisif, bukan jiwa dan mental produktif. Karena semua landasannya material, tak beran jika nilai moral pun menjadi serba terbalik. Setiap sikap jujur dan amanah kita caci dan kita anggap kegilaan. Sebaliknya, kehohongan dan keculasan disanjung dan kita anggap biasa. Tak heran, jika selanjutnya kita akhirnya kerap keliru dan terjebak dalam membela nilai, kita bela kelicikan dan kita curigai ketulusan

Demikianlah daftar sikap yang kini mulai digandrungi sekaligus tengah dipentaskan para pejabat kita di tengah-tengah kemelaratan kebanyakan rakyatnya. Ini mnerupakan tanda-tanda nyata dari kehidupan masyarakat yang sakit, Sesuai pesan Nabi isa, berhati-hatilah dengan godaan gemerlap dunia. Ibarat fatamorgana, ia bukan menawarkan keindahan dan kebahagiaan yang hakiki. Yang ada tak lain kesemuan dan tak jarang justru mencelakakan dan membawa wabah bagi pemiliknya. Pantaslah Allah Subhaanahu wata‘ala mnemperingatkan, “Bermegah-megah telah melalaikan kamu, sampai (akhirnya) kamu masuk keliang kubur.” (At-Takatsur: 1-2). Wallahu a’lam

Penulis adalah mahasiswa jurusan hukum dan yurisprudensi Islam di Universitas .Al-Azhar Kairo.

Selasa, 18 April 2017

Perjanjian Hudaibiyah (1)

Lewatlah sudah beberapa bulan dilalui Nabi dan kaum Quraisy setelah peristiwa Hudaibiyah. Tenanglah jiwa kaum Muslimin lantaran menatap masa depan yang cerah, Sekalipun dibayangi isi perjanjian yang berat yang didiktekan orang-orang Quraisy. Setetab 6 tahun berhijrah ke Madinah, ummat Islam yang mendampingi Nabi datang di Makkah mengunjungi Baitulharam. Mereka lari dari Makkah lantaran mempertahankan agama. Mereka tinggalkan harta.. rumah dan seluruh apa yang mereka miliki demi menempuh jalan aqidah yang mereka imani dan menghunjam di hati mereka. Selamatlah ummat Islam dari ganguan. Allah longgarkan hati mereka melalui da’wah yang diemban Muhammad yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju nur, serta menunjukkan kepada haq dan jalan yang lurus. Tak ada yang pantas disembah kecuali Allah. Setiap manusia adalah sama. Tak ada kelebihan orang Arab atas orang non-Arab dan yang berkulit putih atas yang berkulit hitam,. melainkan hanya taqwa dan amal saleh.

Betapa para pemilik aqidah ini menemui pengingkaran atau penindasan atau diusir dari kampung halamannya serta dipisahkan dari keluarga, harta dan anaknya. Kaum Quraisy tetap bertindak zhalim,. membenci jamaah ini, selama jamaah ini berpegang agama dan menetapi prinsip-prinsip yang mencerca jalan kehidupan manusia yang penuh kegelapan. Kaum musyrik menghadang sang pencetus agama baru ini dan para pengikutnya dari setiap sudut, dengan tujuan agar orang-orang Islam meninggalkan ibadah kepada Allah sekaligus kembali menyembah berhala-berhala. Padahal berhala-berhala itu tak mampu niemberikan manfaat dan mudharat; tak mampu mencegah gangguan yang menimpa dirinya dari membuat tipu daya. Nabi dan orang-orang Mukmin tabah menahan gangguan da’wahnya lantaran keimanan yang semakin mantap di hati mereka. Mereka seluruhnya beriman. Sudah 13 tahun mereka lampaui hidup di Makkah sejak turunnya agama baru kepada Muhammad. Bertubi-tubi penyiksaan dan gangguan kaum Quraisy telah menimpa mereka. Mereka terus bertahan dalam kesabaran. Karena itu dari merekalah akan muncul sejarah kebanggaan dan kebesaran yang belum pernah ada sebelumnya. Tidak akan ditemukan seoang da’i pun yang membawa prinsip atau ajaran yang menyamai Muhammad.
Hanya melalui hijrah ke Madinah yang dapat mewujudkan kenikmatan dan kehormatan serta memperlunak hati manusia sekeliling mereka yang mendambakan agama Allah dan bergabung ke dalam golongan-Nya. Golongan ini menyeru kepada-Nya dan berperang di jalan-Nya yang tidak lekang diusik musuh-musuh yang dosa atau dihantam orang-orang yang sombong. Tiadalah pilihan golongan ini melainkan salah satu dari 2 hal; kemenangan atas musuh atau mati syahid di medan peperangan. Dengan demikian, mereka akan meraih surga yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang bertaqwa.

