Minggu, 11 November 2018

Wahai Umat Muslim, Belajarlah Pada Pasukan Gurkha
Banyak kisah menarik pada zaman perang kemerdekaan. Salah satunya mengenai pasukan Inggris, Gurkha, yang terkenal dengan kehebatannya dalam pertempuran. Gurkha terdiri dari para prajurit India yang beragama Islam maupun Hindu.

Ketika dikirim ke Indonesia, mereka banyak yang tidak tahu negeri apa yang hendak mereka tuju. Ketika sampai di Indonesia, mereka kaget karena yang dihadapi adalah para pejuang Indonesia yang selalu bertakbar Allahu Akbar dan banyak menara-menara Masjid. Prajurit Gurkha yang memeluk Islam goyah dan tidak mau menghadapi saudara-saudara seiman. Mereka akhirnya membelot ke pihak Republik dan berperang bahu-membahu melawan Inggris. Bahkan ada pula yang tidak mau berperang dan memilih kembali pulang ke negaranya. Inilah secuil kisah mereka yang membelot ke pihak Indonesia disebabkan pekikan “Allahu Akbar!”, (Em):


Senin, 10 September 2018

Sapi Merah Sempurna Telah Lahir, Akhir Zaman Semakin Dekat

Seekor sapi merah yang diklaim sempurna terlahir di wilayah Palestina yang dijajah Zionis-Israel. Kelahiran anak sapi merah ini dinyatakan yang pertama kali dalam 2.000 tahun dan dikaitkan dengan tanda dekatnya hari kiamat.
The Temple Institute mengumumkan kelahiran anak sapi merah tersebut. Hewan itu kini menjalani pemeriksaan ekstensif oleh para rabbi Yahudi. Menurut institut tersebut, warna kulit hewan itu “merah sempurna” atau tanpa noda maupun cacat.
“Anak sapi betina merah membawa janji untuk mengembalikan kemurnian Alkitab kepada dunia,” kata The Temple Institute dalam pengumumannya. Tak disebutkan secara rinci tanggal dan lokasi kelahiran anak sapi tersebut.
Mengutip Daily Mirror, Sabtu (8/9/2018), dalam kepercayaan Kristen maupun Yahudi, kisah sapi merah terkait dengan nubuat “akhir zaman”.
Kelahiran dan pengorbanan sapi merah disebutkan mengawali pembangunan Bait Suci (Kuil Suci) Ketiga di Yerusalem. Di kalangan Yahudi Ortodoks, pembangunan kembali Bait Suci Ketiga akan terjadi sebelum kedatangan Mesias.
Dua Kuil Suci sebelumnya telah hancur. Namun, The Temple Institute dan organisasi lain telah dibentuk dengan tujuan membangun Bait Suci Ketiga di Gunung Moriah atau Temple Mount.
Beberapa teolog juga percaya bahwa pembangunan Bait Suci Ketiga dikaitkan dengan “Hari Penghakiman” atau “akhir zaman”.
Direktur The Temple Institute, Rabbi Chain Richman, percaya sekarang saatnya membangun Bait Suci Ketiga setelah kelahiran anak sapi merah.
Video di saluran YouTube The Temple Institute menunjukkan anak sapi dengan induknya di sebuah situs. “Kelahiran sapi merah sempurna lahir di tanah (Palestina yang dijajah Zionis) Israel,” bunyi keterangan video tersebut.
Anak sapi itu menjalani pemeriksaan ekstensif oleh para rabbi Yahudi untuk meyakinkan bahwa hewan itu kandidat yang layak untuk sapi merah seperti yang dimaksud dalam kitab suci.
Namun, anak sapi itu bisa didiskualifikasi karena “penyebab alami”. Pihak The Temple Institute telah mendirikan program “Pembiakan Sapi Merah di Israel” tiga tahun lalu.
Mereka telah berharap untuk membiakkan sapi merah sempurna dan embrio beku sapi angus merah telah diimpor ke wilayah Palestina yang dijajah Zionis Israel dan ditanamkan ke sapi domestik.
Breaking Israel News melaporkan bahwa dewan rabbi sedang memverifikasi sapi yang memenuhi persyaratan nubuat hari kiamat. Nubuat itu mengatakan sapi harus merah tanpa cacat. (EM)

Video :


Rabu, 23 Mei 2018

Salju Turun di Gurun Sahara Afrika, Apakah Kiamat Memang Tak Lama Lagi?
Terjadi fenomena alam yang langka dikawasan Gurun Sahara wilayah Ain Sefra, Aljazair, dimana di daerah ini turun salju setebal 40 cm.
Dalam keadaan biasa, gurun Sahara merupakan salah satu tempat paling panas dan kering di dunia. Panasnya bisa mencapai 50 derajat Celcius.
Berikut ini foto penampakan salju di Gurun Sahara seperti dilansir detik, Selasa (9/1/2018)









Sumber (Em)
Lembah Tayeh di Saudi Menghijau

SEJAK beberapa pekan di bulan April 2018, sejumlah daerah di Arab Saudi terus diguyur hujan. Hingga sebagiannya ditumbuhi tanaman hijau yang cukup subur, salah satunya di Lembah Tayeh. 

Lembah Tayeh di wilayah Asir Saudi telah disebutkan dalam tulisan puitis sejak hampir seribu tahun lalu. Letaknya, dekat pegunungan Sarawat bagian timur dan membentang sampai ke Laut Merah di barat.
Fotografer Saudi Ali Maroui telah mendokumentasikan hasil jepretannya secara alami. Seperti dilaporkan Al Arabiya, pada 23 April lalu, dia mengatakan bahwa lembah itu dianggap sebagai lokasi penting untuk irigasi pertanian selama musim hujan.
“Ini juga dianggap sebagai ruang hidup yang besar karena banyaknya peternakan dan sangat ideal untuk membiakkan ternak dan merumput,” ujarnya.
“Musim hujan telah mengubah tempat ini menjadi sesuatu seperti lukisan yang indah, dan membuat wilayah itu sungguh ideal untuk menggembalakan unta. Peternakan di sekitarnya telah dikaitkan dengan lembah Tayeh di mana air hujan jatuh dari lerengnya untuk mengairi mereka,” tambah Maroui.
Hijaunya wilayah Saudi yang kering merupakan pertanda akhir zaman. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan tiba hari Kiamat hingga tanah Arab kembali hijau penuh dengan tumbuhan dan sungai-sungai,” (HR Muslim, kitab az-Zakaah, bab Kullu Nau’in minal Ma’ruuf Shadaqah (VII/97, Syarh an-Nawawi).
Yang nampak jelas dari hadits di atas bahwa negeri-negeri Arab akan dilimpahi dengan air yang banyak, sehingga menjadi beberapa sungai, tumbuh di atasnya berbagai macam tumbuhan sehingga menjadi padang rumput, kebun-kebun, dan hutan-hutan.
Bukti yang mendukung pendapat ini adalah munculnya di zaman ini sumber-sumber air bagaikan sungai, dan tumbuh di atasnya berbagai macam tanaman, dan akan terbukti segala hal yang dikabarkan oleh Nabi SAW.
Mu’adz bin Jabal ra telah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda pada perang Tabuk: “Sesungguhnya kalian -insya Allah- akan mendatangi mata air Tabuk esok hari, dan sesungguhnya kalian tidak akan mendatanginya sehingga siang sudah meninggi (waktu dhuha). Barangsiapa dari kalian mendatangi-nya, maka janganlah ia menyentuh airnya sedikit pun hingga aku tiba. ‘Akhirnya kami datang dan ternyata ada dua orang yang telah menda-hului kami. Mata air itu bagaikan tali sandal yang mengucurkan sedikit air. Mu’adz berkata, Rasulullah SAW bertanya kepada keduanya, ‘Apakah kalian berdua telah menyentuh sedikit dari airnya?’ Keduanya menjawab, ‘Betul,’ lalu Rasulullah SAW mencerca keduanya dan mengatakan berbagai hal kepada keduanya. Mu’adz berkata, ‘Kemudian mereka menyiduk air dari mata air sedikit demi sedikit, sehingga air tersebut terkumpul di suatu wadah.’ Mu’adz berkata, ‘akhirnya Rasulullah SAW mencuci kedua tangan juga muka di dalamnya, lalu beliau mengembalikan air tersebut ke dalam mata air, kemudian mata air itu memancarkan air dengan jumlah yang sangat banyak. Rasulullah lalu berkata, ‘Dengan melimpah,’… sehingga semua orang bisa memakainya. Akhirnya Rasulullah SAW bersabda, ‘Hampir saja wahai Mu’adz! Seandainya umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat tempat ini dipenuhi dengan kebun-kebun.’” (HR Muslim, kitab al-Fadhaa-il, bab Mukjizaatun Nabiyyi J [XV/40-41], Syarh Muslim).(Ip).
Dialah Pencetus Larangan Masjid Di Swiss, Namun Akirnya Memeluk Islam

Daniel Streich, politikus Swiss, yang tenar karena kampanye menentang pendirian masjid di negaranya, tanpa diduga-duga, memeluk Islam.
Streich merupakan seorang politikus terkenal, dan ia adalah orang pertama yang meluncurkan perihal larangan kubah masjid, dan bahkan mempunyai ide untuk menutup masjid-masjid di Swiss. Ia berasal dari Partai Rakyat Swiss (SVP). Deklarasi konversi Streich ke Islam membuat heboh Swiss.
Streich mempropagandakan anti-gerakan Islam begitu meluas ke seantero negeri. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di Negara itu, dan membuka jalan bagi opini publik terhadap mimbar dan kubah masjid.
Tapi sekarang Streich telah menjadi seorang pemeluk Islam. Tanpa diduganya sama sekali, pemikiran anti-Islam yang akhirnya membawanya begitu dekat dengan agama ini. Streich bahkan sekarang mempunyai keinginan untuk membangun masjid yang paling indah di Eropa di Swiss.
Yang paling menarik dalam hal ini adalah bahwa pada saat ini ada empat masjid di Swiss dan Streich ingin membuat masjid yang kelima. Ia mengakui ingin mencari “pengampunan dosanya” yang telah meracuni Islam. Sekarang adalah fakta bahwa larangan kubah masjid telah memperoleh status hukum.
Abdul Majid Aldai, presiden OPI, sebuah LSM, bekerja untuk kesejahteraan Muslim, mengatakan bahwa orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan yang besar untuk mengetahui tentang Islam. Beberapa dari mereka ingin tahu tentang hubungan antara Islam dan terorisme; sama halnya dengan Streich. Ceritanya, ternyata selama konfrontasi, Streich mempelajari Alquran dan mulai memahami Islam.
Streich adalah seorang anggota penting Partai Rakyat Swiss (SVP). Ia mempunyai posisi penting dan pengaruhnya menentukan kebijakan partai. Selain petisinya tentang kubah masjid itu, ia juga pernah memenangkan militer di Swiss Army karena popularitasnya.
Lahir di sebuah keluarga Kristen, Streich melakukan studi komprehensif Islam semata-mata untuk memfitnah Islam, tapi ajaran Islam memiliki dampak yang mendalam pada dirinya. Akhirnya ia malah antipati terhadap pemikirannya sendiri dan dari kegiatan politiknya, dan dia memeluk Islam. Streich sendiri kemdian disebut oleh SVO sebagai setan.
Dulu, ia mengatakan bahwa ia sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan sering pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Alquran dan melakukan salat lima waktu setiap hari. Dia membatalkan keanggotaannya di partai dan membuat pernyataan publik tentang ia masuk Islam. Streich mengatakan bahwa ia telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam, yang tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya. (sa/iol/Em)

Senin, 04 Desember 2017

Ulama Yang Dekat Dengan Penguasa

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Rab semesta alam, shalawat beriring salam kita haturkan kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga, sahabat, serta pengikut beliau hingga akhir zaman, Amma ba’du.
Di tengah hiruk-pikuk fitnah akhir zaman, umat Islam merindukan sosok alim amil yang dapat memberikan penerangan untuk melewati kegelapan dan suramnya fitnah ini, namun sangat disayangkan, dewasa ini kita mendapatkan sosok yang disebut dengan alim atau syaikh yang tidak memberikan penerangan namun malah mengeluarkan syubhat-syubhat yang membingungkan umat, hal itu dikarenakan kedekatan mereka dengan para penguasa.
Padahal jauh-jauh hari Rasulullah mewanti-wanti umatnya akan hal ini, sebgaimana disebutkan pada hadit dan atsar berikut ini,

