Rabu, 01 Maret 2017

Ghazwatul Ahzab, Syawal Dzulqa’dah 5 H/Februari-Maret 627 M

Bani Quraidhah Melibatkan Diri Dalam Kancah Konfrontasi

Salah satu qabilah Yahudi yang masih ‘ada di Madinah ketika itu ialah Bani Quraidhah. Bani Quraidhah ini sebelumnya telah mengadakan perjanjian dengan Rasulullah. Antara Lain:

Artinya: Kedua belah pihak (Musimin dan Yahudi) berkewajiban tolong-menolong dan bekerja sama untuk memerangi orang yang memerangi salah satu pihak yang telah terikat dalam perjanijian yang tertulis dalam naskah ini. Kedua belah pihak .masing-masing untuk saling menasehati dan berbuat baik serta menjauhkan segala perbuatan yang menimbulkan dosa. Kedua belah pihak berkewajiban untuk bekerja sama memerangi setiap orang yang akan menyerang kota Madinah/Yatrib .

Namun dengan adanya perjanjian itu, tidak berarti bahwa Yahudi akan komitmen dengan kaum Muslimin. Huyay bin Akhtab, arsitek Yahudi dalam perang Ahzab, berupaya sekuat tenaga untuk merekrut Bani Quraidhah dalam persekutuannya. Selanjutnya Huyay bin Akhtab mendatangi Kaab bin Asad al-Qardhy. pimpinan Bani Quraidhah. Huyay berkata: Aku datang kepadamu dengan membawa pasukan Quraisy beserta para pemimpinnya yang telah kuturunkan di sebuah lembah di dekat Raumah dan suku Ghathafan beserta para tokohnya yang telah kuturunkan di ujung Nuqma di samping Uhud. Mereka telah berjanji kepadaku untuk tidak meninggalkan tempat sampai kita berhasil menumpas Muhammad dan orang-orang yang bersamanya. Ka’ab menjawab: “Demi Allah. kamu datang kepadaku dengan mernbawa kehinaan sepanjang zaman….

Celaka engkau wahai Huyay. Tinggalkanlah dan biarkanlah aku karena aku tidak melihat Muhammad kecuali sebagai seorang yang jujur dan setia”. Tetapi Huyay terus mendesaknya sampai akhirnya Ka’ab, bersedia membatalkan secara sepihak perjanjian tersebut dengan kaum Muslimin. dan bergabung dalam pasukan koalisi kaum kuffar. Demi mendengar berita pengkhianatan itu Rasulullah kemudian mengutus Sa’ad bin Muadz (ketua kaum Aus) dan Sa’ad bin Ubadah (ketua kaüm Khazraj) untuk mengecek kebenarannya. Dan ternyata benar berita tersebut. Bahwa Bani Quraidhah kini benar-benar telah melanggar perjanjian. Dengan demikian praktis kini kaum Muslimin tidak hanya menghadapi musuh dari depan dan samping saja melainkan juga dari belakang. Yaitu kemungkinan serangan dari Bani Quraidhah. Kemudian Rasulullah mengirimkan Maslamah bin Salam bersama 200 tentara dan Zaid bin Haritsah bersama 300 tentara untuk menjaga kota Madinah .

Ketika itu kaum Muslimin menghadapi musuh-musuhnya dari atas (pasukan Quraisy dan dari bawah (Bani Quraidhah). Amat besarlah ujian dan cobaan yang menimpa kaum Muslimin ketika itu. Situasi ini digambarkan dalam al-Qur’an:

(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahrnu,. dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan, dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan gancangan yang sangat.

Untuk sedikit meredam serangan keroyokan itu. Rasulullah bermaksud mengirimkan utusan kepada Uyanah bin Hishn (Bani Ghathafan) untuk menyampaikan pesan agar ia mau berdamai. dan mengundurkan diri dari medan peperangan. Sebagai konsesinya Rasulullah bersedia memberikan sepertiga hasil kurma Madinah. Namun maksud itu tidak terlaksana karena usulan Rasulullah ini ditolak oleh Sa’ad bin Muad dan lagi Bani Ghathafan meminta separoh dari hasil panen Kurma Madinah

Pengepungan Madinah al-Munawarah

Kini. pasukan koalisi itu bergerak menuju Madinah dan mendekati kubu kaum Muslimin. Ketika mereka mendekati Madinah. mereka melihat parit yang telah digali kaum Mustlimin. Mereka berkata:
"Demi Allah. sesungguhnya ini adalah taktik pertahanan yang tidak pernah dikenal oleh bangsa Arab".

Kemudian mereka mencari célah-celah dan jarak yang paling sempit untuk menerobos parit-parit itu. Selama pengepungan itu. terdapat tiga tentara Quraisy yang mampu menerobos parit. Yaitu Amer bin Abdu Wuud. lknimah bin Abi Jahl dan Dhirar bin Khattab. Salah seorang dari mereka. yakni Amer bin Abdu Wuud sampai ke dekat barisan kaum Muslimin. Ia berteriak-teriak menantang perang tanding.

Dari pihak kaum Muslimin majulah Ali bin Abi Thalib menghadapi tantangan Amer bin Abdu Wuud. seraya berkata: Hai Amer, kamu telah berjanji kepada Allah jika ada seorang Quraisy yang menawarkan kepadamu dua perkara pasti kamu akan terima salah satunya”.

Jawab Amer: Benar.
Kata Ali: Aku ajak kamu kepada Allah dan Rasul-Nya serta ke dalam lslam’.
Jawab Amer: Aku tidak butuh pada ajakanmu.
Kata Ali: Kalau begitu aku ajak kamu bentanding. .
Jawab Amer: “Mengapakah kamu ajak demikian hai anak saudaraku? Demi Allah aku tidak ingin membunuhmu’.
Kata Ali: Akan tetapi aku ingin sekali untuk membunuhmu. Mendengar ucapan Ali bin Abi Thalib, Amer terkesirap darahnya. kemudian ia maju ke depan Ali untuk berperang tanding. Keduanya saling beradu kekuatan sampai Ali dapat membunuhnya.

Setelah mengetahui Amer bin Abdu Wuud. dua orang Quraisy tersebut kemudian molaikan diri. Selain itu. di antara orang-orang Quraisy ada lagi yang berhasil menerobos parit. ialah Naufal bin Mughirah. Namun malang baginya. Zubair bin Awwam telah berhasil membelah tubuhnya.
Meskipun dalam perang tanding kaum Quraisy kalah, namun mereka torus mengepung kota Madinah dengan sangat ketat. dari hari ke hari. Sehingga menyebabkan berbagai kesulitan yang dialami kaum Muslimin, Seperti kelaparan. kedinginan dan lain-lain. Sementara itu Bani Quraidhah mulai menyusup dan menakut-nakuti benteng-benteng kaum Muslimin yang dipakai tempat tinggal para Istri Nabi dan shahabat, Pada saat-saat yang teramat genting itulah Rasulullah tidak putus-putusnya memohon kepada Allah seraya berdo’a:

Artinya “Ya Allah tolaklah kejahatan mereka itu dari kami, tolonglah kami mengalahkan mereka dan kalahkanlah mereka itu. tidak ada yang mengalahkwi mereka selain Engkau”.

Beliau juga berdo’a:

"Ya Allah yang menurunkan kitab, yang cepat menghisap, musnahkanlah Ahzab, Ya Allah musnahkanlah mereka itu dan goncangkanlah mereka itu".
Demikanlah Rasulullah dalam saat-saat kritis terus senantiasa berdoa, meningkatkan ruhiyah dan taqarrub ilallab. sambil terus berupaya mencari jalan keluar dari kepungan musuh yang datang dari berbagai arah.

Nuaim Bin Mas’ud Masuk Islam
Di saat-saat Rasulullah dan pasukan kaum Muslimin menghadapi keadaan yang sangat genting. dicekam rasa takut, dan menderita berbagai kesulitan dan kesengsaraan karena kepungan tentara Ahzab selama beberapa hari. datanglah salah seorang dari suku Ghathalan bernama Nuaim bin Masud kepada Rasulullah menyatakan keislamannya. katanya: 

"Ya Rasulullah sesungguhnya aku telah masuk Islam. dan kaumku tidak mengetahui akan keislamanku. Karena itu perintahkanlah kepadaku sesukamu. Rasulullah menjawab:  
"Di antara kita, engkau adalah satu-satunya orang yang dapat melaksanakan
tugas itu. Bila engkau sanggup lakukanlah tugas itu untuk meringankan kami Ketahullah bahwa peperangan sesungguhnya adalah tipu muslihat".


Sebelum màsuk Islam, Nuaim menjalin pershahabatan dengan Bani Quraidhah dan juga Quraisy. Setelah masuk Islam, dan juga untuk menjalankan siasatnya Ia mendatangi Bani Quraidhah untuk membuat keraguan di hati kaum Yahudi. Beliau menjelaskan tentang ketidak ikhlasan kaum Quraisy dan Ghathafan dalam koalisi Ahzab ini. Ia menjelaskan pula akan bahaya yang menimpa jika mereka melibatkan diri dalam konfrontasi melawan kaum Musliim. Untuk itu Nuaim menyarankan agar mereka tidak terlibat porang bersama kaum Quraisy dan Bani Ghathalan. sebelum mereka menyerahkan beberapa tokoh yang terkemuka dan orang-orang Quiaisy sebagai sandera. Usulan ini diterima baik oleh kaum Yahudi Bani Quraidhah, Selanjutnya Nuaim bin Mas’ud mendatangi suku Quraisy. Dengan penuh pura-pura Ia menunjukkan keikhlaasnnya serta memberikan saran. Beliau menyatakan bahwa orang-orang Yahudi (Bani Quraidhah) menyesal atas perjanjian yang telah dibuat dengan kaum Quraisy. Dan mereka secara rahasia telah mengadakan kesepakatan bersama Rasulullah. Mereka äkan meminta beberapa orang terkemuka Qunaisy sebagai tanggungan mereka agar dapat diserahkan kepada Nabi saw. dan kaum Muslimin untuk dibunuh, Karena itu Ia menasehati kaum Quraisy, jika orang Yahudi Itu datang kepada kalian untuk meminta beberapa orang sebagai sandera. janganlah kalian menyerahkan seorangpun kepada mereka. Setelah itu Nuaim juga atangi Bani Ghathafan untuk membuat keraguan pada mereka seperti yang dilakukan terhadap kaum Quraisy).