Berjalanlah kendaraan yang mulia itu dari Madinah ke Makkah setelah rentang waktu 6 tahun, yang diiringi para shahabat menuju Baitullah al-Haram di bulan Haram. Mereka bertujuan menunaikan thawaf di Baitul’atiq yang Allah jadikan sebagai tempat berkumpuJnya manusia sekaligus tempat yang aman sejak zaman Nabi Jbrahim as. Semua orang yang masuk lingkungannya berarti mengamankan dirinya dari pengkhianatan dan bencana. Tak ada peperangan,. pembunuhan dan permusuhan di Baitul atiq. Pintu-pintunya terbuka bagi setiap orang yang mengunjunginya Sejak fondasi-fondasinya dipancangkan Ibrahim, bapak para Nabi. Orang yang hendak berhaji tidak boleh dirintangi atau dicegah menuju Baituiharam.

Kendaraan itu akhirnya berhenti lantaran melihat orang-orang musyrik. Kabar perihal Muhammad ini telah tersebar di kalangan mereka. Maka kaum Quraisy terlebih dahulu membuat zona larangan di sekitar Makkah dengan menggunakan pagar betis kavaleri dan infantni guna mencegah Muhammad dan para shahabatnya berhaji di Baitullah al-Haram, kendati masuk waktu larangan berperang. Ini berarti kehormatan Baitulharam dan bulan Haram tak dapat mencegah kaum Quraisy melakukan peperangan. Padahal faktor inilah yang sesungguhnya menyebabkan gencatan senjata. Hal ini merupakan tradisi bangsa Arab sejak zaman Nabi Ibrahim. Kaum Quraisy mengikuti pimpinannya sekaligus mengumpulkan tokoh-tokohnya dalam rangka mempersiapkan peperangan yang dinantikan.

Bagaimana, Padahal Muhammad dan para shahabatnya berhijrah meninggalkan Makkah dalam keadaan lemah, tak punya daya dan kekuatan. Mereka tinggalkan harta dan rumah. lalu menuju Yatsrib. Kemudian mereka kembali guna melintasi makkah sekali lagi di hadapan kaum Quraisy. Kalau begitu kecongkakan kaum Quraisy terguling-guling di tanah, jatuhlah kesombongannya serta pimpinan mereka tak kuasa mengangkat kepala di tengah dunia. Sungguh akan takluk orang yang hendak menghancurkan Muhammad. Ini pasti akan terjadi. walaupun penyebabnya berhaji ke Baitulharam sekaligus memenuhi sunnah Ibrahim.

Dengan berselubung di balik kesombongannya,. sebenarnya hati para pemimpin Quraisy berdebar-debat lantaran keberadaan pasukan Mukmin yang telah menjual dirinya untuk membela agama Allah. Kaum Quraisy telah menyaksikan ketabahan pasukan Mukmin dalam menghadapi cobaan serta keinginan mereka untuk mati dalam memperjuangkan aqidah sejak hari Badar. Kaum Quraisy juga telah membaca peristiwa di momen-momen yang abadi dalam sejarah perjuangan kaum Mukmin. Maka mereka mengirimkan para utusan kepada Nabi yang menantang beliau agar kembali ke Makkah dan arah mana saja.

Nabi pun berulang kali menegaskan kepada masing-masing utusan Quraisy bahwa beliau datang di Makkah tidak untuk berperang, tapi untuk berhaji di Baitulhram. Sehaliknya. para utusan Quraisy bersikeras menyanggahnya sampai Nabi mengutus Utsman bin Affan kepada Abu Sufyan dan tokoh-tokoh Quraisy supaya menyampaikan kepada mereka tujuan kedatangan Nabi dan membawa pesan beliau tatkala mengistirahatkan untanya di Hudaibiyah “Siapapun orang Quraisy yang meminta saya untuk bersilaturrahmi pasti akan saya penuhi”.