وأخرج أحمد   في مسنده، والبيهقي بسند صحيح، عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله  عليه وسلم: « من بدا جفا، ومن اتبع الصيد غفل، ومن أتى أبواب السلطان افتتن، وما ازداد أحد من السلطان قرباً، إلا ازداد من الله بعداً

Dari Abi Hurairah radiallahu anhu, Rasulullah bersabda, “Siapa tinggal di pedalaman maka perangainya keras, dan siapa sibuk dengan berburu maka akan lalai, serta siapa yang mendatangi pintu-pintu penguasa terkena fitnah, tidak seseorang semakin dekat dengan penguasa maka akan bertambah jauh dari Allah.” (HR. Ahmad dan Baihaqi dengan sanad shahih)

وأخرج ابن ماجه، عن أبي هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه  وسلم: « إن أبغض القراء إلى الله تعالى الذين يزورون الأمراء

Dari Abi Hurairah radiallahu anhu, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya qurra yang paling dibenci Allah ialah yang mendatangi penguasa.” (HR. Ibnu Majah)

وأخرج الطبراني في « الأوسط » بسند رواته ثقات، عن ثوبان رضي الله عنه مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: يا رسول الله من أهل البيت أنا؟ فسكت، ثم قال في الثالثة: « نعم ما لم تقم على باب سدة، أو تأتي أميراً فتسأله
قال الحافظ المنذري في « الترغيب والترهيب » المراد بالسدة هنا، باب السلطان ونحوه.

Dari Tsauban radiallahu anhu berkata,” Ya Rasulullah, apakah saya termasuk ahli bait,?” Rasulullah pun diam, sampai pada ketiga kali,beliau menjawab, “ya selama engkau tidak berdiri pada pintu penguasa, atau mendatangi penguasa dan meminta padanya.” (HR. Thabrani dalam Al Ausath)

وأخرج الترمذي وصححه، والنسائي، والحاكم وصححه، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «سيكون بعدي أمراء، فمن دخل عليهم فصدقهم بكذبهم، وأعانهم على ظلمهم، فليس مني، ولست منه، وليس بوارد علي الحوض، ومن لم يدخل عليهم، ولم يعنهم على ظلمهم، ولم يصدقهم بكذبهم، فهو مني، وأنا منه، وهو وارد علي الحوض

Akan ada sepeninggalanku para penguasa, maka siapa yang mendatanginya dan membenarkan kebohongannya, menolong atas kedhalimannya, buka golonganku, serta aku bukan golongan dia, dan tidak akan memasuki haudh, dan siapa saja yang tidak mendatanginya,tidak menolongnya atas kedahlimannya, tidak membenarkan kebohongannya, termasuk golonganku dan akan memasuki haudh. (HR. Tirmidzi, Nasa’i dan Al-Hakim)

وأخرج الديلمي، عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يكون في آخر الزمان علماء يرغبون الناس في الآخرة ولا يرغبون، ويزهدون الناس في الدنيا ولا يزهدون، وينهون عن غشيان الأمراء ولا ينتهون

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Akan ada pada akhir zaman ulama’ menyeru manusia untuk cinta akhirat sedangkan ia sendiri tidak mencintainya, menyeru manusia zuhud pada dunia, ia sendiri tidak berlaku zuhud.” (HR.Dailami)

وأخرج الديلمي عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إن الله يحب الأمراء إذا خالطوا العلماء، ويمقت العلماء إذا خالطوا الأمراء، لأن العلماء إذا خالطوا الأمراء رغبوا في الدنيا، والأمراء إذا خالطوا العلماء رغبوا في الآخرة

Dari Umar bin Khattab, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Alah mencintai penguasa yang berinteraksi dengan ulama’. Dan membenci ulama’ yang mendekati penguasa, karena ulama’ ketika dekat dengan penguasa yang diinginkan dunia, namun jika penguasa mendekati ulama inginkan akhiratnya.” (HR. Dailami)

ذهب جمهور العلماء من السلف، وصلحاء الخلف إلى أن هذه الأحاديث والآثار جارية على إطلاقها سواء دعوه إلى المجيء إليهم أم لا، وسواء دعوه لمصلحة دينية أم لغيرها. قال سفيان الثوري: « إن دعوك لتقرأ عليهم: قل هو الله أحد، فلا تأتهم » رواه البيهقي

Mayoritas ulama salaf dan orang shalih dari kalangan khalaf berpendapat bahwa hadits-hadits dan atsar diatas berlaku secara muthlaq, baik ia diundang untuk mendatanginya atau tidak, baik ia diaundang untuk kemaslahatan dunia atau selain itu. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “ jikalau penguasa mengundangmu untuk mengajari mereka qul huwa llahu ahad, maka jangan engkau datangi.” (HR. Baihaqy)

قال البخاري في تاريخه: « سمعت آدم بن أبي إياس يقول: شهدت حماد بن سلمة ودعاه السلطان فقال: اذهب إلى هؤلاء! لا والله لا فعلت »

Imam bukhari menyebutkan dalam kitab tariknya, “ aku mendengar Adam bin Abi Iyas berkata,” “ aku menyaksikan hamad bin Masalamah, ketika itu ia diundang penguasa,”datangilah mereka,” beliau menjawab,” Demi Allah, aku tidak akan melakukannya.”

وروى غنجار في تاريخه عن ابن منير: أن سلطان بخاري، بعث إلى محمد بن إسماعيل البخاري يقول: احمل إليّ كتاب « الجامع » و « التاريخ » لأسمع منك. فقال البخاري لرسوله: « قل له أنا لا أذل العلم، ولا آتي أبواب السلاطين فإن كانت لك حاجة إلى شيء منه، فلتحضرني في مسجدي أو في داري

Di riwayatakan dari Ginjar di kitab tarikhnya, dari Ibnu Munir, “ penguasa Bukhara mengutus seseorang untuk mendatangi Imam Bukhari, seraya berkata, bawakan kepadaku kitab Al Jami (Shahih Bukhari) dan kitab Tarikh supaya aku dapat mendengar darimu, Imam Bukhari menjawab, “ katakan padanya, aku tidak akan menghinakan ilmu, dan aku tidak akan mendatangi pintu-pintu penguasa, jika ia butuh sesuatu dari kitab tersebut, suruh ia mendatangi masjid atau rumahku.”

وقال ابن باكويه الشيرازي في « أخبار الصوفية»: « حدثنا سلامة بن أحمد التكريني أنبأنا يعقوب ابن اسحاق، نبأنا عبيد الله بن محمد القرشي، قال: كنا مع سفيان الثوري بمكة، فجاءه كتاب من عياله من الكوفة: بلغت بنا الحاجة أنا نقلي النوى فنأكله فبكى سفيان. فقال له بعض أصحابه: يا أبا عبد الله! لو مررت إلى السلطان، صرت إلى ما تريد! فقال سفيان: « والله لا أسأل الدنيا من يملكها، فكيف أسألها من لا يملكها

Telah bercerita Ibnu Bakawaih Asy-Syairazi dalam Akhbar Shufiyah, “ telah berkata kami Salamah bin Ahmad at-Tukrini, mengabarkan pada kami Ya’qub bin Ishaq , mengabarkan pada kami Ubaidillah bin Muhammad A-Qurasyi, ia berkata,” kami bersama Sufyan Ats-Tsauri di Makkah, tiba-tiba datang surat dari keluarganya di Kufah, yang berisi, “ kami ditimpa kesusahan ekonomi sampai kami menggoreng kulit biji-bijian kemudian memakannya, “ maka Sufyan menangis setelah membacanya, lalu sebagian sahabatnya memberi saran kepadanya, “ Wahai Abu Abdillah! Kalau seandainya engkau mau mendatangi  penguasa, pastinya dapatkan apa yang engkau inginkan,” Imam Sufyan At-Tsauri menimpali, “Demi Allah, aku tidak meminta dunia kepada yang memilikinya (Allah), maka bagaimana mungkin aku memintanya pada yang tidak memilikinya.”

وقال محمد ابن مسلمة:  الذباب على العذرة، أحسن من قارئ على باب هؤلاء

Muhammad bin Maslamah berkata, “ lalat di atas kotoran lebih baik dari ulama yang berada di pintu penguasa.”
Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis satu bab tetang berinteraksi dengan penguasa, dan hukum mendekati mereka, beliau rahimahullah berkata, “ ketahuilah bahwa interaksimu terhadap penguasa dan pejabat yang dhalim, ada tiga keadaan,
keadaan pertama, adalah yang paling buruk yaitu memasuki pintu-pintu penguasa.
Yang kedua, yang bahayanya lebih sedikit, yaitu ia berusaha mendekatimu.
Yang ketiga, yang paling selamat, engkau menjauhi mereka, engkau tidak melihatnya, begitupula sebaliknya.
Adapun yang pertama, maka sangat tercela dalam syariat, dengan adanya beberapa ancaman dan peringatan sebagaimana disebutkan dalam hadits dan atsar diatas, berkata Sufyan Ats-Tsauri, “ di neraka ada suatu lembah yang tidak dihuni kecuali oleh para ulama yang mendekati pintu-pintu raja.” (Em/kl/pm)

Minggu, 16 Juli 2017

Mencari Pemimpin Ideal

Kedudukan pemimpin dalam suatu masyarakat atau perkumpulan sangat penting, meskipun ia bukanlah segala-galanya.. Sebab sebagaimana diketahui bahwa perjalanan suatu masyarakat atau aktivitas dapat baik bukan semata-mata karena pemimpinnya, tapi tentu saja menyangkut hal-hal lain juga. Kita tidak meragukan kepemimpinan para nabi yang Allah swt. utus kepada Bani Israel. Namun karena dukungan dari ummatnya sangat lemah akhirnya tidak terbentuk rnasyarakat yang ideal. Oleh karena itu, di dalam Islam di samping diperlukan pemimpin yang baik dan berkualitas,juga harus dipersiapkan ummat yang siap mendukung program yang digulirkan oleh pemimpinnya. Yang kesemuanya itu tentu saja diperlukan pemahaman yang searah, yaitu sama-sama menuju kepada keridhaan Allah ‘Azza Jallah. Dalam istilah kajian lslamnya di istilahkan perlunya Qiyadah Mukhlishah (pemimpin yang ikhlash). dan Jundiyah Muthi‘ah (ummat yang taat).
Kemudian yang perlu juga diperhatikan dalam pembinaan generasi yang dipersiapkan untuk tampil di masa mendatang bukan hanva dibekali semangat untuk memimpin, tetapi juga pada saat yang bersamaan harus ditanamkan kesediaan untuk siap dipimpin. Jadi antara Qiyadiyah (semangat dan kesediaan untuk diberi amanah memimpin) dan Jundiyah (kesiapan untuk ditata) tertanam dalam waktu yang bersamaan. Sehingga tidak bersaing dan berebut untuk menjadi pemimpin dan tidak juga terlalu tawadhu’ sehingga sulit untuk diserahi tugas dan amanah. Memang kepemimpinan itu taklif (beban) bukan tasyrif (kemuliaan).

Al-Qur’an dan Kepemimpinan

Dalam istilah ke-Islaman, kepemimpinan disebutkan dengan beberapa istilah atau nama, di antaranya: imamah, ri’ayah, za ‘amah, imarah dan kadang-kadang disebut juga wilayah. Ayat-ayat yang menyebutkan pengertian di atas diantaranya terdapat pada surah: al-Baqarah l2: 124; an-Nisa’/4:59, 83, 139; al-Maidah/5: 51, 52, 57, 58, 80, 81; Hud/l1:17; Yusuf/12:72; Thaha 20:54; al-Anbiya’/21: 73; as-Sajdah/22:24; al-Mukminun/23: 8; al-Furqan/25: 74; al-Qalam/68: 40 dan al-Ma’arij/70: 32. Juga di beberapa tempat dipakai istilah khilafah, seperti terdapat di surah: al-Baqarah/l2: 30; al-An’am/6: 165; al-A’raf/7: 69, 74, 129; Yunus/l0: 14, 73; Hud/1l: 57;
an-Nur/24:55; an-Naml/27: 62; Fathir/35: 39; Shad/38: 26; al-Hadid/57: 7.