Demikianlah. dengan siasat Nuaim ini. kedua suku itu mulai timbul perasaan ragu dan benci terhadap orang-orang Yahudi. Setiap golongan merasa khawatir dan curiga terhadap golongan lain.
Ketika Abu Sufyan dan pemuka-pemuka Ghathafan mengajak Bani Quraidhah untuk
segera melancarkan operasi penyerangan terhadap markas-markas kaum Muslimin. kaum Yahudi menolak. Dengan alasan hari itu adalah hari Sabbat (Sabtu). dilarang bagi kaum Yahudi untuk melanggar kehormatan hari Sabbat. Selain itu kaum Yahudi menuntut kau\m Quraisy dan Ghathafan untuk diserahkan beberapa orang sebagai sandera. dan tanggungan buat mereka. Dengan permintaan ini, kaum Quraisy dan Ghathalan merasa yakin akan kebenaran Nuaim. Tentu saja orang-orang Quraisy dan Ghathafan menolak permintaan Yahudi ini. Dengan penolakan ini, kaum Yahudi murasa yakin pula akan kebenaran Nuaim. Sehingga kedua belah pihak saling mencela dan terpecah belah.

Kemudian mereka (Quraisy dan Ghathafan) mengirim seorang utusan lagi kepada kaum Yahudi Bani Quiaidhah. dan mengatakan: “Kami tidak akan memberi jaminan kepada kamu seorangpun dari ketua dan kepala kami. Maka jika kamu ingin berperang, berperanglah sendiri”. Jawab orang-orang Yahudi: “Demi Allah kami tidak akan berperang bersama kamu. kecuali jika dan pihak kamu memberi jaminan orang kepada kami.) Karena kaum Quraisy dan Ghathafan tidak bersedia memenuhi pormintaan Bani Quraidhah. akhiinya keluarlah Bani Quraiadhah dan koalisi al-Ahzab sebelurn terjadi peperangan. Demikian pula kaum Quraisy dan Ghathafan. keduanya meninggalkan rencana penyerangannya.

Senin, 27 Februari 2017

Pertempuran Al-Manshura ( 1250 ), Sepenggal Kisah dari Perang Salib Ke Tujuh

Sebagaimana kita keahui bahwa Perang Salib VII merupakan episode angkatan pasukan salib yang terakhir dari seluruh gugusan Perang Salib yang terjadi (1096-1273). Terakhir kali serangan konvensional dunia Barat atas dunia Islam itu dilakukan atas desakan Paus Gregory X (1271-1276) dari Vatikan. yang di dukung oleh King Edward 1(1272- 1307) dari Inggris dan Louis IX dari Prancis, serta King Charles of Naples (I268- 1285). Namun kemudian pasukan Salib yang berangkat tahun 1270 ini. bukan berangkat menuju Palestuia atupun Mesir, melainkan menycrang wilayah Tunisia. Sedangknn King Edward dan pasukannya, meninggalkan pasukan Prancis, berangkat menuju Palestina. Pasukan Salib yang terakhir ini dihadapi oleh pasukan kawn Mulimin di bawah pimpinan Sultan Baibar al-Zhahir (12.59-1277) dari daulat al-Mamluk. Akhirnya pada tahun 1272, King Edward meminta gencatan senjata, kemudian pulang ke Inggris. Adapun perang di Manshura ini terjadi tahun 1250 M.
Pertempuran di Al.Manshura Sejak futuhnya Yerussalem ke tangan kaum Muslimin (1244), Paus Innocent IV menyerukan agar dibentuk angkatan pasukan Salib lagi untuk merebut kembali Yerussalem. Pada waktu itu Louis IX (1226- 1270). raja Prancis bersedia memimpin ekspedisi angkatan Salib ini, Angkatan Salib ini mempunyai corak dan wama yang lebih pekat. karena kaum Salib didorong oleh semangat keagamaan yang mendalam.

Louis IX bersama beberapa orang raja Kristen dan pasukannya berangkat menuju Mesir pada tahun 1248. Mereka sampai di perairan Mesir pada 21 Safar 647 H/Juni 1249 M. Ketika itu Mesir diperintah oleh, Sultan Malikush-Shaleh dari Emirat al Ayyubiyah. Sewaktu mendengar kedatangan pasukan Salib tersebut, Sultan dan beberapa pengiringnya tengah dalam perjalanan pulang dari Syiria.

Kemudian Ia segera menggerakkan pasukannya menuju Mesir. Dalam perjalanannya ia diusung oleh tentaranya. karena dalam keadaan sakit keras. Di sisi lain, Louis IX segera mengirimkan utusan kepada raja Mesir atas nama seluruh bangsa Kristen menuntut supaya Sultan dan kaum Muslimin menyerah. serta meyakinkan bahwa perlawanannya akan sia-sia belaka. Sementara itu Sultan Malikush-Shaleh membalasnya dengan ancaman dan tantangan serta memperingatkan Louis IX dan pasukannya akan akibat-akibat kecerobohannya.

Dalam pada itu angkatan pasukan Salib sudah sampai di daratan, bergerak dan menduduki bandar Dimyat. Dengan serangan tiba-tiba ini, pasukan kaum Muslimin membuat strategi militer, mengundurkan diri ke al-Manshura, sebuah kota kecil yang didirikan al-Kamil, di pinggir sungai Nil. Pada saat situasi yang amat menegangkan ini Sultan Malikush Shaleh meninggai dunia pada 15 Sya’ban 647 H/November 1249 M. Untuk menjaga stabilitas keamanan pada waktu itu, kemangkatan Sultan tidak diumumkan kepada pasukan kaum Muslimin. Selanjutnya tugas-tugas kerajaan digantikan sementara oleh permaisurinya yang bemama Syajaratuddur, sambil menunggu kedatangan putra mahkotanya, al-Malik al Muazzam Turansyah.

Sementara itu pasukan Salib terus bergerak maju ke selatan menuju Fariskour. Pada akhir bulan Ramadhan 647 H/Desember 1249 M, pasukan Salib sudah ai sebuah tanjung sebelah timur Manshura, yang tengah berhadap-hadapan dengan pasukan kaum Muslimin, hanya dipisahkan oleh sungai Bahr Asymoum. utnya perang terbuka antara kedua belah pihak tak terelakkan didaerah itu. pada babak pertama peperangan, pasukan berkuda dari angkatan Salib yang dipimpin oleh Count De Artois, saudara Louis IX, berhasil menerobos pertahanan kaum Muslimin. hingga pasukan kaum Muslimin ketika itu terdesak. Bahkan panglima perangnya yang bernama Fachruddin tewas dalam permulaan perang tersebut Pada saat itu Allah mentakdirkan tampilnya tentara-tentara kaum Muslimin secara amat mengagumkan, yang terdiri atas pasukan pengawal raja, dari Mamluk al-Bahriyah yang dipimpin oleh Baybars. Mereka menerjuni pertempuran dan menggempur pasukan Salib dengan keberanian yang besar, serta memporak-porandakan angkatan pasukan Salib. Kini keadaan terus berbalik. Pasukan Salib kocar-kacir diserbu pasukan kaum Muslimin. Count De Antois tewas bersarna kesatria dan tentara Salib lainnya. Menjelang malam, sisa-sisa pasukan Salib yang masih hidup inipun mengundurkan diri, menyusuri sungai kecil.

Peristiwa ini terjadi pada 5 Dzulkaidah 647 11/9 Februari 1250M. Selanjutnya sisa-sisa pasukan Salib tersebut memutuskan untuk mundur ke Dimyat pada 2 Muharram 648/15 April 1250 M. Di pihak lain pasukan kaum Muslimin yang dipimpin oleh al-Muazzam Turansyah (1249-1250) terus mengejar- sisa-sisa pasukan Salib ke Dimyat Pada peperangan itu pasukan kaum Muslimin telah menggunakan senjata canggih, yang belum dipakai oleh bangsa lain. Yaitu semacam ketapel besar yang di dalamnya dimasukkan api Yunani ke dalam jerat pesawat itu. Bola api itu kemudian diarahkan dan dilemparkan/ditembakkan ke daerah lawan. dengan strategi perang ini. pasukan Salib menjadi kocar-kacir. Perang babak kedua meletus di Dimyat. Dalam perang yang amat dasyat itu, pasukan Salib sekali lagi menderita kekalahan fatal. Sekitar 30.000 sisa-sisa pasukan Salib terbunuh dalam pertempuran itu, serta banyak yang tertawan. Sedangkan Louis IX bersama beberapa pengiring dan panglimanya bersembunyi di desa kecil Minyet Abi Abdillah yang terletak di tepi sungai Nil dekat Fariskour. Di sana ia merninta jaminan keamanan dan kaum Muslimin.

Permintaan itu di luluskan, Ia bersama 50 pengiringnya digiring oleh salah seorang tentara kaum Muslimin, Jamaluddin ke al-Manshura. Selanjutnya. diadakanlah perundingan antara pasukan kaum Muslimin dengan pasukan Salib yang kalah dalam perang tersebut. Mereka menyepakati bahwa Louis IX dan teman-temannya akan dibebaskan dengan membayar uang tebusan sebesar 400.000 dinar, dan pasukan Salib harus secepatnya menyerahkan Dimyat kepada kaum Muslimin, dan bahwa tawanan antara kedua belah pihak akan dibebaskan.
Kemudian pada 3 Safar 649 II. pasukan kaum Muslimin memasuki Dimyat, serta membebaskan louis IX bersama pengiringnya. Selanjutnya Louis IX bersama sisa-sisa pasukannya meninggalkan Mesir pada bulan Mei 1250, dengan tujuan ke Akka (Acre) yang masih di bawah pengaruh Kristen. Dan pada tahun 1254 Louis IX pulang ke Prancis dengan menanggung kekalahan yang besar.
Penutup Demikianlah ekspedisi pasukan Salib VII ini menemui kehancuran total di wilayah Mesir. Kaum Muslimin telah menunaikan tugas sejarahnya yang besar dalam menghalau bahaya besar dari ekspedisi-ekspedisi pasukan Salib yang amat buas dan brutal itu, serta mempertahankan Islam dari peradahan kaum Muslimin pada masa itu dan masa-masa berikutnya.

Kalau kita cermati lebih jauh pertempuran al-Manshura ini, Ia merupakan perang puputan yang besar dari seluruh ekspedisi pasukan Salib. Alhamdulillah, dalam perang tersebut Allah memberikan kemenangan langsung di dubia kepada kaum Muslimin. Yaitu hengkangnya seluruh anasir Salib di Mesir, bumi Islam, bumi kaum Muslimin.

Meskipun kalau kita lihat perkembangan berikutnya, dengan hancurnya seluruh anasir-anasir Salib di dunia Islam pada tahun 690 H/1291 M. perang belumlah usai, dan tetap terus berlangsung. Bahkan kekalahan pasukan Nashrani dalam perang Salib merupakan titik tolak strategi pasukan Salib dalam menghancurkan kekhalifahan Turki Utsmaniyah di Turki (1290- 1924). Hingga dengan konspirasinya bersama harakatul haddamah (gerakan pengrusakan) dan harakatul irtidad seperti Zionisme. paganisme, dan lain-hun, mereka berhasil mcnduduki/menjajah wilayah-wilayah Dunia Islam pada abad 16 M. hingga 19 M. Pada masa ini merupakan fase terburuk dalam sejarah kaum muslimin. Sejumlah makar-makar kuffar seperti eksploitasi ekonomi, pembelengguan, penetrasi kebudayaan, sekularisasi, westeraisasi dan Ghazwul fikri digelar dan dilancakan ke wilayah-wilayah Dunia Islam dengan semena-mena, sebiadab-biadabnya. Yang hingga sekarang masih terus berlangsung. Karena itu, merupakan ibrah, ihzah dan hikmah bagi kita, kaun Muslimin dewasa ini untuk memahami realitas siyasah, dan fenomena da’wah bahwa di hadapan da’wah Islamiyah ini melintas menghadang sejumlah tantangan dari berbagai penjuru, aliansi dan kepentingan, berusaha untuk membungkam harakatul jihadiyah Istamiyah.

Allah berfinnan, yang artinya: 

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. al-Anfal : 60). 
Wallahua’lam.

Selasa, 10 Januari 2017

Muhammad Al-Fatih Pembebas Kontantinopel

Muhammad II, yang lebih dikenal dengan narna Sultan Muhammad II, al-Fatih, dilahirkan pada bulan April 1429. Ia putra Sultan Murad II, sultan keenam Kekhalifahan Islam Turki Utsmaniyah. Ia menikah dengan putri Sulaiman Bey, Amir di Zil-Qadr pada tahun 1450. Ketika ia masih menjabat sebagai gubernur Maghnista di Asia kecil Pada tanggat 3 Muharram 855 H/ 5 Februari 1451 M. Sultan Murad II Wafat. Kemudian Muhammad II, ketika itu masih kecil, segera menuju Adrianopel, tempat ibukota kekhalifahan Islam Turki Utsrnaniyah sejak tahun 1336 sampai 1453. Ia diangkat menjadi khalifah Turki Utsmani, menggantikan ayahnya, pada 16 Muharram 855 H/18 Februari 1451 M. Ketika itu, Ia masih berusia 21 tahun.

Sultan Muhammad II, al-Fatih terkenal memiliki kepribadian Islam yang kokoh, ulet dan cerdas. Ia bukan hanya seorang panglima perang yang cakap, tetapi juga politikus dan negarawan besar. Pada usia muda Ia telah menguasai lima bahasa dengan lancar, dan teknik serta strategi perang.
Konstantinopel merupakan “pilot project” perluasan dawah Islam pada masa pemerintahannya. Kota tersebut dan sisi geografis memang sangat strategis. Ia menghubungkan benua Asia dan Eropa. Terbentang di atasnya tujuh bukit, di bawahnya terdapat Selat Bosporus yang indah. Konstantinopel memiliki lokasi yang paling mengesankan di dunia. Ta dilindungi oleh Selat Dardanella di satu sisi, dan Selat Bosporus di sisi lain. Ia termasuk salah satu yang terindah dari tiga kota di dunia. Dua kota lainnya, adalah Kota Napoli di Italia dan Lissabon, ibukola Portugal.

Menurut Prof. Dr. Hamka. dalam bukunya: Sejarah Ummat Islam III. ada tiga hal yang menimbulkan keinginan besar bagi mujahid-mujahid Islam sejak zaman dulu untuk membebaskan Konstantinopel. Pertama, karena dorongan iman kepada Allah. untuk menyebarkan da’wah Islam ke seluruh dunia. termasuk Konstantinopel. Corak dan motif keagamaan ini disemangati oleh beberapa hadits Nabi tentang pembebasan. Konstantinopel. Kedua, beratus-ratus tahun lamanya, Konstantinopel menjadi pusat kemegahan bangsa Romawi Timur (Yunani). pusat peradaban dan kebudayaannya. Pasukan Islam telah dapat membebaskan Madain/Ctesiphon, ibukota Imperium Persia, dan pusat kebudayaan Persia (637). Maka belumlah cukup, sebelum mernbebaskan ibukota Byzantium tersebut. Apalagi. konfrontasi militer antara Islam-Romawi Timur. telah berlangsung sejak kehadiran Islam di kawasan pengaruh lmperium Romawi tersebut. Ketiga, letaknya yang strategis, dan paling tepat untuk dijadikan sebagai ibukota dan suatu neqara besar yang mempunyai wilayah kekuasaan di Asia. Eropa dan Afrika. Bahkan Napoleon Bonaparte dari Prancis pernah berkata: “Andai kata dunia ia terdiri atas satu kerajaan, maka Konstantinopel-lah yang paling tepat untuk dijadikan sebagai ibukotanya”.

Tidak dapat diragukan lagi, Ia merupakan keturunan Utsman yang paling cakap, baik sebaqai jenderal perang maupun negarawan. Ia juqa dikarunia Allah. kemampuan intelektual yang brillian. Ta sangat luas pengetahuan teknik perangnya, dan pandai menggunakannya dalam strategi peperangan. Pada masa pemerintahannya, Turki Utsmani mempunyai pasukan infantri dan armada yang tangguh. dan terbaik, senantiasa taat kepada Khalifahnya. Pengorganisasian dan perbekalan tentaranya dalam gerakan militer benar-benar diperhatikan. Pasukannya selalu mendapatkan perbekalan yang cukup, baik makanan maupun perlengkapan peräng. Untuk mengadakan pengepungan Konstantinopel, Ia mempersiapkan Segala sesuatunya dengan persiapan dan perhitungan yang cukup matang. Ia juga memanfaatkan kemajuan iptek yang telah dicapai pada masa ilu. Seperti penqgunaan senjata meriam. Sehingga ummat Islam. ketika itu. lebih unggul dalam teknologi persenjataan, dibandingkan dengan negara-negara Kristen Eropa yang baru bangkit. Turki Utsmani benar-beriar menjadi pelopor bagi Eropa, ketika itu, dalam bidang persenjalaan dan kemiliteran. Sehingga bangsa-bangsa yang ada waktu itu banyak yang meniru sistem pertahanannya.

Menjelang operasi pembebasan Konstantinopel, Sultan Muhammad II, al-Fatih, yang ketika itu baru berusia 23 tahun. sudah mempersiapkan segala yang diperlukan untuk operasi besar itu. Mula-mula Ia memantabkan stabililas politik dalam negeri; mempersiapkan ekspedisi pasukannya yang cukup besar. Kemudian Ia membuat benteng pertahanan “Rumli Hisar di pinggir Selat Bosporus. Selain itu ia juga mendirikan pabrik peleburan logam dan gelas, yang kemudian dijadikan pabrik senjata, yang memproduksi senjata Meriam, di Edyne (Adrianopel). Ia pun juga rnempunyai idea yang brillian selama masa pengepungan. Ia membuat senjata yang unik. Senjata itu terbuat dari menara kayu kecil, dilengkapi beberapa roda. Sehingga senjata tersebut seperti benteng berjalan. Idea yang paling spektakuler dalam pembebasan Konstantinopel. ialah meluncurkan Sebanyak 70 kapal dan darat ke selat dengan menggunakan kayu-kayu yang dilumasi dengan gajih/lemak biri-biri. Sehingga kapal-kapal yang ditarik kuda-kuda jantan dan pasukan pilihan itu, dapat meluncur di atasnya sampai ke selat. Pemindahan kapal-kapal ini hanya berlangsung dalam waktu semalam. Kerahasiaan dan kecepatan merupakan unsur terpenting keberhasilannya dalam operasi militer. Bahkan ketika seorang jendralnya bertanya tentang rencananya, ia menjawab bahwa seandainya sehelai saja janggutnya mengetahui maksudnya, janggut itu akan dicabutnya dan dilemparkannya kedalam api.
Akhirnya dengan kegigihan pasukan Islam, setelah dikepung berhari-hari, dari darat dan laut. Konstantinpel jatuh ketangan pasukan Islam pada 29 Mei 1453.

Dengan kemenangan yang memukau ini, tidak menjadikan Sultan Muhammad II bersikap sombong dan bengis serta kekejaman yang tak terperikan, sebagaimana Raja Aragon dan Ratu Castilla, serta penguasa non- Muslim lainnya. Ketika mereka berhasil mengalahkan kaum Muslimin. Kemenangan mereka senantiasa diwarnai dengan penyiksaan, kedengkian, hasad, penindasan serta ratap tangis yang memilukan. Bahkan sebaliknya, yang terkesan adalah sikap tawadhu’, penyantun dan memaafkan lawannya. Ketika Sultan dan pasukannya memasuki Konstantinopel, didapati penduduk Konstantinopel, dengan rasa ketakutan, berkumpul di Gereja Aya Sophia. Mereka sedang bersembahyang memperingati orang suci mereka, Santa Theodosie. Kemudian Sultan melarang keras seorang tentaranya yang sedang memukuli tiang marmer gereja. Sikap Sultan yang demikian ini mengherankan kaurn Nashrani. Kian lama mereka tidak ragu-ragu mendekati Sultan, dan yang bersembunyi pun keluarlah dari persembunyiannya. Demikian terharunya, karena amat berbeda dari yang mereka sangka, maka di antara mereka ada yang langsung masuk Islam. Di antaranya seorang pendeta yang kemudian terkenal dengan nama Baba Muhammad. Pada waktu itu dinyatakanlah dengan terus terang, bahwa gereja-gereja yang ada di Konstantinopel tetaplah menjadi gereja. Kecuali Gereja Aya Sophia, yang akan dijadikan masjid Aya Sophia, setelah dihilangkan segala tanda-tanda, dan simbol-simbol Kristen yang ada di dalamnya.