Setelah 3 hari Utsman pulang. Dia memupus purbasangka kaum Quraisy yang mengatakan bahwa dengan kedok hajinya, Muhammad berupaya berbalik mengelabuhi kaum Quraisy; tak ada seorang Arab pun yang kuasa menolak kegiatan haji dan umrah di bulan-bulan Haram. Terlintas dalam diri Utsman bahwa andaikata terjadi peperangan, niscaya sia-sialah kesombongan kaum Quraisy selama-lamanya. Kesombongan ini tidak akan pernah muncul lagi.

Hal ini merupakan pemberangusan kesombongan lewat peperangan, manakala kaum Quraisy tidak mampu mengelakkan peperangan. Di samping itu sikap bersikeias mereka merupakan langkah mundur. Posisi ini hanya terbatas pada tahun itu juga, dan tak ada orang yang dapat menolak berdamai pada posisi ini. Setelah beberapa hari Suhail bin Amr, utusan Quraisy menghadap Nabi dalam rangka perjanjian perdamaian kembàli ke Madinah. Suhail membawa seperangkat kesombongan sekaligus langkah mundur kaum Quraisy. Isi perjanjian perdamaian

1. Gencatan senjata antara Muhammad bersama para pengikutnya dengan kaum Quraisy selama 10 tahun tidak mengadakan peperangan.

2. Muhammad dan pasukannya keluar dari Makkah tahun ini, dan boleh masuk ke Makkah untuk berhajji tahun depan seeta menetap di Makkah selama 3 hari. Selama 3 hari tersebut Muhammad dan para shahabatnya berkesempatan melakukan manasik hajji serta berthawaf di Ka’bah dan Baituiharam. Masih ada isi perjanjian perdamian lain yang pada awalnya dirasakan berat ummat Islam, yaitu

3. Barangsiapa yang datang kepada Muhammad dengan memeluk Islam tanpa idzin walinya, maka pihak Quraisy berhak menjemputnya kembali ke pihaknya. Sedang seorang yang kembali kepada kaum Quraisy lantaran benci terhadap Muhammad, Muhammad tidak berhak menjemputnya.


Pantaslah Nabi menahan pertumpahan darah Beliau mampu menahan gejolak amarah para shahabatnya. Beliau tegaskan kepada mereka bahwa pertolongan Allah sudah dekat. Di balik ini semua ada kemenangan nyata yang Allah janjikan kepada beliau. Jalan kembali ke Madinah hampir tertutup hingga kegembiraan menyelimuti jiwa para shahabat lantaran wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya : 

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًالِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا
Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Supaya Allah memberikan ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kejalan yang lurus (QS. al-fat-h : 1-2).

Surat al-Fat-h tersebut memberikan dorongan pribadi dengan kuat kepada kafilah kaum Mukmin melalui kemenangan yang nyata. Sebagaimana diumumkannya keridhaan Allah atas mereka ketika membai’at Nabi untuk mati di jalan Allah, manakala harus berperang melawan kaum Quraisy.
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
Artinya: Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia (berbai’at) kepadamu di bawah pohon. Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberikan balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat. (QS. al-Fat-h: 18).

Waktu pun berjalan hingga beberapa bulan. Jiwa kaum Quraisy merasa tenang lantaran keberhasilan yang diwujudkannya. Namun termenunglah sebuah hati yang agung di tengah belantara para tokoh Quraisy. Hati ini tak dapat mengalami ketenangan dalam kondisi tidur maupun jaga, selalu dibayangi kegelisahan. Jiwanya semakin terbuka untuk menerima dan mengimani agama baru yang kian hari menampakkan kekuatannya. Bagaimana kalau Ia terus-terang bergabung kepada agama baru dan berpihak di kubu kaum Muslimin, lalu Nabi menyerahkan dirinya kepada laskar kaum kafir. Padahal kaum kafir senantiasa akan menyakitinya, gembira atas penyiksaan dan petaka terhadap dirinya.