Hadits-hadits Tentang Pemimpin
Banyak sekali hadits-hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan pemimpin dan kepemimpinan. Di sini akan disebutkan beberapa saja. Mudah-mudahan dapat dijadikan masukan.

Artinya: Sesungguhnya iman (pemimpin) itu adalah (merupakan) perisai. (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin itu menjadi pelindung bagi orang-orang yang dipimpinnya, rnemperhatikannya dan membela nasibnya. Allah swt. memberikan gambaran kepribadian Nabi saw. yang merupakan pemirnpin teladan itu dalarn firrnan-Nya:

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (‘keimanan dun keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mu‘min. (QS at-Taubah: 128).

Ayat di atas menunjukkan bahwa Nabi saw. sebagai pemimpin ummat berasal dari kalangan orang yang dipimpinnya, yaitu manusia biasa, sehingga di antara beliau dengan ummatnya tidak ada jarak yang rnembuat kesenjangan diantara keduanya. Beliau turut merasakan persoalan ummat, tidak hanya hidup di menara gading. Keselamatan dan kebaikan ummatnya adalah keinginan beliau yang begitu besar. Dan sikap beliau dalam menghadapi ummatnya penuh dengan kasih sayang. Pemimpin yang memperhatikan dan menjadi pelindung bagi ummatnya adalah pemimpin yang akan dieintai pula oleh ummatnya.

Antinya: Apabila ada tiga orang dalam perjalanan, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang menjadi pemimpin. (HR. Abu Dawud,).

Hadits ini menunjukkan adanya keteraturan di dalam masyarakat Islam. Sehingga sebenarnya tidak ada peluang untuk krisis kepemimpinan. Sebab jangankan dalam masyarakat yang mapan dan stabil, di perjalanan sekalipun Islam membimbing ummatnya agar tetap memperhatikan adanya kepemimpinan agar setiap aktivitas terkoordinasi dengan baik. Tentu saja yang diangkat menjadi pemimpin, khususnya di perjalanan adalah orang yang rmemiliki pemahaman yang baik, termasuk tentang liku-liku perjalanan, Dengan demikian kebijakan yang diambil sesuai dengan kebutuhan dan bij aksana.

Artinya: Apabila pemimpinmu adalah orang yang terbaik di antara kalian, dari orang-orang kaya di antara kalian adalah orang-orang yang murah hati, dan urusan kalian (selalu) dimusyawarahkan di antara kalian maka hidup itu lebih baik dari pada mati. Dan apabila pemimpin kalian adalah orang yang jahat, orang kayanya bakhil, dan urusanmu diserahkan kepada wanita, maka mati itu lebih baik daripada hidup. (HR. Tirmidzi).

Pemimpin yang diangkat haruslah orang yang terbaik. Baik dari sisi Akhlaq dan prilaku. Suatu bencana bagi ummat kalau pemirnpin yang diangkat adalah orang-orang yang bermoral bejat. Oleh karena itu perlu mekanisme yang baik untuk menyeleksi para ealon pemimpin, sehingga yang nantinya tampil dan diserahi amanah betul-betul orang yang terbaik, atau paling tidak, baik. DR. Yusuf Qardhawi mengusulkan hal tersebut dalarn bukunya “Aulawiyat Harakah Islamiyah Fil Marhalatil Qadimah” (Prioritas Gerakan Islam) dan sub pembahasan “I’dad Al-Qiyadat Lil Mustaqbal” (Mempersiapkan Pemimpin Masa Depan). Dan kepemimpinan ummat secara umum tidak boleh diserahkan kepada wanita. Nabi saw. bersabda:

Artinya: Suaiu kaum yang menyerahkan urusannya kepada wanita tidak akan bahagia. (HR. Bukhari).

Artinya: Barangsiapa yang mengangkat seseorang dari satu golongan, sedang di antara mereka ada orang lain yang lebih berhak (lebih mampu dan ikhlash karena Allah), maka orang tersebut benar-benar telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslimin semuanya. (HR. Hakim).

Mengangkat pemimpin untuk ummat Islam hanya dengan pertimbangan golongan atau kelompok, padahal ada orang yang lebih laik, hanya karena bukan dari golongannya, adalah perbuatan yang terlarang dalam Islam. Dan hal itu menunjukkan masih adanya sisa-sisa pemikiran jahiliyah padanya. Di antara dampak negatif adanya kelompok-kelompok di kalangan kaum Musliniin adalah sikap seperti diatas. Ashabiyah tersebut menghilangkan profesionalisme. Apalagi kadang-kadang terjadi kalau ternyata dari golongannya tidak diangkat, terjadilah pemogokan atau penggernbosan.
Lain halnya kalau dalam forum yang bersifat umum. Di sana ada Muslim dan non-Muslim. Maka seorang Muslim wajib mendahulukan orang Muslim untuk duduk di kursi kepemimpinan, meskipun mungkin ada orang non-Muslim yang punya’kemampuan lebih baik. Sebab haram bagi seorang Muslim menyerahkan wala’ (termasuk kesediaan dipimpin) kepada orang-orang kafir.

Artinya: Tidaklah seorang pemimpinpun yang mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian tidak bersunguth-sungguh, dan tidak ,memberi nasihat kepada mereka,, ,melainkan dia kelak tidak masuk surga bersama-sama mereka. (HR. Muslim}.

pemimpin yang telah menerima amanah kepemimpinan harus secara bersungguh- sungguh melaksanakan tugasnya dan mnemberikan nasehat kepada ummatnya. Karena memang di antara kewajiban para pemimpin adalah menasihati ummat dan menerima nasehat dari ummat.

Artinva: ‘Tidak seorang hamba pun yang Allah angkat menjadi pemimpin suatu rakyat, yang dia mati pada saatnya tiba sedang dia tidak bersifat terbuka kepada rakyatnya emlainkan Allah haramkan baginya surga (HR. Bukhari dan Muslim)

Keterbukaan dalam mengelola amanah ummat sangat diperlukan. Sebab kontrol dan ummat dapat menjaga kelurusan perjalanan kepemimpinannya. contoh yang cemerlang terjadi pada saat kekhilafahan Umar bin Khathab. Pada saat beliau akan menyampaikan Sesuatu, salah seorang warga menginterupsi bahwa Ia tidak akan mernatuhi perintahnya sebelum dijelaskan darimana bahan pakaian yang Ia pakai. Sebab jatah pakaian yang dibagikan tidak mungkin cukup untuk Umar yang berbadan besar. Umarpun memanggil anaknva, Abdullah bin Umar untuk menerangkan bahwa bagian dia (Abdullah) diserahkan kepada ayahnya agar cukup untuk pakaiannya. Setetah itu barulah sang rakyat menyatakan kesiapannya untuk patuh. Tidak sebaliknya, kalau ada dari kalangan rakyat yang mengusik proyeknya atau usaha sanak famili sang penguasa, maka dengan berbagai dalih orang tersebut dijerat hukum; dan jabatannya, kalau ada, mulai dipreteli satu persatu. Itu jelas model kepemimpinan yang zhalim.

Sifat Pemimpin Ideal

Berbicara masalah pemimpin ideal, tentu saja perhatian kita terarah kepada sosok pemimpin teladan, yaitu Rasulullah saw. Sebab kepemimpinan beliau bukan saja diakui oleh kaum Muslimin, tetapi tidak sedikit dari kalangan non-Muslim yang juga mengakui kehebatannya.
Mahmud Syeit Khaththab dalamn bukunya “Ar-Rasul Al-Qaid” menyebutkan beberapa sifat kepemimpinan Nabi saw. yang mendukung keberhasilannya. Meskipun analisis penulis banyak dilihat dari sisi militer, sesuai dengan profesi beliau, namun tampaknya cukup relevan untuk kepemimpinan secara murni.
Jendral Mahrnud Syeit Khaththab menyebutkan sifat-sifat pemimpin itu di antaranya:

1. Dapat memberikan keputusan yang benar dengan cepat
Seorang pemimpin harus mampu mengarnbil keputusan yang benar dengan cepat di saat tertentu. Sebagaimana Nabi saw. dapat dengan cepat memutuskan agar basis kaum Muslimin ketika menghadapi kuffar Quraisy di Badar, dibangun di dekat sumber air. Sebab air merupakan kebutuhan fital, apalagi dalam peperangan. Sehingga dengan demikian musuh tidak mendapatkan air dan tentu saja tidak akan dapat bertahan lama.

2. Memilih kepribadian yang berani
Pemimpin yang pengecut tentu saja akan menyulitkan ummatnya. Sebagai pemimpin teladan Nabi saw. memiliki keberanian yang sangat baik. Suatu ketika di saat perang, Nabi saw. meminta beberapa shahabat untuk bersama beliau. Di malam hari ada suara hingar bingar. Para shahabat yang bersama beliau terbangun dan cepat-cepat menuju ke arah suara. Tetapi ternyata Nabi saw. sudah kembali dari sana dan mengatakan: “Kembalilah, itu hanya suara angin gurun”.

3. Berkemauan kuat dan tetap
Upaya orang-orang kafir untuk menggoyah da’wah Islamiyah yang dilakukan oleh .nabi saw. tidak henti-hetinva. bujukan, rayuan, ancaman dan bahkan teror mental dan fisik silih berganti. Namun dengan idzin Allah beliau tetap tegar dan berkemauan kuat untuk terus memperjuangkan kalimah Allah yang mulia itu.

4. Mengemban tanggungjawab tanpa ragu-ragu
Ketegaran dalam menjalankan tugas da’wah yang dilakukan oleh Nabi saw. menunjukkan rasa tanggung jawabnya yang demikian tingginya. Kesemuanya itu dilakukan dengan penuh keyakinan dan terjauh dari segala bentuk keraguan. Maka seorang pemimpin haruslah dapat membangun rasa tanggung jawab di atas dasar keyakinan yang kokoh. Dan keyakinan yang kokoh itu baru dapat terwujud manakala merujuk kepada rujukan yang kokoh pula, yaitu manhaj Rabbani, kitabullah dan sunnah Rasul-Nya saw.

5. Kejiwaan yang stabil baik dalam keadaan menang maupun dalam keadaan kalah
Di saat berjuang dengan berbagai intimidasi, Nabi saw. tabah dan sabar. Dan ketika kemenangan sudah di tangan, musuh sudah bagaikan tikus dihadapan kucing, Nabi saw. tidak lantas sombong dan zhalim semaunya. Beliau justru memberikan kemaafan kepada orang-orang yang dulunya memusuhi beliau pada saat Fathu Makkah.

6. Berpandangan ke depan
Ketika sebagian butir-butir perjanjian hudaibiyah menggelisahkan beberapa shahabat, Nabi saw. tetap tenang. Sebab meskipun secara lahiriyah point-point tersebut merugikan, tetapi jangka panjangnya sangat menguntungkan. dan hal tersebut terbukti dua tahun kemudian dengan terjadinya penaklukkan kota Makkah (Fathu Makkah).

7. Memahami kondisi kejiwaan bawahannya
Shafwan bin Umayyah adalah orang yang membenci Nabi saw. Lalu pada Perang Hunain Nabi saw. memberikan kepadanya bagian ghanimah. Akhirnya ia berkata:
"Nabi saw. biasa memberiku bagian ghanimah (Hunain), padahal sebelumnya Ia orang yang paling Saya benci, sampai Allah swt. tidak menjadikan Seseorang yang paling kucintai selain beliau".