Setelah itu, Sultan meneruskan perjalanannya ke istana kaisar. Lalu ia meminta para pembesar Romawi yang masih hidup untuk datang. Ketika itu yang datang hanya Walikota Konstantinopel, bernama Notaras. Adapun Kaisar Konstantin XI, ditemukan tewas dalarn pertempuran. Sedangkan Yustinianus mengalami luka-luka. Sultan mengirim tabib pribadinya dan seorang utusan untuk mengobati luka-luka Yustianus sampai sembuh. Sultan juga memerintahkan para pembesar Romawi untuk menguburkan jenazah Kaisar dengan upacara kebesaran. Kemudian Sultan mengeluarkan perintah, pasukan Islam tidak boleh mengganggu orang-orang Kristen, beberapa tawanan yang terdiri atas orang-orang besar kerajaan lama, ditebus dengan harta Sultan dan dimerdekakan. Toko-toko disuruh membuka kembali dan syiar agama Kristen boleh dijalankan seperti Berkenaan dengan ini, Voltaire, filosof Prancis, menggambarkan sikap ummat Islam terhadap kaum Kristen yang ditaklukkan sebagai berikut:

Orang-orang Muslim Turki Utsmani dalam menggauli orang-orang Kristen tidak seburuk yang kita duga. Yang harus kita catat justru ummat Kristen selalu melarang ummat Islam mendirikan masjid di negara Kristen. Berbeda dengan orang-orang Turki Utsmani (Muslim), mereka mengidzinkan orang-orang Kristen Romawi Timur/ Yunani yang ditaklukkan tetap mempunyai dan memelihara gereja-gereja Sebagai bukti bahwa Sultan Muhammad II, seorang yang pandai dan ramah serta toleran. Dia membiarkan orang-orang Kristen yang ditaklukkan bebas memilih dan menentukan patriachnya. Lalu Sultan melantiknya dan ia menyerahkan tongkat serta memasukkan cincin kepatriachan kepada patriach yang terpilih itu. Sehingga seorang patriach yang baru saja dilantik itu, spontan berkata: ‘Saya malu dengan anugrah yang saya terima dari Sultan Muhammad II, karena hal itu seperti ini belum pernah terjadi sekali juga dilakukan oleh raja Kristen”.

Sesudah pembebasan Konstantinopel yang bersejarah itu, Sultan Muhammad II, al-Fatih kembali ke Adrianopel, dan beliau memerintahkan agar membangun kembali benteng-benteng Konstantinopel yang roboh dan rusak, selama pengepungan kota tersebut. Sebab kota Konstantinopel akan dijadikan ibukota Imperium Turki Utsmani yang baru. Selanjutnya ia mengadakan penataan hal-ihwal orang-orang Romawi/Yunani. Dalam penataan tersebut Sultan tetap mernberi kebebasan pihak gereja, Seperti yang dilakukan oleh para pendahulunya; dan mengakui sesuai dengan ajaran Islam yang menghormati keyakinan suatu agama, kewenangan agama Romawi. Bahkan Ia lebih memperluasnya lagi dengan menyerahkan urusan sipil dan keagamaan pada patriach Konstantinopel yang baru. Agnadius. Sejak saat itu Konstantinopel secara resmi menjadi ibukota Kekhilafahan Islam Turki Utsmani. Di kota tersebut Sultan membangun masjid-masjid, madrasah-madrasah, rumah sakit, dan pusat-pusat perbelanjaan ummat Islam.

Setelah Futuhat Islarniyah di Konstaritinopel, Sultan memulai pembebasan beberapa negara Kristen Eropa. Ia memperoleh kemenangan di Serbia dan Morea pada tahun 1454. Kemudian merebut Ainos dan Kepulauan Lemaos dl dekat pantai Aegea. Pada tahun 1456 merebut Athena. Sepanjang tahun 1458-1459, Serbia dijadikan salah satu propinsi Turki Utsmani. Selanjutnya pada tahun 1461, Kota Asmara, Sinub, dan Trebizond juga dibebaskan. Tahun 1463-1464 ditandai dengan pembebasan Bosnia. Perang dengan Venesia juga dimulai tahun 1463 dan berlangsung selama 17 tahun. Pada tahun 1473 Sultan memperoleh kemenangan di Erzindjan dan merebut Cilicia pada tahun 1474.

Masa enam tahun berikutnya, ditandai dengan usaha pembebasan Eropa. Sultan mendirikan benteng Sabaes dekat Belgrado dan melakukan penyerbuan ke Hongaria dan Austria. Dalam tahun 1476. Kaffa juga direbut dari orang-orang Genoa, dan merebut kepulauan lonia pada tahun 1479. Dengan demikian pada masa itu, seluruh pantai Crimea telab jatuh ke tangan Turki Utstnani. Satu-satunya penyerbuan yang gagal, yang dilakukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih ialah penyerbuan Beograd (1456) dan pulau Rhodes pada tahun 1480. Peristiwa penyerbuan Beograd ini dianggap momentum yang penting, karena ia menutup jalan bagi penyerbuan ke Hongaria dan jerman. Sultan sendiri memimpin pasukannya dalarn penyerbuan tersebut. Pada saat yang bersamaan Paus menyerukan perang Salib untuk menghadapi ekspansi Islam Turki Utsmani ini. Selain itu, Sultan juga bermaksud hendak menduduki Italia, agar bendera Islam dapat berkibar juga dengan megah mewarnai Kota Roma, seperti di Konstantinopel. Namun sayang sekali, keinginan beliau tidak terkabul. Ia hanya sempat menaklukkan Kota Otranto saja (selatan Italia) pada tahun 1480. Ketika sedang gigih berperang di Asia, Sultan Muhammad II, al-Fatih meninggal dunia di Takpur Cayiri pada 3 Mei 1481. Ia wafat dalam usia 51 tahun, setelah memerintah selama 30 tahun. Dialah sultan pertama yang dikuburkan di Konstantinopel.

Sabtu, 31 Mei 2014

Hancurnya Daulah Abbasiah

1. Muqaddimah

Awal abad ke-12 M. sampai pertengahan abad ke-13 M. Dunia Islam tengah diwarnai peristiwa-peristiwa sejarah yang menegangkan. Betapa tidak, Daulah Abbasyiah (berpusat di Baghdad). yang telah lima tahun bergulir mewarnai percaturan peradaban dunia, pada saat itu tengah menuju pusara kehancurannya (132-656 H/1258 M).Di sisi lain, tantangan eksternal Dunia Islam dari pelbagai penjuru terus menghadang dan melancarkan serangan-serangan konvensional terhadap pertahanan kaum Muslimin. Dari arah Barat, pasukan Salib (dari Eropa) tengah melancarkan serangannya ke Dunia Islam seják akhir abad ke-11 M. dan terus berlangsung sambung menyarnbung hingga pertengahan abad ke- 13 M. Sementara itu dan arah Timur, kaum Muslimin juga dthadapkan pada serbuan bangsa Tartar (dari Mongolia) yang secara beruntun menguasai wilayah-wilayah Dunia Islam sejak awal abad ke-12 M.

Berawal dan pertikaian kecil yang terjadi pada tahun 1212 M. antara kaum Muslimin (dari Bukhara) dengan suku bangsa Mongol. Jenghiz Khan kemudian melakukan makar-makar yang sangat brutal ke wilayah-wilayah Dunia Islam. Secara beruntun. pada tahun 1219 M. Jenghiz Khan menggerakkan pasukannya ke Asia Tengah. Menguasai Bukhara dan Samarkand pada tahun 1220 M. Pasukannya kemudian mengejar sisa-sisa pasukan kaum Muslimin hingga Sungai Indus.

Selanjutnya ekspansi terbrutal ke Dunia Islam ini dilanjutkan oleh putra ketiganya yang bernama Chagatai Khan. Di bawah pimpinan Chagatai Khan inilah, pasukannya melanjutkan penjarahannya ke wilayah-wilayah Dunia Islam Seperti Kurdistan, Armenia, dan Asia Kecil, dan lain-lain.

Sementara itu, dengan adanya tekanan-tekanan itu baik dan Barat (melàlui Perang Salib) maupun dan Timur (serangan bangsa Mongol), Dunia Islam tidak saja mengalami kerugian di bidang ekonomi politik maupun rniliter, tetapi juga secara psikologis mempenganuhi kehidupan keagamaan kaurn Muslimin, yang side effectnya masih kifa rasakan hingga dewasa mi. Yakni, bahwa pada masa itu berkernbang dengan pesat aliran-aliran Thariqat. Seperti Thariqat Qadariyah yang dipimpin oleh Abdul Qadir Jaelani (wafat 1166 M); Maulawiyah yang dipimpin oleh Jalaluddin Rumi (wafat 1273 M); Thariqat Naksyabandiyah yang dipimpin oleh Muhammad bin Bahauddin al-Naksyaband (wafat 1389 M), Dasuqiyah yang dipimpin oleh ibrahinm al-Dasuqy (wafat 1277 M), dan lain-lain.

Dalam perkembangan selanjutnya aliran-aliran Thariqat tersebut berkembang luas di masyarakat awam. Dalam kondisi ruhiyah seperti inilah pusat kekhilafahan Abbasyiah. dan seluruh infrastruktur peradaban kaum Muslimin di Baghdad dihancur leburkan oleh pasukan suku bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan dan panglirna Kitbogha.