Pemilik hati tersebut adalah Abu Bashir, Utbah bin Usaid bin Jariyah. Dia pulang ke Makkah setelah menghadiri majlis perdamaian. Dia punya gagasan akan menyumbangkan andil pada tiap sisi perdamaian tersebut. dia senantiasa mengingat apa yang telah menimpa atas rekannya, Abu Jandal bin Suhail bin Amr ketika mencoba berlindung kepada Nabi setelah ditandatanganinya perjanjian perdamaian. Abu Jandal minta tolong kepada Nabi agar dihindarkan dari gangguan bapaknya. Allah telah membuka hati Abu Jandal untuk memeluk Islam. Namun Nabi tetap mengembalikan Abu Jandal kepada bapaknya. Bapak Abu Jandal pun mcemukul wajah anaknya, sedang Nabi tetap menyerahkan sang anak ini kepada si bapak. Teriakan Abu jandal hanyalah minta tolong kepada kaum Muslimin agar menghindarkan dirinya dari gangguan dan tidak membiarkan kaum Quraisy memfitnahnya lantaran agama yang Allah tunjukkan kepadanya.
Tidak lehih Nabi hanya bersabda kepada Abu Jandal, “wahai Abu Jandal, bersabarlah dan bermawas dirilah. Sebab Allahlah yang akan memberikan jalan keluar kepadamu dan kaum lemah yang bersamamu. Kami telah mengikat perjanjian dengan kaum Quraisy. Antara kami dan mereka saling memberikan jaminan Allah, kami tidak menyelisihi mereka.

Abu Bashir tidak henti-hentinya mengingat hal itu. Jiwanya terbelanggu lantaran orang Mukmin tidak punya posisi di tengah kaum kafir yang congkak. Kaum kafir tidak menaruh hormat pada kebebasan aqidah serta mata dan hati mereka tidak memandang nur iman. Kalau begitu bagaimana dia hidup sekaligus menjalankan kewajiban agama di tengah mcreka. Siapa yang akan memberikan kefahaman agama dan membacakan ayat-ayat kepadanya di tengah kaum Quraisy. Padahal melalui ayat-ayat inilah wahyu yang lain turun dari sisi Allah kepada rasul-Nya yang mulia. Ini satu persoalan yang menyebabkan gundah gulana dalam jiwa Abu Bashir. 

Di suatu keheningan malam dia meninggalkan keluarga dan harta bendanya guna menempuh jalan menuju Madinah. Semoga Nabi berkenan menerima atau melindunginya. Tibalah Abu Bashir di Madinah. Harapannya membuat hatinya berdebar.Setibanya di majlis Nabi, Abu Bashir melemparkan angan-angannya di hadapan beliau. Namun kabar kepergian Abu Bashir telah tersiar di tengah kaum Quraisy, sehinggá mereka mengirimkan 2 tokoh untuk mencarinya. Kedua tokoh yang diutus kaum Quraisy ini akan mengawal Abu Bashir dalam pcrjalanan kembali ke Makkah, sebagai konsekuensi perjanjian I perdamaian. Nabi bersabda: “Wahai Abu Bashir, kita telah memberikan Janji kepada kaum itu, seperti yang telah kamu ketahui. Tidaklah benar menurut agama kita menyelisihinya. Allahlah yang akan memberikan kelonggaran atau jalan keluar kepadamu dan kaum lemah yang bersamamu. Maka kembalilah kamu kepada kaummu”.
Abu Bashir pun berbalik menandaskan pengharapannva kepada Nabi sembari bertanya. “Wahai Rasulullah, apakah Tuan mau mengembalikan saya kepada kaum musyrik yang selalu memfitnah saya atas agama?’ Namun tetap berpendirian bahwa beliau tidak menyelisihi janji. Allahlah yang akan memberikan kelonggaran atau jalan keluar kepada Abu Bashir dan kaum lemah.

Bersama 2 pengawalnya, Abu Bashir berjalan sembari menantikan jalan keluar yang nyata. Dengan keimanannya. Ia menyusun rencana. Hanya Allahlah yang akan menolongnya. Tiap kali terik panas tengah hari yang amat menyengat di sepanjang jalan antara Madinah dan Makkah, ketiga orang ini bernaung di’ bawah pepohonan. Mereka beristirahat lantaran perjalanan yang melelahkan. Mereka mendaki bukit menuju tempat mata air guna mencari minum yang akan mengobati dahaga di tengah padang sahara. Akhirnya sampailah mereka dalam istirahat terakliir di bawah pohon tua yang berdekatan dengan sumur. Tak ada para pencari minum di sekitar sumur ini.