8. Saling percaya
Pada perang Badar, meski hanya 300 shahabat harus menghadapi 1.000 pasukan kafir, tetapi Nabi saw. tidak meragukan kualitas dan komitmen para shahabatnya. Tentu saja demikian pula keyakinan para shahabat terhadap Nabi saw. Sehingga perjuangan dapat berjalan dengan baik.

9. Kecintaan secara timbal balik
Pada perang Uhud, bukan hanya para shahabat lelaki yang berjuang mati-matian, para shahabiyah (shahabat wanita) juga tidak mau tertinggal pada front tersebut. Salah seorang dari mereka adalah Nusaibah. Ia terluka parah ketika itu hingga pingsan. Namun begitu siuman yang ia tanyakan bukan keadaan anak atau suaminya, tetapi bagaimana keadaan Nabi saw. Begitu besar kecintaannya kepada Nabi saw. yang tentu saja hal tersebut terjadi karena Nabi saw. juga sangat mencintai umatnya.

Khatimah

Mencari calon pemimpin yang ideal dari segala sisinya tentulah sangat sulit. Kalau terlalu kaku dalam memilih bisa-bisa tidak ada yang laik untuk diangkat menjadi pemimpin. Padahal adanya pemimpin sangatlah penting, yang menurut para ularna’, sebagai ri’ayatuddin (menjaga agama) dan siyasatud dunia (mengatur permasalahan duniawi). Oleh karena itu Syaikhul Islam lbnu Taimiyah dalam bukunya “Siyasah Syar’iyah” menyebutkan perlunya proporsionalisme dalam memilih pemimpin, yaitu sesuai dengan bidang yang diperlukan. Umpamanya dibutuhkan seorang yang ahli rnengelola proyek ekonomi, tentu saja dicari yang memang punya potensi dan kemampuan dibidang tersebut, meskipun kadang-kadang tidak terlalu sering puasa Senin-Kamis.
Mudah-mudahan dengan upaya bersama mengkaji, memahami dan berlatih menerapkan nilai-nilai Islam dalam masalah kepemimpinan kelak akan lahir pemimpin yang dapat membawa ummat Islam kepada kejayaannya yang kita harapkan. Amien ya Rabbal ‘alamin.

Jumat, 23 Juni 2017

Idul Fithri Pertama Rasulullah saw

Terbenamnya sang mentari di ufuk barat pada akhir Ramadhan disambut dengan kumandangan kalimah takbir, tahlil dan tahmid oleh kaum Muslimin di seantero jagad. Kalimat-kalimat mulia itu sahut menyahut sampai mengantarkan kaum Muslimin ke tempat-tempat shalat’Id di hari yang mulia.

Kalimah takbir, tahlil dan tahmid yang diungkap dari sanubari yang terdalam sebagai manivestasi kesyukuran kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas rahmat dan karunia-Nya yang demikian banyaknya. Syukur atas bimbingan dan hidayah-Nya sehingga kita dapat menyelesaikan tugas suci berpuasa sebulan Ramadhan.

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (al-Baqarah:185).

Kalimah takbir yang diucapkan merupakan cerminan keyakinan bahwa hanya Allah swt. sajalah yang Maha Besar, Sedang selain Allah kecil. Kecil kekuatannya. kecil kehebatannya. kecil pegetahuannya, kecil kekayaannya dan kecil segalanya. Meskipun mereka berkuasa. raja diraja,, polisi dunia, tapi kesemuanya itu tiada artinya bila dibandingkan dengan kemaha hebatan Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga seorang Muslim yang mengucapkan takbir dengan penghayatan yang mendalam akan menjadikan dirinya memiliki kepribadian yang besar, semangat yang besar dan cita-cita yang besar. Ia terjauh dari kekerdilan pribadi dan pesimisme. Sebab pemahamannya terhadap kalimah takbir, Allahu Akbar, mengantarkannya pada kedudukan yang mulia, mulia di sisi Allah swt. walaupun mungkin Sementara orang menghinakannya.

Kalimah tahlil, lailaha Illallah, diucapkan sebagai pernyataan bahwa hanya Allah swt. sajalah yang di abdi, hanya Allah sajalah sebagai sesembahan, hanya Allah sajalah yang dipatuhi dan ditunduki secara mutlak. Kalimah mulia ini menjadikan orang yang menyatakannya dengan penghayatan terbebas dari segala bentuk perbudakan, perbudakan apa saja dan perbudakan oleh dan untuk siapa saja. Dirinya hanya memperbudakkan kemanusiaannya kepada Allah semata. Sedang kalimah tahmid yang disampaikan dengan penuh penghayatan menunjukkan bahwa pujian hanyalah hak Allah. selain Allah tidak berhak untuk menuntut pujian dan sanjungan. Sebab pujian dan sanjungan itu merupakan pakaian kebesaran Allah swt. Berbahagialah mereka yang tidak mencari-cari pujian.

Di hari yang berbahagia, di Idul fithri yang mulia ini, ada baiknya kita mengenang peristiwa yang sama, di hari yang sama, yaitu ‘Idul Fithni 1416 tahun yang lalu, di mana Nabi saw. dan para shahabatnya merayakan hari yang mulia ini pertama kali di tahun kedua Hijriyah. Pada tahun tersebut ada beberapa peristiwa besar yang menambah terasanya keagungan ‘Id yang mulia ini. Pada pentengahan bulan Rajab tahun kedua Hijriyah, turun firman Allah di surah al-Baqarah ayat 144 yang artinya:

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bah wa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhan mereka, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (al-Baqarah:144).

Ayat tersebut menetapkan perpindahan kiblat kaum Muslimin yang sejak Isra’ dan Mi’raj menghadap ke arah Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis Palestina menjadi ke arah Ka’bah di Masjidil Haram Makkah. Perubahan tersebut memang sangat diharapkan oleh Nabi saw. dikarenakan orang-orang Yahudi sering mengejek kaum Muslimin, yang menurut mereka maunya mempunyai ajaran sendiri, tetapi kiblatnya di kala shalat mengikuti kiblat mereka. Memang sudah menjadi karakter ummat Yahudi yang terkutuk itu selalu mencari-cari jalan untuk mengejek dan mencela kalangan selain mereka, terutama kaum Muslimin.

Berpindahnya kiblat bukan berarti kaumMuslimin tidak memuliakan Masjidil Aqsha, tidak, sama sekali tidak demikian. Masjidil Aqsha tetap menjadi kota suci bagi kaum Muslimin. Sebab Ia merupakan bumi para nabi dan kiblat pertama kaum Muslimin. Sehingga sampai hari ini dan insya’Allah akan terus sampai kapan saja, kaum Muslimin akan terus berusaha memerdekakan bumi Palestina yang di sana ada Masjidil Aqsha dari cengkcraman Yahudi Zionis yang terkutuk itu.

Kemudian pada tanggal 10 Sya’ban tahun kedua Hijriyah, turunlah syari’at berpuasa di bulan Ramadhan. Shiyam adalah suatu aktivitas pengendalian diri yang luar biasa, dan pada saat yang bersamaan, pelakunya juga turur merasakan bagaimana orang-orang miskin dan faqir selalu merasakan lapar dan dahaga. Sehingga dengan berpuasa seseorang dapat membersihkan jiwanya dari berbagai kotoran,. ditingkatkan kondisi ruhaninya dan dibiasakan untuk shabar dan terlatih mengemban beban dan tugas. Sungguh ibadah puasa mengandung nilai tarbawi (pendidikan) yang sangat tinggi Sehingga wajarlah kalau yang ditargetkan pada ibadah ini akan terlahirlah pribadi-pribadi yang muttaqi, pribadi yang benar-benar bertaqwa, pribadi-pribadi yang syakirin, yang senantiasa bersyukur, dan pribadi-pribadi yang rasyidin, yang mengikuti bimbingan Allah swt. Sungguh ibadah yang mulia ini sebagai sarana munuju kepribadian Muslim yang utuh.


Ketika kaum Muslimin berpuasa pertama kali ini, masih di pekan pertama, Rasulullah saw. mengajak para shahabat untuk berpatroli, yang kemudian terjadilah perang yang sangat terkenal itu, perang Badar. Kita dapat membayangkan betapa hebatnya tempaan yang dialami oleh generasi awal, para shahabat di bawah bimbingan Nabi saw. Mereka berpuasa pertama kali, lalu pada saat itu juga mereka terjun yang pertama kali ke gelanggang pertempuran yang sangat dahsyat. Betapa tidak, 300-an kaum Muslimin dengan persenjataan dan sarana yang sangat terbatas harus berhadapan dengan 1000 pasukan Quraisy yang terlatih dan sarana yang lengkap.

Ibadah puasa adalah syari’at Allah swt. Demikian pula perang yang juga syari’at Allah. Sedang kaum Muslimin ketika itu menjalankan kedua syari’at Allah tersebut. Maka sangatlah wajar kalau mereka yang demikian terikatnya pada syari’ah tersebut mendapat perhatian dan bantuan dari pemilik syari’ah, yaitu Allah swt. Sehingga dengan idzin dan pertolongan Allah swt. peperangan tersebut dapat dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan cemerlang.

Baru saja kaum Muslimin pulang dari perang Badar yang puncaknya pada 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah tersebut,. di pekan ketiganya Allah swt. menurunkan syani’at-Nya yang berikutnya, yaitu disyari’atkannya zakat fithrah yang kemudian disusul dengan syari’at zakat secara umum.

Artinya: Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim meriwayatkan dari hadits Qais bin Sa’ad bin Ubadah ra. berkata: Rasuluilah saw. menyuruh kami untuk berzakat fithrah sebelum turun ketentuan zakat (secara umum). kemudian turun kewajiban zakat (secara umum itu). al-Hafizh Ibnu Hajar berkata. Isnadnya Shahih.

Zakat, infaq dan shadaqah merupakan ibadah yang dapat memperbaiki suasana sosial dan memperkecil kesenjangan antara kaum kaya dan faqir miskin. Kita ketahui bahwa belakangan ini banyak peristiwa kerusuhan dan pengrusakan yang menimbulkan banyak kerugian. kerugian fisik dan kerugian moral. Para pengamat mengatakan bahwa di antara sekian penyebab terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut adalah kesenjangan sosial. Yang sudah kaya terus menambah deretan kekayaannya dengan membuka berbagai usaha, apakah pabrik, perkebunan, peternakan atau apa saja. Di setiap wilayah mereka punya lahan. Mereka terus menumpuk harta sampai tujuh keturunan yang kadang-kadang tidak jarang menyelewengkan kedudukan, kalau mereka berkedudukan, atau berkolusi dan manipulasi, kalau yang pertama sulit dilakukan. Sementara di pihak lain kaum miskin semakin tertekan. Rumah-rumah tidak sedikit yang digusur dengan ganti rugi yang betul-betul merugikan. Suasana seperti ini sangat berpotensi untuk timbulnya gejolak sosial, lebih-lebih bila ada kelompok ketiga yang berkepentingan.

Kita menyadari bahwa realitas kehidupan ini menunjukkan adanya perbedaan nasib. Dan Islam mengakui itu. Ada yang miskin dan ada pula yang kaya. Tetapi Islam membimbing kita agar bersikap secara proporsional, tepat dan benar. Orang yang dengan idzin Allah bernasib kaya harus tnenyadari kewajibannya mengeluarkan sebagian hartanya yang sebenarnya memang sudah menjadi hak orang lain. jadi kalau ada seseoang yang memberikan sebagian hartanya, jangan dianggap bahwa dirinya sudah berjasa pada orang yang ia beri. lalu orang yang diberi itu dikendalikan semaunya. Bukan begitu Seharusnya. Mereka seharusnya mengeluarkan hartanya Itu karena memang bukan lagi menjadi haknya, itu hak orang lain.