2. Makar-Makar Hulagu Khan di Dunia Islam

Sepeninggal Jenghiz Khan (1227), Huraltai (Majlis besar) bangsa Mongol mengangkat Khakan Ogodai pada tahun 1229, menggantikan Jenghiz Khan. Setelah Khakan Ogodai wafat pada 11 Desember 1241, pada tahun 1246 Khakan Kuyuk menggantikannya. Pada masa itu, Imperium Mongol telah menjarah kebeberapa wilayah Dunia Islam, seperti Asia Tegah. Asia kecil, dan bahkan ke beberapa negara Eropa seperti Hungaria, Polandia, Moravia, Bulgaria, Wolga, Jerman dan lain-lain.

Setelah Khakan Kuyuk meninggal (1249), Khakan Mangu diangkat secara resmi oleh Huraltai untuk menggantikan Khakan Kuyuk pada tahun 1251. Pada masa KhakanMangu (1251-1264) inilah. ia memerintahkan saudaranya, Hulagu Khan pada tähun 1256 agar membasmi kelompok Hasyasyin di kota benteng Alamut, mengusai Iran, Irak. dan Timur Tengah lainnya. Dalam perintahnya kepada Hulagu Khan, Khakan Mangu menyatakan: Anda harus berangkat ke negeri Turàn dalam wilayah Iran, adat istiadat dan hukum Yazak yang disusun dan ditetapkan Jenghiz Khan itu secara keseluruhan maupun terperinci, haruslah Anda laksanakan sejak batas sungai Jihun (Amru Darya) sampai bagian terjauh dari wilayah Mesir. Dan dalãm segala hal haruslah anda konsultasikan dengan Dokuz Khatun”. Dokuz Khatun adalah istri Hulagu Khan yang sudah beragama Nashrani. Atas saran istrinya inilah, Hulagu Khan mengangkat panglima perang, Kitbogha yang juga beragama Nashrani, dalam memimpin ekspedisi pasukan bangsa Mongol ke wilayah-wilayah Dunia Islam.

Jika pada masa Chagatai Khan, pasukan Mongol hanya menyerang sewaktu-waktu wilayah Dunia Islam, seperti Asia kecil, Armenia Turkistan dan lain-lain, kemudian setelahnya kembali ke Asia Tengah. Namun pada masa kepemimpinan Hulagu Khan ini berbeda dengan sebelumnya. Hulagu Khan dan pasukannya berusaha mengadakan kolonialisasi pendudukan di wilayah-wilayah Dunia Islam yang bérhasil dikuasainya. Ia menggerakkan pasukannya untuk menguasai wilayah dunia islam, dan mendudukinya secara tetap. Sehingga berdirilah imperium mongol baru yang bernama II-Khanate of Persia (1256-1349) di iran. Dan Hulagu Khan (1256-1265) menjabat sebagai II-Khan yang pertama.

Pada tahun 1956 M, Hulagu Khan menggerakkan pasukannya dari transoxiana (Mawaraannahar) menguasai wilayah Merw, Nishapur, Isfahan Rayy, dan Hamadhan. Kemudian berputar arah ke utara memasuki dataran tinggi Mazindaran dan menuju benteng Alamut..

Ketika itu, Hasyasyin dipimpin oleh Ruknuddin, turunan terakhir dari hasan al-Shabbah. Sesampai dibenteng Alamut, pasukan mongol itu menghancurkan benteng Alamut dan membasmi kelompok Hasyasyin. Kemudian berlangsung pengejaran ke tempat lain serta pembunuhan missal terhadap kelompok hasyasyin tersebut. Kemudian mereka melarikan diri dari kehancuran total menuju ke kota Qum ( Iran) dan kelambah Sind. Dan pada masa-masa berikutnya mereka menyebarkan faham Syiah Ismailiyah ke wilayah-wilayah tersebut dan sekitarnya.

Dengan hancurnya benteng Alamut tersebut, punahlah pengaruh Hassyasyin ( 1091-1256 ) di dunia islam. Adapun benteng Al-Masyaf, ketika itu masih tersisa, kemudian dihancurkan oleh kaum muslimin yang dipimpin oleh Sultan Baybar pada tahun 1266 M.

3. Penyerbuan Baghdad, Februari 1258 M

Selanjutnya setelah mengadakan pembantaian terhadap Hassyasyin, Hulagu Khan menggerakkan pasukannya Azerbaijan, Armenia dan memutar ke selatan, langsung menuju Baghdad.

Saat-saat mnejelang datangnya pasukan mongol ke Baghdad, daulah abbasyiah di pimpin oleh khalifah terakhir (Ke-37) yaitu Khalifah al-Mu’tashim billah (1243-1258), dan didampingi oleh wazirnya (Perdana menteri) yang bernama Muayyad ad-Dien al-Qami. Ia addalah seorang rafidhi dari kalangan Syi’ah itsna Asyari’ah imamiyah Ja’fariyah.

Pada waktu itu telah dan sedang berlangsung konflik yang telah berakar dalam sejarah antara Syi’ah dengan Sunni, hingga Emir Abu Bakar, putra khalifah, memerintahkan tentaranya untuk mengobrak-abrik tempat kediaman orang-orang syiah. Peristiwa ini merupakan pukulan berat bagi Wazir al Qami, kemudian ia pun mengadakan hubungan surat menyurat dengan Hulagu Khan, dan mengharapkan cucu Jenghiz Khan ini agar segera dating merebut ibukota Baghdad.

Pada tanggal 4 Shafar 656 H/1258 M, hulagu Khan dan pasukannya sudah berada di depan kota Baghdad dan mengepungnya. Selanjutnya panglima Ruknuddin al-Daudar dan pasukannya bergerak ke luar Baghdad, menyongsong pasukan Hulagu Khan. Namun perlawanan pasukan kaum muslimin ini pun hancur, dan panglima pasukan itupun tewas berhadapan dengan pasukan mongol. Sedangkan sisa pasukannya menyelamatkan diri kebalik dinding tembok itukota Baghdad, dan sebagian lari melarikan diri ke Syria.

Setelah kekalahan tersebut, Wazir al Qami dengan pengiringnya ke luar menjumpai Hulagu Khan, atas persetujuan Khalifah untuk mengadakan perundingan. Kemudian ia dan pengiringnya kembali ke Baghdad, dan mengatakan kepada Khalifah tentang perundingannya: “Hulagu Khan telah berjanji untuk tetap mengakui Khalifah, seperti yang dilakukan terhadap sultan al-Qaina, bahkan akan mengawinkan putrinya dengan putra Khalifah, Emir Abu Bakar…

Selanjutnya Khalifah al-Mu’tashim dengan seluruh pembesar pemerintahannya yang berjumlah 3000 orang berangkat ke luar ibukota untuk menjumpai Hulagu Khan dan pasukannya. Pada mulanya semua disambut dengan hangat dan ramah, tetapi tanpa di duga sebelummnya, kemudian terjadilah pembantaian massal terhadap 3000 keluarga Khalifah dan para menterinya tersebut. Adapun Wazir al Qami yang berkhianat itu , juga tak lepas dari maker pembantaian massal tersebut. Bahkan dibunuh dengan bengis dan amat kejam.

Selanjutnya Hulagu Khan dan pasukannya memasuki kota Baghdad dan melakukan pembantaian massal dengan kekejaman yang tak terperikan terhadap kaum muslimin di Baghdad selama 40 hari. Dalam suasana yang sangat mencekan dan mengerikan itu, pasukan Hulagu Khan mengadakan pembantaian, pembakaran perpustakaan, buku-buku, kitab-kitab, dan mengadakan pemusnahan total terhadap seluruh infrastruktur peradaban kaum muslimin di Baghdad dan sekitarnya. Sehingga digambarkan Sungai Tigris (Dajlah) berubah warnanya, merah kehitam-hitaman akibat mengalirnya darah-darah kaum muslimin yang terbantai, dan abu pembakaran buku-buku di pelbagai perpustakaan. Dalam pembantaian massal tersebut, jatuh korban sekitar 1.800.000 kaum muslimin, belum termasuk yang tenggelam, mati kelaparan, dan lain-lain akibat dari keganasan tentara mongol.

Dengan insiden berdarah dan amat tragis ini, kemudian mengakhirlah Daulah Abbasyiah dipanggung sejarah kaum muslimin yang telah berjalan selama lebih dari lima abad (132-656 H/749-1258 M).

Penutup

Demikianlah skenari akhir hancurnya Daulah Abbasyiah yang berakhir secara amat mengenaskan. Setiap umat, bangsa maupun kaum pasti akan mengalami masa timbul tenggelam, pasang surut, maju mundur yang merupakan Sunnatullah atas hamba/makhluk Allah dialam ini. Karean itu yang lebih penting dari tragedi kehancuran tersebut, adalah sejauh mana kita dapat mengambil ibrah dari setiap prosesi Sunnatullah yang berlaku atas makhluk- makhluk Allah pada masa lalu.

Mencermati kehancuran Daulah abbasyiah ini, sesungguhnya factor-faktor internal dunia islam lebih dominan pengaruhnya daripada sekedar factor-faktor eksternal yang dipentaskan oleh Hulagu Khan, Dhokus Khatun, dan Panglima Khitboga serta pasukan mongol yang mengadakan pembantaian-pembantaian massal tersebut. Adalah kelemahan Aqidah, Firaq dan munculnya Bid’ah-Bid’ah yang telaah mempercepat Daulah abbasyiah menuju pusara kehancurannya. Kedua, mencermati lebih jauh selintas kehancuran Baghdad, kita melihat adanya konspirasi dari aliansi kekuatan-kekuatan kuffar, Pagan-Salibis dan adanya kerjasama dengan Syiah dalam upaya penghancuran kekhilafaan Abbasyiah ini.

Sesungguhnya konspirasi antara bangsa mongol yang beraga syamanisme, penyembah ruh-ruh (Pagan) dan kaum Salibis yang telah berlangsung sejak lama. Bahkan sejak zaman Jenghiz Khan, raja-raja Kristen di eropa telah sering berkirim surat kepadanya untuk bersama-sama menghancurkan wilayah-wilayah dunia islam. Dalam operasi penghanciran Baghdad ini, Panglima Khitboga dan Dokuz Khatun (istri Hulagu Khan) adalah pengikut Kristen aliran Nestorianisme. Keduanya amat berperan dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh Hulagu Khan. Demikian pula pada masa sesudahnya.