Sekarang mereka memasuki wilayah Makkah, di Hudaihiyah. Hudaibiyah adalah tempat berlangsungnya penandatanganan perjanjian perdamaian antara Nabi dan kaum Quraisy. Lantaran isi perjanjian inilah Abu Bashir kembali kepada-kaum kafir. di mana sebelumnya Allah telah menunjukkannya kepada keimanan. Kini dia berada di bumi Makkah Dia kembali ke kampung halaman Quraisy. Dia telah menyusun rencana melarikan diri dari kedua pengawalnya ketika para pencari minum sudah meninggalk.an sumur, tempat pemenuhan janji Nabi terhadap kaum Quraisy. Salah seorang pengawalnya lega lantaran telah sampai di kampung halamannya dan tak jauh dari kaumnya. Dia gembira akan petaka yang hendak menimpa Abu Bashir Lantaran sudah amat dekat penyiksaan besar di tengah kaum Quraisy yang fanatik menentang agama Muhammad dan pengikutnya.

Pengawal ini menghunus pedangnya sambil menakut-nakuti lelaki yang beriman tersebut. Dia hembuskan perasaan takut di hatinya lantaran tempat penyiksaan yang menantinya sudah dekat. Abu Bashir tahu apa yang tergerak dalam jiwa pengawalnya itu. Abu Bashir tidak membiarkannya terus mengoceh. Naungan pohon tua itupun menyaksikan percakapan dua lelaki itu. Abu Bashir menimpalinya dengan perkataan. “Saya lihat pedangmu ini bagus logamnya serta mengkilat”.
“Memang demikian, hal pengikut baru Muhammad”. “Tunjukkan pada saya, siapa yang membuat pedang ini untukmu. Barangkali saya dapat mencari pedang seperti itu”,. pinta Abu Bashir. “Kenapa kamu akan mencari pedang seperti itu?. “Orang Arab biasanya merasa terhormat membawa pedang yang bagus, walaupun tidak untuk berperang”, jawab Abu Bashir. “Jangan berangan-angan Seperti itu wahai pengikut baru Muhammad! Sebab setelah perjalanan kita tiba di tempat Imran di Makkah, pedang ini akan menebas kepalamu. Dan tidak ada gunanya bagimu berangan-angan Seperti itu. Sesudah kamu mati, suatu saat pedang ini akan masuk ke Yatsrib sembari menebas dari arah kanan dan kiri pada laher Orang-orang yang mendahuluimu beriman kepada Muhammad dan ingkar terhadap tuhan-tuhan Quraisy”. “Tapi saya takjub terhadap pedangmu ini,. terlepas dari apa yang kamu ancamkan kepada saya. Siapa yang telah membuat pedang ini untukmu’ serga Abu Bashir. “Saya warisi pedang ini dari kakek saya yang petualang perang. Ini adalah pedang yang amat tajam. Orang yang membawanya tak akan risih terbebani Lantaran punya daya yang ampuh dalam merontokkan kepala, seperti kepalamu”.
“Kalau begitu, ini adalah pedang yang teramat bagus, tanya Abu Bashir. “Memang demikian”.
“Bolehkah saya membuktikan ucapanmu?’ pinta Abu Bashir. “Ambillah! Angkatlah pedang ini, agar kamu dapat rasakan bobotnya. Pukulkan dengan tanganmu, agar kamu tahu kejituan bes inya. Ayun-ayunkan pedang ini sekehendakmu, supaya kamu yakin akan ketajamannya buat menebas leher”.

Abu Bashir pun segera mengangkat pedang itu. Dalam sekejap mata. tengkuk si pengawal tersebut terhempas di udara lantaran satu tebasan tangan kanan sang Mukmin yang baru ini.
Pengawal yang kedua pun bepikir cepat. Dia minta pelayan minumnya untuk membantunya kembali ke Madinah guna mengadu kepada Muhammad perihal perbuatan shahabatnya ini. Abu Bashir membuntutinya dari belakang, agar pengawal yang satu ini tidak menikamnya. Setibanya di hadapan Nabi, Abu Bashir mengadu, “Wahai Rasulullah, telah terpenuhilah perlindungan Tuan. Allah telah menepati Tuan. ApakahTuan akan menyerahkan saya ke tangan kaum itu? Padahal mereka menghalangi saya dari agama, sehingga saya melakukan fitnah atau agama ini sia-sia di hadapan saya. Saya belum sampai di tengah kaum Quraisy, tapi hanya sampai di perkampungan mereka. Maka perkenankan permohonan saya dan pedulilah Tuan pada saya”.
Nabi pun takjub. Beliau berharap alangkah bagusnya jika Abu Bashir disertai beberapa orang yang menyebarluaskan pembunuhan ini di masyarakat. Kemudian Nabi berkata kepadanya, “Wahai Abu Bashir pergilah sekehendakmu”. Ucapan Nabi tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa setiap orang yang baru masuk Islam bebas tidak kembali kepada kaum musyrik Makkah. Dilihat dan sisi lain, isi perjanjian perdamaian tersebut tidak bisa diambil pengertian bahwa orang yang baru masuk Islam hanya dikembalikan ke kampung halaman kaum Quraisy. 