Demikian pula mereka yang kebctulan bernasib miskin. jangan lalu mereka iri dan dengki terhadap orang kaya. Hal ini akan mengakibatkan benturan antar kelas, yang jelas tidak Islami. Di satu sisi ada borjuis yang sombong dan angkuh sementara di pihak lain ada proletar yang bersikap dengan penuh kebencian pada lawannya. Orang miskin tidak perlu dendam, tidak perlu iri dan juga tidak perlu menghinakan diri menjadi pengemis. Islam membimbing kita agar punya rasa ‘iffah dan muru’ah, rasa harga diri. Lebih baik membawa kapak dan tali ke hutan mencari kayu bakar untuk dijual dan menghidupi keluarga daripada mengemis dan menghinakan diri, demikian Nabi saw. memerintahkan kita. Begitu pentingnya kedudukan zakat dalam masyarakat Muslim. Sehingga pantaslah kalau khalifah Abu Bakar Shiddiq ra membuat kebijakan yang sangat tegas dan jelas terhadap mereka yang menolak membayar zakat.

Artinya : Demi Allah. pasti saya akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat. Karena zakat itu hak harta. Demi Allah, seandainya mereka tidak membayar (walau hanya) anak kambing atau unta yang biasa mereka tunaikan pada Nabi saw. pasti saya akan memerangi mereka disebabkan tidak membayarnya (sekarang). Umar berkata Demi Allah, hal itu tidak lain kecuali saya lihat Allah telah membukakan dada Abu Bakar untuk berperang, saya tahu bahwa ia benar.  
 
Dalam suasana perjalanan perjuangañ seperti itulah Nabi saw. dan para shahabat pertama kali beridul fithri. Diawali dengan perubahan kiblat yang selama ini dilecehkan oleh orang-orang Yahudi, menjadi berkiblat ke arah yang diridhai oleh kaum Muslimm dan tentu saja diridhai pula oleh Allah swt. Kalau dulu perubahan kiblat di kala shalat, kini kita melihat kiblat kehidupan yang perlu dibenahi. Gelombang materialisme dan aliran-aliran pemikiran yang laisa minal Islam, bukan dan ajaran Islam masih tampak mewarnai pola pikir dan pola kerja kaum Muslimin. Karena itu perlu perbaikan dan pembenaran kiblat kehidupan sehingga betul-betul diridhai oleh Allah swt. Dan diridhai pula oleh mereka yang mempunyai komitmen pada Islam. Kemudian Nabi saw. dan para shahabat berpuasa.. mengendalikan diri dari dominasi syahwat baik syahwat perut. makan dan minum. maüpun syahwat seks, yaitu bercampur suami istri di siang hari.

Kini kita lihat sebagian dari bangsa kita yang mayoritas Muslim ini sudah kurang memiliki daya kontrol yang baik, meskipun mungkin saja mereka turut berpuasa di bulan Ramadhan,, sebab mereka secara lahiriyah Muslim. Tetapi dalam kesehariannya mereka tidak perduli halal dan haram. baik halal dzati (bendanya), maupun halal kasbi (hasil usahanya). Sehingga korupsi dan manipulasi masih demikian membudayanya di tengah-tengah masyarakat kita yang mayoritas Muslim ini. Kita berada pada peringkat atas di dunia ini. Tapi sayang prestasi korupsi dan kolusi yang sangat memalukan.

Demikian pula syahwat seks sangat tidak menggembirakan. Perzinaan bukan lagi hal yang tabu. Bahkan pemerkosaan dan pelecehan seksual dengan segala ragam dan bentuknya sudah menjadi hiasan harian di media kita. Sehingga negeri yang menyimpan kaum Muslimin terbanyak di dunia ini, ternyata mempunyai piaraan orang-orang berpenyakit AIDS dan calonnya yang tidak sedikit. Sungguh suasana yang memalukan dan memprihatinkan. Mudah-mudahan puasa di tahun ini dapat menekan sedikit demi sedikit kemaksiatan dan kedurhakaan yang semestinya tidak perlu ditoleransi lagi. dulu. sungguh sangat jauh dari pemikiran kita. Kita sudah terlalu tenggelam pada kehidupan dunia yang menyilaukan ini. Padahal jihad adalah puncak dari ajaran islam. Demikian pula mobilsasi dana ummat masih jauh dari yang semestinya Hampir 200 juta kaum Muslimin di negeri ini, tetapi berapa banyak proyek Da’wah dan amal Islami yang turut goyah karena goyahnya ekonomi negara-negara Timur Tengah yang selama ini banyak membantu da’wah di negeri ini, yang tentu saja penghancuran pos-pos dana itu memang sangat diinginkan oleh musuh-musuh Allah dan musuh-musuh kaum Muslimin.

Kalau dulu, di tahun ke dua Hijriyah, dalam beberapa bulan saja secara berturut-turut turun syariah perubahan kiblat, puasa, jihad di Badar, zakat Fithrah dan zakat secara umum, dan kemudian kaum Muslimin bersama-sama bertakbir sebagai pernyataan kemenangan dan kesyukuran yang mendalam. Maka bagaimana dengan takbir kita di hari ini? Apakah takbir kemenangan dan kesyukuran? Sungguh kita harus terus berusaha memperbaiki keadaan yang ada ini. Kalau di tahun kedua hijriyah seperti itu tempaan terhadap generasi awal yang kemudian baru di tahun kedelapan hijriyah kemenangan nyata berupa penaklukan kota Makkah, dari 20 sampai 30 tahun kemudian kaum Muslimin mampu menggoyang imperium Romawi dan Persia sebagai dua super power ketika itu. Maka berapa waktu lagikah kita dapat tegak dengan penuh harga diri di dunia yang seperti ini.

Memang masalah kapan kemenangan itu datang, bukan urusan kita. Hanya yang dituntut dan kita adalah berusaha dan berbuat. Berusaha dan berbuat sebagaimana Rasulullah saw. dan para shahabathya berbuat. Ya, dunia masih terhampar di depan kita, langkah masih dapat diayunkan. Marilah kita melangkah, marilah kita bcrbuat. Allah pasti tidak akan membiarkan kita, sebagaimana Allah tidak membiarkan kaum Muslimin di medan Badar. Pada saatnya juga insya’ Allah takbir yang kita kumandangkan sebagaimana takbir yang dikumandangkan oleh Rasulullah saw. dan para shahabatnya di ‘Idul Fithri. 1 Syawal tahun kedua hijriyah. Takbir kemenangan, kemenangan karena telah memiliki kiblat shalat dan kiblat kehidupan yang berbeda dengan kiblat umumnya manusia, takbir kemenangan karena berhasil mengendalikan syahwat perut dan syahwat seks, takbir karena berhasil menjadikan musuh bertekuk lutut, dan takbir kemenangan karena dapat menyebarkan pemerataan sosial. Semoga takbir kita di hari yang mulia ini sebagai takbir yang menempati anak-anak tangga menuju puncak takbir kemenangan yang hakiki. Amin Ya Rabbal ‘alamin. Akhirnya, marilah kita berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla, semoga Allah yang Maha Agung mengampuni dosa-dosa kita, baik dosa yang sifatnya Individual maupun kolektif, dosa yang kecil maupun dosa-dosa besar. Dan semoga Allah senantiasa membimbing kita pada jalan-Nya yang lurus, jalan yang dilalui oleh para anbiya’, mursalin, syuhada’ dan shalihin. Amiin
Ainul Mardiah, Siapakah Dia?

Ainul Mardhiah adalah seorang bidadari yang paling cantik di surga yang Alloh ciptakan untuk sesiapa yang mati syahid berjuang di jalan Alloh. Secara bahasa Ainul Mardhiah berarti mata yang diridhai. Atau setiap pandangan yang melihatnya pasti akan menemukan keridhaan di hati. Kisah Ainul Mardhiah diceriterakan dalam Hadits Nabi riwayat Tirmidzi yang dalam bahasa saya seperti ini:

Ketika pagi hari di bulan Ramadhan, Nabi sedang memberikan targhib (semangat untuk berjihad) kepada pasukan Islam. Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya orang yang mati syahid karena berjihad di jalan Alloh, maka Alloh akan menganugerahkannya Ainul Mardhiah, bidadari paling cantik di surga”. Salah satu sahabat yang masih muda yang mendengar cerita itu menjadi penasaran. Namun, karena malu kepada Nabi dan sahabat-sahabat lain, sahabat ini tidak jadi mencari tahu lebih dalam mengenai Ainul Mardhiah.

Waktu Zuhur sebentar lagi, sesuai sunah Rasul, para sahabat dipersilakan untuk tidur sejenak sebelum pergi berperang. Bersama kafilah perangnya pun sahabat yang satu ini tidur terlelap dan sampai bermimpi. Di dalam mimpinya dia berada di tempat yang sangat indah yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Dia pun bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Ia pun bertanya kepada wanita tersebut, “Di manakah ini?”. “Inilah surga.”, jawab wanita itu. Kemudian sahabat ini bertanya lagi, “Apakah Anda Ainul Mardhiah?”. “Bukan, saya bukan Ainul Mardhiah. Kalau Anda ingin bertemu dengan Ainul Mardhiah, dia sedang berada di bawah pohon yang rindang itu.”

Didapatinya oleh sahabat itu seorang wanita yang kecantikannya berkali-kali lipat dari wanita pertama yang ia lihat. “Apakah Anda Ainul Mardhiah?” “Bukan saya ini penjaganya. Kalau Anda ingin bertemunya di sanalah singgasananya.”

Lalu sahabat ini pun pergi ke singgasana tersebut dan sampailah ke suatu mahligai. Didapatinya seorang wanita yang kecantikannya berlipat-lipat dari wanita sebelumnya yang sedang mengelap-ngelap perhiasan. Sahabat ini pun memberanikan diri untuk bertanya.

“Apakah Anda Ainul Mardhiah?” “Bukan, saya bukan Ainul Mardhiah. Saya penjaganya di mahligai ini. Jika Anda ingin menemuinya, temuilah ia di mahligai itu.”

Pemuda itu pun beranjak dan sampailah ke mahligai yang ditunjukkan. Didapatinya seorang wanita yang kecantikannya berlipat-lipat dari wanita sebelumnya dan sangat pemalu. Pemuda itu pun bertanya.

“Apakah Anda Ainul Mardhiah?” “Ya, benar saya Ainul Mardhiah,” ujarnya pelan dengan malu-malu. Pemuda itu pun mendekat, tetapi Ainul Mardhiah menghindar dan berkata, “Maaf, Anda bukan seseorang yang mati syahid.”

Seketika itu juga pemuda itu terbangun dari mimpinya. Dia pun menceritakan ceritanya ini kepada seorang sahabat kepercayaannya yang dimohonkan untuk merahasiakannya sampai ia mati syahid. Komando jihad pun menggelora. Sahabat ini pun dengan semangatnya berjihad untuk dapat bertemu dengan Ainul Mardhiah. Ia pun akhirnya menemui syahid.

Di petang hari ketika buka puasa, sahabat kepercayaan ini menceritakan mimpi sahabat yang mati syahid ini kepada Nabi. Nabi pun membenarkan mimpi sahabat muda ini dan Nabi bersabda, “Sekarang ia bahagia bersama Ainul Mardhiah”.

Agungnya Ainul Mardhiah ini pun menginspirasi tim nasyid UNIC untuk menciptakan lagu khusus dengan judul Ainul Mardhiah dengan lirik yang sangat menyentuh berikut ini :


Wallahu ‘Alam
(sumber: eramuslim.com)

Sabtu, 10 Juni 2017

Islam akan kembali asing

Islam lahir di antara dua raksasa kekuatan besar, imperium katolik Romawi dan kerajaan Persia penyembah api. Islam lahir ditengah ritual syirik yang mengakar kuat dikalangan arab quraisy ketika itu, Islam lahir dalam keteraingan tauhid. Dan Raulullah mengabarkan bahwa Islam akan kembali asing sebagaimana pula kelahirannya.

Ketika Rasulullah pertamakali diutus sebagai nabi dan rasul, sungguh seluruh kota Mekah menolaknya. Seruan dakwah yang beliau sampaikan terasa asing bagi kebanyakan penduduk. Seruan untuk kembali kepada Allah serasa aneh karna akan menggeser budaya menyembah kuburan dan berhala patung. Ajakan bertauhid kepada penduduk mekah membuat mereka gusar, karena selain akan menggeser budaya lokal juga akan mematikan mata pencaharian para dukun dan pembuat patung. Tidak jarang Rasulullah dan para sahabat yang masih sedikit kala itu mendapat perlakuan kasar dari mayoritas penduduk, beruntung Rasulullah didampingi oleh Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Ustman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib yang setia mengawal lahirnya Islam sampai akhir.

Islam kemudian berjalan generasi demi generasi, tak luput dari upaya pembelokan keyakian yang dimilikinya, sedikit demi sedikit ajaran Islam kian pudar dikalangan umat manusia. Dari hari ke hari kebanyakan manusia seakan tidak mengerti apa itu Islam, Islam dirasa sadis, Islam dekat dengan teror, Islam anti kebebasan, ujungnya adalah Islamophobia, takut akan Islam. Inilah akhir zaman, dimana firman Allah terbukti dan menghantam logika kita,

“Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar) Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baqarah : 120)

Genggam erat agama ini dengan kuat, Gigit dengan Geraham kita, teguhkan iman dalam hati dengan sebenar-benarnya iman, karna Rasulullah mengabarkan,

“Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah, diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”. (HR. Al-Bukhori)

Islam pada awalnya muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing, maka beruntunglah mereka yang merasa dirinya asing. Inilah sebuah pesan yang pernah disampaikan oleh Rasulullah untuk kita dan umat akhir zaman nanti. Islam pertamakali muncul di tengah-tengah masyarakat arab jahiliyah kerika itu benar-benar dalam keadaan asing. Kebiasaan masyarakat yang menyembah patung, berhala dan kuburan harus dirombak dengan kebiasaan baru, yaitu menyembah Allah Jalla Jalalu. Pertentangan datang dalam beragam bentuk, dari cara hasutan halus hingga kekerasan lemparan batu. Apa saja yang disampaikan Rasulullah mereka menolaknya. Keadaan seperti ini sepertinya tidak berbeda jauh dengan masa kelahiran Islam, setelah empat belas abad Islam lahir, kini Islam sepertinya asing dan berat untuk dijalankan. Apa pasalnya?. Bisa jadi ibadah kidah mengendur dan dikerjakan hanya sebagai syarat pembatal kewajiban, bisa jadi iman kita tak lagi bersangkar di jiwa tapi pemanis status dibibir dan kartu tanda penduduk. Banyak diantara ibadah sunnah dan wajib yang pada saat ini tidak dikerjakan oleh ummat, bisa jadi karna kesibukan dunia. Rapat dikantor yang menyita waktu, terjebak kemacetan dijalan raya, atau memang lupa waktu. Tapi yang bahaya adalah ketika seorang muslim tidak mengerjakan ibadahnya karena takut dibilang alim, padahal ibadah adalah wajib, pengisi dahaga rohani, menjadi jembatan komunikasi antara kita dengan Allah Azza Wajalla.

Gerakan Islamophobia membuat orang menjadi takut melaksanakan ibadah. Tidak sholat karna juragan yang melarang dan masjid yang sangat jauh dari tempat tinggal, tidak puasa dibulan Ramadhan karna semua teman kantor juga tidak berpuasa, tidak mau berzakat karna tidak merasakan manfaat instan. Bila sampai pada posisi seperti ini, menjadi seorang muslim pastilah sangat berat, sebagaimana Rasulullah saw bersabda :

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing), sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang merasa dirinya asing”. (HR. Muslim)

Dalam keterasingan yang sudah disebutkan, Rasulullah memuji orang-orang yang merasa dirinya asing dengan kalimat “ Maka beruntunglah orang-orang yang merasa dirinya asing”. Para ulama menafsirkan kalimat itu ditujukan kepada orang-orang yang senatiasa istiqomah diatas agama Allah Azza Wajalla, memurnikan tauhid serta mengikhlaskan ibadah mereka hanya kepada Allah swt. Merekalah orang-orang yang senantiasa menjaga shalat, membayar zakat, mengerjakan puasa, bepergian haji dan senantiasa mengerjakan amalan lain yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

“Ada sahabat yang bertanya, Wahai Rasulullah, siapakah orang yang asing itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang berbuat baik jika manusia telah rusak.” (HR. Ahmad dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani).

Bahkan Allah Azza Wajalla memberikan tempat khusus bagi kita yang berjalan pada jalan Allah, bagi kita yang merasa asing karna memeluk agama Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah kamu sedih, dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat, didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu minta.” (QS. Fushilat : 30-31)

Orang yang berpegang teguh dengan agama Islam pasti akan dianggap asing terhadap orang yang benci terhadap Islam. Bahkan banyak yang tadinya teman dan sahabat mendadak ikut mencela dan memusuhinya. Hidup memegang agama tauhid seperti memegang bara api.

“Sebab dibelakang kalian ada hari-hari (yang kalian wajib) bersabar. Bersabar pada waktu itu seperti seseorang yang yang memegang bara api, dan orang yang beramal pada saat itu pahalanya sebanding dengan lima puluh kali amalan prang yang beramal seperti amalannya.” Abu Tsa’labah bertanya, “Wahai Rasulullah, seperti pahala lima puluh orang dari mereka?” Beliau menjawab, “(Bahkan) seperti pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Besarnya keutamaan manusia yang terasing ketika mengerjakan ibadah secara baik dan benar ditengah perbuatan hedoni semua orang. Mendatangi masjid untuk halat berjamaah ketika semua orang memilih berteduh di mall megah, atau ramai berkumpul di food card mencari makanan baru. Walaupun mereka berada dalam keterasingan, sejatinya merekalah orang-orang yang dijaga oleh Allah Azza Wajalla. Keterasingan sama sekali tidak membuatnya risih, justru keterasingan memacu semangatnya menjauhi jalan yang sesat.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. al-An’am : 116)

Diantara tanda-tanda akhir zaman, zaman sebelum datangnya hari kiamat, akan ada hari-hari yang didalamnya tersebar kejahilan yang disebabkan oleh malasnya manusia. Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya didepan hari kiamat, ada hari-hari yang kejahilan diturunkan didalamnya, dan ilmu diangkat.” (HR. Al-Bukhori)

Ditengah kabut kejahilan yang menyelimuti manusia, tersebarlah berbagai macam maksiat berupa pembunuhan, pencurian, perzinahan, ketamakan terhadap harta dan kemaksiatan-kemaksiatan yang lainnya. Ini semua di akibatkan oleh hilangnya ilmu agama yang bermanfaat ditengah manusia. Rasulullah saw bersabda dalam hadist yang lain :

“Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah (masalah), diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”. (HR. Al-Bukhori)

Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabut dari manusia, akan tetapi Allah matikan para ulama, sehingga manusia bisa mengangkat pemimpin-pemimpin jahil diantara mereka, maka lihatlah apakah sudah berlaku pada zaman ini?

Ketika janji kampanye akan mensejahtrakan rakyat, tapi semua kebutuhan vital justru dibuat mahal. BBM naik berkali lipat atas nama pasar bebas, Listrik ikut naik atas nama pemerataan, gas untuk memasak didapur juga naik berkali-kali entah atas nama apa. Mengaku peduli pada rakyat tapi hampir saja memberikan fasilitas mobil mewah untuk sesama pejabat. Mengaku independen dan tidak mudah diatur, tapi memberikan jabatan strategis karna pesanan pemilik partai. Mengaku demokratis dan dekat dengan Islam, tapi membredel belasan media Islam di negeri ini tanpa klarifikasi atas tuduhan radikalisme, Astagfirullahal Adzim……!

Realita umat yang ada sekarang ini menggambarkan kepada kita bahwa apa yang disampaikan Rasulullah saw benar-benar terjadi. Ulama seakan tak berdaya dan tak didengar lagi nasehatnya, ironisnya malah justru dikriminalisasi dengan berbagai tuduhan yang tak jelas dan terkesan dibuat-buat. Dalam hal ini wajar saja jika masyarakat mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil. “Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah, diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”. Wallahu A’lam

Sejarah membuktikan bahwa hingga saat ini Islam mempunyai banyak sekali golongan, terutama zaman khalifah sayyidina Ali bin Abu Thalib, mulai muncul gerakan dan golongan yang mempunyai perbedaan dalam masalah akidah. Ini adalah fakta yang tidak dapat kita tolak, karna Rasulullah pernah menyatakan bahwa nanti umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan masuk surga. Mereka itu adalah al-Jama’ah.

“Dari Auf bin Malik ia berkata, Rasulullah saw bersabda : “Yahudi terpecah menjadi 71 (Tujuh Puluh Satu) golongan, satu (golongan) masuk surga dan yang 70 (tujuh puluh) di neraka. Dan Nasrani terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan, yang 71 (tujuh puluh satu) golongan di neraka dan yang satu di surga. Dan demi yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di neraka.” Ditanyakan kepada Beliau, siapakah mereka (satu golongan yang masuk surga itu) wahai Rasulullah?, Beliau menjawab, ‘Al-Jamaah’. (HR. Ibnu Majah)

Berdasarkan hadist ini, ada sebuah kesimpulan hukum, bahwa semua golongan yang ada akan masuk neraka, kecuali satu golongan yaitu Al-Jama’ah. Jumhur ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan Al-Jama’ah adalah orang-orang yang senantiasa berkumpul dengan para ulama dalam mengamalkan syariat Islam. Ummat yang tidak keluar dari koridor Al-Qur’an dan As-sunnah yang shahih, serta apa saja yang dianggap baik dan dilakukan oleh para sahabat Rasulullah tanpa terkecuali.

Makna ini sesuai dengan sabda Rasulullah tentang Al-Jama’ah. Beliau mengatakan, siapa saja yang berpegang kepadaku, sunnahku dan para sahabatku, apa saja yang dianggap baik dan dilakukan oleh para sahabatku, hendaknya setiap muslim bersatu dan berkumpul dalam petunjuk para ulama yang berpegang dengan Al-Qur’an dan As-sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat Rasulullah, tanpa dibatasi oleh sikap fanatisme golongan, tidak terbatas oleh keanggotaan ormas, partai atau organisasi apapun. Sebagaimana Firman Allah Azza Wajalla:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah atas nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran : 103)

Khazanah Islam

Rabu, 07 Juni 2017

Meraih Sukses Ramadhan
Rupanya Allah sengaja memiih redaksi tentang perintah berpuasa dengan kalimat pasif. Bukan dengan kalimat aktif, bukan pula dengan penegasan bahwa perintah berpuasa itu semata-mata datang dari Allah. Pemilihan redaksi tersebut ternyata mengisyaratkan bahwa peeintah “berpuasa” itu tidak harus merupakan kewajiban yang dibebankan oleh Allah swt. Akan tetapi lebih mengarah bahwa manusia sendirilah yang harus mewajibkan dirinya untuk berpuasa karena menyadari arti pentingnya serta hikmah di balik perintah itu.

Hikmah serta manfaat berpuasa memang luar biasa. Karena itulah jauh-jauh hari sebelum ummat Islam dipenintah berpuasa, Allah telah mewajibkan pula berpuasa kepada ummat-ummat sebelumnya, al-Baqarah 183 juga seperti dalam sabda Rasul:

Artinya: Berpuasa bulan Ramadhán telah diwajibkan oleh Allah kepada ummat-ummat sebelummu.
Puasa dapat membuat orang lebih dekat kepada Rabbnya. Karena ketika seseorang berpuasa berarti dia dalam ketaatan,, dia tengah mengendalikan nafsunya, membersihkan jiwanya serta membersihkan dirinya dari dosa. Dengan demikian berpuasa juga bcrarti usaha “mengendalikan dirinya”. Ketika seseorang mampu mengendalikan dirinya, mampu memanagemen diri berarti dia telah merdeka dari belenggu suatu “kebiasaan” yang kadang menjadi pcnghalang kemajuannya. Padahal manusia pada umumnya mempunyai potensi untuk cepat terpengaruh pada lingkungannya, cenderung terpola oleh kondisi lingkungnanya. Di sinilah arti pentingnya usaha menanamkan pengendalian diri pada diei seseorang. Puasa dimaksudkan sebagai sarana latihan pengendalian diri penggemblengan diri menuju peningatan kualitas hidup. 

Hikmah lain dari puasa, ternyata puasa mengajarkan manusia agar mampu rnelihat kehidupan ini jauh ke depan. Menahan nafsunya, menahan kesenangan sesaat. Belajar keras untuk mengesampingkan kesenangan yang sesaat guna meraih kesuksesan di hari esok. Bulan Ramadhan yang sengaja dipiih Allah untuk melakukan ibadah puasa selama satu bulan, sebagai upaya untuk mengasah. serta mengasuh jiwa manusia, membersihkan dosanya serta menguatkan imannya. Dan training Allah ini, diharapkan sasana Ramadhan akan tetap mernbekas, memberi warna bagi kehidupan seorang Muslim pada bulan-bulan berikutnya. Pasca Ramadhan benar-benar akan membuat manusia yang mempunyai jiwa-jiwa yang muttaqien. Manusia-manusia yang mau bangkit memenuhi panggilan tugas, yang patuh serta taat pada Rabbnya. Manusia-manusia yang mampu bersikap dan bersifat seperti sifat-sifat Rabbnya, pengasih, penyayang, pemaaf dan yang lainnya dalam segala aktivitasnya. Bukankah manusia adalah mandataris Allah di bumi? sebagai wakil Allah di alam ini? Sebagaimana firrnan Allah:

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaiman diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa". (QS. al-Baqarah:165).

Untuk bisa meraih hikmah serta manfaat dari puasa Ramadhan, tentunya banyak hal yang harus dipersiapkan dan dipenuhi. Tidak hanya sekedar memenuhi syarat sahnya puasa, tidak makan. tidak minum serta tidak bercampur (bersetubuh) pada siang harinya. Sebagaimana penjelasan Rasul:

Artinya. Bukanlah puaca itu (sekedar menahan) makan serta minum, saja, tapi sesungguhnya puasa itu adalah menahan diri dari hal yang sia-sia (tak bermanfaat menurut ketentuan agama) dan caci maki (HR. Thabrani dan Abu Ubaidah).

Beberapa hal yang dilarang karena bisa merusak nilai puasa:

1. Berkata dan berbuat keji,

Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa tidak meninggaikan perkataan serta perbuatan keji maka tidak ada hajat bagi Allah dalam Ia meninggalkan makan serta minumnya”. (HR. Bukhari, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Termasuk dalam perkataan keji adalah ghibah, fitnah, dusta, mencaci maki,, bertengkar, dan ucapan-ucapan semisal itu ataupun juga omongan-omongan yang tidak bermanfaat. Adapun yang termasuk perbuatan keji di antaranya adalah mencuri, menganggu orang dengan sengaja, dan peb uatan lain yang dilarang Allah.

2. Melakukan perbuatan yang sia-sia

Rasulullah bersabda:

“Bukanlah puasa itu sekedar menahan makan dan minum, tetapi menahan diri dari segala hal yang sia-sia dan caci maki”. (HR. Thabrani).

Dalam hadits lain Rasulullahjuga bersabda:

Artinya: Puasa itu perisai, maka apabila salah seorang dari kamu sedang berpuasa janganlah berkata kotor, dan berbuat pandir (tolol), dan apabila ada seseorang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar maka hendaklah ia berkata “sesungguhnya aku sedang berpuasa’. (HR Bukhari dan Muslim).

Demikianlah makna puasa yang sebenarnya. Puasa tidakhanya secara zhahir saja, namun yang harus kita perhatikan juga adalah puasa secara bathin, maknawinya juga puasa. Dan ini, yang kadang kita lengah. Kita kurang memperhatikan puasa yang bersifat maknawi. Bagaimana kita tidak marah, tidak dusta, tidak mencaci maki, tidak bicara yang sia-sia atau bahkan juga tidak berlebih-lebihan dalam makan dan minum ketika waktu berbuka itu tiba di tengah-tengah kita.

Sering terjadi di antara kita mengumpulkan banyak makanan di siang hari untuk berbuka pada malam hari. Nah, bagaimana kita bisa menahan ini semua. Seseorang hanya bisa dikatakan berhasil dalam puasanya ketika dia bisa menahan semua yang membatalkan puasa dan menahan seluruh hal yang dapat merusak makna puasanya. Dan mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang yang jauh-jauh hari sudah diingatkan oleh Rasulullah tentang orang-orang yang sia-sia puasanya, orang-orang yang puasanya tidak membekas kecuali hanya merasakan lapar dan dahaga. Sebagaimana hadits Rasul:

Artinya: "Banyak orang yang berpuasa tidak mendapat bagian (pahala) kecuali lapar belaka.. dan banyak pula orang yang berjaga malam (untuk shalat dan dzikir) yang tidak mendapat pahala dari berjaganya itu kecuali hanyalah kelelahan dari berjaga-jaga saja". (HR. Ibnu Majah dan Abu Hurairah).

Untuk menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang akan membuat hilangnya nilai puasa, salah satu jalannya adalah dengan membangun kesadaran penuh. Menghadirkan adanya keagungan Allah, sadar kalau dirinya Sedang berpuasa. Yakin adanya perjumpaan dengan Allah serta yakin kalau Allah tidak menyia-nyiakan apa yang dilakukannya. Suasana hati yang seperti ini perlu dilatih terus menerus. Melatih dan membiasakan diri untuk mengatur emosi, dan memanagemen diri serta hati. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga-motivasi niat. Niat yang lurus hanya untuk meraih ridha Allah akan menimbulkan ketenangan dan ketentraman diri. Dan ini yang akan membuat puasa itu terasa ringan, karena niat adalah ruhnya suatu aktivitas. Niat yang ikhlash juga akan menghindarkair diri dari kecemasan dan kegelisahan. Dan orang-orang yang seperti inilah yang nantinya akan berhasil puasanya. Puasanya akan benar-benar membawa hikmah. Dan puasa yang seperti inilah yang nantinya akan mencetak manusia-manusia yang bermutu dan berkualitas sebagaimaa tujuan puasa itu sendiri.

Selasa, 30 Mei 2017

Solomon

"Dalam diri manusia di daerah yang paling dalam, ada tempat yang tidak tersentuh oleh kepalsuan. Daerah suci yang sepertinya dipagari dan dilindungi oleh Tuhan dari kekuatan setan”.  
 
Di Damaskus tahun 1804 masehi tejadi peristiwa mengerikan yang mungkin tak semua orang dapat mempercayainya. Adalah Padre Tomaso da Calangiano, seorang pendeta yang berasal dari Italy dan menetap lama di Damaskus, hilang secara misterius. Pendeta yang tekenal ramah dan sopan itu menghilang sebelum menyentuh makan malam yang telah dihidangkan. Semua orang merasa kehilangan. termasuk David Harary, seorang saudagar besar Yahudi separuh baya yang juga terkenal amat ramah kepada siapapun juga, termasuk kepada sang pendeta yang kerap menjadi teman diskusi masalah-masalah keagamaan.

Namun, misteri akan hilangnya sang paderi tak berlangsung lama. Solomon sang tukang cukur Yahudi membuka misteri itu. Misteri suatu peristiwa paling bodoh yang pernah dilakukan atas nama agama. Padre Tomaso telah menjadi bangkai. Mayatnya dikubur di halaman dalam rumah besar sang konglomerat yang sekaligus teman dekat pendeta: David Harary. Bahkan Davidlah yang memimpin upacara pembunuhan terhadap sang paderi. Upacara? Ya, upacara untuk mengambil darah orang masehi guna dicampur dalam adonan roti Canai yang nantinya dimakan dalam upacara istimewa. Salah satu khasiatnya adalah untuk mengembalikan keperjakaan David yang selalu lumpuh di hadapan Camelia, isterinya yang masih mudah dan cantik. Upacara dalam keagamaan Yahudi yang digelar tidak setiap tahun ini memang memuakkan. Mengorbankan nyawa seseorang. mengambil darahnya dan memakannya dalam roti hanya karena ia meyakini suatu keyakinan yang berlainan.

Peristiwa nyata. tragis dan memuakkan itu telah dikemas kembali dalam bentuk novel dengan bagus oleh Najib Kaelani dalam: Haaratul Yahud (Kampung Yahudi). Novel yang tidak terlalu tebal yang dilengkapi dengan referensi dan manuskrip interogasi kepolisian itu memang menggambarkan miniatur kehidupan manusia yang lengkap. Di sana ada keserakahan, obsesi, kemunafikan, hati nurani dan juga keyakinan salah yang banyak dianut oleh orang ramai.

Najib Kaelani, seorang sastrawan yang dipinggirkan karena keaktifannya di gerakan Islam, mengemas kisah ini dengan begitu apik hingga tak terkesan menjemukan atau tampil sekedar sebagai poster kampanye anti Yahudi. Yahudi yang menjadi terdakwa dalam kisah ini tidak melulu digambarkan sebagai garong dengan berwajah bengis atau penipu berakal bulus. Toh di akhir cerita, hati nurani Yahudi juga yang berbicara kebenaran. Hati nurani yang tidak mampu disentuh oleh setan manapun akhirnya berbicara lewat mulut sang barber Yahudi yang selalu dihantui oleh rasa bersalah.

Dengan lutut bergetar Ia paparkan semua kisah itu secara detail, dari mulai awal penculiknn sampai penguburan dan penyimpanan darah sang paderi dalam botol yang kemudian diserahkan kepada kerabian Yahudi. Salah seorang prajurit polisi jatuh pingsan, seorang perwira penyidik muntah-muntah dan terduduk lemas. Peristiwa itu memang mengerikan dan membuat bulu kuduk berdiri. Sang barber terus berkicau hingga habis gumpalan yang selama ini menyesakkan dadanya.

Mengkhianati hati nurani ternyata tak mudah. Walaupun untuk suatu kredo dan keyakinan. Kepuasan yang dibisikkan oleh setan ketika menyayat leher sang paderi ternyata tak cukup kuat untuk melawan hati nurani, yang menurut Najib Kaelani tak tersentuh oleh setan itu. Hal yang sama .sebenarnya juga terjadi pada ribuan tentara Israel yang menembak anak-anak intifadhah dengan peluruh karet atau peluru timah runcing. Mereka pembunuh biadab. Namun hati nurani atau fitrah kemanusiaan mereka berontak dan melawan kebiadaban mereka. Akhirnya rasa bersalah yang tumbuh di hati nurani itu pula yang menjadikan mereka manusia dengan jiwa yang kurang normal dan harus tinggal di perawatan kesehatan jiwa. Hal itu juga terjadi pada pasukan Merah Rusia, tentara SS Nazi, gerombolan Khmer Merah dan juga pada diri kita sendiri.

Namun seringkali hati nurani kalah bertarung melawan segala macam kebiadaban dan kebejatan. Ketika hati nurani bertekuk lutut di hadapan segala kebejatan, ketika itulah manusia tidak mempunyai keseimbangan dalam hidupnya. Ia mampu menjadi makhluk terbengis sekalipun. Seperti ketika pasukan Israel menembaki anak-anak Palestina yang innocent, atau Pasukan SS Nazi yang membunuh orang yang tidak berkulit putih bersih. Tapi mereka merana dalam kebengisan. Hati nurani terlalu kuat untuk dilawan, terlalu dalam akarnya untuk dicabut. Setiap usaha untuk mencabutnya dan menggantikannya dengan kebejatan akan berakhir pada kesengsaraan.

“Jangan sekali-kali mengkhianati hati nurani, hio!” teriakan Sawung Jabo dalam Hio-nya ini mungkin tidak dapat dilaksanakan oleh siapa pun juga kecuali oleh orang-orang yang memang benar-benar mengerti hati nurani dan fitrah kemanusiaan yang dikaruniakan oleh Allah kepada hamba-Nya.

Minggu, 14 Mei 2017

Menangkal Islamophobia

Semua pembicaraan dan pembahasan tentang Islam dan kaum Muslimin di Amerika atau di negara-negara Barat Lainnya cenderung melecehkan dan disalah fahami, inilah yang menjadi pemicu kenapa Islam selalu dianggap beringas dan bengis dalam mengantisipasi berbagai event politik baik dalam skala regional maupun internasional. Dalam berbagai kesempatan, Islam selalu difahami seperti itu, di Layar televisi. berita-berita di koran. acara-acara akademis bahkan di Kongres Amerika sekalipun.