Setelah operasi pembantaian terssebut berakhir dan berhasil melumatkan kaum muslimin di Baghdad, Paus Alexander IV (1254-1261) beserta Ordo-ordo nasrani yang lain menyambut gembira atas prestasi nista tersebut, dan mengirimkan perutusannya ke Baghdad. Begitu pula permusuhan terahadap kaum muslimin yang dilancarkan oleh putra Hulagu Khan yang bernama Abaga Khan (1265-1282).

Demikianlah orang-orang kuffar sepanjang sejarah bersatu padu, seiring sejalan seia sekata, untuk bersama-sama menghancurkan al-Islam dan kaum muslimin ini dimanapun berada.

Maha benar firman Allah Swt :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ
Artinya : Adapun Orang-Orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan dari apa yang diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan dimuka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. al-Anfal 8;73).

Wallahua’lam Bishshawab.

Shabarun Whs

Selasa, 08 Oktober 2013

Narasi - Narasi Seputar Perang Salib III (1189 -1192)
1. Muqaddimah

Artinya: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mu‘min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur ‘an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar" (QS. at-Taubah/9:111).

Perang Salib II berakhir dengan kemenangan kaum Muslimin, futuhnya Edessa/Arruha, dan hengkangnya pasukan Salib II, dari Jerman maupun Prancis, ke Eropa. Sejak itu, telah banyak terjadi preseden-preseden kecil yang amat kompleks di dunia Islam, sehubungan dengan masih bercokolnya kerajaan-kerajaan Latin di wilayah Syam. Seperti perebutan benteng Askalon oleh Baldwin III (1144-1162) dari kerajaan Latin Yerussalem pada tahun 1153; perebutan kota Damaskus oleh Sultan Nuruddin Zanki pada tahun 1154; dan pertempuran antara KaisarManuel I (1143-1180) dari Bizantium dengan Rainald de Chatiilon dari County of Antiochia pada tahun 1155; konflik intern Daulah Fathimiyyah di Mesir, dan lain-lain.

2. Kronologi Insiden-Insiden Menjelang Perang Salib III

2.a. Tahun 1164 M.

Pada masa khalifah al-Adhid (1160- 1171), khalifah terakhir dari Daulah Fathimiyyah di Mesir, terjadi perebutan kekuasaan antara perdana menteri Syawir dengan Wazir Dargham. Kemudian Syawir meminta bantuan Sultan Nuruddin Zanki di Damaskus, dengan menjanjikan sepertiga hasil penerimaan negara di Mesir akan diserahkan setiap tahun kepada Emirat al-Zankiyah (1127-1258) dan biaya perang akan diberikan kepada Nuruddin Zanki. Adapun Dargham meminta bantuan kepada Almeric (1162- 1173) di Kerajaan Latin Yerussalem.

Selanjutnya, Nuruddin mengirimkan bantuan militer yang pertama ke Mesir yang dipimpin oleh Assaduddin Syirakuh. Dalam pasukan itu ikut pula Shalahuddin al-Ayyubi, keponakannya. Pertempuran dengan pasukan Dargham terjadi di sekitar Cairo. Dan Dargham tewas dalam pertempuran itu. Akhirnya Syawir menduduki Wazir besar (perdana menteri).

Pada mulanya Ia memenuhi perjanjiannya dengan Nuruddin Zanki. tetapi lambat laun ia berusaha membatalkannya. Untuk itu ia pada tahun 1164 meminta bantuan Almeric di Baitul Maqdis untuk mengusir pasukan Assaduddin Syirakuh dari Syria ini. Tawaran ini dipandang sebagai momentum yang tepat bagi Almeric untuk mengintervensi Mesir. Dengan ini berarti Syawir telah mengundang pasukan Salib ke Mesir. Dengan segera, berangkatlah Almeric dan pasukan Salib, bersama-sama Syawir ke Mesir, Pertempuran pecah dengan kaum Muslimin di Pelusium pada tahun 1164.

Dalam pertempuran di Port Said itu kedua pasukan sama-sama porak-poranda. Bahkan pasukan Syirakuh memperlihatkan tanda-tanda bakal hancur. Sebaliknya Almenic merasakan pasukannya juga akan kalah. Kemudian Almeric mengirim utusan untuk gencatan senjata, syaratnya : pasukan Syirakuh diizinkan kembali ke Damaskus. Kemudian Syirakuh dan sisa pasukannya kembali ke Damaskus.

2.b. Tahun 1167 M.

Karena pengkhianatan Syawir itu, maka pada tahun 1167 M. Assaduddin Syirakuh dan Shalahuddin al-Ayyubi bersama pasukannya berangkat ke Mesir (kali keduanya) melalui padang pasir menuju Cairo. Demi mendengar keberangkatan pasukan kaum Muslimin ini, Almeric mengumpulkan seluruh pasukan Salib di Yerussalem untuk bergerak menuju Mesir. Kedua pasukan besar ini bertemu di Babien, pantai barat sungai Nil, dan pecahlah pertempuran yang amat dahsyat. Dalam perang tersebut kaum Salib menderita kekalahan, sehingga kaum Salib terusir dari Mesir.

2.c. tahun 1168 M.

Dengan terusirnya pasukan Salib dari Mesir, kaum Salib segera mengadakan serangan balasan dengan kekuatan besar ke Bilbis, dan membantai sejumlah besar Penduduk Bilbis. Untuk mencegah kaum Salib memasuki Mesir, Syawri membakar kota Fusthath. Dalam pada itu, Khalifah al-Adhid meminta bantuan dengan sangat, kepada Sultan Nuruddin Zanki. Kemudian datanglah pasukan kaum Muslimin dari Syria yang dipimpin oleh Syirakuh dan Shalahuddin al-Ayyubi ke Mesir.

Demikian pula Sultan Nuruddin Zanki menggerakkan pasukannya untuk menyerang Yerussalem dan utara. Sebagai akibat, serangan besar-besaran ke Mesir itu digagalkan di tengah perjalanan. Buru-buru Almeric dan sisa pasukannya kembali ke Yerussalem untuk mempertahankan kota suci tersebut. Selanjutnya pada tahun 1169 M. perdana menteri Syawir dijatuhi hukuman mati karena pengkhianatannya itu. Dan sejak saat itu Syirakuh diangkat menjadi Wazir (perdana menteri) di Mesir. Namun tiga bulan kemudian ia meninggal dunia.

Kemudian digantikan oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Selanjutnya dibawah Shalahuddin al-Ayyubi inilah daulah Fathimiy di Mesir yang bermadzhab Syi’ah perlahan-lahan diubah menjadi bagian dari Daulah Abbasyiah yang bermadzhab Sunni. Peristiwa ini terjadi pada tahun 567 H/ 1171 M. Demikian pula Perguruan Tinggi al-Azhar, diresmikan oleh Wazir besar Shalahuddin al-Ayyubi sebagai perguruan tinggi pihak Sunni pada tahun yang sama.

2.d. Tahun 1173 M.

Pada saat itu pasukan Salib di Baitul Maqdis berusaha memperluas pengaruhnya. Mereka mengepung Dimyat bersama-sama kerajaan Bizantium. Namun usaha ini tidak berhasil, bahkan pasukan kaum Muslimin di bawah piminañ panglima Tauran Syah berhasil menaklukkan Nubia dan Yaman pada tahun 1173.

Pada tahun tersebut Almeric wafat dan digantikan oleh Baldwin IV (1173- 1183). Begitu pula Nuruddin Zanki yang wafat pada tahun 1173. Kemudian digantikan putranya, Malikush-Shaleh (1173-1181). Pada tahun 1175 Shalahuddin al-Ayyubi diangkat menjadi Sultan di Mesir dan Syam. Begitu pula pada tahun 1181, sepeninggal Sultan Malik Syah, penguasa Aleppo dan Mosul, Shalahuddin menyatukan kedua daerah itu dalam wilayahnya. Sejak saat itu di kawasan Asia Barat pasukan kaum Muslimin selalu mendesak pasukan Salib di Baitul Maqdis dari arah utara, selatan dan timur.

2.e. Tahun 1183 M.

Menyaksikan kedudukan kota suci Yerussalem yang sudah semakin terancam oleh pasukan kaum Muslimin. Count Raymond II dan County of Tripolis meminta perjanjian damai dengan Sultan Shalahuddin, demi keamanan wilayah-wilayah yang bernaung dibawah Kerajaan Latin Yerussalem, pada tahun 1183. Sementara itu Ratu Sybilla, janda mendiang Marquis of Montferrat, menikah lagi dengan Guy de Lusignan. Pada tahun 1186 Baldwin V (1183-1186) meninggal dan digantikan oleh Guy de Lusignan.

3. Ikhwal Futuhnya Yerussalem, 1187

Rainald de Chatillon adalah suami dan Constantia, janda Raymond of Antiochia (1120-1149). Pada tahun 1177 ia mengalahkan pasukan Shalahuddin dalam pertempuran di Askalon dan Damaskus. Tahun 1177 ia menjabat vice regency, pewalian atas Baldwin IV (1173-1183), menggantikan Count Raymond of Tripolis. Sejak masa itulah ia membatalkan perjanjian damai dengan Shalahuddin. Bahkan pada tahun 1186 Rainald de Chatillon dan pasukannya bergerak maju menuju teluk Akahah, dan merebut bandar Ailah. Ia pun kemudian memberangkatkan sebuah armada pasukannya menuju pesisir Hijaz dengan tujuan menyerang Makkah dan Madinah. Akan tetapi gerombolan salib ini hancur menjelang sampai di Haura, karena mendapat serangan keras dan kaum Muslimin di laut Merah.

Tentu saja, tindakan kurang ajar yang tiba-tiba ini mengejutkan Dunia Islam. Selanjutnya Shalahuddin memerintahkan kepada saudaranya yang ada di Mesir untuk merebut kembali bandar Ailah pada tahun 1187. Sedangkan Rainald de Chatillon dengan sisa pasukannya mundur ke Yerussalem. Dalam perjalanannya ini, mereka bertemu dengan kafilah kaum Muslimin yang membawa saudara perempuan Shalahuddin. Semua anggota kafilah inipun ditangkap dan ditawan, hanya seorang yang melarikan diri.

Selanjutnya, pada pertengahan tahun 583 H/1187 Shalahuddin menggerakkan pasukannya yang besar dari Damaskus menuju ke selatan. Sedangkan Guy de Lusignan dengan kekuatan yang besar pula maju dan Yerussalem ke utara. Kedua pasukan besar itu, bertemu dan berhadap-hadapan di dataran tinggi Tiberias. Pada tanggal 4 Juli 1187 meletuslah perang dahsyat antara kedua pasukan besar itu. Mcnjelang petang hari, pasukan kaum Muslimin berhasil mendesak pasukan kaum Salib ke pegunungan Hittin. Pasukan Salib yang sudah terdesak ini terus dikejar oleh pasukan kaum Muslimin ke lembah Hittin. Hingga pada tanggal 5 Juli 1187 M. pasukan kaum Muslimin melancarkan serangan besar-besaran terhadap kekuatan pasukan Salib.

Perang berakhir dengan kemenangan telak kaum Muslimin, dan kekalahan pasukan Salib Guy de Lusignan, dan Rainald de Chatilon dan sisa pasukannya ditawan ke Damaskus. Kemudian Rainald de Chatilon, yang juga orang nomor satu dari ordo Templars dan 200 perwira ordo Templer dan Hospitailer dijatuhi hukuman mati. Sedangkan Guy de Lusignan dibebaskan setelah membayar uang tebusan. Dalam perang tersebut kaum Muslimin berhasil menduduki kota Ukka, Napolis, Ramla, Kaissania, Jaffa, dan Beirut. Kemudian pada tanggal 2 Oktober 1187 kaum Muslimin dipimpin oleh Shalahuddin al-Ayyubi merebut kembali kota suci Yerussalem, setelah 88 tahun dikuasai kaum Salib (1099-1187)

4. Narasi Perang Salib III (1189- 1192).

Futuhnya Yerussalem (1187) ke pihak kaum Muslimin, telah menyulut fanatisme keagamaan di Eropa untuk melancarkan perang Salib kali ketiganya. Pada tahun 1187 Uskup Agung William dari bandar Tyre datang menghadap Paus Clement III (1187-1191). Dalam Konsili Lateran ia menyampaikan eckalahan kaum Salib di Palestina dan Syria. Kemudian Ia menyerukan kepada raja-raja Eropa untuk menghentikan pertikaian internal mereka dan bersatu padu melancarkan perang Salib ke Tanah Suci Yerussalem.

Seruan ini disambut hangat oleh Frederick Barbarossa (1152-1190), raja Jerman. Kaisar Holy Roman Empire ini bersedia memimpin perang Salib ke Tanah Suci. Seruan yang dipandang suci ini disambut pula oleh Philip II, raja Prancis (1180-1223), dan Raja Inggris, Henry 11(1154- 1189). Tetapi karena kemudian raja lnggris ini meninggal, lalu digantikan anaknya, Richard I the Lion Heart (1189-1199). Mereka bersepakat bahwa pasukan Salib dan Prancis akan menghiasi bajunya dengan Salib merah. Inggris akan mengenakan Salib putih, dan pasukan Salib dan Flemish memakai tanda salib hijau.

Frederick Barbarossam dengan pasukannya berangkat dari Regensburgs melintasi Hungaria menuju Asia Kecil. Ia didampingi putranya Duke of Sewbia, Duke of Austria, dan Deuka of Moravia. Pasukan salib ini tidak memasuki Konstantinopel, tetapi langsung menyeberangi selat Hellespont. Mereka berhasil merebut ibu kota Iconium, ibu kota Emirat al-Qonia. Ketika itu penguasa emirat tersebut ialah Sultan Kalij Arselan II (1156-1192), pengganti ayahnya Emir Mas’ud 1(1106-1156).

Untuk menyiasati serangan Salib yang ganas ini, Kalij Arselan II dan pasukannya mundur. Namun ketika melintasi pegunungan Issauria, pasukan Salib ini mendapat serangan gencar dari pasukan Kalij Arselan II. Ketika menyeberangi sungai Caiycadnus atau Cydnus, Kaisar Frederick Barbarossa terjatuh dan kudanya dan tenggelam hingga meninggal. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1190. Kemudian sisa pasukannya melanjutkan perjalanannya menuju Antiochia. Pada tahun 1191 mereka memberikan bantuan pasukan Salib yang lain dalam menaklukkan Acre.

Adapun Raja Richard I dan pasukan pengawalnya berangkat bersama -sama pasukan Prancis yang dipimpin Raja Philip II, dari Vezelay menuju Lyon. Keduanya kemudian berpisah. Raja Philip II dengan pasukannya sekitar 100.000 tentara berangkat ke Genua melalui darat; sedangkan Raja Richard I dan pengawalnya menuju Marseilles, mcnunggu bantuan armadanya dari Inggris. Namun armada Inggris ini terlambat tiba, karena terlibat perang di pesisir Portugal. Mereka membantu Raja Portugal, Sancho I (1185-1211) melawan kaum Muslimin di Andalusia.

Baru pada bulan September 1190 mereka bertemu dengan Raja Richard I dan pasukan Prancis di Teluk Salerno. Pada tanggal 13 September 1190 berangkatlah angkatan Salib dari Inggris itu menuju pelabuhan Messina di Sicilia. Di wilayah Sicilia inilah kedua pasukan Salib itu timbul konflik internal. Akhirnya Philips II dan pasukannya berangkat lebih dulu, pada bulan Maret 1191 menuju bandar Acre, kemudian barulah Richard I dan pasukannya menuju tempat yang sama. Meskipun dilanda konflik internal, kedua pasukan Salib itu sama-sama mengepung benteng Acre, hingga benteng tersebut dapat direbut. Sedangkan pasukan Shalahuddin mundur, untuk menyiasati pengepungan ini. Di tempat inipun antara keduanya pecah konflik. Kemudian untuk menghindari perang saudara di tanah suci, sesudah bandar Acre dapat direbut, Raja Philip II pulang ke Prancis.

Sementara itu Raja Richard I bersama-sama sisa pasukan dari Jerman melanjutkan peperangannya dari Acre, menaklukkan Akka pada tahun 1191. Selanjutnya, terjadilah perang dahsyat antara pasukan Shalahuddin dengan pasukan Richard I. Dalam pertempuran yang berlangsung di sepanjang 150 mil garis pantai, kaum Muslimin memberikan pukulan-pukulan berat terhadap kaum Salib. Akhirnya, karena dalam setiap pertempuran itu, pasukan Salib senantiasa menderita kekalahan, raja Richard I meminta perjanjian gencatan senjata /damai dengan kaum Muslimin. Penjanjian itu ditandangani kedua belah pihak di Ramla pada tanggal 2 Nopember 1192.

Adapun isinya, antara lain:

a. Baitul Maqdis tetap di bawah kekuasaan kaum Muslimin, dan orang-orang Nashrani dizinkan berziarah ke sana;
b. Pantai negeri Syam dan Qur sampai ke Jaffa tetap dikuasai kaum Salib;
c. Kaumn Muslimin harus mengembalikan semua harta gereja di Palestina kepada orang-orang Nashrani; dan
d. Perang dihentikan selama 3 tahun.

Setelah penandatanganan perjanjian itu Raja Richard pulang ke inggris. Namun dalam perjalanan pulang itu, kapal yang ditumpanginya kandas di pesisir Italia. Untuk menghindari wilayah Prancis ia mengambil jalan memutar memasuki Jerman. Namun ia ditangkap oleh Duke of Austria, dan langsung diserahkan kepada raja Henry VI (1190-1197), pengganti Frederick Barbarossa. Kemudian Raja Richard I dipenjara selama hampir dua tahun. Ia baru dibebaskan dengan tebusan yang besar pada tahun 1194, dan terus pulang ke Inggris.

Khatimah

Demikianlah skenario perang Salib III yang bcrakhir dengan ditandanganinya perjanjian di Ramla antara kauin Muslimin dengan kaum Salib. Dalam perang tersebut kaum Muslimin memperoleh kemenangan telak. Yerussalem dan kota-kota lain dapat direbut kembali oleh kaum Muslimin. Dalam perang Salib III ini, di dunia Islam dimunculkan oleh Allah, qiyadah jihad yang memandu kaum Muslimin memerangi kaum Kuffar. Dialah Shalahuddin al-Ayyubi. Sosok keteladanan, kedermawanan, dan kepemimpinan.

Wallahu a’lam bish-shawwab
Narasi-Narasi  Seputar perang Salib II  (1147-1149)

1. Muqaddimah

Artinva: Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Qur’an demgam jihad yang besar. (QS. al-Furqan/25:52).

Kekalahan kaum Muslimin dalam perang Salib I telah menyadarkan Pemimpin- pemimpin dunia Islam pada masa itu. Mereka tergerak ruhul Jihadnya untuk merehut kembali wilayah-wilayah dunia Islam yang dijarah dan dirampas oleh pasukan Salib. Seperti Necea, Antiochia. Edessa, Yerussalem, Akka, Tripoli /Libanon, dan lain-lain. Namun demikian, pada waktu itu tantangan demi tantangan terus menghadang. Di antaranya serbuan dari Suku Kirgh yang masih pagan itu, dan wilayah Kaukakus. Suku bangsa ini termasuk rumpun Turki-Mongol, yang telah menjarah Eropa Timur, Eropa Tengah dan memasuki Roma.

Suku bangsa inilah yang telah mengakhiri Imperium Roma Barat pada abad ke-4 M. Pada tahun 1121 M. Suku Kirgh merebut wilayah Armenia. Pada waktu itu Armenia di bawah penguasa Emir Ahmad bin Suqman (1118-1128) dan Emirat al-Shahhat. Melihat ancaman yang besar itu, kemudian kaum Muslimin meminta bantuan Sultan Mahmud II (1117-1130) di Baghdad. Bantuan pun datang dari emir-emir bangsa Seljuq. Seperti Emir Ertoghrul dan Azerbaijan, Emir llghazi (I I04’-I 122) dari Emirat al-Urtuqiyah, dan lain-lain. Sultan Mahmud II sendiri bersama pasukannya membantu kaum Muslimin Armenia itu. Sehingga pada tahun 1123 M. kaum Muslimin dapat merebut kembali ibu kota Armenia, yaitu Tiflis, dan mengeajar Suku Bangsa Kirgh sampai perbatasan utara Kaukakus.