Minggu, 16 April 2017

Mengubah Hati, Bukan Materi

Suatu kali dalam usahanya melebarkan dakwah lslam, Rasulullah SAW berangkat ke Thaif bersama seorang sahabatnya Dari Mekkah. mereka berdua berangkat dengan harapan besar para penduduk Thaif akan menerima dakwahnya Paling tidak, mereka tidak akan berlaku seperti penduduk Mekkah yang sangat berlebihan dalam menolak dakwah Islam. Namun apa yang terjadi ternyata tidak seperti yang dibayangkan sebelurnnya Beliau tidak hanya ditolak. tapi dicaci maki bahkan dilempar batu.

Di tengah kesedihan dengan sebagian tubuh yang berdarah Rasulullah beristirahat di suatu tempat yang teduh. Saat itulah seorang malaikat datang menemui beliau, menawarkan untuk membalikkan gunung dan menimpakannya ke atas penduduk Thaif. Hal ini dimaksudkan sebagai “ganjaran” atas perlakuan mereka yang berlebihan kepada manusia termulia dan paling dikasihi Tuhan itu.

Sebenamya Rasulullah berhak menerima tawaran tu Tapi sebagaimana yang kita tahu, Rasulullah menolaknya. Beliau malah berharap kelak akan muncul generasi baru yang akan mau menerima dakwah Islam. Perkiraan dan harapan Rasul ini terbukti dikemudian hari. Saat itu, Rasulullah telah berbasil mencegah punahnya sekelompok kaum mukminin yang muncul dikemudian hari, Rasulullah tidak mau membunuh sebuah harapan, meski saat itu harapan tersebut amatlah kecilnya.

Kini, ratusan tahun setelah masa kenabian berakhir. caci maki bahkan siksaan fisik kepada para pendakwah dan ummat Islam belum juga berakhir. Di saat seperti itu, di saat kita tak memiliki daya untuk membalas atau mencegah perlakuan semena-rnena tersebut, kita terkadang kerap berpikir seandainya Tuhan mau mengirimkannya lagi kepada kita seorang malaikat dengan tawaran yang sama, dan dengan cepat kita akan menganggukkan kepala.

Tentu tak akan ada malaikat yang kembali datang, Itu kita tahu Tapi terkadang kita sendiri yang menciptakan tawaran tersebut Paling tidak ada sebagian dari ummat ini yang berusaha membalikkan gunung’ dan menyudahi riwayat orang-orang yang menzhalirm kita. Ada sebagian dari kita yang mencoba melawan sunnah dakwah seperti yang telah diajarkan oleh Rasul. Dan kita tahu, hasil dari usaha ini amat mengecewakan.

Kegagalannya tetletak pada kesalahan kita dalam, memahami sunnah agamna yang kita peluk. Islam memang agama yang datang untuk mengubah total kehidupan manusia sebelumnya. Tapi Islam juga bukan agama materialism, Artinya. tugas perubahan yang diembankan kepada kita adalah melakukan perubahan apa yang ada dalam diri manusia (nafs dan fikr), dan bukan mengubah materi yang menjadi pembungkus keduanya.

Hal ini tentu berbeda dengan peradaban lain yang kebanyakan berasas pada materi. Kemenangan peradaban-peradaban tersebut baru bisa dikatakan berhasil jika berhasil mengubah simbol-simbol perdaban yang berupa materi. Karena itu tak heran jika kita membaca sejarah, menyaksikan bagaimana penaklukan suatu ummat oleh kerajaan besar selalu diikuti dengan penghancuran gedung-gedung dan manusia. Tapi Islam tidak pernah mengajarkan hal itu kepada ummatnya. kecuali saat menghancurkan berhala di Mekkah, Karena memang kita bukan ingin mengubah gedung dan materii lainnya yang bermanfaat. tapi kita menghancurkan kezhaliman yang ada di hati dan kepala manusia.