Dr. Gariq Nucs, seorang wartawan Muslim Amerika yang sehari-harinya bekerja pada sebuah Majalah Amerika terkemuka. yakni “Washington Report”. ketika menulis untuk Majalah al-Mujtama’ Kuwait edisi 1415 di dalam menanggapi masalah ini. rupanya lebih bersikap instropertif dan lebih melihat kondisi internal kaum Muslimin sendiri. Dià mengatakan:
“Saya üdak akan mengemukakan contoh-contoh untuk menlelashan bagaimana Barat berpersepsi tentang Islam. Namun sebagai gantinya wajib bagi kita kaum Muslimin untuk sebisanya melakukan counter issu untuk meluruskan permasalahan dengan cara melakukan pressing lewat sikap dan moralitas dalam rangka menunjukkan dan menjelaskan wajah kita yang sebenarnya”.
Lebih lanjut Dr. Gariq Nucs mengatakan bahwa setidaknya ada lima sudut pandang yang mesti harus difahami kaum Muslimin Barat untuk selanjutnya difahamkan kepada mereka yang selama ini salah dalam memahami Islam. kaum Muslimin dan gerakan-gerakan Islam yang ada sekarang ini harus dilihat dari kelima sudut pandang ini agar tidak terjadi miss understanding terhadap Islam, kalau memang Barat menginginkan obyektifitas. Kelima sudut pandang atau kelima frame cara melihat Islam itu adalah:

1. Frame Sejarah

Yang pertama, kita harus melihat Islam dari tinjauan historis. Sebagian besar orang Amerika berpendapat bahwa Islam muncul ke permukaan pada tahun 1979 yang ditandai oleh runtuhnya Syah Iran Reza Pahlevi dan keberhasilan Revolusi Iran. Dan banyak orang Barat yang tahu Islam sejak empat tahun terakhir, bukan empat belas abad sebagaimana yang harus difahamni. Padahal mau tidak mau. dalam tinjauan historis Islam harus diakui sebagai salah satu peradaban internasional terbesar yang telah menguasai pentas politik dan kekuatan ekonomi selama berabad-abad. Islam juga mampu melahirkan ribuan ulama dan cendekiawan dalam berbagai disiplin ilmu dan peradaban.

lnilah yang telah berhasil diselewengkan Barat dalam percaturan politik, sosial dan budaya. hingga melahirkan image bahwa Islam adalah tatanan ideologi terbelakang karena dianggap baru lahir kemarin sore. Hal ini sama saja dengan kita mengatakan bahwa sejarah Inggris baru dimulai sejak PM Margaret Teacher atau sejarah Rusia baru dimulai sejak Mekhail Ghurbachov. Sungguh dengan dalih apapun statemen ini tidak bisa diterima. Namun sayang mereka berhasil mengungkapkan statemen semacam ini untuk Islam.

2. Frame Pemikiran

Cara melihat Islam dengan frame ini juga harus kita lakukan. Karena sebagian besar perdebatan tentang Islam dan al-Fikrul Islamy akhir-akhir ini ternyata hanya berkisar tentang sisi politik saja. Saya tidak ingin mengatakan bahwa Islam itu tidak menyentuh aspek politik. tapi orang-orang Barat menganggap bahwa politik adalah satu-satunya aspek dalam memandang Islam. Padahal kalau sedikit jeli akan dijumpai warisan fikr islami yang kaya dalam berbagai bidang. mulai dan tikrah tentang dien. filsafat. ekonomi. ilmu bahasa. sejarah. geografi dan ilmu-ilmu eksakta. Bahkan ada yang lebih sulit dari itu semua. namun mampu diwariskan oleh fikr Islami yakni ilmu perundang-undangan dan fiqh. Ketika para pakar hendak melakukan prediksi keilmuan yang menyangkut antisipasi masa depan dalam penelitian tertentu. tidak bisa tidak mereka akan merujuk kepada bibliografi Islam. Namun demikian jarang bahkan hampir tidak pernah kita jumpai dalam penelitian-penelitian yang mengungkap masalah itu. Tidak pernah kita jumpai adanya rujukan kepada para pemikir Islam masa lalu yang telah berhasil mengukir namanya dalam dunia pemikiran, semisal Imam Syafi’i. Imam Ghazali. Ibnu Khaldun. Ibnu Rusyd dan tokoh-tokoh lainnya. Nah adakah tatanan ideologi yang sekaya dan sebanyak Islam dalam mewariskan sistem-sistem kehidupan? Mestinya Barat yang katanya jago obyektifitas harus sedikit obyektif dalam memandang keutuhan Islam. tidak Seperti yang sekarang tejadi.

3. Frame Budaya

Frame ini penting untuk kita ketahui dalam rangka membedakan manakah yang dari Islam dan manakah yang merupakan budaya dan tradisi setempat. Ini penting supaya jangan sampai tradisi setempat dijadikan standart dalam melihat Islam. Memang benar bahwa Islam adalah Ummah Waahidah (ummat yang satu), namun di sisi lain kita juga harus mengakui adanya berbagai perbedaan. baik budaya. Bahasa, suku atau status sosial yang terdapat dalam ummah waahidah tersebut, salah satu contoh yang saat ini menjadi problem yang cukup serius di Barat (baca: Prancis), yakni masalah Hijab. Perbedaan pendapat tentang hijab juga terjadi di Dunia Islam. sebagaimana pula perbedaan tentang model hijab itu sendiri. Di Iran bernama Syaadur, di Pakistan namnya Niqab. di Afghanistan namnya Burqu’ dan lain-lain. Implikasinya adalah munculnya perdebatan tentang posisi wanita dalam Islam. karena perbedaan posisi di tempat-tempat tertentu akibat kekurang fahaman mereka terhadap Islam.

Kalau barat mengungkap persepsi Islam tentang wanita dengan berdasar tradisi seperti ini tentu tidak Islami dan cenderung memusuhi Islam. karena tidak merujuk kepada sumber aslinya yaitu Qur’an dan Sunnah. Persepsi itu hanya berdasar kepada tradisi dan budaya yang telah mengakar. dan bukan kepada ta’aliim Islamiyah. Seandainya kita tidak memahami frame Budaya tentu kita tidak akan tahu mana Islam dan mana tradisi.

4. Frame Politik

Kita butuh untuk memahami frame politik kontemporer yang menjadi titik tolak kaum Muslimin. khususnya gerakan Islam. Seluruh aktifitas Harakah Islamiyah yang ada sekarang ini harus difahami dengan untuh dan menyeluruh. mulai dari latar belakang kemunculannya. sistem pergerakannya sampai kejelian dalam melihat aktifitas yang sebenarnya dilakukan dan terjadi dipermukaan. Apa yang pernah dilakukan oleh ikhwanul Muslimin di Mesir misalnya itu harus difahami secara proporsional. Itu bisa dilakukan manakala difahami pula kondisi sebenarnya dari pemerintah Mesir dalam berbagai bidang seperti dalam masalah perkembangan ekonomi. politik luar negeri alih demokrasi dan aktifitas-aktifitas sosial lainnya. Juga Front Penyelamat Islam al-Jazair (FIZ), kemunculannya tidak bisa dipisahkan dari kegoncangan politik dan ekonomi di Al-Jazair akibat tiga puluh tahun dipimpm partai tunggal. Demikian pula halnya kondisi tidak menentu dari para aktifis harakah di Barat karena tekanan politik di sana, tentu tidak logis kalau tidak melihat bagaimana sebenarnya perlakuan pemerintah terhadap mereka.

Sungguh sangat disesalkan ungkapan yang pernah dikatakan oleh Martin Cromer dalam sebuah seminar di Universitas Georgetown Washington USA, di mana dalam seminar itu dia mempresentasikan makalahnya berjudul “Para pencetus perdamaian melawan aktifis Gerakan Islam”. Judul ini seolah mengisyaratkan bahwa gerakan Islam anti perdamaian. Padahal kalau dilacak bukankah perdamaian-perdamaian yang terjadi sekarang ini hanya sepihak dan menguntungkan non Muslim? Itu di satu sisi. sementara itu di sisi lain mengapa tidak pernah diungkap kelompok-kelompok ekstremis Yahudi yang anti damai dan secepatnya ingin menghancurkan Islam demi tegaknya Zionisme Internasional? Sebut saja misalnya lobby likud, kelompok Maulidaat dan Kakh serta Kahana Hai. Bahkan seorang “pendeta” Yahudi terbesar Sholomon Ghurin yang telah meninggal dengan tegas tidak hanya sekedar menolak damai. namun bahkan menginstruksikan kepada tentara Israel untuk secepatnya merampas tepi Barat tanpa mengindahkan usulan damai sedikitpun.

Kalau dicermati. makalah yang disampaikan Dr. Cromer berarti bahwa dalam pentas politik dunia saat ini khususnya di Timur Tengah ada dua kekuatan yang saling berseteru yakni. para pencetus perdamaian melawan para aktifis gerakan Islam (Islamiyyun). Begitulah dengan mudahnya dia menempelkan atribut kebringasan dan anti damai kepada Islamiyyun.

5. Frame Agama

Frame ini mungkin aksiomatik sifatnya. namun sayang masih banyak orang barat yang tidak mengetahuinya. Banyak orang Amerika yang tidak tahu bahwa Islam adalah agama tauhid yang mengikuti millah Nabi Ibrahim AS. Mereka tidak tahu bahwa Allah yang disembah dalam Islam juga tuhan yang disembah dalam agama Yahudi dan Nashrani hanya saja di dalam kedua agama ini Allah telah diselewengkan posisinya. Begitu juga para Nabi yang tertera dalam Injil dan Taurat. juga tertera dalam al-Kariem.

Nah bagaimana mungkin mereka akan memperbincangkan Islam dengan bahasan ilmiyah kalau mereka bodoh tentang ta’alim Islamiyah dan posisi Islam dari segi religius? Islam adalah agama (dien) namun tidak sebagaimana dien yang difahami oleh Barat. Hubungan manusia dengan Allah swt dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya adalah merupakan Inti Islam. Jadi ketika saya beriman dengan aqidah Islamiyah dan mendeklarasikan diri sebagai Muslim. maka saya tidak melakukan itu karena adanya desakan politis, atau karena keyakinan saya bahwa orang-orang akan membantu saya dalam pemilikan senjata. Bukan pula karena saya menginginkan pakaian dan rumah yang mewah. Itu semua saya lakukan karena ada suatu kekuatan Yang Maha Besar yang telah merasuk dalam lubuk sanubari saya untuk bergerak melaksanakan al-Islam.

Kalau ini tidak difahami secara sempurna. mustahil akan bisa dicari titik temu. Yang akan terjadi adalah kesalahan demi kesalahan. penyimpangan demi penyimpangan dan penyelewengan demi penyelewengan. Oleh karena itu diakhir tulisannya, Dr. Gariq Nucs menghimbau kepada Barat agar kaum Muslimin sendiri yang memperkenalkan siapa jati diri mereka dan bukan diperkenalkan oleh Barat dengan segala tendensi yang ada di balik itu. Dia mengatakan: “Kaum Muslimin harus diberi kesempatan untuk berbicara dan memperkenalkan siapa dirinya dan saham yang telah dihasilkannya. Martin Cromer (sang Penubus Yahudi) mungkin memahami Gerakan Islam dan jalannya perjanjian damai yang saat ini terjadi. Juga Bernard Lewis sudah barang tentu sangat memahami sejarah Kekhalifahan Turki Utsmani (Dinasti Ottoman). Begitu pula Steven Emerson seorang wartawan kenamaan, tentu telah menjalin hubungan yang erat dengan dinas intelejen Israel lebih daripada apa yang saya lakukan. Namun saya tidak ingin salah satu di antara mereka bercerita kepada saya atau kepada ikhwan- ikhwan saya tentang sesuatu yang saya yakini sebagai seorang Muslim. karena itu bukan hak mereka” .

(Rofi Munawwar)