Sementara itu pada tahun 1122 M. Baldwin II (1118-1131) dan Kerajaan Latin Yerussalem, menggerakkan pasukannya menuju Damaskus, melalui Galilea, dan dataran tinggi Golan. Dalam pada itu Emir Toghrukin (1103-I 128), penguasa wilayah Damaskus mempersiapkan angkatan perannya Untuk menangkis serangan tersebut. Perang pun meletus antara kedua pasukan besar itu. Dalam perang tersebut kaum Salib menderita kekalahan, dan Baldwin II ditawan oleh kaum Muslimin selama lima tahun (1122-1127).

Sementara itu, Kaisar Johannes Comnenus (1118-1131), putra Alexius Comnenus, dari Bizantium, pada tahun 1124, menggerakkan pasukannya memasuki wilayah Phrygia, dan mengepung ibu kota Iconium dari Emirat al-Qonia. Pada waktu yang bersamaan, Emir Masud (I 106- 1156), pengganti Kalij Arselan I, meminta bantuan Sultan Mahmud II. Akhirnya kaum Muslimin dapat menghalaukan pasukan Bizantium sampai ke selat Bosporus.

2. Ikhwal Konflik dengan Pasukan Salib 

Pada tahun 1127 M/521 H. Sultan Mahmud II dari Baghdad, mengangkat at-Tabeq I maduddin Zanki (1127-1146), putra panglima lqsanqar (Maula/cicit dari Sultan Malik Shah bin Alp Arselan), untuk mengepalai pasukan keamanan pihak Sultan, menggantikan Panglima Barnaksh. Pada tahun tersebut, saudaranya, Emir Mas’ud bin lqsanqar, penguasa Aljazirah yang beribukotakan di Mosul, wafat. Sehingga Imaduddin Zanki menggantikan kedudukannya. Dengan demikian terbentuklah Emirat al-Zankiyah (52 l-657) H./1127-1258 M), yang merupakan daerah otonomi beribukotakan di Mosul.

Pada tahun 1128 M. Imaduddin Zanki dan pasukannya merebut Aleppo, dan memutuskan huhungan antara County of Edessa dengan Antiochia. Baik lalu lintas perbekalan maupun persenjataan. Sehingga Edessa terjepit oleh wilayah-wilayah kaum Muslimin ketika itu.

Untuk itu, Bohemond 11(1120-1162) dan Antiochia, dan Prince Jocelyn I (1118-113I) dari Edessa meminta bantuan Baldwin II di Yerussalem. Selanjutnya pada tahun 1128 ia berangkat dengan pasukannya dari Yerussalem ke utara, menyusuri pesisir Levantine dengan tujuan merebut Aleppo. Namun gabungan pasukan Salib ini hancur, porak-poranda, dipukul mundur oleh pasukan kaum Muslimin yang dipimpin oleh Imaduddin Zanki.

Selanjutnya pada tahun 1137, Imaduddin Zanki dengan pasukannya bergerak menuju Syria Selatan, Setelah melalui peperangan yang beruntun, kaum Muslimin .dapat merebut kembali kota benteng Homs, Hamah, dan terus ke selatan mengepung Damaskus. Kemudian pada tahun 1138 pasukan Imaduddin merebut kota benteng Balbeek. Kemudian ia memerintahkan panglima Najamuddin Ayyub (ayah dari Shalahuddin al-Ayyubi) untuk berkuasa di daerah itu.

2.a. Merebut kembali County of Edessa

Pada saat terjadi konfrontasi antara Bizantium versus Antiochia, Imaduddin Zanki memandang momentum itu sebagai situasi yang tepat untuk merebut Edessa. Pada tahun 1143 M. Ia menggerakkan pasukannya memasuki wilayah Cappadocia dan menyerang Edessa. Pada tahun 1144 M, terjadilah penyerbuan besar-besaran dari kaum Muslimin terhadap kota benteng Edessa. Sehingga kota Edessa dapat direbut kembali oleh kaum Muslimun. Adapun Jocelyn II (1131-1144), penguasa Edesa ketika itu, melarikan diri ke Antiochia dan meminta bantuan Raymond dari Antiochia.

Pada tahun 1146 M, Imaduddin Zanki wafat. Kemudian digantikan oleh kedua putranya. Yaitu Nuruddin Zanki yang menguasai Syam dan Aleppo, dan Syaifuddin Ghazi yang menguasai Mosul. Pada waktu itu Nuruddin Zanki melanjutkan usaha ayahnya. Hingga pada tahun 1146 seluruh wilayah Edessa dapat dikuasai kaum Muslimin. Selanjutnya ia mengangkat panglima Assaduddin Syirakuh, saudara Najamuddin Ayyub, untuk menjabat gubernur Homs. Kemudian pada tahun 1149, Antiochia juga dapat direbut kembali oleh kaum Muslimin.

3. Angkatan Salib Kedua (1147-1149)

Runtuhnya Edessa (1146), dan kemenangan-kemenangan kaum Muslimin yang dipimpin oleh Nuruddin Zanki telah menggerakkan kaum Salib Eropa untuk mengobarkan perang Salib kali keduanya. Pada saat itu Paus Eugenius (1145-1153) dari Burgundy, dan Rahib Bernard (1091- 1153) dan biara Clairvaux, Champagne. dalam konsili Vezelay pada tahun 1146 menyerukan perang Salib kepada seluruh kaum Nashrani di Eropa. Seruan ini mendapat sambutan positif dan Raja Perancis, Louis VII (1137-1180) dan Raja Jerman, Conrad III (1138-1152). Dalam ekspedisi angkatan Salib kedua ini tidak ada satu komando, hingga masing-masing raja dan pasukannya berangkat secara terpisah untuk menghindari konflik intern.

3.a. Pasukan Salib dari Jerman

Raja Conrad III dan pasukannya berangkat dari Ratisbon melewati Hungaria, atas izin raja Hungaria, Geza II (1141- 1162). sesampai di Konstantinopel, pasukan ini terus menyeberangi Selat Bosporus, menuju Lycaonia, pusat pertahanan Emirat al-Qonia. Ketika itu penguasa Emirat tersebut adalah Emir Mas’ud I (1106-1156). Perang meletus dengan dahsyatnya antara kedua pasukan tersebut.

Dalam peperangan tersebut kaum Muslimin memperoleh kemenangan, dan kaum Nashrani menderita kekalahan. Raja Conrad III dengan sedikit sisa pasukannya melarikan diri ke Philadelphia. Dari bandar Ephesus pasukan ini terus menuju pesisir Levantine. Pada tahun 1148 mereka pun ikut bersama pasukan salib lainnya, melancarkan serangan terhadap kaum Muslimin di Damaskus, ibukota Syria selatan. Namun upaya penyerbuan ini gagal, karena pertahanan kaum Muslimin yang demikian kuat ketika itu. Selaniutnya ia pulang ke Konstantinopel dan terus ke Jerman.

3b. Pasukan Salib dari Perancis

Raja Perancis, Louis VII (1137-I 180) berangkat dengan 70.000 Pasukan Kavaleri dari Perancis menuju Konstantinopel. Pasukan Salib ini menyusuri pesisir barat Asia Kecil sampai ke kota Laodicia. Sesampai di pegunungan Taurus, antara Laodicia dengan Pisidia, pasukan ini diserang oleh pasukan Seljug. hingga porak-poranda. Sisa pasukannya kemudian menyelamatkan diri ke bandar Attalia, ibukota Pamphylia. Kemudian terus menuju Antiochia, melalui lautan, dan sebagian melalui darat. Pasukan yang melewati darat ini kemudian mendapat serangan dari pasukan Seljug di wilayah Kilikia.

Sementara itu Emir Masud I dari Emirat al-Qonia telah mengirim utusan untuk meminta bantuan kepada Sultan Nuruddin Zanki (1146-1173) dari Aleppo. Selanjutnya Louis VII dan sisa pasukannya telah mendarat di muara Sungai Orontes untuk menuju Antiochia. Di daerah tersebut pasukan Salib II dari Perancis ini dihancur leburkan oleh pasukan kaum Muslimin yang dipimpin Sultan Nuruddin Zanki. Louis dan pengawalnya kemudian menyelamatkan diri ke Antiochia. Setelah menunaikan ziarah ke Yerussalem, pada tahun 1149 ia pulang, melalui jalan laut, ke Perancis

4. Khatimah

Demikianlah dalam perang Salib yang kali kedua ini, Allah memberikan nikmat dan karunia-Nya kepada kaum Muslimin. berupa kemenangan di dunia ini. Barangkali inilah fenomena yang disinyalir Oleh Allah: Kesadaran untuk patuh adalah kunci utama guna tegaknya hukum. Namun, dapatkah seorang individu kapitalis maupun komunis patuh pada Hukum yang tidak mampu memberikan jaminan kesejahteraan padanya? Sedangkan Islam datang dengan konsep bahwa kepatuhan terhadap hukum akan ada balasan berupa Jannah. Kepatuhan terhadap hukum pada dasarnya untuk dirinya sendiri, suatu hal yang tak mungkin terdapat pada sistem selain Islam. Hal ini dikuatkan dengan watak dari Islam sebagai dienul fitrah (QS. 30:30), di mana aturan-aturannya sejalan dengan nurani manusia. Hanya saja untuk melihat secara sempurna keindahan ini, maka sistem Islam harus ditegakkan, dan Rasul sudah mengisyaratkan akan tegaknya kembali Khilafah ala Minhaj an Nubuwah di akhir zaman. Suatu sistem yang benar-benar sempurna, karena berasal dari Allah swt. Rabbul ‘Alamin: “Yang tidak datang kepadanya (al-Qur ‘an) kebathilan baik dari depan maupun dari belakang, yang diturunkan oleh Rabb yang Maha Terpuji (QS. Fushilat: 42)”

Shabarun Whs

Lanjut : Narasi-Narasi  Seputar perang Salib III (1189-1192)