Sabtu, 15 April 2017

Pelajaran Dari Kasus Masjid Teror

Di antara sekian banyak karunia Allah yang amat berharga bagi kehidupan umat manusia ialah diturunkannya al-Islam. Dengan al-Islam, manusia bisa memahami hakikat jati dirinya, kedudukannya maupun apa yang menjadi tugas utama dari hidupnya. Dengan al-Islam, manusia bisa mengenal, bisa ma’rifah, siapa sebenarnya Tuhan yang berhak untuk diibadahi. Dan denqan al-Islam manusia bisa mengetahui secara pasti, apa yang bakal terjadi sesudah kehidupan yang fana ini berakhir.. Semua itu persoalan-persoalan penting dan mendasar, yang tentunya amat dihajatkan oleh setiap manusia dalam menentukan arah hidupnya. Dan, tanpa al-Islam, mereka tentu tidak akan mampu mengetahui dan memahaminya secara benar. Oleh karena itu, sudah selayaknya karunia Allah yang berupa al-Islam itu harus senantiasa kita syukuri, sebagaimana dalam firman-Nya :


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: Dan (ingatlah), tatkala Tuhan-mu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (karunia) kepadamu. Dan (sebaliknya), jika kamu mengingkari (karunia-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku amat pedih”. (QS. Ibrahim/l4:7).

Mensyukuri al-Islam tiada lain adalah, meyakini kebenaran al-Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah. Satu-satunya agama yang paling sempurna, dan paling sesuai untuk mengatur kehidupan manusia di jagat raya ini (QS. 5: 3). Oleh karena itu, al-Islam harus kita amalkan, kita jadikan pedoman, tuntunan dan aturan hidup kita dalam segenap aspeknya. Mengenyampingkan al-Islam sebagai pedoman, tuntunan dan aturan hidup, berarti kita mengingkari karunia Allah. Dan akibathya, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah adalah, adzab dan kesengsaraan yang amat pedih. Jadi, mengamalkan al-Islam, memperjuangkan dan mempertahankannya adalah wajib bagi segenap kaum Muslimin di mana dan kapan saja berada. Itulah makna mensyukuri al-Islam dengan segala syari’atnya, dan sekaligus sebagai konsekuensi dan ikrar dari pengakuan kita sebagai Muslim.

Mengapa al-Islam harus diperjuangkan dan dipertahankan? Bukankah seharusnya manusia menyambut dengan gembira dan mensyukurinya. karena al-Islam itu sebagai pelita bagi kehidupannya? Memang terasa ironi dan aneh, kalau manusia yang sebagai makhluk Allah ini mengingkari karunia-Nya. Ironi dan aneh, kalau manusia yang dhaif dan kerdil ini bersikap angkuh dan sombong kepada Sang penciptanya. Namun, demikianlah memang yang terjadi. Bahkan sejarah pun telah menunjukkan, bahwa setiap kali Allah swt. mengutus seorang Rasul kepada suatu kaum untuk mengajarkan al-Islam kepada mereka, tidak semuanya bersedia menyambut dengan gembira. Justru umumnya malah menentang dan menolaknya. Kenyataan sejarah ini telah diungkapkan oleh al-Qur’an :


وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ ا
Artinya : “Dan, sungguh benar-benar Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (untuk mengajak mereka, agar mereka bersedia untuk beribadah (patuh dan tunduk) kepada Allah saja. dan menjauhi thaghut. Lalu, sebagian dari mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan sebagian lain tetap bertahan dalam keadaan sesat”. (QS. an-Nahl/16: 36).

Kenyataan sejarah tersebut, juga terjadi pada umat Muhammad saw., sampai di zaman kita dewasa ini. Bahkan, terus akan berjalan sampai akhir zaman nanti.

