Selasa, 10 Januari 2017

Muhammad Al-Fatih Pembebas Kontantinopel


Muhammad II, yang lebih dikenal dengan narna Sultan Muhammad II, al-Fatih, dilahirkan pada bulan April 1429. Ia putra Sultan Murad II, sultan keenam Kekhalifahan Islam Turki Utsmaniyah. Ia menikah dengan putri Sulaiman Bey, Amir di Zil-Qadr pada tahun 1450. Ketika ia masih menjabat sebagai gubernur Maghnista di Asia kecil Pada tanggat 3 Muharram 855 H/ 5 Februari 1451 M. Sultan Murad II Wafat. Kemudian Muhammad II, ketika itu masih kecil, segera menuju Adrianopel, tempat ibukota kekhalifahan Islam Turki Utsrnaniyah sejak tahun 1336 sampai 1453. Ia diangkat menjadi khalifah Turki Utsmani, menggantikan ayahnya, pada 16 Muharram 855 H/18 Februari 1451 M. Ketika itu, Ia masih berusia 21 tahun.

Sultan Muhammad II, al-Fatih terkenal memiliki kepribadian Islam yang kokoh, ulet dan cerdas. Ia bukan hanya seorang panglima perang yang cakap, tetapi juga politikus dan negarawan besar. Pada usia muda Ia telah menguasai lima bahasa dengan lancar, dan teknik serta strategi perang.
Konstantinopel merupakan “pilot project” perluasan dawah Islam pada masa pemerintahannya. Kota tersebut dan sisi geografis memang sangat strategis. Ia menghubungkan benua Asia dan Eropa. Terbentang di atasnya tujuh bukit, di bawahnya terdapat Selat Bosporus yang indah. Konstantinopel memiliki lokasi yang paling mengesankan di dunia. Ta dilindungi oleh Selat Dardanella di satu sisi, dan Selat Bosporus di sisi lain. Ia termasuk salah satu yang terindah dari tiga kota di dunia. Dua kota lainnya, adalah Kota Napoli di Italia dan Lissabon, ibukola Portugal.

Menurut Prof. Dr. Hamka. dalam bukunya: Sejarah Ummat Islam III. ada tiga hal yang menimbulkan keinginan besar bagi mujahid-mujahid Islam sejak zaman dulu untuk membebaskan Konstantinopel. Pertama, karena dorongan iman kepada Allah. untuk menyebarkan da’wah Islam ke seluruh dunia. termasuk Konstantinopel. Corak dan motif keagamaan ini disemangati oleh beberapa hadits Nabi tentang pembebasan. Konstantinopel. Kedua, beratus-ratus tahun lamanya, Konstantinopel menjadi pusat kemegahan bangsa Romawi Timur (Yunani). pusat peradaban dan kebudayaannya. Pasukan Islam telah dapat membebaskan Madain/Ctesiphon, ibukota Imperium Persia, dan pusat kebudayaan Persia (637). Maka belumlah cukup, sebelum mernbebaskan ibukota Byzantium tersebut. Apalagi. konfrontasi militer antara Islam-Romawi Timur. telah berlangsung sejak kehadiran Islam di kawasan pengaruh lmperium Romawi tersebut. Ketiga, letaknya yang strategis, dan paling tepat untuk dijadikan sebagai ibukota dan suatu neqara besar yang mempunyai wilayah kekuasaan di Asia. Eropa dan Afrika. Bahkan Napoleon Bonaparte dari Prancis pernah berkata: “Andai kata dunia ia terdiri atas satu kerajaan, maka Konstantinopel-lah yang paling tepat untuk dijadikan sebagai ibukotanya”.

Tidak dapat diragukan lagi, Ia merupakan keturunan Utsman yang paling cakap, baik sebaqai jenderal perang maupun negarawan. Ia juqa dikarunia Allah. kemampuan intelektual yang brillian. Ta sangat luas pengetahuan teknik perangnya, dan pandai menggunakannya dalam strategi peperangan. Pada masa pemerintahannya, Turki Utsmani mempunyai pasukan infantri dan armada yang tangguh. dan terbaik, senantiasa taat kepada Khalifahnya. Pengorganisasian dan perbekalan tentaranya dalam gerakan militer benar-benar diperhatikan. Pasukannya selalu mendapatkan perbekalan yang cukup, baik makanan maupun perlengkapan peräng. Untuk mengadakan pengepungan Konstantinopel, Ia mempersiapkan Segala sesuatunya dengan persiapan dan perhitungan yang cukup matang. Ia juga memanfaatkan kemajuan iptek yang telah dicapai pada masa ilu. Seperti penqgunaan senjata meriam. Sehingga ummat Islam. ketika itu. lebih unggul dalam teknologi persenjataan, dibandingkan dengan negara-negara Kristen Eropa yang baru bangkit. Turki Utsmani benar-beriar menjadi pelopor bagi Eropa, ketika itu, dalam bidang persenjalaan dan kemiliteran. Sehingga bangsa-bangsa yang ada waktu itu banyak yang meniru sistem pertahanannya.