Al-Qur’an juga mengingatkan, bahwa orang-orang yang sesat itu tidak hanya sekedar menolak dan mengingkari kebenaran al-Islam. Tapi lebih dari itu, mereka juga memusuhi dan berusaha untuk menumpas cahaya kebenaran al-Islam (QS. 61:8), dengan berbagai cara dan jalan. Antara lain, dengan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk melancarkan “teror”, dengan menyebarkan benih-benih kekufuran, permusuhan, kebencian, dan perpecahan di kalangan kaum Muslimin, sebagaimana yang dihadapi dunia Islam dewasa ini, termasuk di Indonesia.
Di masa hayat Rasulullah saw. cara demikian pernah dilakukan oleh musuh-musuh Islam bekerjasama dengan kaum munafiqin di bawah pimpinan Abullah bin Ubay bin Salul. Pertama, mereka membangun tempat khusus sebagai pusat kegiatannya. Untuk mengelabui kaum Muslimin, pusat kegiatan tersebut mereka namakan “masjid”. Langkah berikutnya, setelah tempat itu selesai di bangun. mereka meminfa agar baginda Rasul berkenan meresmikannya dan shalat di tempat tersebut. Saat itu sebenamya, Rasul bersama kaum Muslimin sedang sibuk mempersiapkan pasukannya untuk pergi ke Tabuk, menghadapi pasukan awi. Dengan diplomasi Rasul menjawab permintaan kaum munafiqin itu akan dipenuhi nanti sepulangnya dari Tabuk. Padahal hakikatnya, Rasul sendiri masih menunggu “petunjuk” dari Allah swt. tentang status “masjid” yang dibangun kaum munafiqin tersebut.

Seusai perang Tabuk, Rasul bersama pasukan kaum Muslimin kembali ke Madinah. Sementara kaum munafiqin sudah tidak sabar lagi menunggu kedatangan beliau. Lalu apa yang terjadi setelah beliau sampai di Madinah? Beliau menyuruh sejumlah sahabat untuk membakar dan merobohkan ‘masjid” yang baru di bangun kaum munafiqin itu. Karena “masjid” tersebut temyata di bangun bukan atas dasar taqwa, untuk mengagungkan Allah. Tapi, sebagai pusat kegiatan untuk melancarkan “teror” terhadap kaum Muslinin. Tindakan rasul tersebut atas dasar wahyu yang beliau terima ketika pulang usai perang Tabuk:

 وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَلَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
Artinya: Dan (diantara orang-orang munafiq itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (para orang-orang Mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang Mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu shalat di dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba’) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-aorang yang bersih.” (QS. at-Taubah 107-108).


Dan kasus masjid dhirar ini kita bisa memperoleh beberapa pelajaran. Antara lain, bahwa da’wah Islam dan kaum Muslimin sejak awal pertumbuhannya sampai pada masa perkembangannya selalu menghadapi cobaan dan tantangan, baik yang datang dari dalam kaum Muslimin sendiri, maupun dari luar, musuh-musuh Islam. Dan kondisi semacam ini, akan berjalan terus sampai akhir zaman. (QS. 3: 142 & 2214).

Kasus “masjid” dhirar sebenarnya merupakan puncak dari rentetan makar yang selarna ini dilancarkan kaum munafiqin bersama para pendukungnya. Tindakan mereka ini bukan semata-mata karena kemunafiqkannya, akan tetapi sudah merupakan konspirasi jahat untuk memporak-porandakan kaum Muslimin, sebagaimana yang diungkapkan oleh surah at-Taubah 107 tersebut. Karena itu, Rasul saw. pun segera melakukan tindakan tegas memusnahkan “masjid” yang hendak dijadikan pusat guna melancarkan teror terhadap kaum Muslimin.

Tindakan tegas yang diambil Rasulullah tersebut, disamping untuk memberi “pelajaran” kepada Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya, juga agar kaum Muslimin mengetahui apa sebenarnya yang ada di belakang tabir gerakan kaum munafiqin tersebut. Dengan demikian, kaum Muslimin semakin “dewasa” dalam menghadapi gerak-gerik kaum munafiqin pada khususnya dan musuh- musuh Islam pada umumnya. Pada dasarnya thabi’at kaum munafiqin dalam mengganggu dan memusuhi Islam dan kaum Muslimin, di mana dan kapa saja, tidak berbeda. Wajah dan penampilan mereka ganda, guna menutupi maksud jahatnya, suka menjilat dan cari muka, licik dan biasa berdusta, suka menggunting dalam lipatan (QS. 2:8-14). Perhatikan dengan “keturunan” Abdullah bin Ubay (kaum munafiqin yang bertebaran di negeri kita dan di berbagai Negara- negara. Karena itu istilah “teror” (yang nampaknya diambil dari kata “dhirar”) yang kini sedang dijadikan senjata untuk memojokkan kaum Muslimin adalah keliru alamat. Sesuai dengan petunjuk al-Qur’an tadi, bahwa istihah “teror” (dhirar, melancarkan fitnah, kebencian dan permusuhan) hanya layak dialamatkan kepada kaum munafiqin dan musuh-musuh Islam.