Menjelang operasi pembebasan Konstantinopel, Sultan Muhammad II, al-Fatih, yang ketika itu baru berusia 23 tahun. sudah mempersiapkan segala yang diperlukan untuk operasi besar itu. Mula-mula Ia memantabkan stabililas politik dalam negeri; mempersiapkan ekspedisi pasukannya yang cukup besar. Kemudian Ia membuat benteng pertahanan “Rumli Hisar di pinggir Selat Bosporus. Selain itu ia juga mendirikan pabrik peleburan logam dan gelas, yang kemudian dijadikan pabrik senjata, yang memproduksi senjata Meriam, di Edyne (Adrianopel). Ia pun juga rnempunyai idea yang brillian selama masa pengepungan. Ia membuat senjata yang unik. Senjata itu terbuat dari menara kayu kecil, dilengkapi beberapa roda. Sehingga senjata tersebut seperti benteng berjalan. Idea yang paling spektakuler dalam pembebasan Konstantinopel. ialah meluncurkan Sebanyak 70 kapal dan darat ke selat dengan menggunakan kayu-kayu yang dilumasi dengan gajih/lemak biri-biri. Sehingga kapal-kapal yang ditarik kuda-kuda jantan dan pasukan pilihan itu, dapat meluncur di atasnya sampai ke selat. Pemindahan kapal-kapal ini hanya berlangsung dalam waktu semalam. Kerahasiaan dan kecepatan merupakan unsur terpenting keberhasilannya dalam operasi militer. Bahkan ketika seorang jendralnya bertanya tentang rencananya, ia menjawab bahwa seandainya sehelai saja janggutnya mengetahui maksudnya, janggut itu akan dicabutnya dan dilemparkannya kedalam api.
Akhirnya dengan kegigihan pasukan Islam, setelah dikepung berhari-hari, dari darat dan laut. Konstantinpel jatuh ketangan pasukan Islam pada 29 Mei 1453.

Dengan kemenangan yang memukau ini, tidak menjadikan Sultan Muhammad II bersikap sombong dan bengis serta kekejaman yang tak terperikan, sebagaimana Raja Aragon dan Ratu Castilla, serta penguasa non- Muslim lainnya. Ketika mereka berhasil mengalahkan kaum Muslimin. Kemenangan mereka senantiasa diwarnai dengan penyiksaan, kedengkian, hasad, penindasan serta ratap tangis yang memilukan. Bahkan sebaliknya, yang terkesan adalah sikap tawadhu’, penyantun dan memaafkan lawannya. Ketika Sultan dan pasukannya memasuki Konstantinopel, didapati penduduk Konstantinopel, dengan rasa ketakutan, berkumpul di Gereja Aya Sophia. Mereka sedang bersembahyang memperingati orang suci mereka, Santa Theodosie. Kemudian Sultan melarang keras seorang tentaranya yang sedang memukuli tiang marmer gereja. Sikap Sultan yang demikian ini mengherankan kaurn Nashrani. Kian lama mereka tidak ragu-ragu mendekati Sultan, dan yang bersembunyi pun keluarlah dari persembunyiannya. Demikian terharunya, karena amat berbeda dari yang mereka sangka, maka di antara mereka ada yang langsung masuk Islam. Di antaranya seorang pendeta yang kemudian terkenal dengan nama Baba Muhammad. Pada waktu itu dinyatakanlah dengan terus terang, bahwa gereja-gereja yang ada di Konstantinopel tetaplah menjadi gereja. Kecuali Gereja Aya Sophia, yang akan dijadikan masjid Aya Sophia, setelah dihilangkan segala tanda-tanda, dan simbol-simbol Kristen yang ada di dalamnya.

Setelah itu, Sultan meneruskan perjalanannya ke istana kaisar. Lalu ia meminta para pembesar Romawi yang masih hidup untuk datang. Ketika itu yang datang hanya Walikota Konstantinopel, bernama Notaras. Adapun Kaisar Konstantin XI, ditemukan tewas dalarn pertempuran. Sedangkan Yustinianus mengalami luka-luka. Sultan mengirim tabib pribadinya dan seorang utusan untuk mengobati luka-luka Yustianus sampai sembuh. Sultan juga memerintahkan para pembesar Romawi untuk menguburkan jenazah Kaisar dengan upacara kebesaran. Kemudian Sultan mengeluarkan perintah, pasukan Islam tidak boleh mengganggu orang-orang Kristen, beberapa tawanan yang terdiri atas orang-orang besar kerajaan lama, ditebus dengan harta Sultan dan dimerdekakan. Toko-toko disuruh membuka kembali dan syiar agama Kristen boleh dijalankan seperti Berkenaan dengan ini, Voltaire, filosof Prancis, menggambarkan sikap ummat Islam terhadap kaum Kristen yang ditaklukkan sebagai berikut:

Orang-orang Muslim Turki Utsmani dalam menggauli orang-orang Kristen tidak seburuk yang kita duga. Yang harus kita catat justru ummat Kristen selalu melarang ummat Islam mendirikan masjid di negara Kristen. Berbeda dengan orang-orang Turki Utsmani (Muslim), mereka mengidzinkan orang-orang Kristen Romawi Timur/ Yunani yang ditaklukkan tetap mempunyai dan memelihara gereja-gereja Sebagai bukti bahwa Sultan Muhammad II, seorang yang pandai dan ramah serta toleran. Dia membiarkan orang-orang Kristen yang ditaklukkan bebas memilih dan menentukan patriachnya. Lalu Sultan melantiknya dan ia menyerahkan tongkat serta memasukkan cincin kepatriachan kepada patriach yang terpilih itu. Sehingga seorang patriach yang baru saja dilantik itu, spontan berkata: ‘Saya malu dengan anugrah yang saya terima dari Sultan Muhammad II, karena hal itu seperti ini belum pernah terjadi sekali juga dilakukan oleh raja Kristen”.

Sesudah pembebasan Konstantinopel yang bersejarah itu, Sultan Muhammad II, al-Fatih kembali ke Adrianopel, dan beliau memerintahkan agar membangun kembali benteng-benteng Konstantinopel yang roboh dan rusak, selama pengepungan kota tersebut. Sebab kota Konstantinopel akan dijadikan ibukota Imperium Turki Utsmani yang baru. Selanjutnya ia mengadakan penataan hal-ihwal orang-orang Romawi/Yunani. Dalam penataan tersebut Sultan tetap mernberi kebebasan pihak gereja, Seperti yang dilakukan oleh para pendahulunya; dan mengakui sesuai dengan ajaran Islam yang menghormati keyakinan suatu agama, kewenangan agama Romawi. Bahkan Ia lebih memperluasnya lagi dengan menyerahkan urusan sipil dan keagamaan pada patriach Konstantinopel yang baru. Agnadius. Sejak saat itu Konstantinopel secara resmi menjadi ibukota Kekhilafahan Islam Turki Utsmani. Di kota tersebut Sultan membangun masjid-masjid, madrasah-madrasah, rumah sakit, dan pusat-pusat perbelanjaan ummat Islam.

Setelah Futuhat Islarniyah di Konstaritinopel, Sultan memulai pembebasan beberapa negara Kristen Eropa. Ia memperoleh kemenangan di Serbia dan Morea pada tahun 1454. Kemudian merebut Ainos dan Kepulauan Lemaos dl dekat pantai Aegea. Pada tahun 1456 merebut Athena. Sepanjang tahun 1458-1459, Serbia dijadikan salah satu propinsi Turki Utsmani. Selanjutnya pada tahun 1461, Kota Asmara, Sinub, dan Trebizond juga dibebaskan. Tahun 1463-1464 ditandai dengan pembebasan Bosnia. Perang dengan Venesia juga dimulai tahun 1463 dan berlangsung selama 17 tahun. Pada tahun 1473 Sultan memperoleh kemenangan di Erzindjan dan merebut Cilicia pada tahun 1474.

Masa enam tahun berikutnya, ditandai dengan usaha pembebasan Eropa. Sultan mendirikan benteng Sabaes dekat Belgrado dan melakukan penyerbuan ke Hongaria dan Austria. Dalam tahun 1476. Kaffa juga direbut dari orang-orang Genoa, dan merebut kepulauan lonia pada tahun 1479. Dengan demikian pada masa itu, seluruh pantai Crimea telab jatuh ke tangan Turki Utstnani. Satu-satunya penyerbuan yang gagal, yang dilakukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih ialah penyerbuan Beograd (1456) dan pulau Rhodes pada tahun 1480. Peristiwa penyerbuan Beograd ini dianggap momentum yang penting, karena ia menutup jalan bagi penyerbuan ke Hongaria dan jerman. Sultan sendiri memimpin pasukannya dalarn penyerbuan tersebut. Pada saat yang bersamaan Paus menyerukan perang Salib untuk menghadapi ekspansi Islam Turki Utsmani ini. Selain itu, Sultan juga bermaksud hendak menduduki Italia, agar bendera Islam dapat berkibar juga dengan megah mewarnai Kota Roma, seperti di Konstantinopel. Namun sayang sekali, keinginan beliau tidak terkabul. Ia hanya sempat menaklukkan Kota Otranto saja (selatan Italia) pada tahun 1480. Ketika sedang gigih berperang di Asia, Sultan Muhammad II, al-Fatih meninggal dunia di Takpur Cayiri pada 3 Mei 1481. Ia wafat dalam usia 51 tahun, setelah memerintah selama 30 tahun. Dialah sultan pertama yang dikuburkan di Konstantinopel.

0 komentar: